Cinta dan Pengelolaan Keuangan Sesuai Syariat Islam

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. [Q.S. Al A’raaf (7): 96]

6. Sesungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hambaNya bersusah payah (lelah) dalam mencari rezeki yang halal. (HR. Adailami) [Dr. Muhammad Faiz Almath, “1100 Hadits Terpilih Sinar Ajaran Muhammad’, hal. 182]

9. Apabila dibukakan bagi seseorang pintu rezeki maka hendaklah dia melestarikannya (jangan suka berpindah-pindah ke pintu-pintu rezeki lain atau pindah-pindah usaha). (HR. Al Baihaqi) [Ibid., hal. 184]

->Tentunya usaha yang dimaksud, usaha halal sesuai syariat Islam.


Tulisan ini direncanakan dan dimulai sejak lama (tahun 2013/ 1434 H) namun penulisan baru kembali dilanjutkan saat ini, dimulai dari zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) namun baru dilanjutkan setelah zaman Presiden Joko Widodo, salah satunya sebagai respons atas diselenggarakannya World Islamic Economy Forum (WIEF) yang diselenggarakan di Indonesia. Aku senang dengan adanya forum ekonomi Islam tingkat dunia ini. Hanya, maaf, aku agak heran WIEF kali ini sudah pertemuan yang ke-12, pertemuan ke-1 – 11 kenapa aku ngga ngeh ya? Dalam tulisan ini, aku tidak bermaksud membahas teori ekonomi/bisnis syariah, aku hanya bermaksud bercerita mengenai beberapa hal yang ingin aku ceritakan, khususnya pengalaman pribadi, terkait ekonomi, bisnis dan keuangan. Namun demikian sebagai orang awam tidak ada salahnya aku juga mengungkapkan nasihat untuk diri sendiri khususnya dan orang lain umumnya, nasihat measihati di jalan Allah. Mengenai teori ekonomi syariah secara khusus mungkin dapat ditanyakan kepada pihak yang memang berkompeten dalam hal tsb seperti halnya: Ustadz Muhammad Syaf’i A., Bapak Syakir Sula dan Bapak Bambang Brojonegoro.

Aku telah diajarkan berdagang sejak masih sangat belia, Mama (Umi-ku) senang berdagang dari mulai berjualan kue dan makanan sampai membuka semacam warung jajanan (snack) yang juga menjual beras. Dulu adakalanya aku dan adik laki-lakiku yang berbelanja ke pasar. Hal yang sangat tertanam dalam benakku sejak kecil, yang diajarkan oleh Umi, khususnya saat berjualan beras adalah: jangan pernah mengurangi takaran, jika perlu lebihkan takaran (meskipun sedikit). Dan ternyata hal ini memang sesuai dengan syariat Islam, agar dalam berdagang tidak berbuat curang misalnya dengan mengurangi takaran, keharusan berbuat amanah.
Kemudian, adakalanya aku membantu Umi dan auntie (Ua-ku) berjualan kue dan masakan. Aku, adik laki-lakiku dan salah stau saudara sepupuku yang sebaya berkeliling komplek rumah berjualan kue “Putri Salju” dan “Buntil”. Dulu, biasanya saat perayaan 17 Agustus-an, kami semangat berjualan dikarenakan biasanya dagangan laris manis di saat banyak orang berkumpul. -> Sekarang aku pribadi tidak lagi merayakan 17-an, perayaan dalam Islam hanya Idul Fitri dan Idul Adha, jikapun diadakan perkumpulan bukan berupa dirgahayu, tapi perkumpulan untuk memperkuat ukuwah Islamiyyah sesuai syariat Islam.
Dulu, terkadang ada para tetangga yang merasa heran, mengapakah aku dan saudara-saudaraku mau berjualan keliling padahal ketika itu kami berasal dari keluarga terpandang dan dituakan di tempat kami, kakeku seorang Mayor Jendral Polisi, Ua priaku juga saat itu merintis sebagai pejabat teras di Kepolisian. Umi dan Uaku menasihatkan hal yang intinya jangan merasa minder/malu yang tidak perlu misalnya malu berjualan keliling (malu harus pada tempatnya), kami harus berusaha – yang halal- untuk mendapatkan uang, untuk mendapatkan apa yang kami inginkan.
17. Mata pencaharian paling afdhol adalah berjualan dengan penuh kebajikan dan dari hasil keterampilan tangan. (HR. Al-Bazzar dan Ahmad) [Ibid., hal. 185]
Aku pribadi belajar untuk terjun berbisnis/berdagang ketika masih SD kelas 6, sekitar usia 12/13 tahun. Saat itu aku membuat bondu tepatnya bandana dari kain perca. Berikut kutipan kisah dari diaryku terkait hal tsb:

Foto: Diaryku saat SD.

Dear Deary            Membuat Bondu          6/6/98          kelas 6

“Pada waktu aku kelas 6 kira-kira berumur 12 tahun (13 tahun H –pen.) aku berjualan bondu dan aksesori lainnya, uang hasil dari berjualan itu akan aku belikan sepatu baru karena akan masuk ke SMP. Yang membantu membuat bondu itu adalah mama dan yang membantu memasarkannya adalah Elih, Dea, Ira dan Heni. Bahan-bahan/perca itu didapat dari Ibu Risa (teman mama yg suka menjahit baju).

Pada suatu hari aku kehabisan perca yang bagus untuk membuat bondu terpaksa aku harus meminta lagi bahan-bahan perca yang baru dari ibu Risa (Risa Anna-pen.), tetapi karena KRISMON (Krisis Moneter) jadi jarang orang yang ingin menjahit baju, dan bahan-bahan perca di sana pun tidak ada, padahal sudah banyak orang yang memesan bondu. Terpaksa aku harus nunggu agak lama.
Saat menjelang EBTANAS aku menghentikan kegiatan membuat bondu jadi mama deh yang menggantikan ku aku mengkonsentrasikan pikiranku pada pelajaran yang dihadapi pada EBTANAS nanti”

->Maaf, waktu itu aku keliru menuliskan kata "diary". Anw aku agak heran dengan teknik penceritaanku saat itu. Oia di halaman-halaman awal diaryku itu isisnya pelajaran pengenalan Bahasa Arab.
->Waktu itu, Umi dan Abiku bukan tidak mau atau tidak mampu membelikanku sepatu baru, tetapi khususnya Umi mendidikku sejak belia agar tidak berpangku tangan tetapi berusaha untuk mendapatkan apa yang kami inginkan. 
->Ketika itu para sahabatku yang membantu memasarkan, para sahabatku itu 2 orang pribumi, 2 orang Tionghoa. Waktu itu cukup mengerankan, di saat krisis moneter dimana banyak usaha gulung tikar, aku malah kebanjiran order (meskipun harus menunggu bahan), subhanallah.
->Saat itu usiaku sudah memasuki usia baligh (usia baligh wanita dalam Islam adalah 9 tahun), namun ketika itu aku belum  mengalami menstruasi, waktu itu aku belum mengenakan kerudung untuk bepergian, padahal ada baiknya saat memasuki usia baligh Muslimah belajar mengenakan kerudung. Berdaarkan pengalamanku tsb, bila memang mengajarkan berbisnis kepada anak, sejak usia belia ada baiknya anak sudah mengenal bisnis bahkan berbagai aspek kehidupan berdasarkan syariat Islam.

Terkait Cinta

Dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat. [An Nuur (24): 56]

Dari Jabir r.a., ia berkata: Rasulullah Saw melaknat orang yang memakan (mengambil) riba, memeberikan, menuliskan dan dan dua orang yang menyaksikan.” Ia berkata: “Mereka berstatus hukum sama.” (HR. Muslim). [Nur Fadillah, “Membuka Rahasia Rasulullah Dalam Berbisnis”, hal. 111.]

Entah mengapa, aku kerap berurusan atau suka bahkan jatuh cinta pada pria yang mereka berlatar belakang pendidikan ekonomi padahal seumur hidup aku, aku tidak pernah merencanakan untuk suka, jatuh cinta atau memiliki kekasih mahasiswa ekonomi, manajemen atau akuntansi. Beberapa orang diantara mereka adalah:

Sebut saja Mr. D-1, aku mengenalnya saat aku masih kelas 5 SD. Saat aku kelas 1 SMP dan ia kelas 3 SMU, ia sempat memintaku menjadi kekasihnya, aku menyukainya namun aku telah jatuh cinta kepada cinta pertamaku yang inisialnya Mr. N-3. Hubungan aku dan Mr. D-1 tetap baik sampai aku kuliah, kami satu universitas, hanya aku mengambil jurusan sastra ia mengambil jurusan ekonomi. Bahkan setelah ia lulus dan menjadi pegawai bank, kami masih berhubungan baik. Ia bekerja di salah satu bank konvensional, saat itu ia selalu memberikan pelayanan ekstra bagi aku dan keluarga sebagai nasabah bank tsb. Sayangnya saat ini kami sudah lama tidak bersilaturahim. Aku berterima kasih atas semua kebaikannya, dan aku berharap seseorang ini dapat beralih pekerjaan ke Bank Syariah terkait haramnya riba.


Mengenai cinta pertamaku, sebut saja Mr. N-3, ia kaka kelasku ketika SMP dan SMU. Aku menyukainya bahkan jatuh cinta padanya dikarenakan parasnya yang tampan, dengan postur tinggi, kurus, berikut kulit yang untuk pria terbilang putih, terlebih ia dikabarkan pandai membaca Al Qur'an. Aku tidak hapal latar belakang pendidikan terakhirnya hanya saat ini ia terjun ke bidang bisnis, berniaga. Salah satu anggota keluargaku, sepupuku sempat mengadakan hubungan bisnis dengan cinta pertamaku ini. Terkait hal tsb serta terkait hal pribadi, aku dan pihak dari keluargaku pernah bertemu cinta pertamaku di tempatnya berniaga. Aku tidak bermaksud mengganggu kebahagiaannya bersama keluarganya yang saat kami bertemu, cinta pertamaku telah berkeluarga, mengenai persoalan pribadi, aku dapat berusaha menahan diri namun aku berharap relasi bisnis dan silaturahim masih dapat terus berlangsung. Hanya saja, sehubungan saat itu keluargaku sedang menghadapi suatu masalah serta ketatnya aturan pemerintah mengenai makanan yang diperbolehkan dijual di kantin sekolah (tidak boleh menjual snack), maka fihak keluargaku menghentikan kerjasama bisnis dengan cinta pertemaku beserta keluarganya.


Kemudian Mr. N-2, salah satu teman SDku, hanya salah satu keluargaku memberinya julukan “mantan pacar Hana waktu SD”, padahal kami tidak pacaran; kedua orangtuanya dulu mengadress-ku sebagai “calon mantu”. Ketika SD kami sering bersitegang namun ketika sudah besar, masih ada sisa-sisa perilaku kami ketika kecil, namun kami lebih berusaha menahan diri bahkan ia pernah bersikap sangat baik. Pendidikannya terkait ekonomi atau manajemen, dulu ia sempat bekerja di bank konvensional, aku prihatin mengetahui hal ini, namun aku senang dan bersyukur saat mengetahui ia kemudian bekerja di salah satu Bank Syariah. Kabarnya saat ini ia pindah kerja, aku harap ia dapat kembali bekerja di bank atau perusahaan berbasis syariah untuk meraih ridha Allah.


Berikutnya, sebut saja Mr. G-2, seorang teman sekelasku sewaktu SMP, dulu ia gebetan sahabatku namun ternayata aku pun menyukainya. Dulu kami sepat akrab walaupun hanya melalui telfon, dulu aku yang biasanya menelfon, di sekolah kami menjaga jarak. Saat SMU kami satu sekolah, waktu awal sekolah kami masih saling sapa namun kemudian kami seperti tidak saling mengenal bukan karena kami bersitegang tetapi mungkin karena canggung. Namun demikian, suatu kali saat ia kuliah, ia mengambil jurusan terkait ekonomi manajemen, ia menghubungiku terkait seminar bisnis Islami. Saat ini ia merupakan seorang musisi, salah satu musisi Indonesia.


