Busana Syar’i: Bukan Mewah Tetapi Sederhana (Sesuai Syariat Islam)

Busana Syar’i: Bukan Mewah Tetapi Sederhana (Sesuai Syariat Islam)


“1. Dari Ibnu Umar bahwasanya bila hendak bepergian, maka yang paling akhir dikunjungi Rasulullah SAW adalah Fathimah, sedang bila datang dari bepergian, orang yang pertama dikunjunginya adalah Fathimah a.s. Ketika beliau SAW pulang dari peperangan Tabuk, beliau dapatkan Fathimah telah membeli sehelai kain kerudung yang diberi warna dengan za’faran, dan ia menghiasnya dengan sepotong kain tabir mewah atau menghamparkan sebuah permadani di rumahnya. Ketika melihat hal itu, Nabi SAW tidak jadi ke rumah Fathimah dan segera duduk kembali ke masjid. Melihat hal itu Fathimah menyuruh Bilal untuk menanyakan mengapa Rasulullah SAW tidak mau masuk ke rumah Fathimah. Setelah dijelaskan sebab-sebabnya, maka Fathimah segera mencabik-cabik kain tabir atau permadani tadi dan iapun segera memakai kain  kerudung yang lebih sederhana, sebagaimana biasanya. Setelah diberitahukan apa yang telah diperbuat oleh Fathimah, barulah Rasulullah SAW mau mendatangi rumah Fathimah. Setelah masuk Rasulullah SAW bersabda: “Demikianlah seharusnya engkau berbuat.” 171)”

171) Lihat “Tirkatun Nabiyyi SAW Wassubulul Latii wajjahahaa fiihaa” karya Imam Hammad bin Ishak bin Ismail (199-267) yang telah diteliti oleh Doktor Akrom Dhiyaa’ul Amri, cetakan Jami’ah Islamiyah Madinah Al Munawarrah, cetakan ke I tahun 1404 H – 1984 H, halaman 56. Riwayat di atas juga diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahih-nya, Abu Dawud dalam sunnahnya.
[Yunus Ali Al-Mudhor, “Kehidupan Nabi Muhammad SAW dan Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib R. A.”, Semarang: CV. Asy Syifa’, 1992, hal: 544.]

Dalam Islam memang dibolehkan mengenakan pakaian yang indah, terlebih ketika akan memasuki mesjid. Hanya berpakaian indah bukan berarti mewah, berdasarkan terjemah hadits di atas, dalam keseharian kaum Muslimin khususnya Muslimah baiknya mengenakan busana Muslim sederhana, busana syar’i.
“Adapun Fatimah adalah putri belaiu yang paling beliau cintai. Beliau katakan bahwa Fatimah adalah wanita surga terkemuka (Sayyidatu Nisaa Ahli Jannah)* 632 [Yunus Ali Al –Mudhor, ibid, hal. 390.]
*632 Jaami’ Turmizhy 11 hal 221 cetakan India.

Diriwayatkan oleh sejumlah ahli hadis dari beberapa orang sahabat bahwa Nabi s.a.w bersabda: “Perumpamaan ahlu-bait-ku itu ibarat kapal Nabi Nuh, siapa yang menumpang ke atasnya maka selamatlah ia, dan siapa yang tidak mau naik ke atasnya maka karamlah ia.” Dalam riwayat lain, maka tenggelamlah ia. Dan dalam riwayat lain lagi, maka ia akan dilemparkan ke dalam neraka.
[Muhammad Ali Shabban: Teladan Suci Keluarga Nabi: Akhlak dan Keajaiban-Keajaibannya, hal. 86-87.]

Terutama untuk hal yang berkaitan dengan kehidupan sebagai wanita Muslimah, aku berusaha meneladani Fatimah r.a. sesuai syariat Islam, walaupun mungkin aku tidak dapat sempurna meneladani beliau. Meneladani Fatimah r.a. dilakukan karena putri kesayangan Rasulullah ini adalah wanita shaleha wanita terkemuka di surga, kemudian beliau merupakan ahlul bait (keluarga Rasulullah saw) yang berdasarkan terjemah salah satu hadits termaktub di atas, disimpulkan bahwa ahlul bait memang sepatutnya menjadi ikutan bagi umat Islam di jalan Allah.

Kembali mengenai pakaian sederhana syar’i, dalam terjemah hadits pada awal tulisan ini, dijelaskan bahwa Rasulullah saw sangat tidak menyukai Fatimah mengenakan pakaian dengan celupan za’faran beserta kain mewah, saking tidak suka bahkan Rasulullah saw sampai mendiamkan Fatimah r.a.

->Warna za’faran adalah warna kuning kunyit, kuning kemerahan atau orange.




Busana dan kerudung di atas ada yang milik salah satu anggota keluarga aku, ada pula milik aku, pemberian dari keluarga dan saudara aku, namun terdapat pula kerudung warna mencolok yang aku beli sendiri lalu. Beberapa kerudung bukan berbahan mewah, bahan sederhana hanya warnanya mencolok maka dari itu aku tandai seperti di atas. Aku terpaksa mengenakan kerudung mencolok untuk gambaran ini, untungnya wajah aku diedit sebagai penghilangan ciri-ciri makhluk bernyawa.

Ket. Foto: Aku dan adik priaku. Foto telah diedit untuk penghilangan ciri-ciri makhluk bernyawa, serta pemberian tanda agar kaum Muslimin menghindari pakaian berwarna orange, kemudian menghindari pakaian ketat lalu menghindari pemakaian kerudung yang tidak menutup dada.

Terjemahan hadits lainnya terkait terlarangnya warna za’faran khususnya bagi kaum Muslimin:
1808. Dari Abdullah Ibn Amr al-Ash ra, ia berkata: “Rasulullah saw melihatku sedang memakai dua baju (atas dan bawah) yang diwarnai kuningnya za’faran390, maka beliau bertanya: “Ibumukah yang menyuruhmu memakai ini?” Aku menjawab: “Apa saya harus mencucinya wahai Rasulullah?” Beliau berkata: “Bukannya dicuci, tapi bakar keduanya!” Dan dalam riwayat, beliau berkata: “Sesungguhnya ini adalah termasuk pakaian orang-orang kafir, maka jangan kamu pakai!” (HR. Muslim) [Imam Nawawi, Tarjamah Riyadhus Shalihin JIlid 2, hal. 737-738]
390 Maksudnya, diberi warna kuning yang sangat mencolok. 
Dari terjemah hadits tersebut di atas, dapat diketahui bahwa Rasulullah saw sangat marah ketika ada orang khusnya pria yang mengenakan pakaian berwarna za’faran, warna kuning kunyit, kuning kemerahan atau orange. Bahkan Rasulullah saw memerintahkan untuk membakar pakaian berwarna za’faran. Mungkin warna za’faran ini warna seperti yang pakaian yang dikenakan oleh para biksu Budha.


"In Europe and America, orange is commonly associated with amusement, the unconventional, extroverts, fire, activity, danger, taste and aroma, the autumn season, and Protestantism. In Asia, it is an important symbolic colour of Buddhism and Hinduism.[1] "https://en.wikipedia.org/wiki/Orange_%28colour%29






 
"Barang siapa yang meniru-niru suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka." (Dr. Abdullah Nashih Ulwan, "Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam Jilid 1", hal. 191.]

Di kamus Webster's New World Dictionary halaman 999 aku menemukan kata orangeman yang intinya merupakan kelompok rahasia pendukung aliran Protestant. Kemudian, pada Wikipedia tertulis bahwa warna orange terkait Protestantism, Buddhism dan Hinduism. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa orange merupakan warna kekafiran dan kemusyrikan. Rasulullah saw bersabda yang intinya bahwa kaum Muslimin dilarang menyerupai kaum kafir/kalangan yang bukan Islam. Kemudian barangsiapa menyerupai satu golongan maka ia termasuk golongan tersebut. Untuk itu kaum Muslimin diharapkan menghindari warna za'faran, warna kunyit termasuk warna orange.

Namun demikian menurut pendapat aku, terdapat pengecualian untuk warna zafaran atau orange, benda yang memang sudah diciptakan oleh Allah begitu adanya mengandung warna kunyit atau warna orange, yang hal tersebut tidak dapat dihindari seperti  kunyit untuk bahan memasak/obat (bukan untuk mewarnai pakaian atau benda-benda lainnya), buah jeruk untuk dikonsumsi dan inai/hena untuk pewarna rambut/kuku.
 

Selain warna za’faran, terdapat pula terjemah hadits lain terkait pakaian wanita berwarna mencolok, warna kuning.
1381. Dari Ummu Khalid binti Khalid bin Sa’id r.a., katanya: Saya menghadap Rasulullah s.a.w. bersama bapak saya, dan saya memakai baju kuning, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sanah, sanah!” Kata-kata sanah dalam bahasa Habsyi artinya “baik”. Ummu Khalid berkata: Saya lalu mempermainkan cincin stempel kenabian. Lalu bapak saya melarang. Rasulullah s.a.w. bersabda: “Biarkanlah!” Kemudian Rasulullah bersabda lagi: “Pakailah baju kuning itu baik-baik sampai habis, pakailah baik-baik sampai habis dan pakaialah baik-baik sampai habis!” [H. Zainuddin Hamidy, H. Fachruddin Hs. dkk (penterjemah), Terjemah Hadits Shahih Bukhari Jilid III, hal. 147-148.]