Selanjutnya, seseorang, sebut saja Mr. U-2, kaka kelasku ketika SMU, seorang Tionghoa Muslim. Tadinya aku bermaksud menceritakan mengenai awal perkenalanku dengan pria ini di part mengenai musik, sehubungan pria ini pemusik, namun belakangan ia - sepertinya masih bermusik tetapi- lebih aktif dalam berniaga maka aku berusaha menceritakannya di dalam tulisan ini. Awal aku mengenal pria ini, dikenalkan oleh sahabatku yang ketika itu, kami masih SMP, merupakan pacar baru sahabatku. Waktu pertama melihatnya, ia terlihat chubby dan aku cenderung memandang sebelah mata, dan berpikir kira-kira ‘Oh cowo Cina Cina gimana gitu’, mukanya terlihat cukup cute tapi mungkin karena stylenya aku jadi sempat berpikir ‘Qo bisa sahabatku yang cantik, disukai banyak cowo serta baik dapetin cowo biasa aja kayak dia?’ -> Aku berpikir seperti ini, mending kalo aku cakep, muka dan postur aku aja standar qo aku belagu? Intinya, waktu itu aku tidak terlalu setuju sahabatku menjalin kasih dengan seseorang Tionghoa yang baru aku kenal tsb, namun saat itu aku berpikir ‘Tapi ya sudahlah itu urusan sahabatku, urusan mereka.’ [Sahabatku dan Aa kalo baca ini, maafin aku, afwan.] Selang beberapa waktu, sahabatku dan pria ini putus, sahabatku melanjutkan sekolah ke salah satu asrama Islam, pesantren modern; sedangkan aku masuk ke sekolah yang sama dengan sekolah cinta pertamaku yang juga merupakan sekolah dari mantan kekasih sahabatku ini, aku menjadi adik kelas mantan kekasih sahabatku ini. Dulu saat di sekolah, jika aku melihat atau berpapasan dengan mantan kekasih sahabatku ini paling aku berpikir sambil lalu ‘(O..) (Aa *) kaka kelasku, si cowo chubby Cina Cina gimana gitu mantan kekasih sahabatku.’ Hanya waktu itu mulai terpikir bahwa dia keren anak band, artis sekolah dan mulai dikenal di kota tempat tinggalku. *Sensor namanya/nama panggilannya.
Namun, pandangan aku terhadap pria ini benar-benar berubah setelah aku sempat mengenal pria ini –dari jarak yang- lebih dekat, waktu itu kami telah sama-sama kuliah, saat itu ia dan teman-temannya berkunjung ke rumahku, waktu itu ada beberapa perubahan pada dirinya, dia tidak lagi terlihat –terlalu- chubby, serta stylenya saat itu terlihat fit in untuknya, casual and simple. Aku masih ingat ia duduk di salah satu kursi ruang tamu di rumahku, ia terlihat cute, dengan kulit kuning yang sangat menarik, and calm (waktu itu ia lebih banyak diam). Kemudian, ada satu hal yang mengejutkan, dalam pembicaraan kami yang seru, diketahui –berdasarkan kesaksian teman-temannya- bahwa pria ini sering melaksanakan shaum Senin-Kamis. Hah? Shocked! Cowo Cina/Tionghoa (Muslim) suka shaum Senin-Kamis bagiku sesuatu yang sepertinya langka, membanggakan. Subhanallah. Mama (Umi)ku pun sampai jatuh hati melihat keelokan dan mengetahui kebiasaan baik pria ini, maksudnya Umi waktu itu setuju jika aku bisa bersama pria ini, namun aku ingat bahwa ia mantan kekasih sahabatku. Saat itu juga aku berpikir intinya kira-kira ‘Pantas saja dahulu sahabatku memilih pria ini sebagai kekasihnya, ternyata pria ini pria yang cute, menarik juga baik. Sahabatku jauh lebih baik, lebih cerdas dan lebih beruntung dariku.’ Pengalamanku ini merupakan pelajaran yang kesekian kalinya agar aku berusaha untuk tidak meremehkan orang lain apalagi ia seorang Muslim. Setelah aku mengenal lebih dekat secara personal, aku sempat suka pria ini, hanya ia mantan kekasih sahabatku, akhirnya aku dekat dengan salah satu teman baiknya yang juga seorang Tionghoa Muslim. Mr. U-2 ini satu universitas denganku, jika aku tidak keliru pendidikannya terkait akuntasi dan perpajakan. Untungnya ia tidak bekerja di kantor pajak, ‘semoga pajak dihapuskan, diganti zakat’, ia musisi yang juga merupakan seorang pebisnis, berniaga. Oia meskipun mungkin terkait bisnis, aku senang dan bersyukur bahwa seseorang ini masih bersilaturahim dengan beberapa saudaraku, alhamdulillah.

->Bicara mengenai style, hususnya untuk pria Muslim (non Arab), sangat baik berpakaian sederhana dan jangan anti gamis, sesekali  baik menggunakan gamis. Terima kasih untuk para pria yang sudah berusaha mengenakan gamis syari.


Kemudian, Mr. I-4, kaka kelasku ketika SMU. Saat sekolah, aku berpikir bahwa kaka kelasku ini mempunyai wajah yang terbilang tampan, terlebih sebagai anak band, ia terlihat menarik. Ia teman satu band dari pria yang aku kisahkan sebelumnya. Aku sempat menyukai Mr. I-4 ini, karena aku pikir ia memang menarik dan aku pikir aku kagok jika menyukai pria yang aku kisahkan sebelumnya, Mr. U-2, karena ia mantan kekasih sahabatku. Hanya saja, ternyata salah satu sahabatku lainnya, sangat menyukai bahkan mungkin mencintai pria yang aku maksud. Sahabatku lebih banyak berkorban dibandingkan aku dalam menyukai pria ini, untuk itu aku memutuskan untuk merelakan pria ini disukai/dicintai oleh sahabatku. Namun, sepertinya mereka tidak sempat menjadi pasangan kekasih. Seingatku silaturahimku dengan pria ini baik, adakalanya jika kami tak sengaja bertemu kami masih saling bertegur sapa. Terkait tulisan ini, belakangan baru aku ingat kembali bahwa ia pernah mengenyam pendidikan manajemen. Aku berharap pria ini dapat menghindari riba dan bersama-sama mengupayakan tegaknya ekonomi syariah. Aku pun berharap aku, sahabatku dan pria yang aku maksud serta keluarganya masih dapat menjaga silaturahim sebagai sesama Muslim, untuk meraih berkah, rahmat dan ridha Allah di dunia dan di akhirat.


Lalu seseorang, sebut saja Mr. T-4, mantan kaka kelasku ketika SMU, seorang pria yang pernah sangat aku cintai. Ketika kami masih di SMU, aku sering melihat seseorang ini bersama sahabatnya, pria yang aku "kecengin", atau terkadang aku melihatnya bersama kekasihnya, salah satu kaka kelas wanitaku, tetapi kami tidak terlalu saling mengenal hanya saja sesekali aku menyapa mereka. Namun, suatu kali terjadi tragedi labrak masal yang dilakukan banyak kaka kelas wanita kami terhadap para adik kelas wanita, aku (ketika itu kelas 2.8) termasuk salah satu yang menjadi sasaran untuk dilabrak. Saat itu, kami para adik kelas wanita "terpilih" (untuk dilabrak) dikumpulkan di area kebun belakang sekolah yang oleh para murid dinamai LISABON, lingkungan sawah dan kebon. Seingatku di sana memang ada kebun tetapi tidak ada sawah, mungkin teman-temanku termasuk aku imajinasinya berlebihan atau imajinasi di luar kebiasaan umum: mengimajinasikan sawah untuk padi Gogo Rancah. Waktu itu sebagian besar dari kami "diberi pelajaran" dengan dimaki-maki bahkan ditampar di bagian pipi, saat itu aku lupa apa aku dinasehati oleh para kaka kelas yang melabrak, tapi seingatku, alhamdulillah, para kaka kelas wanitaku tsb tidak ada yang menyakiti aku. Hal ini disebabkan oleh seorang alumni (berusia 10 tahun di atasku) yang aku tidak mengenalnya secara personal namun ia kerap mengirimi aku surat dan menelfonku untuk menyatakan bahwa ia sangat mencintaiku, ketika itu dikabarkan telah mengirim "memo" agar para kaka kelas wanita, "para artis/bintang" sekolah, yang melabrak kami para adik kelas saat itu, telah dipesankan agar tidak menyentuhku bahkan mereka diminta untuk bersikap baik dan melindungiku, dan memang para "artis/bintang" sekolah tsb kebanyakan bersikap baik kepadaku, namun demikian, kabar tidak baiknya adalah apabila ada pria khususnya di sekolah yang mendekatiku maka siapa pun pria tsb, kabarnya akan dihabisi atau minimal disiksa. Para kaka kelas kami yang pria kebanyakan tidak bisa berbuat banyak terkait tradisi di sekolahku tsb bahkan sebagian mereka melakukan tradisi penganiyaan terhadap para murid pria atau sebagian hanya mengawasi atau hanya sekedar melihat "prosesi" tsb. Selesai peristiwa pelabrakan tsb, ternyata salah satu kaka kelas priaku mengucapkan selamat kepadaku, sambil tersenyum sangat manis, ia menyatakan kira-kira "Selamat ya.. Kamu ga diapa-apain, kamu anak (cewe) baik." Saat itu aku cukup terkejut dan senang disapa terlebih dulu oleh salah satu pria paling tampan dan paling populer di sekolah, aku lupa apa aku sempat mengucapkan terima kasih, tetapi aku sempat tersenyum kepadanya, namun aku tersenyum sambil agak bingung, entah apa aku sempat berpikir 'Kenapa Aa ga menyelamatkan kami?' tapi yang pasti aku berpikir 'Aa memang kaka kelas yang tampan dan populer tapi aku ngga suka sama Aa, aku suka sama sahabat Aa.' Astaghfirullah, again aku belagu songong, padahal belum tentu juga kaka kelasku yang di kemudian hari sempat menjadi salah satu pria yang paling aku cintai di muka bumi ini suka sama aku, secara kekasihnya saat itu, kaka kelas wanitaku, merupakan seorang yang cantik, baik dan populer.
'Wondering: would he still think the same way (that I am a good girl) after what I have done to him, after so many faults I did?'
Saat peristiwa itu aku mengenakan seragam dengan kerudung, seingatku aku mengenakan semacam cardigan berwarna shocking green (hijau neon), dan snikers berwarna orange. Salah satu hal yang membuat aku masuk daftar labrak adalah karena suka beronta-ganti sepatu, yang berbeda-beda warna.
->Langkah aku mengenakan seragam dengan kerudung sudah tepat, tinggal modelnya di'syar'ikan, semestinya aku tidak mengenakan pakaian berwarna mencolok, dan tidak sering bergonta-ganti sepatu, serta mematuhi peraturan resmi sekolah, mengenakan sepatu sederhana berwarna hitam.
Meskipun aku masih menggebet sahabatnya, namun perhatian "kecil" yang  diberikan oleh kaka kelas yang aku maksud saat peristiwa "September Ceria", peristiwa pelabrakan, ternyata memberikan kesan khusus bagiku, aku semakin yakin bahwa ia kaka kelas yang ramah. Hal ini yang membuat aku memutuskan untuk memberanikan diri lebih mengenalnya terutama agar aku dikenalkan pada sahabatnya, pria yang sangat aku cintai saat itu. Awalnya aku jatuh cinta pada sahabatnya yang berbeda agama denganku, namun karena aku lebih dulu mengenalnya secara personal dibanding aku mengenal sahabatnya, setelah kami dekat dan sedikit-sedikit mengenal pribadinya, ternyata aku pun jatuh hati dengan pria ini. Kami sempat menjalin kedekatan yang intens saat kami masih kuliah. Pria yang pernah sangat aku cintai ini sepengetahuanku rajin shalat 5 waktu. Hal yang mengesankan, pernah setelah ia shalat, wajahnya terlihat bersinar. Seseorang ini sepengetahuanku baik, perhatian, suka memberikanku nasihat, diantara nasihatnya adalah agar aku rajin belajar dan rajin menabung. Ia berlatar belakang pendidikan manajemen. Dulu, kami adakalanya berantem, aku akui aku yang suka galak, judes dan jutek (bisa ditanyakan langsung kepada yang bersangkutan), tapi biasanya kami ga bisa berantem lama-lama, terkadang aku yang terlebih dahulu menghubunginnya atau sebaliknya, kadang sambil aga iseng, ia yang lebih dahulu tiba-tiba menghubungiku. Oia terkait hubunganku dengan pria ini, ada satu hal yang sempat membuatku sangat kaget, sebelumnya aku sangat berusaha keras untuk tidak jatuh cinta pada pria yang sama dengan pria yang -pernah- dicintai sahabatku, namun ternyata setelah aku dan pria yang pernah sangat aku cintai ini tidak lagi menjalin kebersamaan, salah satu sahabatku memberitahukan bahwa pria yang pernah sangat aku cintai ini adalah mantan pacar/kekasih salah satu sahabatku ketika SMP (yang sahabatku ini juga merupakan mantan kekasih dari salah satu pria Tionghoa yang pernah aku sukai yang kisahnya aku tuliskan sebelumnya). Aku benar-benar tidak mengetahui perihal kebersamaan pria yang pernah sangat aku cintai ini dengan salah satu sahabatku tsb, rasanya benar-benar ingin menangis mengetahui bahwa pria yang pernah sangat aku cintai ternyata adalah mantan kekasih salah satu sahabatku. Meskipun sebelumnya aku telah berusaha keras untuk tidak mencintai pria yang -pernah- dicintai sahabatku, namun kali ini suratan takdir menetapkan lain, pelajarannya adalah, aku tidak kuasa melawan takdir Allah Yang Maha Kuasa. Terkait ekonomi, bisnis dan pengelolaan keuangan. Waktu aku dan pria yang pernah sangat aku cintai ini masih menjalin kedekatan, Umi yang merupakan seorang guru namun beliau senang berdagang dan berbisnis sempat berkonsultasi bisnis terkait pertanian kepada pria yang pernah sangat aku cintai yang merupakan mahasiswa agribisnis. Umi dan juga pria yang pernah sangat aku cintai ini pernah mendiskusikan dan merencanakan sebuah kerajaan bisnis terkait pertanian. Untuk hal tsb, Umi dan pria yang pernah sangat aku cintai ini sempat terlibat pembicaraan yang serius, pria yang aku cintai saat itu bertindak selayaknya konsultan pertanian, hanya saja aku yang saat itu masih terbilang perempuan muda, sekitar 19 tahun, yang mengambil jurusan sastra serta sedang tidak tertarik menjalankan bisnis (pribadi dan keluarga) apalagi bisnis pertanian, aku merasa bete dan bosan berada di antara pembicaraan Umi dan pria yang pernah sangat aku cintai ini. Akhirnya, aku memalingkan diri dari Umi dan dari pria yang pernah sangat aku cintai ini, aku berpaling sambil berpikir kira-kira 'Ya udah, Abang "pacaran" aja sana sama Mama aku, kayaknya Abang kalo bicara -bisnis pertanian- sama Mama nyambung, kalo sama aku ngga nyambung.' 'Bro, you don't know that I have spent my childhood for -learning and doing- business, now I don't wanna talk about it, I just want you, I just want to talk about trivial and willy nilly things.' Astaghfirullah. Aku berpaling pada sahabatnya, pria yang juga sangat aku cintai ketika itu, pria yang memang sejak sebelumnya, aku telah menyatakan bahwa aku suka kepadanya (berharap dijadikan kekasih olehnya), pria Tionghoa yang berbeda agama denganku, yang nampaknya -pada detik-detik dan menit-menit itu- he was in the same mood with me at that time. At that time I just want love and affection, I just wanna have fun. Tentunya saat itu aku benar-benar mencintai pria yang saat itu tidak seagama denganku ini, aku sempat berharap dapat menikah dengannya bahkan sempat berimajinasi membuat gambar gaun pernikahan (sayangnya bukan gaun syar'i), hanya aku tidak mengetahui pasti apakah ia juga mencintai aku, kemudian saat itu aku masih kuliah terlebih ia bukan Muslim.
Ketika itu, aku bete hanya saat pembicaraan bisnis pertanian yang dimaksud berlangsung, setelah pembicaraan bisnis yang dimaksud tidak lagi dibicarakan, kami kembali akur seperti biasa.
Selain hal tsb di atas, terdapat kisah lain terkait pertanian dan perkebunan, suatu kali (sekitar tahun 2005) aku dan pria yang pernah sangat aku cintai ini jalan berdua di sekitar kebun di kediaman keluargaku, saat itu, di kebun ditanami beberapa tanaman, lalu tiba-tiba pria yang pernah sangat aku cintai ini bertanya kepadaku, kira-kira sbb:
Abang: "De, Ade tau ga itu pohon apa?", "Kalo yang itu pohon apa?"
(Ia menunjuk beberapa tanaman, mengetes aku dengan bertanya secara sopan dan baik-baik).
Ade (aku): "Ngga tau." 
(Aku menjawab sambil aga jutek, padahal mungkin aku tau nama tanaman yang ia tunjuk, minimal salah satu dari yang ia tunjuk tapi aku sedang lupa atau lagi males ditanya-tanya).
Abang: "Qo Ade ngga tau...? Ade mustinya belajar... Cari tau nama tanaman-tanaman, pohon-pohon di kebun Ade. Sayang, kan Ade punya kebun..." -> Kebun keluarga.
(Ia selalu memberi nasihat bukan dengan cara "lemes"/nyinyir tapi dengan cara santun, baik-baik, penuh perhatian dan kasih).
Ade (aku): (Ade getting bad mood and emosi jiwa, lalu menjawab):
"Ya kan ada TUKANG KEBUN, itu urusan tukang kebun!"
(Ade menjawab sinis sambil berpikir 'Gue cantik (salah satunya, menurut sang pria, "si Ade" cantik), pendidikan tinggi, kuliahan, masa iya disamain sama tukang kebon!').
Abang: (diam dan senyum).
->Astagfirullahaladzim, aku dulu betingkah banget, songong, ngga nyadar apa ya pria yang pernah sangat aku cintai ini kan ganteng, saat itu ia anak kuliahan dan ia tetap mau mengambil jurusan pertanian. Lagi pula, tukang kebun, atau apa pun profesi dan pendidikannya, aku tidak sepatutnya meremehkan, sepatutnya lebih menghargai. Untuk hal ini, beberapa tahun kemudian, meskipun waktu itu kami sudah tidak lagi terlalu dekat, aku sampai sempat menghubunginya untuk meminta maaf, mengakui bahwa nasihat pria yang pernah sangat aku cintai ini benar, dan aku berterima kasih kepadanya. Anw dia kuliah hingga selesai sedangkan aku tidak menamatkan kuliahku.
Oia seingatku dulu aku nyaman saja, bahkan senang mendengar cerita beberapa bisnis -yang dapat dibilang lebih dekat ke bidang fashion- yang sempat dilakoni pria yang pernah sangat aku cintai ini. Mungkin di alam bawah sadarku, bisnis tsb lebih dekat dengan passion -bisnis-ku, terlebih beberapa waktu sebelumnya aku sempat masuk sekolah menjahit busana serta sempat ingin memasuki salah satu sekolah desain di Jakarta.
Oia saat menjalin kedekatan denganku, pria yang pernah sangat aku cintai ini sepertinya dekat dengan beberapa wanita salah satunya dengan mantan kekasihnya yang sangat ia cintai, salah satu kaka kelas wanitaku, mereka masih sangat saling mencintai, hanya saja orang tua salah satu dari mereka tidak merestui hubungan mereka sehingga mereka harus memutuskan tali kasih, namun mereka tetap dekat. Aku dan kaka kelas wanitaku ini saling mengenal, aku sayang kaka kelas wanitaku ini, sepertinya begitu juga sebaliknya, meskipun kami berdua saling mengetahui bahwa kami mencintai pria yang sama. Dulu saat aku dekat dengan pria yang pernah sangat aku cintai ini, aku sabar saja jika melihat atau mendengar kabar bahwa ia masih jalan bareng mantan kekasihnya yang masih sangat ia cintai, kaka kelas wanitaku, lagi pula sebelumnya aku sudah terbiasa melihat mereka bersama sebagai pasangan kekasih; begitu pula kaka kelas wanitaku juga sepertinya berusaha bersabar jika melihat aku jalan bersama pria yang masih sangat ia cintai.
Oia mungkin dikarenakan kaka kelas wanitaku ini anak dari atasan/boss Umiku, suatu kali kami bertemu, jika aku tidak keliru, kaka kelas wanitaku ini sempat memberi aku sejumlah uang, aku menolak keras namun ia tetap memaksa, akhirnya aku terima pemberiannya, saat itu aku berpikir 'Haaah? -seolah-olah- "madu" gue ngasih duit ke gue?' 'Subhanallah, baik banget kaka kelas -wanita-ku ini.' Hal yang sangat mengharukan saat itu adalah, ia sempat aga memelukku sambil menatapku dengan tatapan wanita yang sama-sama mencintai seorang pria yang sama, sedangkan tatapannya seolah-olah mengatakan 'Tolong jaga baik-baik pria yang -masih- sangat aku cintai.' Kaka kelas wanitaku ini juga dicintai oleh pria yang juga sangat aku cintai saat itu, yang berbeda agama denganku, hanya mereka tidak sempat menjadi pasangan kekasih. Aku mencintai pria yang pernah sangat aku cintai bukan karena uang, saat itu aku benar-benar mencintainya, benar-benar mencintai keduanya.
Aku mah sabar aja saat mendengar setiap pria yang sangat aku cintai sedang atau masih mencintai wanita lain. Dalam perjalanan hidupku terdapat beberapa pengalaman yang membuat aku semakin terpesona dengan fenomena pria yang dicintai bahkan mencintai banyak wanita (tapi tidak mempermainkan wanita). Wajar bila ada rasa cemburu, hanya, terlebih belakangan, aku sering kali, dalam bahasa saat ini "gagal paham" kalo harus berantem gara-gara memperebutkan seorang pria, 'why don't we just share?' (Tepatnya poligami sesuai syariat Islam).
Satu hal lain yang pernah dilakukan oleh pria yang pernah sangat aku cintai ini, yang sempat membuatku sangat terharu adalah, kami yang saat itu menjalin semacam hubungan "Long Distance Relationship (LDR)", ia sempat sampai mengutus salah satu sahabatnya ke tempat aku kost untuk mengirimkan salam dan memastikan aku dalam keadaan baik-baik saja. Sayangnya ketika itu, di kostan, aku sedang bersama pria lain (pria yang pernah sangat aku sayangi, mantan kekasih sahabatku yang saat itu ia masih menyayangi sahabatku). Awalnya aku pernah berusaha keras tidak mencintai atau menyayangi pria yang pernah dicintai sahabatku, namun kemudian, aku jadi berubah pikiran, bisa saja aku mencintai pria yang pernah dicintai atau disayangi sahabatku, tergantung dari pribadi sahabatku misalnya berpribadi sabar; begitupun aku, mengizinkan jika sahabatku juga mencintai atau menyayangi pria yang pernah atau masih aku cintai atau sayangi.
Yang ini cerita ngga ya.. Cerita aja walaupun aga ngga enak kalo "the famous and fenomenal guy" yang pernah aku ajak pindah agama ke dalam Islam dan aku ajak nikah baca. Pria yang pernah sangat aku cintai ini, he is such a blessing for me, ia -mendekati- representasi impian masa kecil aku: "Kalo udah besar aku pengen punya pacar kayak "Jun" (Sharul Gunawan)", dulu pria yang sangat aku cintai ini dikabarkan mirip aktor dan presenter yang aku maksud; pria yang pernah sangat aku cintai ini juga -hampir merupakan- aktualisasi dari impian masa remaja aku "Kalo punya pacar, aku pengen aku dan pacar aku kayak Agnes Monica dan Roger Danuarta." Gimana ya bilangnya, ya gitu, bersama pria ini, aku dapetin "feel" yang aku mau, yang aku impikan saat remaja.
Hal lain yang selalu membuat aku terkesan dan nyaman saat bersamanya dahulu adalah, saat kami menjalin kedekatan, he was just like 911's operator, a wonderful listener, I could call or text him whenever I wanted even when it was midnight, he often answered my calls or replied my texts. Sejak lama aku insomnia, aku sering mengiriminya sms, walaupun di malam yang larut, ia tetap membalasnya.
Salah satu hal yang membuat aku "feel guilty" terhadap pria yang pernah sangat aku cintai ini terjadi di akhir-akhir kedekatan kami. It was the new year's eve of 2008, I celebrated that night with my bestfriends and "someone". Late at night, one of my bestfriends stayed up in my room calling her boyfriend, while me, I spent that night sharing and laughing with a boy, one of the hottest boys in my hometown at that time, it might be at that time he was following in the footsteps of Indonesian music industries. Dan keerroran parahku adalah, setelah aku bercengkrama menghabiskan malam tahun baru dengan seorang pria yang pernah sangat aku benci namun kemudian aku sempat jatuh cinta kepadanya, sekitar jam 3 pagi, aku menelfon pria yang pernah sangat aku cintai ini, I was surprised that he answered my call, sambil aga-aga mengantuk ia tetap menjawab telfonku. Seingatku, saat itu, aku tidak sepenuhnya jujur bercerita kepadanya mengenai aktifitasku di malam tahun baru tsb. 'Abang, maafin aku.' ->Sebenar'y aku dan pria ini sudah tidak menjalin kedekatan sejak sebelum pertengahan tahun 2005, hanya di tahun 2007 kami kembali menjalin komunikasi yang akrab seperti sebelumnya meskipun bukan sebagai pacar.

Oia, malam sebelumnya aku menyambut malam tahun baru di sebuah villa di Bandung bersama teman-teman kuliahku dan seseorang yang sangat aku suka saat itu. Astaghfirullah, aku ribet banget. FYI entah kenapa di halaman awal diary tahun 2008 itu aku menuliskan kata-kata "Just Do the Best, Let God Do the Rest", quotes from: Tex Saverio (pria yang aku cintai saat ini yang ketika itu aku belum berkenalan dengannya).

Sekilas mengenai "One of the hottest boys in my hometown", he is a nice looking also talented boy, bisa mencintai sekaligus dicintai banyak wanita termasuk para sahabatku, namun karena terkesan playboy, awalnya aku benci dia, kalo ada dia, meskipun ia ganteng dan populer di kotaku, aku males banget ngeliatnya. Hanya suatu kali ia datang ke rumahku, aku lupa kenapa saat itu ia mampir ke rumahku, namun aku akui, kala itu aku sangat senang pria ini mengunjungi kediaman -orang tua-ku, saat itu aku mulai terbiasa dengan pria-pria "Don Juan". Ketika Umiku melihat pria ini, dan sempat sedikit bertanya mengenai keluarganya, Umi langsung menyatakan intinya bahwa pria ini mirip sepupu Umi, tepatnya sepupu angkat Umiku, dan memang ternyata ia anak dari sepupu angkat Umiku, yang berarti ia adalah kaka sepupuku, kaka sepupu angkatku, ia cucu dari ayah angkat Umiku, 'OMG', MashaAllah. Udah kayak sinetron aja ya?
Kemudian, di malam tahun baru itu, aku mengungkapkan berbagai hal yang aku rasakan terhadapnya, ia sangat excited mendengarkan segala keluh, saran, kritik dan harapanku terkait dirinya. Dan yang membuat aku jatuh hati pada sepupu angkatku ini adalah, ia penyabar, ia tetap tenang, riang dan bersemangat walaupun aku menyampaikan kritik dengan kata-kata setajam silet, ia malah "menantang" aku dengan lembut dan sabar sambil tersenyum manis dan mengungkapkan kata-kata seperti "Ayo apa lagi ya kamu ngga suka dari Aa? Cerita aja.." "Ayo cerita aja.." ; ia talkative tetapi seingatku ia tidak "lemes", aku suka bete sama pria yang mulutnya lemes kayak mulut cewe; seingatku ia juga tidak "pundungan", aku biasanya aga sebal pada pria yang lekas mutung dan lekas ngambek seperti wanita. Aku suka pria yang penyabar. Namun sekiranya aku punya kekasih yang lemes dan mutungan sepertinya aku kesal, ngomel-ngomel, lalu paling aku nasehati sambil tetap berusaha sabar apalagi kalo aku cinta sama kekasih aku tsb.
Sejak itu aku jatuh hati pada kaka sepupu angkatku ini, apalagi ia berulang kali ada untuk menghiburku di saat aku terkena musibah, di saat aku sakit 'Thanks Aa'. Aku tidak mengetahui perasaan sebenarnya dari sepupu angkatku terhadapku, yang pasti sejauh ini ia berbuat baik kepadaku dan keluarga. Sedangkan aku pribadi, tidak berani mencintainya lebih lanjut, aku lebih memilih agar kami -cukup- sebagai saudara, aku bahagia bahwa ia sepupu aku meskipun hanya sepupu angkat. Sejauh ini aku sering berpikir, dengan -cukup- menjadi saudara berarti ga ada kata putus atau cerai, lebih last forever, padahal dalam Islam, dibolehkan menikah dengan saudara sepupu misalnya dari ibu, atau saudara jauh lainnya. Oia sepertinya sepupuku ini sekarang berubah lebih baik, nampaknya cenderung menjadi pria setia terhadap pasangannya. Alhamdulillah. Terkait tulisan ini, aku khawatir pekerjaan sepupu angkatku ini terkait riba, semoga Allah menjauhkan ia dari pekerjaan terkait riba. Semoga Allah memberkahi kehidupannya. Aamiin.