Aku bertanya-tanya mengenai sosok Ummu Khalid di atas, apakah Ummu Khalid tersebut seorang anak kecil, perempuan kecil, dari perilakunya memainkan cincin stempel kenabian lalu sang ayah menegur Ummu Kahalid atas perilakunya tsb. Lalu kenapakah Rasulullah saw memuji pakaian Ummu Khalid namun kemudian menekankan, hingga 3 kali agar pakaian kuning tersebut dikenakan sampai warnanya habis, dalam artian usang, tidak berwarna kuning lagi? Apakah sebenarnya bagi wanita lebih baik untuk tidak mamakai warna kuning/ warna mencolok?

Bagi wanita, anak-anak wanita dan wanita tua/ wanita yang sudah menopouse dapat mengenakan pakaian mencolok (hanya bukan warna za’faran). 

Laki-laki dibolehkan mengenakan pakaian mencolok, kecuali warna za’faran. Rasulullah saw pernah mengenakan pakaian/setelan berwarna merah dan beliau menjadi sangat menarik perhatian bagi yang melihatnya.

Aku tidak dapat memaksa para Muslimah untuk tidak mengenakan pakaian yang mencolok baik dari segi model maupun warna, tetapi hanya menyarankan bahwa baiknya pemakaian busana dengan model maupun warna mencolok dihindari. Aku bermaksud menginformasikan bahwa aku pribadi dahulu suka berpakaian dengan warna mencolok seperti merah, kuning, pink, shocking green dsb namun setelah melihat tayangan mengenai busana Muslim peninggalan putri Rasulullah Saw, Fathimah r.a., yang pakaiannnya berupa gamis/jubah bukan warna mencolok, jika aku tidak keliru warnanya lebih ke warna pastel; serta setelah membaca literatur terkait busana bagi Muslimah, perlahan-lahan aku mulai berusaha meninggalkan pakaian warna mencolok untuk di luar rumah. Pendapat ulama yang menjadi referensi aku adalah sebagai berikut:

“Allah telah memerintahkan kaum wanita dalam ayat 31 surah An-Nur, agar mereka tidak menampakkan perhiasan diri mereka kecuali pada orang-orang tertentu yang disebutkan dalam ayat itu, “Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan,” jika kita membaca ‘instruksi’ ini secara bersambung dengan ayat yang menjadi bahasan kita saat ini pada surat Al-Ahzab, maka akan tampak pada kita semua dengan jelas bahwa ‘instruksi’ yang tertuju pada wanita-wanita di dalam ayat ini adalah hendaknya mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuhnya yakni dengan menyembunyikan perhiasannya dari lelaki-lelaki yang bukan mahram. Dan tujuan ini tidak akan tercapai kecuali jika jilbab tidak berhias dan tidak bergambar. Jika tidak, maka lenyaplah tujuan ini dengan pemakaian jilbab warna-warni yang penuh hiasan yang menarik perhatian. …, “
[Syaikh Imad Zaki Al-Barudi, “Tafsir Wanita: Penjelasan Terlengkap Tentang Wanita Dalam Al Qur’an”, Pustaka Al Kautsar, 2006, hal: 651]
Untuk di luar rumah, belakangan aku berusaha untuk tidak mengenakan pakaian berwarna mencolok. Tetapi jika di dalam rumah, aku masih mengenakan pakaian dengan warna mencolok (khususnya di hadapan keluarga yang muhrim), namun demikian mostly pakaiannya bukan pakaian mewah tetapi pakaian sederhana. Sedangkan untuk pakaian warna za’faran, sedapat mungkin aku berusaha menghindari warna tersebut, baik di dalam maupun di luar rumah.

Keputusan aku untuk menghindari warna mencolok hadir setelah menyaksikan tayangan mengenai busana Muslim peninggalan putri Rasulullah Saw, Fathimah r.a., yang pakaiannya berupa gamis dengan warna bukan warna mencolok, seingat aku warnanya lebih ke warna pastel berikut setelah membaca pendapat salah satu ulama yang telah aku sebutkan sebelumnya dan semakin yakin setelah membaca terjemah hadits bahwa Rasulullah saw sangat tidak menyukai putrinya, Fatimah r.a., mengenakan pakaian berwarna za’faran (warna mencolok) beserta kain mewah.

Aku hampir sependapat dengan ulama yang pendapatnya telah aku kutip. Aku pun berpendapat bahwa esensi pemakaian hijab akan sulit tercapai bila wanita mengenakan hijab dengn warna-warni (terlebih warna mencolok) serta corak/motif (yang mencolok), model, warna dan motif mencolok cenderung untuk menarik perhatian orang untuk memperhatikan wanita yang memakai jenis pakaian tersebut, karena dalam Islam, khususnya secara fisik, wanita dituntut untuk tidak menjadi pusat perhatian, hal ini terlihat dengan adanya perintah Allah bagi wanita mukmin untuk lebih banyak berdiam di rumah; kemudian untuk mengenakan hijab jika keluar rumah untuk hajat yang penting/ mengenakan hijab di hadapan pria bukan muhrim: hijabnya pun tidak boleh tipis dan tidak boleh membentuk lekuk tubuh, hijab harus longgar dan tebal/ tidak trasparan; juga terdapat aturan mengenai berhias hanya untuk suami; selain itu wanita tidak dibenarkan berjalan berlenggak lenggok (genit), lalu adanya larangan bagi wanita mengenakan minyak wangi yang semerbak di/ke sembarang tempat.

Hanya, sedikit berbeda dengan pendapat ulama yang menghimbau Muslimah untuk tidak mengenakan pakaian bercorak, aku pribadi adakalanya masih mengenakan pakaian bercorak misalnya batik, namun belakangan aku berpikir dan berusaha untuk memakai batik dengan motif/corak yang tidak mencolok, corak/ motif yang lebih simple, sederhana syar’i. Mungkin contoh motifnya sebagai berikut:


Selain batik, setiap pakaian bercorak khususnya untuk wanita, sepatutnya corak/motifnya dibuat tidak mencolok, tidak menggunakan warna mencolok, simple, sederhana syar’i. Sebagai informasi, Rasulullah saw pernah mengenakan pakaian bermotif, yakni motif pelana unta.
Oia selain beberapa hal tsb, aku menghindari motif makhluk bernyawa karena gambar makhluk bernyawa terlarang dalam Islam, Allah melarang menggambar makhluk bernyawa. 
1689. Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Setiap tukang gambar di neraka, setiap gambar yang digambarnya akan diberi nafas (jiwa), sehingga ia menyiksanya di neraka Jahannam. “Ibnu Abbas berkata: “Jika memang kamu harus menggambar, maka gambarlah pepohonan, dan apa yang tidak mempunyai ruh (nyawa).” (HR. Bukhari – Muslim) [Imam Nawawi, “Tarjamah Riyadhus Shalihin Jilid 2”, hal. 664.]

Terkait warna mencolok, sebelumya, saat masih kecil, aku sangat menyukai warna merah, menurut aku merah adalah warna paling menarik perhatian, dan aku suka warna merah dipadukan dengan hitam. Actually, according to me at that time, red combined with black was the best colours. Terlebih jika model bajunya “umpak-umpak”. Gara-gara kesukaan aku tersebut, oleh saudara aku, aku sempat dikatai selera aku norak, kampungan (saudara aku dulu biasa menyebut kampungan dengan kata  kamson) kayak penyanyi dangdut.

Aku cuek saja dikatai seperti itu, aku tetap suka warna merah. Even sometimes I imagined that I were a Chinese princess with beautiful red traditional Chinese wear living in a chamber of a castle, spent so many times writing. -> Heran, kenapa dulu aku imajinasinya begini? Aku dulu ngga pernah berimajinasi sebagai putri Arab. Setelah agak besar kesukaan aku terhadap warna tsb agak sedikit dikurangi, namun hingga dewasa aku tetap mengenakan pakaian berwarna merah dan tentunya  paduan warna merah dan hitam.
->Baik besar maupun kecil, ngontrak, milik orang tua atau milik pribadi, rumahku istanaku, rumahku surgaku, baiti jannati.