-> Dalam Islam tidak ada perayaan tahun baru.
-> Aku suka pria setia tapi bukan berarti aku tidak setuju poligami, aku tetap setuju poligami sesuai syariat Islam.
Mungkin awalnya aku tidak merencanakan untuk jatuh cinta pada pria yang pernah sangat aku cintai yang sedang aku kisahkan ini karena aku mencintai sahabatnya, namun seiring berjalannya waktu, aku sempat benar-benar mencintai pria ini. Hingga saat pria ini tidak lagi berada di dekatku, tidak lagi menjalin kedekatan denganku, aku benar-benar merasa kehilangan dia. Aku sangat banyak menangis, kemudian aku melakukan berbagai hal yang tidak ia sukai, misalnya ia menyatakan bahwa ia menyukai wanita berambut panjang, ia kurang menyukai wanita berambut pendek, ia suka wanita yang aga tomboy tapi tidak terlalu tomboy, ia pernah menyatakan aku cantik (salah satunya dengan rambut panjang), untuk itu aku memotong rambut aku super pendek; kemudian ia menyatakan bahwa ia menyukai wanita yang baik, ia tidak menyukai wanita yang nakal, untuk itu, aku merubah gaya hidupku, aku mulai merokok bahkan merokok di depan umum, biasanya aku agak menjaga jarak dengan para pria termasuk dengannya meskipun kadang ia terutama aku "khilaf" (maunya deketan, namun tetap berusaha tidak melampaui batas), aku mulai lebih berani -maaf- tidur di samping pria lain yang saat itu aku sayang dan yang menyayangi aku. Aku sengaja melakukan berbagai hal yang tidak ia sukai supaya aku bisa melupakan pria yang ketika itu masih sangat aku cintai, namun ternyata, tidak semudah itu melupakan dan berhenti mencintai seseorang.
[Maaf, semestinya aku tidak memotong rambut aku terlalu pendek, semestinya aku berhijab serta membatasi pergaulan antara pria dan wanita bukan mahrom.]
Belakangan aku menyadari apa yang dilakukan pria yang pernah sangat aku cintai (yang seagama denganku) memberikan nasihat terbaik ketika diminta oleh Umiku, konsultasi gratis terbaik yang dapat ia lakukan, adalah salah satu bentuk cinta/sayang dan perhatiannya untuk aku dan keluarga. Ia tidak hanya pernah menyatakan menyayangiku tetapi saat itu sempat sering membuktikannya.
Sepengetahuanku, pria yang pernah sangat aku cintai yang kisahnya aku tulis di paragraf ini banyak berbuat baik kepada Ibunya/Mamanya, sehingga tidak mengherankan jika ia berbuat baik kepadaku dan Umiku. Aku merasa bahwa banyak hal yang pernah dinasihatkan oleh pria yang pernah sangat aku cintai ini kepadaku adalah untuk kebaikanku bahkan kebaikan keluargaku saat itu bahkan di masa depan.
Buat Umi, Aa, sahabatnya Aa, juga sahabatnya Aa yang lainnya (yang sering mengupayakan agar silaturahim aku dan Aa selalu baik-baik saja), lalu temannya Aa, maafin aku, dalam kisruh yang pernah terjadi, kekeliruan dimulai dan kebanyakan dibuat oleh aku.
Aku sangat menyayangkan ketika mengetahui pria yang pernah sangat aku cintai ini bekerja di bank konvensional, namun suatu kali walaupun kami sudah tidak menjalin kedekatan aku pernah malah “genit-genit” memberikan semangat kepadanya, semangat bekerja, aku sebagai mantan orang yang pernah sangat menyayanginya bahkan mencintainya dan orang yang pernah –sangat- ia sayangi, aku bukannya menasihatinnya terkait larangan riba dalam Islam. Walaupun kami sudah lama tidak menjalin kedekatan, bukan berarti aku sama sekali tidak peduli, selagi aku bisa peduli, terutama karena kami sebagai sesama Muslim. Semoga seseorang yang pernah sangat aku cintai ini mendapakan pekerjaan yang lebih baik, seperti di bank atau perusahaan berbasis syariah untuk meraih berkah, rahmat dan ridha Allah di dunia dan di akhirat.


Juga, sebut saja Mr. V-1, mantan pacarku, aku lebih suka menyebutnya sebagai mantan kekasihku. Teman satu sekolah saat SMP, kami kembali satu sekolah saat SMU namun kami tidak terlalu saling mengnal terlebih saat SMU ia pindah ke luar kota. Kami kembali berkomunikasi setelah hilang kontak selama bertahun-tahun lamanya. Dia lulusan pendidikan terkait ekonomi. Oia suatu kali aku sakit cukup parah dan kekasihku saat itu tsb menegokku, saat sakit itu seingatku aku malah sempat bertanya kepadanya mengenai saham, yang aku pikirkan saat itu adalah mumpung aku punya pacar lulusan pendidikan ekonomi jadi –walaupun sakit- aku musti belajar sama dia, ketika itu aku ingin mengeathui perihal saham, dan kekasihku saat itu, berdasarkan teori dan pengalamannya, ia menjelaskan dengan jelas dan detail mengenai saham meskipun aku tidak sepenuhnya mengerti mengenai hal tsb karena untuk memahami saham mungkin juga perlu terjun langsung dalam bidang tsb. Anw aku tidak paham hukum Islam terkait saham. Terkait hubungan kami, Abiku sempat setuju jika aku menikah dengan seseorang ini, namun ada banyak pertimbangan terkait hubungan kami, aku dan mantan kekasihku ini berpisah secara baik-baik.

Kemudian, Mr. Muhammad Ibrahim Wong (Baim wong), sejauh ini, aku tidak membuat inisial dan no serial untuk aktor, host dan pebisnis ini. Inisial dan nomor serial tsb aku tuliskan untuk para pria yang pernah atau masih aku sukai, sayangi atau cintai atau yang pernah menyukai, menyayangi atau mencintai aku, diurut berdasarkan huruf pertama nama mereka lalu diurut berdasarkan waktu pertemuan atau kapan saat aku menyukai, menyayangi atau mencintai pemilik inisial tsb, jika harus aku buat kodifikasi maka aktor ini berkode Mr. M-4. Seperti yang pernah aku sebutkan, aku suka aktor ini terutama karena ia seorang Tionghoa Muslim, kemudian aku suka suaranya yang cempreng. Aktor ini salah satu aktor yang sempat membuat aku sengaja memasang sikap apatis, tidak peduli dengan sekitar, saat melihatnya berakting di televisi. Ternyata, dari informasi yang beredar ia memiliki latar belakang pendidikan formal terkait ekonomi dan bisnis. Ia juga merupakan seorang pebisnis, bisnisnya dalam bidang kuliner. Aku pernah sampai menangis-nangis menginginkan butter yang merupakan salah satu produk bisnisnya dan keluarganya. Alhamdulillah, atas bantuan salah satu sahabatku, aku berhasil mendapatkan butternya, butternya ada label hallalnya dan rasanya delicious. Terkait rasa sukaku kepada Baim Wong, aku menyukainya layaknya para fans menyukai artis (aktor), sepertinya Baim Wong termasuk aktor yang disukai oleh kedua orang tuaku karena ia Tionghoa Muslim. Orang berdarah Cina (Tionghoa) beragama Islam menurut kami sesuatu yang spesial, mengingat sampai saat ini, akhir zaman sudah hampir kiamat, orang-orang keturunan Cina apalagi orang Cina RRC masih sangat banyak yang bukan Muslim padahal hanya Islam agama yang diridhai Allah. Oia orang Cina terkenal memiliki darah bisnis yang kuat, berbisnis adalah sesuatu yang lumrah bagi etnis ini. Kembali mengenai Baim Wong, Abi aku sempat mempertanyakan hal yang intinya mengapa aku sibuk mengejar-ngejar pria Tionghoa non Muslim bukannya sibuk mengejar-ngejar Baim Wong yang sudah jelas-jelas Muslim? Saat ini aku berpikir bahwa aku tidak berani menyukainya seperti aku menyukai bahkan mencintai salah satu kawannya, yang berbeda agama dengan kami, sepertinya aku benar-benar mencintai kawan dari Baim Wong ini, I do love him, sayang aku menyadari mengenai cinta ini di saat yang tidak tepat. Buat Aa Baim: "Aa maafin aku, aku bukannya berusaha mencintai/mendapatkan cinta Aa yang sudah jelas-jelas Muslim, aku malah berusaha keras untuk bisa bersama –salah satu- diantara para pria yang masih non Muslim. Aa Baim, aku mau bilang aku suka atau minimal ngefan sama pria yang bisa menyukai bahkan mencintai banyak wanita serta disukai bahkan dicintai banyak wanita tapi aku ngga suka pria playboy apalagi heartbreaker (ngedeketin cewe terus ninggalin gitu aja tanpa berusaha kembali untuk bersama selamanya), mudah-mudahan Aa bukan playboy apalagi heartbreaker, aku setuju pria berpoligami sesuai syariat Islam. Oia Aa aku sudah cukup malu “ngejar-ngejar” “this person” and “that person”, aku ngga mau lebih malu lagi kalo harus “ngejar-ngejar” Aa, apalagi kalo Aa-nya ngga suka sama aku." Aa Baim, aku doakan semoga Allah mengaruniakan kepada Aa jodoh terbaik menurut-Nya, wanita yang diridhai-Nya. Aamiin. Terkait persoalan bisnis ini, semoga aku, Aa Baim Wong dan kaum Muslimin dapat bersama-sama menegakkan ekonomi syariah untuk meraih berkah, rahmat dan ridha Allah di dunia dan di akhirat. Aamiin.
Sehubungan aku khawatir dengan aqidah-akhlak iman Islam aku jika terlalu tertarik bahkan terikat hati pada para pria non Muslim, maka aku meminta bantuan aktor Muslim ini agar membolehkan aku mengikatkan hati aku kepadanya, ke hatinya, dalam jangka waktu yang tidak aku tentukan, meskipun ia memiliki kekasih. Semoga Allah mengaruniakan kepada pria-pria non Muslim yang aku memiliki janji dengan mereka, juga kepada wanita non Muslim kekasih aktor yang dimaksud dan para non Muslim hidayah iman Islam. Aamiin


Lalu, sebut saja Mr. R-13, jelasnya Roger Danuarta. Aktor, Tionghoa, non Muslim. Saat SMU, aku pernah –tidak sengaja- bertemu aktor ini di lokasi shooting salah satu sinetron yang ia bintangi, tapi sepertinya saat kami bertemu aku tidak mengetahui latar belakang pendidikannya, yang aku tahu saat aku bertemu dengannya dia terlihat tampan, mempesona. Belakangan aku membaca informasi bahwa ia pernah mengambil pendidikan jurusan terkait ekonomi dan bisnis. Kaget aja, dari mulai Muhammad Ibrahim Wong sampai Roger Danuarta, para aktor yang pernah atau masih sangat aku suka, ternyata latar belakang pendidikan mereka terkait ekonomi dan bisnis. Mimpi apa ya, aku bisa suka sama cowo-cowo yang TERNYATA mereka latar belakang pendidikannya terkait ekonomi dan bisnis? Kembali mengenai Mr. R-13, awalnya aku tidak ngeh bahwa aku suka kepadanya, dulu aku pikir ia cocok dengan penyanyi sekaligus aktris AM (Agnes Monica maksudnya), baru beberapa tahun lalu aku bener-bener ngeh kalo aku suka pria ini. Belakangan, aku kadang merajuk-rajuk terus marah-marah sama dia via message media sosial. Tapi kalo aku salah, adakalanya aku juga meminta maaf, misalnya abis merajuk-rajuk sama dia sambil marah-marah tapi lupa doain dia untuk masuk dan memeluk Islam. ‘Wei, kayaknya ada yang salah gitu ya mengenai relasi aku sama kamu?’
Belakangan setiap aku mencintai pria, aku jadikan sebagai sarana aku belajar, BELAJAR MENCINTAI (entah pria yang aku sukai, sayangi atau cintai juga menyukai, menyayangi atau mencintai aku atau tidak?). Aku benar-benar ingin mengungkapkan bahwa, aku pribadi suka dengan caraku menyukai, menyayangi atau mungkin mencintai pria ini, awalnya aku khawatir apakah aku suka aktor ini karena dia tampan, tajir dan sukses, tapi waktu aku melihatnya nampak  “terjatuh”, aku tetap masih suka dia, masih sayang dia, mungkin masih mencintai dia apa pun keadaannya kecuali agamanya (aku tidak suka agamanya yang bukan Islam), hanya kesalahan lainnya selain aku menyukai pria ini yang berbeda agama denganku, aku juga mencintai pria lain yang juga berbeda agama denganku. Belakangan aku berusaha benar-benar berhati-hati dalam mencintai seseorang karena aku pribadi khawatir bila cinta yang aku miliki tidak tulus, aku ingin dapat mencintai karena Allah.
Btw belakangan aku suka liat kebersamaan Roger sama Ka Asty Ananta soalnya Ka Asty terihat sering ada di deket Roger, ga hanya di saat Roger terlihat baik-baik saja tetapi di saat ia nampak "kenapa-kenapa". Maksudnya, aku heran kenapa Roger ga masuk dan memeluk Islam aja terus nikah sama Ka Asty Ananta?
->Aku tidak meminta maaf karena mengajak dia masuk dan memeluk Islam, atau melarang dia dari kekafiran, kesyirikan, kemunkaran dan kemaksiatan lainnya.
Semoga Allah mengaruniakan kepada Roger, Agnes dan para non Muslim hidayah iman Islam.