Terkait gambar di atas: 
Gambar kanan, foto aku ketika kecil mengenakan gaun merah dan hitam, sedang menyanyi dalam acara ulang tahun salah satu teman (kaka kelas) di TK, aku menyanyi dengan diiringi gitar oleh salah satu ibu guruku. Ibu guruku, maafkan aku, fotonya aku crop. Waktu TK aku adakalanya berpartisipasi menyanyi di depan kelas atau di acara ulang tahun. -> Sebenarnya dalam Islam tidak ada perayaan ulang tahun. Sekarang aku telah berhenti merayakan perayaan ini. Moment spesial yang dirayakan dalam Islam (diluar Idul Fitri dan Idul Adha), diantaranya pernikahan, akikah dan sunat. Nyanyian disunnahkan untuk perayaan Idul Fitri, Idul Adha dan pernikahan.
->Anw fotonya aku sensor karena aku mengenakan pakaian yang terlampau pendek. Sebenarnya dalam Islam anak-anak belum terkena kewajiban menutup aurat seperti kewajiban menutup aurat orang dewasa, hanya saja baiknya terlebih di zaman ini dimana kejahatan terhadap anak-anak kerap terjadi, banyaknya predator anak yang melakukan pelecehan seksual, baiknya anak-anak mengenakan pakaian yang tidak terlalu pendek, menegnenakan pakaian sopan sedapat mungkin menutup aurat dengan baik. 

Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji [275], hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan lain kepadanya[276]. An Nisaa (4): 15
[275]. Perbuatan keji: menurut jumhur mufassirin yang dimaksud perbuatan keji ialah perbuatan zina, sedang menurut pendapat yang lain ialah segala perbuatan mesum seperti : zina, homo sek dan yang sejenisnya. Menurut pendapat Muslim dan Mujahid yang dimaksud dengan perbuatan keji ialah musahaqah (homosek antara wanita dengan wanita).

[276]. Menurut jumhur mufassirin jalan yang lain itu itu ialah dengan turunnya ayat 2 surat An Nuur.
At-Tirmizi, Abu Daud dan Ibnu Majah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda:
“Barang siapa yang kamu dapati melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah si fa’il dan maf’ul bih-nya”.
Al Baihaqi dan lainnya meriwayatkan dari Mifdhal dari Ibnu Juraij dari ‘Ikrimah bahwa Nabi saw. Bersabda:
“Bunuhlah fa’il (yang me-liwath-i) dan maf’ul bih (yang di-liwath-i) dan orang yang berzina dengan binatang.” [Dr. Abdullah Nashih Ulwan, Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam Jilid 1, hal. 263-264.]

->Hukum Islam (Syariat Islam) untuk predator pelaku pelecehan seksual pada anak, pedohile, pun WAJIB ditegakkan. Dalam Islam tidak dikenal hukum kebiri. Sesuai syariat Islam, jika pelaku melakukan tindakan sodomi (liwath) maka hukumannya adalah hukuman mati; sedangkan jika pelaku melakukan tindakan pemerkosaan, jika pelaku belum menikah maka hukumannya adalah hukum cambuk sedangkan bila pelaku telah menikah maka hukumannya adalah hukuman rajam sampai mati. 

->Jika pelaku masih anak-anak yang belum masuk usia baligh, maka pelaku dikembalikan kepada orang tua, sedapat mungkin diberi perhatian dan pengawasan ekstra serta pendidikan sesuai syariat Islam.

Gambar kiri, kebaya pemberian salah satu saudara aku yang sekarang aku menghindari untuk mengenakan kebaya tersebut karena warnanya mencolok. Roknya pemberian dari salah satu teman Umi aku, sejauh ini roknya aku pakai karena sesuai aturan Islam. Kepada teman Umi aku, Ibu Lilis, terima kasih atas roknya, syukron. Jazakallah. Dulu aku pernah mengenakan kebaya tersebut dengan rok panjang buatanku sendiri (tepatnya dibantu oleh guru jahit aku) dilengkapi pashmina Arab hitam dengan hiasan pinggir yang terdapat sedikit warna merah.

Selain momen menyanyi yang fotonya termuat di atas, ada pula momen berikut, aku mengenakan baju merah hati dengan sepatu boot hitam:


Foto tersebut merupakan foto keluarga diambil saat lebaran Idul Fitri, aku mengenakan kaos bergaris merah hati dan putih, luaran merah hati dan mengenakan sepatu boot hitam (sebetis). Saat itu aku sudah memasuki usia baligh 10/11 tahun, namun aku belum terkena kewajiban berhijab karena saat itu aku belum mengalami menstruasi, namun sebenarnya baiknya anak yang telah berusia baligh, walaupun belum mengalami mestruasi, sepatutnya sudah belajar mengenakan hijab agar ketika waktunya wajib berhijab maka telah terbiasa. Anw di foto tsb adik laki-laki aku sedang memegang boneka milik aku.

Oia dulu aku pernah dengan PD-nya memakai pakaian tersebut berjalan-jalan ke Jakarta bersama saudara-saudara dan menginap di hotel Citraland (Ciputra).

-> Anw aku memikirkan mengenai bisnis hotel, bagaimana agar hotel tidak digunakan semena-mena tetapi digunakan sesuai syariat Islam, mungkin pasangan yang datang untuk menginap di hotel harus membawa buku nikah, atau keluarga yang menginap di hotel harus membawa kartu keluarga agar hotel tidak digunakan sebagai tempat mesum atau arena perzinahan, agar hotel dapat digunakan sesuai syariat Islam, hotel syar’i. Hotel juga baiknya tidak terlampau megah atau mewah, sederhana saja yang penting bersih, nyaman dan aman sesuai syariat Islam.
-> Syariat Islam untuk pelaku mesum wajib ditegakkan, hukuman cambuk dikenakan bagi pria dan wanita bukan muhrim yang melakukan tindakan mesum/asusila di tempat karaoke. Bila terbukti berbuat zina hukuman bisa berupa hukum cambuk bagi pelaku zina yang belum menikah, sedangkan bagi pelaku zina yang telah menikah, hukumannya adalah dirajam sampai mati.
->Mustinya ada kartu nikah dan kartu keluarga yang bentuknya seperti KTP atau ATM (atau lebih canggih dari kartu-kartu tsb), kartu tersebut merupakan sumber informasi akurat mengenai status pasangan sebagai pasangan yang sah, pasangan menikah, atau informasi akurat mengenai status keluarga. Kartu pun dimaksudkan agar lebih praktis dapat dibawa kemana pun dan dipergunakan sesuai kebutuhan berdasarkan syariat Islam.
->Sepatutnya hotel tidak digunakan untuk event-event yang merupakan pelanggaran syariat Islam, seyogianya hotel digunakan sesuai syariat Islam. 

->Kepada para petugas hotel Citraland/Ciputra serta seluruh hotel di Jakarta dan kota-kota lainnya bahkan di seluruh dunia yang merupakan wanita Muslim, yang belum berhijab, diharapkan dapat berhijab syar’i untuk meraih ridha Allah. Para pria rata-rata telah berpakaian menutup aurat, bagi para pria yang belum berpakaian menutup aurat dengan syar’i, diharapkan dapat berpakaian menutup aurat secara syar’i. Semoga baik pria maupun wanita dapat berpakaian syar’i untuk meraih ridha Allah.

Kemudian momen berbaju merah berikutnya:



Aku menyanyi dalam rangka perayaan H.U.T. kemerdekaan R.I.  di tempat aku tinggal. Saat itu, saat masih SD, aku sempat perform di acara "17-an", salah satu penampilannya terekam (sebagai barang bukti) dalam foto di atas, aku mengenakan busana dengan bahan kain songket berwarna merah dikombinasikan dengan hiasan berwarna emas dilengkapi dengan selop China berwarna merah berbunga-bunga. Saat itu aku menyanyikan salah satu lagu karangan Abi aku, lagu berbahasa Inggris. Pada waktu itu, aku telah memasuki usia baligh, namun belum menstruasi dan aku belum berhijab. Selain penampilan saat itu, aku juga pernah perform di event "17-an", juga membawakan lagu Abi aku, hanya saat itu aku tidak menayanyi tetapi sebagai drummer. Ketika itu, aku aga blibet main drumnya, sedikit nervous. Hanya saja, aku tidak ingat kala itu aku mengenakan pakaian apa.

-> Walaupun belum mengalami mestruasi, sepatutnya sudah belajar mengenakan hijab agar ketika waktunya wajib berhijab maka telah terbiasa.
-> Kemerdekaan R.I. sebenarnya jatuh pada bulan Ramadhan. Dalam Islam tidak ada perayaan hari kemerdekaan, hari raya dalam Islam hanya Idul Fitri dan Idul Adha. Moment penyelenggaraan  perlombaan ada di dalam Islam, perlombaan sesuai syariat Islam, namun perlombaan tersebut bukan untuk merayakan kemerdekaan atau perayaan tidak Islami lainnya tetapi perlombaan diadakan untuk ukuwah Islamiyah syar’i.

Terkait bermain drum, drum adalah alat musik yang dulu adakalanya aku mainkan, biasanya aku mengiringi beberapa lagu karangan Abiku. Sayangnya, beberapa tahun lalu, aku melakukan kekeliruan, yakni mempublikasikan di salah satu jejaring sosial, foto aku yang sedang bermain drum mengenakan kaos merah pendek terdapat tulisan putih, skinny jeans hitam, tanpa hijab, yang pakaian yang aku kenakan sangat melanggar syariat Islam. Mohon maaf atas kekeliruan aku tersebut. Foto yg dimaksud (yang telah diedit) terlampir.