Menurut pendapatku, untuk menjadi pebisnis atau pengusaha sukses tidak musti berlatar belakang pendidikan formal terkait ekonomi dan bisnis. Namun orang-orang berlatar belakang pendidikan formal terkait ekonomi dan bisnis dibutuhkan untuk memudahkan pekerjaan para pebisnis dan pengusaha yang tidak memiliki latar belakang pendidikan formal terkait ekonomi dan bisnis. Harapan aku, khususnya, para pebisnis dan pengusaha Muslim baik yang berlatar belakang pendidikan ekonomi dan bisnis maupun yang tidak, dapat bekerja sama menegakkan ekonomi syariah khususnya di Indonesia umumnya di muka bumi ini.


Terkait cinta juga dunia ekonomi dan bisnis. Aku teringat seseorang, sebut saja Mr. T-7, tepatnya Tex Saverio. Aku melihat profil dirinya yang merupakan seorang desainer di salah satu majalah pada sekitar akhir 2005 atau mungkin tepatnya awal 2006. Kemudian aku sempat berkenalan dengannya, aku sudah cukup lama mengenal/berkenalan dengan pria ini, tahun 2009. Dulu kami berkenalan via jejaring soial Facebook, beberapa kali kami berkomunikasi, belakangan aku biasanya menghubunginya via WhatsApp (meskipun belakangan tidak ia respons). Terlebih sejak menulis tulisan ini, aku jadi berpikir sepertinya, aku menyukainya saat melihat profilnya di majalah, selain karena parasanya yang menawan, pandai menggambar, berani mengambil keputusan untuk berhenti dari sekolah formal juga mungkin salah satunya karena dia terjun ke dunia bisnis. Ia menekuni hobby-nya dalam dunia desain yang sekaligus juga mengantarnya memasuki dunia bisnis, di usianya yang masih muda ia sudah menapaki pencapaian yang sangat berarti dalam dunia bisnis. Karya-karyanynya memang seringkali terlihat mengagumkan, hanya saja, sangat disayangkan karyanya banyak yang bertentangan dengan syariat Islam.
Aku jadi agak spachless bicara cinta tetapi terkait bisnis, meskipun sepertinya waktu dulu aku tidak terlalu ngeh mengenai hal ini (dulu sepertinya aku lebih terpesona sama mukanya yang terlihat ganteng). ‘Rasanya jadi ngga seru ceritanya, qo aku merasa salah aku fatal banget ya aku minta dijadikan kekasih oleh dia yang merupakan seorang pebinis yang terbilang sukses terlebih dia beda agama sama aku.’ 
Anw di salah satu tulisanku, aku pernah nulis mengenai Tex, intinya aku liat Tex dulu sebelum sepopuler dan sesukses seperti sekarang ini, dia "ada apanya?", maksudnya sepertinya lebih ke aku melihat/merasakan ada energi/semangat muda yang meluap dalam dirinya.
Untuk pria yang aku cintai yang beda agama denganku, harap maklum jika aku tidak bisa mencintai kamu apa adanya, karena jika aku mencintai kamu apa adanya, aku akan tetap mencintai kamu meskipun kamu dalam kekafiran atau kemusyrikan, naudzubillahimindzalik, yang aku harapkan adalah aku mencintai orang yang aku cintai sedapat mungkin aku juga dicintai oleh orang yang aku cintai dalam keadaan kami selamanya bersama-sama dan saling mencintai dalam iman Islam.
Oia suatu kali, Abi yang sambil aga kesal karena aku suka sama Tex yang beda agama sama aku, tapi aku kekeuh suka sama Tex (berharap dia mau masuk dan memeluk Islam, kemudian berharap dia suka juga sama aku), sempat menyatakan intinya, ya kalo Tex mau masuk Islam, dan dia suka juga sama kamu, dia cocok sama kamu (aku) soalnya aku dan Tex sama-sama suka menggambar, sama-sama suka desain, sepertinya bila menikah dan berbisnis bisa singkron. Aku girang bukan kepalang waktu denger Abi akhirnya mengungkapkan hal tsb walaupun nampaknya terpaksa. -> Abi maunya aku suka sama cowo bukan publik figur, cowo biasa aja, yang memang Muslim atau sudah Islam (Mualaf).
-> Apabila sesama Muslim, bisnisnya bisnis Islami, sesuai syariat Islam.
Seperti yang telah aku ungkapkan sebelumnya yang intinya bahwa belakangan aku berusaha untuk benar-benar berhati-hati dalam mencintai seseorang karena aku pribadi khawatir bila cinta yang aku miliki tidak tulus, tidak murni, aku ingin dapat mencintai seseorang karena Allah.
Aku mungkin masih mencintai pria ini, tapi harapan terbesarku saat ini adalah ia mau masuk dan memeluk Islam, kemudian membuat karya sesuai syariat Islam. 
Setelah dipikir-pikir dan dirasa-rasa, sepertinya aku memang mencintai pria ini, aku sering berusaha mengungkapkan berbagai hal termasuk keinginan terdalam aku kepada pria ini, hanya sejauh ini dianya nampak cuek aja.

"Akan tiba satu jaman atas manusia dimana perhatian mereka hanya tertuju pada urusan perut dan kehormatan mereka hanya benda semata-mata. Kiblat mereka hanya urusan wanita (seks) dan agama mereka adalah harta mas dan perak. Mereka adalah makhluk Allah yang terburuk dan tidak akan memperoleh bagian yang menyenangkan di sisi Allah."(HR. Ad-Dailami)

http://ulamapewaris.blogspot.co.id

Pria ini, Tex Saverio, salah satu pria yang membuat aku "sibuk", sibuk mikirin dia, mau (ingin) yang "macam-macam" -mau dia, mau dinikahi, mau (maaf) bikin anak- sama dia. Aku pun sempat melakukan kesalahan fatal, mengirimkan foto lama aku kepada pria yang aku cintai ini, foto wajah senang sekaligus sedang sangat jatuh cinta kepadanya, sayangnya dalam foto yang aku maksud aku tidak mengenakan hijab. Dari dulu aku memang suka aneh-aneh terhadap pria yang aku cintai ini, aku pernah memperlihatkan foto aku mengenakan kebaya putih, ketat dan di beberapa bagian tubuh nampak transparan kepada khalayak via media sosial terlebih kepadanya. Astaghfirullah. Aku memohon maaf kepada khalayak atas pelanggaran syariat Islam yang aku lakukan tsb.

Hikmah dari kesalahan yang aku lakukan serta melihat fenomena yang terjadi saat ini adalah, aku semakin yakin bahwa apa yang disabdakan Rasulullah Muhammad saw itu benar dan terjadi, aku semakin yakin dengan agamaku, Islam.


->Dalam Islam tidak ada pacaran, yang ada ta’aruf, namun jika pernah pacaran atau menjalin hubungan/kedekatan semacam itu, sedapat mungkin hindari permusuhan dengan para mantan kekasih bahkan dengan para mantan kecengan. Aku berpendapat bahwa permusuhan (terutama antar sesama Muslim) dapat menggaggu stabilitas ekonomi bahkan stabilitas ekonomi global. Dalam Islam, bila ingin dipanjangkan rezeki maka sambunglah silaturahim (terutama sebagai sesama Muslim).
->Aku sering heran dengan pernyataan/ide yang dapat saja diungkapkan oleh wanita terlebih pria, pernyataannya seperti "(Berhubung sekarang udah putus atau berhubung kamu selingkuh) ya udah kita ngga usah kenal lagi, dulu juga kan kita ngga kenal." pernyataan tsb menurut aku terdengar "non sense", aku tidak setuju dengan pernyataan tsb dan yang semacamnya, ibaratnya pernyataan semacam itu seperti pernyataan "Dulu kan kamu ga ada di dunia ini, ya udah sekarang kamu lenyap aja dari dunia ini." atau "Dulu kan kamu di dalem perut ibu kamu, ya udah kamu balik lagi aja ke dalem perut ibu kamu". Khususnya untuk sesama Muslim, aku lebih suka pernyataan-pernyataan/ide-ide untuk tetap menjalin silaturahim di jalan Allah, karena Allah, untuk meraih berkah, rahmat dan ridha Allah di dunia dan di akhirat.
Hal yang perlu disampaikan pula, untuk kekasih yang selingkuh, nasihati supaya jangan selingkuh, jika suami/istri selingkuh (tapi tidak berzina) maafkan saja, jika sampai berzina, mau tak mau pelaku zina yang sudah menikah hukumannya hukum rajam. Perlu diinformasikan hal mengenai bukan perselingkuhan tetapi pernikahan, dalam Islam sejatinya pria dibolehkan menikah lagi tanpa sepengetahuan istri pertama/sebelumnya, memberitahukan perihal pernikahan lainnya kepada istri sebelumnya di kemudian hari/belakangan, namun, menurut pendapatku ada baiknya bila seorang suami ingin menikah kembali dapat memberitahu istri pertama/sebelumnya terlebih dahulu.
Sebagian besar pria yang aku kisahkan, telah memiliki kekasih terlebih istri. Aku harap para kekasih terlebih para istri dari para pria yang pernah maupun masih aku sukai, sayangi dan cintai memaafkan dan memaklumi perilaku aku perihal menceritakan kisah ini.
Harap maklum bila aku bersikap tidak ramah terhadap orang yang aku ketahui merebut suami terlebih istri orang, karena dalam Islam pria yang menggaggu istri orang bisa saja dipenggal dengan pedang. 
->Yang sudah terlanjur memiliki pacar/kekasih, terutama yang sesama Muslim, jangan berkhalwat, jangan gonta-ganti pacar, setialah, mudah-mudahan dapat segera menikah untuk meraih berkah, rahmat dan ridha Allah.



Larangan riba:

Orang-orang yang makan (mengambil) riba[174] tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila[175]. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu[176] (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. [Al Baqarah (2): 275]

 [174]. Riba itu ada dua macam: nasiah dan fadhl. Riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan. Riba fadhl ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi lebih banyak jumlahnya karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian, seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dan sebagainya. Riba yang dimaksud dalam ayat ini riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman jahiliyah.
[175]. Maksudnya: orang yang mengambil riba tidak tenteram jiwanya seperti orang kemasukan syaitan.
[176]. Riba yang sudah diambil (dipungut) sebelum turun ayat ini, boleh tidak dikembalikan.

Jabir berkata bahwa Rasulullah saw. mengutuk orang yang menerima riba, orang yang membayarnya, dan orang yang mencatatnya, dan dua orang saksinya, kemudian beliau bersabda, “Mereka itu semuanya sama.” (HR Muslim no. 2995, kitab al-Masaqqah)
->Mereka semua sama berdosanya

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw, berkata, “Pada malam perjalanan mi’raj, aku melihat orang-orang yang perut mereka seperti rumah, di dalamnya dipenuhi oleh ular-ular yang kelihatan dari luar. Aku bertanya kepada Jibril siapakah mereka itu. Jibril menjawab bahwa mereka adalah orang-orang yang memakan riba.” [Muhammad Syafi’i Antonio, “Bank Syariah: Dari Teori Ke Parktik”, hal.54]



Foto: Beberapa rekening tabungan yang pernah aku miliki atas namaku.


Tabungan pertamaku di bank hadir secara tidak menyengaja ketika aku masih Taman Kanak-Kanak (TK), saat itu aku menjuarai lomba menggambar-melukis dan mendapatkan hadiah berupa piala, piagam penghargaan dari menteri pendidikan dan kebudayaan kala itu, juga tabungan dari Bank Jabar (sekarang Bank BJB). Kemudian, setelah lebih besar aku memiliki rekening bank baik secara sukarela maupun terpaksa misalnya rekening untuk urusan kuliah dan kerja seperti di Bank BRI dan BNI. Belakangan aku memilih menggunakan rekening bank –khusus- syariah atau bank syariah (di bawah naungan nama bank konvensional) khususnya terkait larangan riba dalm Islam. Saat ini telah hadir BRI Syariah, BNI Syariah, Mandiri Syariah, dan BCA Syariah. Semoga bank konvensional dapat beralih menjadi bank syariah.



Foto: Laci meja kerjaku, dulu, musti rapi.