Selanjutnya, momen lain dengan baju merah:


Saat itu merupakan saat OSPEK Pengenalan Fakultas Sastra 2006. Ketika itu aku tergabung dalam Tim Logistik divisi konsumsi hanya saja di hari itu aku harus berperan sebagai Tim Dis (tim penegak disiplin) yang bertugas “marah-marah” terhadap mahasiswa baru. Waktu itu aku mengenakan baju merah dengan kerudung merah menyala disertai celana panjang hitam dilengkapi jas almamater Unpad. Kombinasi putih yang terlihat di area lengan merupakan manset putih. Kekeliruan aku di foto tersebut adalah aku mengenakan warna mencolok yang menarik perhatian, serta aku mengenakan kerudung yang tidak menutupi bagian dada bahkan parahnya bagian leher ada yang tidak tertutup dengan baik.

Jika aku tidak keliru, foto di atas merupakan hasil bidikan salah satu senior aku di Sastra Inggris, Ka/Bang Boy. Dulu saat perama masuk Sastra Inggris Unpad, salah satu saudara aku yang ketika itu juga merupakan mahasiswa Sastra Unpad -yang akan segera lulus- menitipkan aku pada Bang Boy ini, Bang Boy adalah seorang Nasrani. Aku tidak terlalu dekat dengan Bang Boy, hanya seingat aku selama kami kenal, Bang Boy bersikap baik dan ramah.  Dulu, aku tidak terpikir mengajak Bang Boy masuk Islam, tapi saat ini di pikiran aku juggling kata-kata seperti ‘Bang Boy, maukah kamu masuk dan memeluk Islam?’

->Oia terima kasih kepada salah satu saudara aku yang telah memperhatikan dan melindungi aku sebagai saudara dan telah bermaksud baik menitipkan aku kepada senior aku saat itu, hanya mungkin lebih baik apabila Muslimah dipercayakan untuk dijaga oleh wanita atau pria Muslim (dititipkan kepada sesama Muslim yang terpercaya). 

Kembali terkait foto di atas, meskipun marah-marah aku saat OSPEK tsb hanya acting, tetapi sebaiknya tidak dilakukan karena marah-marah yang bukan di jalan Allah adalah terlarang. Oia jika aku tidak keliru saat setelah aku berperan marah-marah dengan mengenakan baju merah tsb, aku mendapatkan beberapa "surat cinta", yang surat-surat tersebut ada yang memang ditujukan khusus untuk aku pribadi ada pula yang ditujukan untuk aku dan kawan-kawan panitia OSPEK FASA Unpad 2006. Terlepas dari surat-surat tersebut memang tulus ikhlas atau sekedar formalitas, aku berterima kasih kepada setiap maba saat itu yang telah mengirimkan “surat cinta” untuk aku dan juga rekan-rekan, terlebih saat itu mungkin aku sudah bersikap kasar, membentak bentak tidak karuan (yang hal ini terlarang dalam Islam) namun para maba tersebut tetap menuliskan kata-kata yang baik khususnya untuk aku dan umumnya untuk rekan-rekan. Maafin aku ya teman-teman FASA Unpad 2006 atas perilaku aku yang tidak sesuai syariat Islam.
Berikut salinan teks beberapa “surat cinta” tersebut:





Untuk kata-kata kebencian terhadap Tim Dis, aku sensor, harap maklum. Dulu saat membaca surat itu, aku senang saja, tertawa, “surat cinta” tersebut sempat menjadi hiburan tersendiri bagi aku dan para panitia setelah berlelah-lelah sebagai panitia OSPEK walaupun surat-surat tersebut dulu mungkin oleh aku pribadi tidak terlalu aku perhatikan secara detail. Namun belakangan, aku membaca ulang “surat-surat cinta” tsb ada hal lucu dan menarik. Sebagai contoh:
Terdapat surat yang berisi kalimat ”Sudah sekian lama aku menantikan seorang bidadari jatuh dari surga tapi ternyata aku menemukan seorang bidadari di Jatinangor lebih tepatnya Unpad.” Saat membaca kalimat ini aku bertanya-tanya yang intinya seperti: ‘Jadi, yang dimaksud bidadari jatuh dari surga itu aku atau Unpad ya?’
Kemudian kalimat berikut: “Teh Hana yang cantik sejak saya pertama masuk ke fak. sastra saya hanya ingin mengatakan “I LOVE YOU””. Membaca rangkaian kata tersebut aku jadi berpikir ‘Jadi, dia bilang I LOVE YOU itu buat aku atau buat fakultas sastra (karena masuk fakultas sastra) ya?’
Ada pula yang surat cintanya berisi rangkaian kata bermajas berikut “Aku merindumu seakan seperti siang merindu hangatnya sinar matahari, seakan bintang merindu bulan yang selalu menemani dan menghiasi langit malam.” Saat membaca kata per kata dari surat tsb aku berpikir kira-kira ‘Subhanallah, niat ya bikin surat cintanya.’, ‘Sempet-sempetnya orang ini (penulis surat cinta tsb) merangkai kata puitis di situasi underpreassure (OSPEK).’, ‘Orang ini memang cocok masuk fakultas sastra.’
Lalu ada “surat cinta” tertanggal 02-08-06, terkait kegiatan saat itu aku sempat berpikir ‘Apa mungkin maksudnya tanggal 02-09-06?’; setalah itu terdapat kata “bersenyum” yang lazimnya adalah kata “tersenyum”; selanjutnya terdapat kaliamat “oh… teh Hana engkau dambaan hatiku, aku ingin bertemu dan bersamamu sehari saja”. Waktu membaca kalimat tersebut, aku bersikap santai bahkan sempat tersenyum tapi sambil berpikir ‘Emangnya aku cewe apakah gerangan?'. Aku berharap, bila sesama Muslim, pertemanan atau persaudaraan sesama Muslim tidak hanya sekedar sehari saja, tetapi pertemanan atau persaudaraan sesuai syariat Islam yang dapat berlangsung selamanya untuk meraih ridha Allah di dunia dan di akhirat.

Harap maklum ya para yuniorku pengirim “surat-surat cinta” tsb, suratnya aku komentari. Beberapa nama pengirim “surat cinta” tersebut diantaranya: Indra Nugraha, Seno Adi N. dan Nurrahma P. Anw thanks untuk “surat cinta” maupun ucapan terima kasihnya, syukron. Jazakallah. Hanya saja, sesuai syariat Islam, terkait ungkapan cinta, cara mengungkapkan cinta kepada sesama Muslim tuntunannya seperti dalam terjemah hadits yang termuat dalam teks di atas, dan ungkapan cinta tersebut tidak bisa semena-mena, harus dengan kesungguhan hati, tulus (ikhlas) karena Allah, di jalan Allah.  

Sebagai informasi, aku tidak menyelesaikan kuliah aku, hanya saja, selain kuliah resmi yang aku tempuh di Universitas Padjajaran (Unpad), Jatinangor, aku pun teringat bahwa aku pernah "ngampus" di beberapa kampus berikut, yakni: perpustakaan Institut Teknologi Bandung (ITB); perpustakaan Universitas Kristen Maranatha (Bandung); American Corner, Universitas Indonesia (UI), Salemba (?); perpustakaan Universitas Indonesia (UI), Depok, dalam rangka mencari bahan referensi untuk skripsi.

Aku harap OSPEK bahkan pendidikan di berbagai jenjang termasuk di –setiap- universitas dapat berjalan sesuai syariat Islam. Semoga Allah mengaruniakan kepada aku dan para pengirim “surat-surat cinta” yang dimaksud, yang beragama Islam, dan kaum Muslimin petunjuk (taufiq-hidayah), cinta dan kasih sayang (rahmat)-Nya. Aamiin.

Terima kasih untuk setiap orang yang telah bersikap baik terhadap aku dan keluarga, bahkan ketika kami melakukan kesalahan, terdapat orang-orang yang tidak mencaci maki atau merendahkan kami, tetapi memaafkan atau menasihati dengan cara yang baik. Apabila aku dan keluarga melakukan kesalahan atau kekeliruan mohon beritahu kami dengan cara yang baik, yang ma'ruf sesuai syariat Islam. Permisi, sebagai keturunan Rasulullah saw, aku patut memberitahukan khalayak mengenai sikap terhadap keluarga dan keturunan beliau. Aku menyayangkan apabila terdapat perlakuan kasar dan merendahkan kepada para keluarga dan keturunan beliau, termasuk aku dan keluarga. Aku menyampaikan hal ini agar khalayak dapat bersikap tepat terhadap para keluarga dan keturunan nabi terakhir penyampai risalah Allah swt.