Aku pribadi sejak kecil sudah terbiasa memegang atau belajar mengelola uang, saat di bangku sekolah, dari mulai SD, aku seringkali dipercaya memegang uang kas atau uang iuran kelas. Selain itu, saat SD salah satu wali kelasku mempercayakan uangnya yang bagiku berjumlah banyak, mencapai kata “juta” (sedangkan uang jajanku saat itu sekitar Rp. 500,- lima ratus rupiah), untuk aku setorkan ke salah satu bank konvensional secara rutin dan berkala. Umiku khawatir saat aku dipercaya untuk sering memegang uang dalam jumlah besar milik wali kelasku hingga Umi menghadap pihak sekolah tepatnya wali kelasku untuk mengkonsultasikan hal ini. Namun, wali kelasku menyatakan hal yang intinya Umiku tidak perlu khawatir akan hal tsb, wali kelasku pun tetap mempercayakan uangnya untuk aku pegang lalu aku setorkan ke bank. Sayang sekali bank yang sering aku kunjungi saat itu bukan bank syariah.
Di masa kuliah, di kampus, seingatku aku tidak lagi secara langsung terkait dengan pengelolaan keuangan hanya saja, saat masih kuliah aku mulai bekerja membantu mengembangkan sekolah yang dikelola oleh keluarga besarku. Awalnya, aku bekerja sebagai staff pengajar (guru/tutor), paling sesekali aku membantu salah satu anggota keluargaku yang merupakan kepala sekolah dalam mengelola keuangan. Kemudian, dikarenakan saat itu keluargaku membutuhkan staff khusus keuangan maka walaupun aku bukan ahli dalam hal pengelolaan keuangan, aku berpikir untuk membantu keluargaku dalam hal tsb sekaligus mengingat-ingat sambil mempraktekan mata pelajaran saat SMU seperti pelajaran akuntansi sekaligus mempelajari hal baru terkait keuangan, untuk itu aku beralih divisi sebagai staff pengelola keuangan: bendahara, sempat pula menjadi wakil bendahara. Pengalihan tugas ini terjadi beberapa waktu setelah aku memutuskan untuk berhenti kuliah. Saat menjadi bendahara/ wakil bendahra tsb aku bekerja cenderung “slow” tapi terbilang tekun dan semangat, aku seringkali bekerja overtime, walaupun gajiku sendiri kecil, aku sangat menikmati pekerjaanku tsb, I became workaholic, masuk kerja pukul 07.30 atau 08.00 pagi dan baru selesai pukul 11. 00 malam atau pukul 02.00 bahkan pukul 03.00 pagi. Ketika itu aku bekerja dengan jam kerja ekstrim memang untuk mebantu keluargaku di jalan Allah, semoga Allah meridhai. Kemudian, mungkin juga untuk mengalihkan energi dan konsentrasiku pada pekerjaan karena saat itu merupakan waktu dimana aku tidak lagi dekat dengan teman pria terdekatku, seseorang yang berbeda agama denganku, yang biasanya kami sering meluangkan banyak waktu bersama, kemudian waktu itu aku telah putus dari pacar/kekasihku namun si antara kami masih ada sesuatu yang belum sepeuhnya selesai, lebih lagi aku masih sangat mencintai orang yang aku cintai namun aku tidak mengetahui orang yang aku cintai juga mencintai aku atau tidak terlebih ia berbeda agama denganku.
Saat itu, aku berusaha bekerja dengan tekun dan teliti terlebih menyangkut keuangan yang uang yang aku kelola tsb bukan hanya milik sekolah kami tapi juga uang milik orang tua siswa/siswi yang menabung di sekolah kami, aku memegang tanggungjawab yang besar. Namun demikian, walaupun aku sudah berusaha teliti dan berhati-hati pernah pula terjadi kesalahan fatal terkait keuangan ini. Hal ini terjadi suatu kali ketika pembagian tabungan siswa yang biasanya bertepatan dengan pembagian raport, aku yang saat itu bekerja seperti biasa, dari pagi hingga pagi, semalam sebelum pambagian tabungan aku menemukan kejanggalan, setelah aku mengambil keseluruhan uang tabungan yang kami simpan di bank syariah, lalu aku memasukkan uang para siswa/siswi yang akan dibagikan ke dalam amplop satu per satu, aku menemukan kelebihan uang, uang yang berjumlah cukup banyak sekitar Rp. 5.000.000 (lima juta rupiah). Aku pikir ‘Ini ada yang ngga beres’, namun saat itu aku sudah sangat kelelahan maka aku tidak sanggup lagi memaksakan diri, biasanya saat pembagian uang tabungan tsb, tim kami, semua divisi (kepala sekolah, staff pengajar, dan staff keuangan), bekerja sama saling membantu mengatur ketepatan dan keakuratan jumlah uang tabungan siswa/siswi yang akan dibagikan, hanya saat itu seluruh staff sibuk, kepala sekolah dan staff pengajar sibuk dengan pengisian raport yang jika aku tidak keliru raportnya berganti format, format baru, sehingga para staff pengajar musti menyesuaikan diri untuk pengisian raport dengan format baru tsb, raport berformat narasi, yang hal ini membutuhkan waktu pengisian yang lebih lama.
Akhirnya tiba waktu pembagian, di pagi hari, aku telah memberitahukan mengenai kejanggalan (kelebihan uang) yang ada kepada kepala sekolah dan para staff lainnya, aku pun sudah mewanti-wanti para rekan kerjaku agar jika terdapat masalah terkait uang tabuangan ini agar segera menemuiku di kantor. Pembagian uang dilakukan oleh staff pengajar sebagai wali kelas dari para siswa/siswi, aku pribadi ketika itu menunggu di ruangan kantorku sambil berusaha menghitung ulang mencari letak kekeliruan. Di tengah kebingunganku tepatnya kebingungan kami tsb, tiba-tiba ada satu satff pengajar yang mengadukan bahwa terdapat satu amplop yang isi tabungannya kurang, setelah aku check, uang tabungan milik siswa Rp. 5.500.000,- (lima juta lima ratus ribu rupiah), namun ketika itu sepertinya yang terlihat olehku hanya ujungnya Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah), maka aku memasukan uang sejumlah lima ratus ribu rupiah ke dalam amplop, terkuaklah mengenai misteri kelebihan uang 5 juta rupiah tsb, ternyata memang aku salah lihat/silap mata akibat kelelahan. Orang tua siswa pemilik tabungan tsb sempat bengong sebengong bengongnya mengetahui uang yang ia terima di dalam amplop jumlahnya jauh –berkurang- dari jumlah uang yang ia kumpulkan selama ini. Dengan serta merta aku meminta maaf kepada orang tua siswa pemilik tabungan tsb sekaligus aku meminta maaf kepada rekan-rekan kerjaku. Untungnya hal ini tidak menjadi masalah serius, malah menjadi bahan tawa semua yang hadir saat itu. Itulah salah satu kekonyolan yang pernah aku lakukan terkait pengelolaan keuangan, kasus terpecahkan, masalah selesai, alhamdulillah.
Actually, bekerja dengan jam menggila seperti itu (dari pagi sampai larut malam atau dari pagi sampai pagi) sebenarnya kesalahan fatal, hal tsb tidak baik untuk kesehatan, berikut salah satunya akibat hal tsb aku berhasil mengirim ayahku (Abi) untuk dirawat selama beberapa waktu di poliklinik kejiwaan, astaghfirullah. Saat itu, aku keasyikan bekerja, walaupun kantor tempatku bekerja masih di lingkungan rumahku, namun aku sangat jarang berada di rumah bersama Abiku, jarang menemani Abiku mengobrol, jarang memasak untuk Abiku, adikku sibuk dengan pekerjaannya yang kadang membawanya ke luar kota, adik kecilku tinggal bersama Umiku (Abi dan Umi sat itu telah berpisah), di rumah, Abiku biasanya sendiri, paling setiap siang aku hanya mengantarkan makanan jadi untuknya. Ketika itu aku di rumah paling saat weekend, itu pun aku habiskan untuk istirahat atau untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu, mengepel serta mencuci  dan merapikan baju yang selama hari kerja aku tinggalkan karena kesibukanku, pekerjaan-pekerjaan tsb (menyapu, mengepel dan mencuci) tsb di saat weekend biasanya membutuhkan waktu dan energi yang cukup banyak, sehingga aku tidak sempat terlalu banyak memperhatikan Abiku. Terima kasih aku ucapkan pada saudara-saudaraku khususnya salah satu sepupuku, yang terkait tulisan ini ia berlatar belakang pendidikan ekonomi manajemen, yang telah banyak membantu aku dan keluarga selama masa-masa yang berat terkait sakitnya Abi, jazakallah khoiron. Sekarang Abi sudah sehat, alhamdulillah. Sejak peristiwa yang menimpa Abiku tsb maka aku memutuskan untuk berhenti bekerja. Semestinya, waktu itu aku lebih dapat mengatur waktu bekerja, lebih mengutamakan keluarga, kemudian sepatutnya aku dapat lebih mempelajari hal-hal terkait agama Islam seperti Bahasa Arab, Al Qur’an dan Al Hadits.

Hal lain yang saat itu membuat aku semakin yakin untuk berhenti bekerja adalah terkait rumitnya birokrasi dengan pemerintah, juga adanya indikasi korupsi dan manipulasi terkait urusan dana bantuan pemerintah, seperti pemotongan dana bantuan. Semoga kasus korupsi, manipulasi dan kasus-kasus buruk lainnya lenyap dari muka bumi ini. Semoga kehidupan dapat berjalan sesuai syariat Islam.

Catatan: bekerja, berbisnis serta menabung -termasuk di bank (syariah)- sebagai upaya memenuhi kebutuhan namun bukan dalam rangka menumpuk-numpuk uang atau harta tetapi untuk keperluan khususnya yang bersifat jangka panjang misalnya untuk dana pendidikan anak, terlebih untuk ibadah seperti biaya ibadah haji, serta berinfak/bersedekah (misalnya menabung untuk sedekah dalam jumlah yang besar).



Foto: Tempat usaha rumahan yang sedang dan akan aku jalani, insyaAllah. Menggunakan fasilitas yang sudah ada. Oia aku berani merubah warna lemari menjadi putih dikarenakan lemarinya bukan lemari jati. Semoga Allah memberkahi dan meridhai di dunia dan di akhirat. Aamiin.

Aku akui belum maksimal dalam melaksanakan bisnisku, terlebih saat kondisiku tidak fit. Umi yang bekerja di sebuah sekolah namun juga berdagang di rumahnya (ditangani salah satu saudaraku), adakalanya membantu aku dalam berniaga. 
Oia kalo aku lagi ngga mood bisnis ya ngga mood, sepertinya musti cari suami Muslim/Mualaf yang merupakan mood booster buat aku berbisnis di jalan Allah.

Terkait perniagaan yang aku jalankan, Abi aku sempat menyarankan agar aku menyelesaikan "perkara" aku dengan 2 pria yang aku cintai, Roger Danuarta dan Tex Saverio, pria-pria yang berbeda agama denganku serta aku tidak mengetahui apakah mereka memiliki perasaan yang sama denganku, sedikit rumit karena aku tidak boleh mencintai dua pria apalagi kami beda agama. Hal itu patut aku lakukan agar aku lebih tenang dalam berniaga, 'mudah-mudahan diberkahi Allah.'
Terkait dua pria yang dimaksud, Umi aku menyarankan aku agar tidak mengganggu kedua pria yang dimaksud karena khawatir mereka sibuk bekerja atau berbisnis. Aku pribadi sering mengganggu salah satu dari pria yang aku cintai tsb, tepatnya Tex Saverio melalui media sosial maupun WhatsApp.

Oia selain berniaga aku juga tetap mengajar kursus/les di rumah, khususnya untuk anak sekolah, atas saran Abiku yang memang pengajar dan pamanku yang merupakan pebisnis, aku sedapat mungkin tetap mengajar mengamalkan ilmu di jalan Allah.

Aku pribadi tidak terlalu mengerti -berbagai- teori bisnis. Memang, bisnis perlu ada pengelolan yang baik dan benar, hanya sejauh ini yang aku tau, bisnis musti -diusahakan- sesuai syariat Islam dan hal dasar yang penting adalah SABAR dan SYUKUR kepada Allah atas setiap pencapaian walaupun itu hanya 1 sen, 1 dirham atau 1 dinar.
Bahkan sabar dan syukur tidak musti untuk hal yang berupa uang.
Terkait bisnis ini, Abiku yang sangat benyak men-support. syukron Abi, jazakallah khoiron. Aku sangat bersyukur kepada Allah atas semua yang telah Allah berikan kepadaku dan keluargaku.

Btw terinspirasi dari statement seorang aktor non Muslim yang masih aku sayang, aku menyatakan kepada kekasih aku, pria yang aku cintai, seorang desainer non Muslim, hal yang intinya bahwa aku orangnya ngga mau pusing, mau yang simple aja, sekiranya aku punya kekasih non Muslim dan mau masuk dan memeluk Islam lalu menikahi aku (menjadi suami aku), aku pengen bilang sama dia bahwa he could USE ME, USE my BODY, USE my MONEY (kalo memang ada), USE MANY THINGS that are MINE (kalo memang punya) as long as he uses those all with HEART and FAITH (IMAN ISLAM). Dengan itu semoga Allah memberkahi dan meridhai di dunia maupun di akhirat. Aamiin.

Anw aku sangat setuju poligami sesuai syariat Islam, dan Abiku pernah menyatakan bahwa jika aku memang benar-benar setuju poligami aku musti giat mencari uang/rezeki lalu membiayai suamiku kelak berpoligami. Mendengar hal tsb awalnya aku agak heran, ngga mudeng, namun setelah dipikirkan ulang, menurut pendapatku ide tsb "GENIUS" pokonya menakjubkan, subhanallah. Waktu aku menyampaikan ide tsb pada Umiku, Umiku yang pelaku poligami, Umiku malah naik pitam. Menurut Umi, ide tsb ngga banget, walaupun Umiku pegawai negeri juga berdagang namun Umi menolak ide tsb, intinya karena jika suami ingin berpoligami musti membiayai sendiri. Aku pribadi, bila tidak sanggup membiayai suamiku kelak berpoligami, aku tetap menganggap ide membiayai suami berpoligami adalah ide genius, mengagumkan, subhanallah; sedangkan apabila memang sanggup membiayai suami untuk berpoligami "WHY NOT?", kenapa ngga? Karena dalam Islam pun, atas izin suami, istri dibolehkan membantu suami mencari nafkah yang halal sesuai syariat Islam (termasuk mencari nafkah untuk poligami) selama tidak lupa kewajiban utama mengurus suami serta mengurus dan mendidik anak-anak. 

Sebagai informasi, jika memang sanggup dan diizinkan oleh suami, aku bersedia membantu suami mencari nafkah yang halal sesuai syariat Islam, hanya saja aku pun berharap memiliki suami dan juga anak-anak (terlebih bila mereka telah besar) yang kelak tidak hanya sanggup membuat rumah khususnya dapur berantakan tetapi mampu berupaya menjaga kerapihan terutama kebersihan rumah minimal seperti saat aku tinggalkan, misalnya saat aku harus mengunjungi keluarga atau saudara atas izin suami, atau ketika aku sakit, sedangkan kami tidak memiliki pembantu (misalnya karena sulitnya mencari pekerja yang jujur). Kebersihan sebagian dari iman, kebersihan rumah bukan hanya tugas wanita tetapi para pria pun bertanggungjawab untuk hal tsb.

'Ingin sekilas menuliskan mengenai Ahmad El Jalaludin Rumi dan Raffi Ahmad tapi gimana ya bilangnya?'

Aku menuliskan ini sebagai salah satu upaya untuk kesejahteraan bersama untuk meraih berkah, rahmat dan ridha Allah di dunia dan di akhirat.