Dan telah sahih tatkala putri Abu Lahab hijrah ke Madinah ada yang mengatakan kepadanya: “Tidak berguna hijrahmu itu, engkau tetap putri kayu api neraka.” Omongan orang itu disampaikannya kepada nabi dan menjadi murkalah beliau. Kemudian beliau berpidato di atas mimbar: “betapa teganya oranmg-orang menyakiti aku dalam urusan orang-orang yang ada ikatan keluarga dan kekerabatan denganku. Ketahuilah, barangsiapa menyakiti keluarga dan sanak kerabatku berarti ia telah menyakiti diriku, dan barangsiapa yang menyakiti diriku berarti telah menyakiti Allah.” [Muhammad Ali Shabban, “Teladan Suci Keluarga Nabi: Akhlak dan Keajaiban-Keajaibannya”, hal. 87.]
Dari Abu Sa’id bahwa Nabi s.a.w. bersabda: “Allah sangat murka terhadap orang yang menyakiti aku dalam urusan keturunanku. (HR. Al- Dailami) [Ibid, hal. 88.]

Moment lainnya terkait pakaian merah-hitam:


Foto tersebut diambil kala aku dan rekan-rekanku berkaraoke di Inul Vizta Sukabumi. Rekan-rekanku maaf ya fotonya aku crop. Saat itu aku mengenakan kaos merah (pada kaos tertera tulisan berwarna hitam dan putih), kemudian celana panjang hitam dilengkapi kerudung hitam. Kesalahan aku dalam berpakaian tsb adalah aku mengenakan pakaian baju (kaos) berwarna mencolok dan ngepas, serta skinny jeans yang tentunya ketat, kerudung tidak sepenuhnya atau tidak sempurna menutupi area dada. 
 
Terkait penampilan berkerudung tapi berpakaian ketat, salah satu anggota keluarga aku seringkali melihat para Muslimah, ibu-ibu Muslim berkerudung tapi pakaiannya “ketat di sana sini”, maka beliau menyebut mereka “Ibu-ibu ngga bener!”. Maaf, jika ucapan salah satu anggota keluarga aku tersebut terdengar kasar. Memang, penampilan kerudung berikut pakaian ketat adalah keliru, tetapi aku pikir mungkin itu bagian dari proses, semoga kedepannya dapat berpakaian lebih baik, lebih syar’i untuk meraih ridha Allah di dunia dan di akhirat. Aamiin. Oia aku diberitahu oleh seorang kenalan mengenai pakaian dengan prinsip segitiga yang intinya apabila pakaian bagian atas longgar maka pakaian bagian bawah boleh ketat, sedangkan apabila pakain bagian atas ketat maka pakaian bagian bawah bisa longgar. Aku tidak tahu prinsip tersebut dasarnya dari mana, dalam Islam, aturan harus berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah, terlebih jika aturan tersebut telah jelas termaktub dalam Al Qur’an dan atau As Sunnah, berdasarkan syariat Islam tidak dibenarkan berpakaian ketat, pakaian –luar- bagian atas maupun bawah maupun terusan sepatutnya longgar. Hadits mengenai hal ini bisa dilihat dalam kumpulan beberapa terjemah hadits terkait penampilan syar’i yang tertulis di bagian akhir tulisan ini.

Btw di tempat karaoke tsb aku dan rekan-rekan sempat terlarut dalam bersenang-senang sambil menggila menari/berjoged India, memang saat itu aku dan rekan-rekan semuanya wanita (jadi tidak -bermaksud- dilihat oleh pria bukan Mushrim). Terkait menari, sepengetahuan aku, menari dibatasi dalam Islam. Daripada menari, pria lebih baik melakukan bela diri, misalnya gulat sesuai syariat Islam. Sedangkan bagi wanita, wanita jalan berlenggak lenggok saja tidak diperbolehkan dalam Islam, apalagi menggoyang-goyangkan tubuh terlebih secara vulgar. Larangan berjoget atau bergoyang terlebih yang vulgar termasuk ke dalam larangan dari Allah yang termaktub dalam Al Qur'an surah Al Ahzab (33): 33 mengenai larangan berhias dan berprilaku seperti orang-orang jahiliyah/bodoh yang dahulu (orang-orang yang belum mengenal dan menerapkan aturan Islam).
Oya, Mba Inul, harap maklum ya waktu itu aku pernah marah-marah di sosmed terkait job tahun baru di Inul Vizta yang melibatkan keluarga aku. Aku tidak setuju dengan perayaan tahun baru. Jika Mba Inul bermaksud berbaik hati menawarkan job (hallal sesuai syariat Islam), maka baiknya job serupa waktu itu ditawarkan untuk memperingatai perayaan sesuai syaraiat islam seperti Idul Fitri dan Idul Adha. Terima kasih atas perhatian Mba Inul.
Kemudian, aku turut prihatin dengan musibah yang menimpa salah cabang karaoke Inul Vizta sehingga mengakibatkan beberapa orang non Muslim meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Maaf, aku tidak paham hukum Islam untuk kasus yang kabarnya merupakan sabotase tsb. Hanya yang aku harapkan adalah Mba Inul tidak lagi bergoyang apalagi yang berlebihan dan dapat mengenakan hijab syar’i. Kabaranya Mba Inul anggota Aisiyah ya. Jika iya, aku harap Mba Inul dapat menjadi teladan sesuai syariat Islam bagi para anggota Aisiyah dan bagi Muslimah seluruhnya.

Oia selain di Inul Vizta Sukabumi , aku juga pernah berkaraoke, bersama teman-teman wanita, di tempat karaoke keluarga di Bandung.

->Terkait bisnis karaoke dimanapun, menurut pendapat aku baiknya tempat karaoke tidak dijadikan tempat maksiat, termasuk dalam hal ini diharapkan tidak menjual minuman beralkohol termasuk bir, tidak menjadikan sebgai tempat mesum. Lagu-lagu (musik) dan video-videonya sedapat mungkin sesuai syariat Islam. Jika judulnya adalah karaoke keluarga amaka sepatutnya pengunjung memperlihatkan foto copy kartu keluarga atau buku nikah. Seperti halnya hotel, tempat karaoke juga baiknya tidak terlampau megah atau mewah, sederhana saja yang penting bersih, nyaman dan aman sesuai syariat Islam.
->Tempat karaoke untuk pria dan wanita yang bukan pasangan menikah atau bukan keluarga sebaiknya dipisah.
->Syariat Islam untuk pelaku mesum wajib ditegakkan, hukuman cambuk dikenakan bagi pria dan wanita bukan muhrim yang melakukan tindakan mesum/asusila di tempat karaoke. Bila terbukti berbuat zina hukuman bisa berupa hukum cambuk bagi pelaku zina yang belum menikah, sedangkan bagi pelaku zina yang telah menikah, hukumannya adalah dirajam sampai mati.
->Mustinya ada kartu nikah dan kartu keluarga yang bentuknya seperti KTP atau ATM (atau lebih canggih dari kartu-kartu tsb), kartu tersebut merupakan sumber informasi akurat mengenai status pasangan sebagai pasangan yang sah, pasangan menikah, atau informasi akurat mengenai status keluarga. Kartu pun dimaksudkan agar lebih praktis dapat dibawa kemana pun dan dipergunakan sesuai kebutuhan berdasarkan syariat Islam.
->Kepada para petugas karaoke di Sukabumi dan kota-kota lainnya bahkan di seluruh dunia yang beragama Islam, wanita Muslim, yang belum berhijab, diharapkan dapat berhijab syar’i untuk meraih ridha Allah. Para pria rata-rata telah berpakaian menutup aurat, bagi para pria yang belum berpakaian menutup aurat dengan syar’i, diharapkan dapat berpakaian menutup aurat secara syar’i. Semoga baik pria maupun wanita dapat berpakaian syar’i untuk meraih ridha Allah.
Dari beberapa kisah aku, sejak kecil hingga dewasa, aku menceritakan mengenai kisah aku menyanyi, pertannyaanya kapan aku mengajinya (membaca Al Qur’an)? Sebelum mengingatkan orang lain, aku musti mengingatkan diri sendiri untuk membaca Al Qur’an.

Keterangan Foto: Kaos Syar'i.



1639. Dari Ibn ‘Abbas ra, dia berkata: ”Rasulullah saw melaknat orang-orang laki-laki yang menyerupai perempuan 333 dan orang perempuan yang menyerupai laki-laki.”
Dalam satu riwayat: “Rasulullah saw melaknat orang laki-laki yang meniru perempuan dan perempuan yang meniru laki-laki.” (HR. Bukhari) [Imam Nawawi, “Tarjamah Riyadhus Shalihin Jilid 2”, hal. 637.]
333 مُخٓنّٓثadalah laki-laki yang   berlagak banci menyerupai perempuan dalam gerakan dan ucapan-ucapan-nya.

Sehubungan di dalam Islam terdapat aturan menutup aurat sesuai syariat Islam, dan terdapat larangan bagi pria menyerupai wanita begitu pula larangan bagi wanita menyerupai pria termasuk dalam berpakaian, maka aku mendesain kaos syar’i. Kaos syar'i ini memungkinkan untuk digunakan oleh pasangan muhrim, dan dapat dipergunakan sesekali disamping penggunaan pakaian syar'i berbahan bukan kaos seperti pakaian katun Muslim syar'i. Desain ini baru berupa sample.

Keterangan Desain:

Kaos Pria (Ikhwan):
-> Terdapat dua warna kaos atasan. Kaos berwarna putih dengan tulisan warna hijau tua; kemudian kaos berwarna hitam dengan tulisan warna putih, terdapat sedikit aksen hijau tua. Tulisan I (Love) Islam, berukuran agak besar di bagian dada. Kaos panjang (seperti tunik), lengan panjang (sepergelangan tangan), berukuran longgar;
-> Celana panjang (semata kaki/di atas mata kaki, batasnya sebetis), longgar;
-> Sorban.

Kaos Wanita (Akhwat):
-> Terdapat dua warna kaos atasan. Kaos berwarna putih dengan tulisan warna hijau tua; kemudian kaos berwarna hitam dengan tulisan warna putih, terdapat sedikit aksen hijau tua.Tulisan I (Love) Islam berukuran kecil di ujung kanan baju (supaya tidak menarik perhatian). Kaos panjang (seperti tunik), lengan panjang (sepergelangan tangan), berukuran longgar. Jika kaos tipis baiknya dilapis;
-> Kaos terdapat kancing/resleting bukaan depan. Hal ini dimaksudkan terutamanya agar, bahkan meskipun sejak dini, para wanita diingatkan bahwa apabila telah menikah dan memiliki anak, mereka memiliki tugas menyusui. Bagi ibu menyusui, bukaan depan lebih memudahkan proses menyusui. [Jika sanggup, dianjurkan bagi para ibu menyusui selama sekitar 2 tahun untuk setiap anak mereka, jika terdapat kendala boleh menyusui kurang dari waktu tsb atau dibolehkan pula menyewa ibu susu dengan memberikan upah yang layak. Lihat Q.S. Al-Baqarah (2): 233.];
-> Rok panjang (semata kaki), longgar;
-> Kerudung menutupi dada;
-> Kaos kaki.

Ket. Kerudung: Rabbani; Kaos Kaki: ?

[Pakaian sebaiknya sederhana syar'i.]

Maaf, mungkin desainnya kurang sempurna, misalnya kurang rapi, kurang longgar, dll. Aku mempersilakan khususnya kepada kaum Muslimin untuk mempergunakan gambaran/desain ini, selama digunakan sesuai syariat Islam, digunakan di jalan Allah untuk meraih ridha Allah swt di dunia dan di akhirat.
 



Keterangan Foto:
Gamis: Zoya; Kemeja: Mix and Match; Rok: Lib; Blazer: Peyton Place, Platinum. Dulu aku sempat ingin menggunkan blazer yang fotonya tergambar di atas karena blazernya terlihat menarik, namun saat itu aku sudah mulai menghindari warna mencolok. -> Aku harap pakaian seperti blazer dapat dibuat dengan warna yang tidak mencolok, longgar, modelnya panjang seperti tunik namun tetap sederhana sesuai syariat Islam. 

Setelah mengetahui anjuran bagi Muslimah untuk menghindari warna mencolok, belakangan aku berusaha untuk tidak lagi mengenakan pakaian mencolok ke luar rumah. Namun masih ada sisa pakaian aku berupa gamis sengan warna dominasi hitam namun dengan strip merah di beberapa bagian pakaian, yang sebaiknya strip (warna mencolok/ kontras) seperti itu dihindari. Berikut fotonya:


Gamis (hijab) tersebut terinspirasi dari pakaian para wanita (Muslimah) Arab. Hanya para Muslimah Arab biasanya mengenakan pakaian gamis/jubah (hijab) yang berwarna hitam polos, dominasi hitam. Aku memiliki kisah tersendiri mengenai pakaian/ hijab yang biasanya dikenakan para Muslimah Arab tsb. Kisahnya sebagai berikut: Waktu kecil saudara aku adakalanya mengajak aku pergi ke Taman Safari atau Dufan, dan di tempat-tempat wisata tsb aku pasti melihat wanita-wanita Arab berjubah (berhijab) hitam, waktu kecil aku heran, merasa aneh dan sedikit takut melihat mereka tepatnya melihat penampilan mereka, apalagi biasanya mereka terlihat tinggi besar, kesannya mereka wanita-wanita tinggi besar berjubah hitam. Oia waktu kecil aku tidak ngeh bahwa aku berdarah Arab (dulu aku cuma suka heran kenapa Abi aku dan aunty aku aga kayak orang Arab?). Kembali ke gamis/jubah (hijab) hitam Muslimah Arab, waktu kecil aku suka bertanya-tanya yang intinya ‘Ngapain sih mereka dandan kayak gitu [berjubah (berhijab) hitam]?’, ‘Panas-panas gini kenapa mereka dandan kayak gitu [berjubah (berhijab) hitam]?’, dan mengeluarkan pernyataan dalam benak ‘Ih mereka nyeremin.’ -> Astaghfirullah.




Padahal mengenakan hijab memang diperintahkan oleh Allah:
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. [Q.S. An Nuur (24): 31.]
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya[1232] ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Q.S. Al Ahzab (33): 59.]
[1232]. Jilbab ialah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada.

Kemudian ketika aku sudah besar, saat kembali berekreasi bersama keluarga atau rombongan sekolah, aku lebih seksama memperhatikan mereka, berusaha melihat mereka lebih dekat, dan diantara mereka yang tidak bercadar, mereka yang terlihat wajahnya, ternyata, aku tidak menyangka, ‘Oh My God (ya Allah), mereka cantik-cantik! Masya Allah.’ Mereka cantiknya terlihat alami, natural dan nampak effortless, bukan hasil make up atau dempul apalagi yang menor, –maaf- kayak badut. Atau kayak dandanan aku di salah satu foto yang di muat di tulisan ini, bedaknya “celemotan”, ga cantik natural. Bukan pula seperti hasil operasi, cantik maksain atau cantik terpaksa, cantik palsu, merubah ciptaan Allah. Pokonya banyak dari para Muslimah Arab berjubah (berhijab) hitam itu yang nampak cantik alami dari Allah. Sejak saat itu kesan seram dari para wanita Arab berhijab hitam hilang berganti menjadi kesan cantik, anggun, elegant, dan sangat Muslimah. Subhanallah.

->Anjuran dalam Islam, berhiasnya wanita, termasuk make up, adalah untuk suami.
 
Ada lagi kisah terkait wanita Arab (berhijab) hitam, kali ini bersama pasangannya, suaminya dan anak mereka. Waktu itu, sekitar tahun 2010, aku dan Umi beserta adik-adik bersama rombongan keluarga  sekolah tempat Umi aku bekerja, berekreasi ke Taman Safari. Saat itu, aku sudah ngeh bahwa aku berdarah Arab. Di salah satu tempat pertunjukkan, jika tidak salah pertunjukkan gajah yang saat itu sedang aku tonton, tiba-tiba saja di hadapan aku terdapat pemandangan lain yang juga mengesankan. Ada sebuah keluarga kecil yang juga menonton pertunjukkan tsb, mereka Arab, sang wanita berjubah (berhijab) hitam dan sang pria terlihat berpenampilan aga kekinian, tidak seperti pria Arab yang mengenakan jubah, ia mengenakan kemeja dan celana panjang. Sang wanita bertubuh dan bertinggi sedang, dan sang pria pun berbadan sedang serta tidak tinggi untuk ukuran orang Arab, tinggi pasangan tsb tidak jauh berbeda. Sang wanita menggendong sang anak yang telihat masih batita, nampaknya ia bergantian dengan suaminya menggendong anaknya tsb. Namun tiba-tiba saja, lapisan luar kerudung si wanita yang bahannya nampak tipis aga turun dari tempat semula, tetapi hal ini tidak membuat rambut si wanita terlihat karena masih terdapat kerudung bagian dalam yang sepertinya lebih tebal, Muslimah tersebut mengenakan kerudung rangkap. Namun demikian, meskipun rambut si wanita tidak terlihat, sang pria tepatnya mungkin sang suami sambil menggendong anaknya, nampak dengan lembut dan sabar memperbaiki letak kerudung sang istri. Saat menyaksikan hal tsb aku refleks berpikir intinya ‘Oo.. so sweet, so romantic..’  {Arabtic kali ya? soalnya “romantic” (mesra/ penuh kasih)-nya bukan vulgar romantic, bukan romantis barbar jahiliyah tapi romantic Islami}. Lalu mulai mengira-ngira dan menganalisis ‘Padahal rambut istrinya ngga keliatan (karena kerudungnya rangkap) tapi masih aja suaminya mencoba memperbaiki kerudung luar istrinya, berarti si suami benar-benar ingin menjaga istrinya, benar-benar tidak mau mahkota kecantikan istrinya (rambutnya) dilihat sembarang orang.’ ‘Mungkin juga ia (mereka) benar-benar berusaha mentaati perintah Allah.’

Lalu aku mulai berpikr kira-kira ‘Cowo itu beda banget sama banyak cowo/suami –orang- Indonesia, boro-boro benerin kerudung, yang ada malah membiarkan para istri mereka (juga anak-anak perempuan mereka) tidak mengenakan kerudung.’ Kemudian aku berpikir lagi ‘Cowo Indonesia ada ngga ya yang ngerti romantis kayak gitu, romantis ala ala Arab, romantis Islami?’ Dan mulai deh berpikir aneh ‘Orang yang –saat itu sangat- aku cintai (“you know who”/si desainer) ngerti ngga ya romantis kayak gitu?' -> Ketika itu, aku belum berpikir terlalu serius karena saat itu karya-karyanya belum seperti saat ini. Baru belakangan saat teringat memory 'romantic ala Arab' lalu teringat seseorang tsb, aku pernah berpikir kurang lebih 'Dia ngerti ngga ya romantis kayak gitu? Boro-boro, kayaknya ngga deh… Dia bikin baju aja, (maaf) “menelanjangi” para wanita.‘ -> Seseorang, harap maklum aku berpikir gitu. Maksudnya, mostly baju yang dia buat masuk dalam kategori tidak menutup aurat. 




Oia taukah pembaca, padahal waktu aku berpikir dengan pikiran-pikiran seperti di atas tsb itu, dandanan aku juga “ngga jelas” maksudnya tidak syar’i, pake kerudung tetapi dalam Islam masuk pada kategori berpakaian tetapi (maaf) telanjang, skinny jeans ketat, blazer ngepas badan, kerudung tidak menutup dada, dan aku percaya diri tingkat tinggi lagi dengan dandanan seperti itu. -> Parah, kacau, error. Astaghfirullah.


Keterangan Foto:
Kanan: Kemeja: MarksandSpencer, Jeans: Insight. Sandal: Fladeo.
Kiri: Tunik: Manfung by Palloma, Rok: MNG jeans, Kerudung: Rabbani.
 Busana di atas merupakan pemberian, ada yang berasal dari saudara, keluarga dan teman Umiku. Terima kasih atas busana-busana tersebut, Jazakallah. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu disampaikan terkait busana khususnya jenis jeans. Berikut penjelasannya:

Terkait jeans, menurut pendapatku, jeans yang awalnya merupakan pakaian para non Muslim dengan karakteristik bahan yang keras, kokoh, dan diminati banyak umat manusia merupakan simbol kekuatan dan kekuasaan (kedigdayaan) kaum kafir, terlebih jeans yang modelnya tidak syar'i. untuk itu diharapkan bagi kaum Muslimin untuk lebih berhati-hati dalam mengenakan jeans. Kemudian jeans ada yang tergolong pada pakaian mewah yang sebaiknya dihindari oleh kaum Muslimin. Jika pun terpaksa mengenakan pakaian berbahan jeans, kenakanlah pakaian dengan model syar'i, jeans sederhana syar'i.

->Perlu disampaikan pula mengenai pakaian "branded", pakaian produksi luar negeri atau lisensi asing, diharapkan kaum Muslimin berhati-hati terhadap jenis pakaian ini terutama yang diproduksi oleh negara non Muslim. Pakaian "branded" biasanya tergolong pada kategori pakaian mewah yang sebaiknya dihindari oleh kaum Muslimin. Kemudian, salah satu guru aku pernah menasihatkan hal yang intinya dikhawatirkan ada bagian dari hasil penjualan barang-barang "branded" tersebut yang digunakan untuk membunuh kaum Muslimin, untuk memerangi Islam dan umat Islam.

[Semoga Allah memberi kemenangan kepada kaum Muslimin dan mengembalikan kejayaan kaum Muslimin, dalam berkah dan ridha-Nya di dunia dan di akhirat. Aamiin.]
->Kepada para petugas wanita (Muslimah) di Dufan, Jakarta, dan Taman Safari, Bogor, khususnya dan di tempat-tempat wisata umumnya di Indonesia bahkan dunia, yang belum berhijab, aku harap dapat mengenakan hijab syar’i untuk meraih ridha Allah. Para pria rata-rata telah berpakaian menutup aurat, bagi para pria yang belum berpakaian menutup aurat dengan syar’i, diharapkan dapat berpakaian menutup aurat secara syar’i. Semoga baik pria maupun wanita dapat berpakaian syar’i untuk meraih ridha Allah.
Sepertinya model pakaian ini dapat menjadi referesi bagi aku dan para Muslimah dalam berhijab (hanya saja bagian yang dikhawatirkan pas badan wajib diperlonggar):

Tulisan ini, dibuat terkait seorang desainer non Muslim yang dulu aku sebut sebagai seorang yang aku cintai, Tex Saverio. Yang menjadi inspirasi utama tulisan ini adalah berita mengenai karyanya yang ditampilkan di panggung Jakarta Fashion Week 2016. 
http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20151025014623-277-87079/tak-ada-stiletto-di-panggung-tex-saverio/Dari seluruh karyannya selama ini, termasuk karya dia yang diperlihatkan di luar event JFW, ada beberapa pakaian karyanya yang tergolong sopan hanya disesalkan banyaknya pakaian yang dia buat tidak menutup aurat. Sebenernya mengenai pakaian tidak menutup aurat, aku marah sama seseorang tersebut (apalagi dia adalah pria yang –masih- aku cintai), tapi apa daya dia kan lain agama sama aku, aku aga susah maksa terkait hijab syar’i, sembari tetep maksa terutama agar dia yang merupakan non Muslim sepatutnya tidak seenaknya berkarya melanggar syariat Islam, dia dan karya-karyanya sepatutnya menyesuaikan dengan syariat Islam. Saat ini aku masih berusaha mengingatkan desainer tsb untuk masuk dan memeluk Islam, lalu membuat pakaian syar’i.

-> Para non Muslim, terlebih mereka yang hidup di negara dengan mayoritas penduduk Muslim, sepatutnya tidak semena-mena berkarya dan berprilaku melanggar syariat Islam, setiap karya dan prilaku dalam setiap aspeknya sepatutnya menyesuaikan dengan syariat Islam.Aku dan kaum Muslimin, sudah sepatutnya berinisiatif untuk melaksanakan tepatnya menegakkan syariat Islam.

Lain hal mengenai, “romantis ala ala Arab” yang aku maksud, mengenai hijab syar’i, walaupun desainer yang dulu aku sebut sebagai seorang yang aku cintai tsb non Muslim, aku berasumsi bahwa dia paham menganenai hijab syar’i, dia kan desainer aku jadi berasumsi bahwa dia memiliki banyak referensi fashion termasuk hijab syar’i. Besaides sekarang zaman teknologi canggih, informasi mengenai hijab syar’i dapat dengan mudah didapatkan. Kemudian, sejauh ini, aku seringkali berasumsi bahwa setiap pria yang aku sukai, aku sayangi atau aku cintai lebih tahu atau lebih pandai dari aku dalam banyak hal, apalagi dalam bidang yang memang digeluti oleh setiap pria yang –pernah/masih- aku sukai, aku sayangi atau aku cintai tsb. Dan sekarang aku berharap kepandaian mereka sesuai syariat Islam.

Oia saat pengerjaan tulisan ini, terkait baju merah, ada beberapa pria yang aku ingat, salah satunya pria yang pernah sangat aku cintai, seorang Muslim, ia terlihat stunning dengan baju merah apalagi dilengkapi peci. Warna merah tak masalah bagi pria, hanya yang terbaik adalah warna putih dengan model pakaian yang sebaiknya syar'i. Terlebih aku harus ingat bahwa sebaik-baik pria yang mengenakan pakaian merah adalah Rasulullah Muhammad saw. Aku berdoa semoga ia dan keluarganya senantiasa dalam berkah dan rahmat Allah swt. Kemudian seseorang yang dulu aku sebut sebagai seorang yang aku sayang, seorang aktor non Muslim, aku beberapa kali melihat fotonya di internet, ia memakai baju merah, bingung komen apa, tapi pengen bilang, aku tak bermaksud intervensi, aku lebih suka melihat dia mengenakan baju putih, lebih terlihat fresh. Bahkan saat beberapa waktu lalu ia sikabarkan sakit or tepatnya menyakiti diri, ia terlihat mendingan dengan kemeja putih. Aku lupa saat bertemu seseorang ini dia mengenakan baju warna apa. Anw aku sedang agak “pundung” terhadap seseorang ini, karena sejak beberapa waktu lalu aku tidak berteman lagi dengan pria ini di jejaring sosial, dia me-reorganize list akun teman-teman fb-nya, aku telah add ulang namun sepertinya belum dia approve. Ternyata belakangan setelah aku check ulang, dia hanya bisa di-follow, aku usudah tidak marah lagi terkait tidak berteman dengannya di Fb, namun demikian aku enggan mem-follow-nya, alasan utamanya karena seseorang tsb non Muslim. Saat ini aku hanya bisa mendoakan, semoga Allah mengaruniakan kepada ia dan keluarga hidayah iman Islam. Aamiin.
->Warna putih bagi kaum Muslimin, merupakan warna terbaik sesuai syariat Islam.

->Sejauh ini, sepertinya jika aku mem-follow non Muslim khususnya di media sosial, mungkin itu karena otomatis dari sistem yang diterapkan pihak jearing sosial, bukan keinginan aku pribadi.

Kembali mengenai hijab, hijab terkesan panas, awalnya mungkin terasa seperti itu tapi jika sudah terbiasa memakai hijab maka tidak lagi terasa panas, biasa saja, nyaman-nyaman saja. Justru rasanya akan lebih parah jika tidak memakai hijab, misalnya jika memakai pakaian ketat ke luar rumah, rasanya tidak nyaman seperti tidak mengenakan pakaian. Kemudian, ingat perintah Rasulullah saw untuk tidak bermewah-mewah dalam mengenakan hijab. Abi aku menyesalkan apabila ada Muslimah berhijab namun terlihat mewah, tidak pantas atau tidak sesuai denga Islam. Dan yang terpenting dalam mengenakan hijab adalah untuk meraih ridha Allah swt di dunia dan di akhirat.

Btw penyanyi dangdut sekarang sudah mengenakan jasa para desainer. Terkait penyanyi dangdut, para penyanyi dangdut khususnya yang beragama Islam, diharapkan dapat mengenakan pakaian syar’i, dapat menghindari goyang terlebih yang vulgar, dapat bermusik sesuai syariat Islam. Terima kasih aku ucapakan kepada para penyanyi dangdut seperti Gita KDI dan Iyeth Bustami, yang telah berusaha selalu mengenakan busana Muslim, mengenakna hijab. Semoga dapat istiqomah berhijab terlebih hijab syar’i untuk meraih ridha Allah Ta’ala.

Terkait lagu dangdut, aku tidak terlalu menyukai lagu dangdut, apalagi yang lirik ataupun terdapat goyangan terlebih goyangan vulgar, kebanyakan lagu dangdut tidak mendidik. Hanya, aku berusaha menghargai lagu dangdut yang berupa syi’ar Islam, seperti beberapa lagu-lagu Bang Haji Rhoma Irama yang Islami, atau lagu cinta dan kesetiaan yang dibawakan dengan sopan, terlebih dibawakan sesuai syariat Islam.

Aku patut menyampaikan pula bahwa lagu dangdut yang memiliki julukan “the music of my country (Indonesia)” justru seringkali membuat aku kecewa terhadap negara dan bangsa ini, apalagi lagu-lagu dangdut yang mengandung kata-kata serta dibawakan dengan goyangan terlebih goyangan vulgar, lagu-lagu dangdut yang tidak mendidik (tidak mendidik ke arah yang baik sesuai syariat Islam), terlebih melanggar syariat Islam. Lagu dangdut yang tidak mendidik membuat aku seringkali merasa tidak bangga sebagai bangsa Indonesia, merasa sebagai bangsa yang tertinggal dan tidak terdidik.

Aku menyaksikan tayangan tv mengenai sejarah perkembangan dangdut, walaupun aku menontonnya sambil memindah-mindah channel karena enggan menyaksikan tayangan-tayangan goyang vulgar yang menjijikan, melanggar syariat Islam. Dari tayangan tsb, aku menarik simpulan bahwa dangdut sudah lama ada di Indonesia, berawal dari musik India. Yang ingin aku sampaikan adalah, musik gambus dengan goyang vulgar tari perut sudah ada sejak sangat lama di Arab. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa wanita jalan berlenggak lenggok saja tidak diperbolehkan dalam Islam, apalagi menggoyang-goyangkan tubuh terlebih secara vulgar. Karena hal tsb merupakan hal yang dilarang oleh Allah, Allah mengkategorikan hal tersebut ke dalam jahiliyah (kebodohan), hal ini termaktub dalam Al Qur'an surah Al Ahzab (33): 33, terkait larangan berhias dan berprilaku seperti orang-orang jahiliyah/bodoh yang dahulu (orang-orang yang belum mengenal dan menerapkan aturan Islam). Larangan berhias dan berprilaku jahiliyah tersebut tidak hanya berlaku bagi wanita di Arab tapi berlaku bagi seluruh umat manusia khususnya wanita beriman (Muslimah) termasuk di Indonesia dan di seluruh dunia.

->Inti perintah Allah yang termaktub dalam Al Qur'an surah Al Ahzab (33): 33, adalah para wanita beriman (Muslimah) diharapkan berhias dan berprilaku sesuai syariat Islam.

->Sebanyak, setinggi, seluas dan sedalam apa pun ilmu seseorang, siapa pun ia, baik pria maupun wanita, jika masih memainkan/menikmati musik dengan pakaian tidak menutup aurat sesuai syariat Islam terlebih dilengkapi dengan goyang vulgar yang melanggar syariat Islam, maka tergolong pada orang-orang jahil/bodoh.

Namun demikian, aku pikir akan percuma bila aku memendam kesal terhadap musik dangdut, toh banyak orang tetap menggemari dangdut, aku rasa kebanyakan rakyat Indonesia sulit terlepas dari musik tsb. Hanya saja musik dangdut ini harus dibenahi agar tidak bertentangan dengan syariat Islam. Untuk aku ucapkan terima kasih kepada para pemusik dangdut yang telah berusaha membawakan lagu dangdut yang termasuk dalam kategori mendidik terutama mendidik sesuai syariat Islam.

Permisi, aku perlu sampaikan pula di sini bahwa aku kurang nyaman apabila ada tetangga aku yang menyetel lagu dangdut dengan kencang berikut lagu-lagunya lagu yang diputar adalah lagu-lagu derita cinta, atau menetang poligami atau lagu-lagu yang berkesan dan membawa efek negatif lainnya. Khawatir salah tanggap, sejauh ini aku tidak membicarakan hal ini dengan para tetangga aku, paling aku sesekali menyetel lagu pop, jazz, atau lagu Islami dengan suara aga keras. Terima kasih kepada para tetangga aku, yang walaupun menyetel lagu dangdut, atau lagu pop, lagu daerah atau lagu genre lainnya, berupa lagu semangat, cinta dan kesetiaan (terutama kesetiaan yang membahagiakan, kesetian yang tidak melanggar syariat Islam), terlebih apabila lagunya lagu Islami atau berupa syi’ar Islam. Kemudian, apresiasi dan ucapan terima kasih yang besar, aku ucapkan kepada para tetengga aku yang tidak menyetel musik dengan suara keras. Mohon maaf, jika aku dan keluarga menyetel atau bermain musik (seringnya pop atau jazz) hingga suaranya terdengar hingga ke rumah tetangga terutama tetangga terdekat.

Aku mungkin belum menjadi tetangga yang baik untuk para tetangga aku, namun demikian aku bermaksud menyampaikan hal berikut (untuk saling mengingatkan di jalan Allah):

Dari Abdullah bin Amr r.a. mengatakan Rasulullah saw. Bersabda, “sebaik-baik sahabat di sisi Allah swt. Ialah yang terbaik bagi sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga menurut pandangan Allah swt. ialah yang terbaik bagi tetanggannya.” (H. R. Imam Tirmidzi, menurutnya, ini hadis hasan garib (aneh), Ibn Khuzaimah, IBn Hibban dalam kitab sahih keduanya, dan Imam Hakim, menurutnya, hadits ini shahih menurut syarat sahih Muslim)
Nafi’ bin Harits mengatakan Rasulullah saw. Bersabda, “Termasuk kebahagiaan seseorang ialah tetangga yang shaleh, kendaraan atau tunggangan yang nyaman dan tempat tinggal yang luas (hakiki).” Imam Ahmad, para perawinya adalah perawi shahih)
Hasan Ayyub, “Etika Islam: Menuju Kehidupan yang Hakiki”, hal. 374.

Abu Hurairah r.a. berkata, “Seorang laki-laki melapor kepad Rasulullah saw. Seraya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya si fulanah (si anu) benyak melakukan shalat, sedekah, dan shaum, hanya saja dia suka menyakiti tetangganya dengan lidahnya.’ Maka Rasulullah saw. Menjawab, ‘Orang itu akan masuk neraka.’ Dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya si fulanah (seorang wanita) disebut-sebut kurang shaumnya, sedikit salat (sunat)nya, dan dia bersedekah dengan sedikit keju, tetapi dia tidak suka menyakiti tetangganya.’ Maka Rasulullah saw. Bersabda, ‘Wanita itu akan masuk surge.” (H.R. Imam Ahmad, al Bazzar, Ibn Hibban dalam shahihnya, dan