->Foto penghancuran tea/coffee set bergambar naga, gambar makhluk bernyawa. Di rumahku terdapat beberapa set cangkir yang bergambar makhluk bernyawa, berhubung gambar makhluk bernyawa terlarang dalam Islam, maka aku "prek-prek" saja tea/coffee set menggunakan batu besar, hancur berkeping-keping deh. Sayangnya masih ada, entah berapa set bergambar makhluk beryawa, yang belum sempat aku luluh lantakkan. Aku lebih suka cangkir tanpa gambar atau yang bergambar bunga. Aku pun berusaha menghindari menumpuk-numpuk barang yang hal ini terlarang dalam Islam, lain hal bila memang berjualan.

Untuk meraih keberkahan dari Allah, diperlukan ketaqwaan, mengenai ketaqwaan ini ada hal-hal terkait ketaqwaan yang bersifat batiniyah ada pula yang bersifat lahiriyah,  yang bersifat batiniyah biasanya mempengaruhi pada yang bersifat lahiriyah, hal bersifat batiniyah seperti takut kepada Allah, menghindari hasud, iri (yang tidak sesuai syariat Islam), dengki, dll; hal yang merupakan pengejawantahan dari hal yang bersifat batiniyah adalah akhlak yang baik, menutup aurat sesuai syariat islam, tidak membuat gambar/lukisan makhluk bernyawa (kecuali sangat terpaksa) serta hal lainnya sesuai syariat Islam. PENINGKATAN KETAQWAAN dari SETIAP PRIBADI kita, menentukan peningkatan keberkahan yang Allah berikan kepada kita umat manusia dan seluruh makhluk di alam semesta/ jagad raya ini.


Mencari Rizki Halal Untuk Meraih Berkah (Keberkahan Allah)

491. Dari Abu Hurairah ra dia berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Orang orang fakir miskin itu akan masuk surga, lima ratus tahun sebelum orang kaya.” (HR. Tirmidzi, dia berkata: “Hadits Shahih”) [Imam Nawawi, “Tarjamah Riyadhus Shalihin: Jilid 1”, hal. 496]

494. Dari Usamah Ibn Zaid ra dari Nabi saw, beliau bersabda: “Saya berdiri di pintu surga, ternyata kebanyakan yang memasukinya adalah orang-orang miskin. Sedangkan orang-orang kaya masih tertahan. Hanya saja para penghuni neraka telah diperintahkan untuk masuk ke neraka.” (HR. Bukhari Muslim) [Ibid, hal. 497]


Foto: Buku "99 Tanda Orang Berbakat Kaya". Aku membelinya saat kuliah, pada 31.05.2007, aku sedikit heran waktu itu aku kuliah jurusan sastra tetapi tertarik membeli buku tsb, ketika itu seolah-olah buku itu berbicara "Buy me.. buy me.. and read me..". Bukunya menarik ada tips-tips singkat terkait bisnis. Hanya isinya masih perlu dikaji kesesuainya dengan syariat Islam. Ada bagian buku yang aku tutupi kertas dikarenakan aga gambar celengan which is berbentuk babi dan jin dengan teko ajaib. Pada hakikatnya gambar makhluk beryawa terlarang dalam Islam. Semoga Allah memusnahkan babi dan melenyapkan kemusyrikan dari muka bumi ini.  Apabila Bapak William Tanuwidjaja ini bukan Muslim, inginnya aku bertanya, maukah anda masuk dan memeluk Islam? Aku berdoa semoga Allah mengaruniakan kepada penulis buku tsb, William Tanuwidjaja, hidayah iman Islam. Aamiin.

Anw berbicara ekonomi dan bisnis, tentunya hal ini terkait pebisnis atau pengusaha, sejauh ini, pengusaha Muslim favorit aku adalah Al Amir Al Walid, dulu aku tertarik kepada beliau sebagai seorang Muslim Arab dari keluarga kerajaan Arab yang dikabarkan berkepribadian moderat dan menjadi pengusaha sukses, ia pun dikabarkan suka berderma/bersedekah (philanthropist); kemudian Ustad Muhammad Syafi'i A., Ustad ini dikabarkan merupakan seorang pengusaha sukses terlebih beliau adalah sosok yang membuat aku merasa ingin menangis-nangis di pojokan rumah ketika mengetahui bahwa beliau merupakan seorang mualaf tetapi atas usaha kerasnya dalam belajar, beliau berhasil menguasai Bahasa Arab dan telah membuat banyak buku Islam khususnya terkait ekonomi Islam, beliau merupakan salah satu pakar ekonomi Islam (ekonomi syariah) Indonesia. -> Aku pengen 'nagis-nagis di pojokan rumah' karena merasa malu dari kecil beragama Islam, Muslimah, tetapi tidak menguasai Bahasa Arab, kemudian merasa terharu dan bangga akan prestasi beliau; lalu Sandiaga Uno. Dulu, aku pernah melihat profilnya jika aku tidak keliru di profil company dari goody bag yang diberikan oleh salah satu sahabatku yang ketika itu bekerja di salah satu perusahaan -provider- telekomunikasi, ketika itu aku menyukai pengusaha ini karena ia merupakan pengusaha muda sukses dan GANTENG.

->Aku sadar nangis-nangis di pojokan rumah tidak akan menyelesaikan masalah, maka yang dapat aku lakukan adalah -sedikit demi sedikit- mempelajari Bahasa Arab yang memang bahasa agama umat Islam , untuk memahami Al Qur'an dan Al Hadits untuk meraih ridha Allah di dunia dan di akhirat.

Seperti yang sebelumnya telah aku sampaikan, intinya pebisnis atau pengusaha sukses tidak musti berlatar belakang pendidikan formal terkait ekonomi dan bisnis. Lazim orang yang memang berbakat lalu diiringi kerja keras dan kerja cerdas maka orang tersebut menjadi pebisnis maupun pengusaha sukses. Usaha yang dilakukan serta hasil sukses dicapai yang aku maksud tentunya sedapat mungkin sesuai syariat Islam.

Terkait bisnis ini, aku teringat pamanku yang walaupun ia tidak memiliki latar belakang pendidikan formal terkait ekonomi dan bisnis namun sejak lama ia terjun ke dunia bisnis. Pamanku ini sudah seperti ayah kedua bagiku. Di mataku beliau termasuk pebisnis yang sabar (tidak lekas bosan) dalam menggeluti usahanya. Dulu aku sempat berpikir pamanku ini ustad tapi mafia karena dulu beliau sering kali berada di jalanan untuk berbisnis, jika di jalanan di kota Sukabumi ditanyakan atau disebut namanya banyak pelaku bisnis di jalanan dari mulai tukang batu akik, tukang jual beli emas, sampai tukang penukaran uang asing mengetahui nama beliau, namun belakangan pamanku ini lebih sering berbisnis di rumah atau di luar kota. Dalam berbisnis adakalanya rugi, adalanya untung, adaklanya usahanya naik adakalanya pula usahanya turun, namun beliau tetap berusaha mencari rizki yang halal sesuai syariat Islam. Walaupun bukan termasuk miliarder, bagiku pamanku ini merupakan pebisnis yang sukses, alhamdulillah.

Pamanku pernah menasihatkanku hal-hal berikut terkait bisnis yang akan aku share, mungkin sebagai pengingat bagi yang sudah mengetahui namun lupa, mudah-mudahan bermanfaat bagi pembaca khususnya kaum Muslimin.
->Pamanku mengingatkanku bahwa menurut Rasulullah saw, ilmu yang paling bermanfaat adalah ilmu mengenal Allah.
->Kemudian pamanku juga menyatakan bahwa mencari uang itu MUDAH, pelajari sungguh-sungguh apa yang kita kerjakan dan cintai pekerjaan kita tsb. [Maksud pamanku ini tentunya pekerjaan halal sesuai syariat Islam].
Oia sebagai informasi, meskipun beliau tidak terlalu fasih berbahasa Arab dalam percakapan sehari-hari (lebih karena keterbatasan kosakata Bahasa Arab yang beliau kuasai), sebagai lulusan pesantren, beliau memahami tata Bahasa Arab khususnya untuk pembacaan kitab-kitab Islam. Semoga Allah memberkahi beliau. Aamiin.


Anw aku agak kaget waktu membaca ulang diary milik salah stau sahabatku yang diberikan kepadaku sebagai kenang-kenangan, di situ aku menuliskan hal yang intinya aku bercita-cita menjadi kaya raya dan masuk surga. Saat itu aku belum mengetahui mengenai kaya dalam perspektif Islam. Saat ini aku tidak berani menginginkan kekayaan aku lebih berusaha untuk meraih keberkahan dari Allah.

Dalam Islam memang terdapat kebolehan menjadi orang kaya, misalnya orang kaya lagi tersembunyi (tidak show off/pamer), kemudian orang kaya yang sangat banyak menyedekahkan hartanya di jalan Allah. Hanya, sedikit sekali orang kaya yang mampu beramal dan bersedekah seperti itu, hal ini sesuai sabda Rasulullah saw:

469. Dari Abu Dzar ra dia berkata: “Saya berjalan bersama Nabi saw di Tanah Harrah366 yang ada di Madinah, kami menghadap Uhud, lalu beliau bersabda: “Hai Abu Dzar!” Saya menjawab: “Labbaik ya Rasulullah.” Beliau bersabda: “Aku tidak kan bergembira seandainya aku memiliki emas sebesar gunung Uhud ini, kemudian setelah berlalu tiga hari aku masih menyimpan satu dinar daripadanya, kecuali sedikit dinar yang aku simpan untuk membayar hutang, akan tetapi aku akan membagikannya kepada para hamba Allah begini dan begini.” Dari samping kanan beliau dari arah kiri dan dari belakang. Kemudian beliau berjalan, lalu bersabda: “sesungguhnya orang-orang yang banyak hartanya mereka adalah orang yang paling sedikit (bagiannya) di hari kiamat kecuali orang yang berbuat dengan hartanya begini, begini dan begini.” Dari sebelah kanannya, sebelah kiri dan dari belakangnya. “Dan sangat sedikit mereka (yang seperti) itu. ,...” [Imam Nawawi, “Tarjamah Riyadhus Shalihin: Jilid 1”, hal. 484]  

Untuk itu, daripada aku salah memberikan nasihat khususnya untuk diri sendiri umumnya untuk orang lain terkait kekayaan misalnya menyuruh Muslim untuk menjadi kaya, maka sekali lagi aku lebih memilih untuk menasihati diri sendiri dan kaum Muslimin untuk memohon keberkahan dari Allah. Selain itu dari pada aku menyemangati diri sendiri dan orang lain untuk menjadi kaya, aku lebih memilih menyemangati diri sendiri dan kaum Muslimin untuk menuntut ilmu (misalnya Bahasa Arab untuk memahami Al Qur'an dan Al Hadits, kemudian bahasa Inggris), kemudian menyemangati bekerja yang halal sesuai syariat Islam untuk meraih keberkahan dari Allah.

Harap maklum, aku sering heran jika ada orang teriak "Jesus" atau "Yesus" kenceng-kenceng tapi hidup bermewah-mewah, Yesus mana ada hidup mewah, Yesus (Nabi Isa Almasih as) hidup sangat sederhana. Hanya saja, memang, diberitahukan dalam hadits bahwa kelak, ketika Nabi Isa as diturunkan kembali ke dunia ini, kekayaan akan melimpah ruah. Namun, aku tidak mengetahui, apa yang akan beliau lakukan dengan kekayaan tsb untuk dirinya pribadi. Lain hal dengan Rasulullah Muhammad saw yang memang dikenal sebagai saudagar sukses, serta Allah pun bersedia mengubah gunung menjadi gunung emas untuk beliau (namun beliau tidak menginginkan hal tsb terjadi), walaupun demikian dengan kelebihan yang diberikan oleh Allah kepadanya, ia tidak pernah hidup bermewah-mewah, kemudian ia menghabiskan hartanya dan harta istrinya untuk berjihad fisabilillah, menegakkan kalimat tauhid dan menegakkan syariat Islam.


Mencari Nafkah Halal dan Tetap Berjihad Di Jalan Allah

14. Kalau kamu melakukan perdagangan dengan riba, hanya menjadi peternak-peternak dan senang hanya dengan bertani saja dan meninggalkan jihad (perjuangan) maka Allah akan menimpakan kehinaan atasmu. Kamu tidak akan dapat mencabut kehinaan itu sehingga kamu kembali kepada Ad Dienmu. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah) [Dr. Muhammad Faiz Almath, “1100 Hadits Terpilih Sinar Ajaran Muhammad”, hal. 179]

Saat ini riba tidak hanya terkait dalam perdagangan dan utang piutang namun telah merambah ke berbagai lapisan, misalnya orang yang bekerja di pabrik atau di bidang pendidikan diberikan gaji/insentif melalui bank konvensional yang menerapkan riba. Bahkan saat ini, mata uang rupiah pun dicetak bukan melalui perantara bank syariah. 'Mata uang yang sesuai sunnah: dirham dan dinar.'
Terkait pertanian, Abiku memiliki sedikit lahan pertanian berupa sawah dan kebun, sayangnya sejauh ini, Abi, aku dan adik-adikku tidak berbakat dalam bidang agraris. Oia Abi dan auntie-ku sempat memiliki perkebunan sawit, warisan dari kakeku, di daerah Sumatera Selatan, namun dikarenakan beberapa hal salah satunya rusaknya lahan di perkebunan tsb maka perkebunan sawit tsb dijual. Dengan pengalaman tsb aku jadi mengetahui bahwa penanaman sawit dapat merusak lahan, memberikan andil pada rusaknya lingkungan. Untuk itu, aku sempat menanyakan solusi untuk hal ini kepada anggota keluargaku, dan menurut auntie salah satu solusinya adalah mengganti pohon sawit dengan pohon KELAPA MINYAK. Menurut auntie, dibanding sawit, penanaman kelapa minyak memiliki dampak kerusakan lingkungan yang lebih kecil; kemudian, selain diambil buahnya sebagai bahan baku minyak, hampir seluruh bagian pohon kelapa dapat berguna untuk berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut curhatan terkait pertanian dan peternakan yang pernah aku tulis bertahun-tahun lalu. Curhatan ini aku dedikasikan terutama untuk dosen-dosen Unpad, termasuk dosen Sastra (setelah masuk Fakultas Sastra aku jadi lebih rajin latihan menulis termasuk untuk tulisan ini); kemudian salah satu pria yang pernah sangat aku cintai; meskipun aku tidak berbakat di bidang pertanian dan peternakan, namun setidaknya mereka telah membuka mata dan wawasanku untuk tidak menganggap remeh pertanian (dan peternakan) serta untuk lebih menghargai alam ciptaan sekaligus karunia Allah swt; serta untuk Bangsa Indonesia, khususnya Muslim Indonesia, semoga bermanfaat. Berikut curhatnya:

“17 Desember 2007
                Mw cerita ttg hari Sabtu (15.12.07) soalnya dh 2 hari ini aku ga pulang ke kostan –nginep di Githa- jd ga bisa langsung cerita di buku deh ... Sabtu kmrn tuw acara KKN’y seru banged “Penyuluhan Pertanian Terpadu”. Pertanian Terpadu maksudnya pertanian yg digabung sama bidang laen misalnya peternakan. Pembicaranya dosen2 Peternakan Unpad (Pa Tidi, Pa Mansyur sm Pa Atun).
                Asli ya para pembicara tuw bikin aku sadar kalo dunia pertanian dan peternakan mrpkn dunia yg menarik. Kata2 yg bikin aku “kembali pada realita” tuw cerita Bp Mansyur ttg obrolannya sama seorang profesor dr Jepang (lupa namanya, ho... Ito apa Hito gt?). Profesor itu bilang kalo “Bangsa Indonesia tuh punya ‘dosa alam’", ga bisa memanfaatkan alam yg luas & kaya ini, jadi saran profesor tsb “Orang2 Indonesia harus segera mencari jati diri”; “Jgn Males!”. Huhu hiks2 jadi sedih bangsa laen aja peduli sm kita, masa kita sendiri engga? Oia profesor itu juga bilang “Ada yg salah sama bangsa Anda!” (ada yg salah sama orang Indonesia), ga bisa memanfaatkan & memelihara alam.
                Selama ini, di sastra... Buat memahami realita kita mesti masuk dl k dunia fiksi, lewat puisi, cerpen/novel, tapi lewat penyuluhan ini aku bisa liat langsung realita kehidupan ini, asli seneng bgt bisa tau gimana keadaan ekonomi dan sosial para petani kecil. Wlp ga tau bnyk tp jadi tau garis besar kehidupan para petani lewat ngobrol2 dan curhat2 antar petani dan dosen. Ngobrol2’y seru, n aku ga nyangka ternyata para petani tuh kritis, ampe aku terheran-heran wkt liat mereka bicara, mereka bicara dgn ciri khas ndeso mrk yg sll mencoba u/ merendahkan diri. Untungnya dosennya pinter2 jadi semua beres. (Emoticon dihilangkan)
Oia pas hari Minggu aku liat acara "Ceriwis", "Jalan2 ke New Zealand bareng Anline", acaranya bagus, liputan ttg negara penghasil susu, mungkin tepatnya peng-ekspor susu u Indonesia, whehe... Di sana nampak ijo (padang rumput), trus banyak ternak and yg menarik tuh kunjungan ke pabrik susu yg udah punya 60 cabang di seluruh dunia plus 24 pabrik di New Zealand sendiri, tapi lagi2 aku lupa nama pabriknya abis nonton’y sambil ngobrol siy. (Emoticon dihilangkan)
Ups lupa ... menurut cerita Pa Gandi, petani di desa Cimanggung, dulu Cimanggung ditanami Damar, Mala, Puspa, Kiwalet (tanaman yang mengandung, tepatnya menyerap air) maka air pun mengalir dengan baik. Namun setelah diganti dgn Pinus yg merupakan pohon yang tidak mengandung air, hanya mengandung getah, maka air pun menjadi sulit dan tanah mengalami kekeringan. Menurut Pak Mansyur, dosen Fapet Unpad, salah satu pembicara, penggalaan penanaman Pinus terjadi saat “pemerintah” jln2 ke Eropa dan ngeliat pohon Pinus tampak indah, trus mrk berfikir kalo Ind ditanami Pinus kayaknya bagus. Jadi lah... (Sensor. Maaf, aku memaki dengan menggunakan kata Bahasa Jepang).

Lanjut... (06.01.08)
Oia aku juga br nyadar kalo rumput tuh ternyata berguna bgd, ga sekedar bwt diinjek, ‘dilarang diinjek’ ato makanan kambing doang... Ternyata rumput tuh bisa jadi pupuk & bisa jadi duit!!! Whehe... Ya,, poko’y jd nyadar deh kalo kita gak boleh sembarangan nyepelein sesuatu, meskipun itu keliatannya kecil di mata kita.”

Dalam tulisan aslinya, curhat ditulis dengan tinta berwarna biru. Maaf, dulu jika aku curhat di diary sering "suheri", suka heboh sendiri. Curhat di atas telah mengalami sedikit revisi terutama untuk kesalahan tanda baca. Sekarang style curhatnya berganti menjadi apa ya, sebut saja, permisi, "sandiaga": santai dan sedikit saja bergaya (maksudnya ga banyak gaya). Untuk Muslim pemilik nama Suheri dan Sandiaga maaf ya, aku ganti dengan nama yang lebih baik menjadi Ahmad atau Muhammad, bagaimana?

->Semoga dapat kembali digalakan penanaman pepohonan yang dapat banyak menyerap air.
->Di New Zealand mungkin peternakan susu sapi maju pesat, tidak ada salahnya jika di Indonesia memajukan peternakan kambing dan susu kambing, agar sesuai As Sunnah. Susu kambing sangat bermanfaat bagi kesehatan. Dengan melaksanakan As Sunnah, semoga Allah memberkahi dan meridhai di dunia dan di akhirat.

Berbicara mengenai pertanian, aku mengaitkan dengan tembakau. Aku tidak bermaksud membahas mengenai pertanian tembakau tetapi ingin menyampaikan pendapat mengenai penjualan rokok. Rokok hukumnya tidak haram tetapi makruh. Hanya saja seperti informasi yang banyak beredar, rokok membahayakan bagi kesehatan. Aku pribadi sempat melakukan experiment khusus terkait hal ini, aku yang sudah lama berhenti merokok rokok putih, saat menggunakan jenis rokok ini, dalam waktu yang tidak terlalu lama (aku lupa tepatnya, sekitar satu bulan?), aku sempat sakit berupa apa ya, seingatku waktu itu menurut dokter, terdapat area mukosa aku yang terbakar (inflamasi?); kemudian beberapa waktu lalu, mencoba merokok rokok kretek dalam kondisi tubuh yang sebelumnya telah banyak beraktifitas, saat itu aku hanya menghisap sebanyak 1 batang, hasilnya adalah aku sakit demam dan batuk dalam waktu lama.
Aku setuju harga rokok naik khususnya terkait pemeliharaan kesehatan tapi aku tidak setuju jika naik dengan penerapan cukai apalagi bila cukainya tinggi, aku lebih setuju jika yang naik adalah harga tembakau dari petani dan harga rokok dari pabrik lalu para petani dan pengusaha rokok membayar zakat penghasilan dan zakat harta ke pemerintah, dan pemerintah mendistribusikan zakat pada rakyat, dengan itu, semoga dapat mencapai kesejahteraan dalam berkah Allah.

Aku memaknai terjemah hadits yang tercantum di atas terkait larangan keras riba, namun bukan larangan bertani dan beternak, tetapi perintah agar tetap ingat untuk berjihad fisabilillah. 

Intermezzo: The man whom I love so much, Tex, did something -on his Instagram map- which reminds me of "someone", moreover reminds me of the core of Al Baqarah (2): 223 verse translation. Also, the post he shared made me smile and think that every man (husband) must be a farmer or gardener.
Mengenai agama, aku kerap mengajak pria yang aku cintai ini untuk masuk dan memeluk Islam; sering mengingatkan ia mengenai busana syar'; secara langsung/tidak, aku kerap menentang perayaan yang tidak sesuai syariat Islam.

Aku sadar Indonesia bukan hanya negara agraris tetapi juga negara maritim, hanya untuk kelautan, aku tidak bisa berbicara terlalu banyak meskipun waktu kecil aku sempat menjadi seperti "anak pantai", tinggal di sekitar wilayah pesisir laut. Yang aku ingat waktu itu, sesekali aku pergi ke pantai, menikmati pemandangan pantai, mendengar deburan ombak, melihat turis berselancar (wisata alam); sesekali ke pasar ikan yang agak becek dan bau amis (sekarang sepertinya sudah ada bangunan pasar yang baru, semoga lebih tertata), melihat banyak nelayan serta perahu yang menepi, di pasar ikan dijual berbagai macam ikan (dulu ikan yang paling aku suka ikan kakap dan tenggiri).
Oia waktu aku kecil, di pantai, Abi suka bercakap-cakap menggunakan Bahasa Inggris dengan turis/"bule", aku juga pernah disapa oleh bule, waktu itu mungkin aku sempat menjawab, hanya terkadang ada percakapan yang aku tidak mengerti karena "native speaker" berbicara dengan fasih dan cenderung cepat. Oia, salah satu alasan Abi aku mengajak keluarga tinggal di sekitar pantai adalah selain untuk menikmati panorama alam laut dan pantai yang indah juga untuk memperlancar kemampuan berbahasa Inggris (khususnya Abiku) karena di pantai dapat bertemu dan berbincang langsung dengan para wisatawan yang merupakan native speakers Bahasa Inggris.
Sebagai informasi, terlebih belakangan, yang aku kurang sukai dari pantai adalah bila pantai kotor, kemudian banyak yang berpakaian tidak menutup aurat (secara syar'i), dan biasanya ada pasangan-pasangan yang pacaran sambil pegangan tangan atau hal lain yang tidak sesuai syariat Islam. 'Nulis sambil istighfar, inget dosa.'

'Hey kekasih, yang tinggal di sekitar pantai, meskipun kamu desainer, anything to say related to "maritim"? (Yang sesuai syariat Islam atau untuk yang non Muslim minimal menyesuaikan syariat Islam). Serta jangan dulu cerita kapal pesiar (cerita kapal pesiar karam, kesian, tapi jangan juga cerita itu), pokoknya kasian banyak nelayan berjuang dalam panas terik dan hujan badai.'

Khususnya untuk aku dan kaum Muslimin, bahasa yang sepatutnya dipelajari adalah bahasa kebangsaan masing-masing, lalu Bahasa Arab dan Bahasa Inggris terutama untuk syiar Islam. Aku sempat alpa menuliskan bahwa untuk Muslim yang telah menguasai berbagai bahasa baik bahasa asing, bahasa kebangsaan dan bahasa daerah, bahasa apa pun itu termasuk bahasa isyarat, alhamdulillah, apalagi bila dilengkapi B. Inggris dan disempurnakan dengan B. Arab, kesemua bahada tsb dapat digunakan untuk syiar Islam dalam rangka meraih berkah, rahmat dan ridha Allah.

Sehubungan aku baru ingat bahwa saat aku merevisi tulisan ini di bulan Dzulqoidah, bulan terlarang untuk berperang, bulan harram (Muharram, Rajab, Dzulqodah dan Dzulhijjah), kecuali bila di serang, maka aku berusaha lebih banyak membicarakan aspek bisnis namun tetap bisnis diupayakan sesuai syariat Islam. Semoga aku dan bangsa Indonesia khususnya Muslim Indonesia umumnya kaum Muslimin dapat memanfaatkan dan memelihara alam dengan sebaik-baiknya di jalan Allah, untuk meraih berkah, rahmat dan ridha Allah swt di dunia dan di akhirat. Aamiin.

Selama ini baik secara langsung ataupun tidak langsung, aku mencari arti dan makna sukses dari berbagai sumber dan narasumber, banyak yang mengaitkan sukses dengan uang, materi (yang berlimpah) dan kedudukan (yang tinggi), adapula yang mengaitkan dengan kepuasan batin. Alhamdulillah, aku menemukan definisi/makna sukses sesuai syariat Islam, yakni sebagai berikut:

2. Telah sukses orang yang beriman dan memperoleh rezeki yang kecil dan hatinya pun akan disenangkan Allah dengan pemberianNya itu. (HR. Muslim)

Penjelasan:
Dia merasa senang dengan rezeki yang diberikan Allah meskipun sedikit.
[Dr. Muhammad Faiz Almath, "1100 Hadits Terpilih: Sinar Ajaran Muhammad", hal. 282]


Sebagai pengingat khususnya kaum Muslimin, apa pun profesinya, sedapat mungkin berjuang bersama di jalan Allah, salah satunya berjihad memberantas riba. Tentunya juga berjuang bersama menegakkan kalimat tauhid, kemudian syariat Islam dan khilafah Islamiyyah di muka bumi ini untuk meraih berkah, rahmat dan ridha-Nya di dunia dan di akhirat. 

Semoga Allah menegakkan kalimat tauhid, kemudian syariat Islam dan khilafah Islamiyyah di muka bumi ini dalam berkah, rahmat dan ridha-Nya di dunia dan di akhirat. Aamiin.


Wallahu'alam.

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah
dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.


19.05.13 -> 0910 Rajab 1434 H
0203.08.2016 -> 2829 Syawal 1437 H
04.08.2016 -> 01 Dzulqoidah 1437 H
Revisi dan Pengembangan:
0506070809101112131415161920212223242526293031.08.2016 -> 0203040506070809101112131617181920212223262728 Dzulqoidah 1437 H
15161923.09.2016 -> 1314171821 Dzulhijjah 1437 H
01.10.2016 -> 29 Dzulhijjah 1437 H
07.10.2016 -> 06 Muharram 1438 H
0209.11.2016 -> 0209 Shafar 1438 H




0 komentar: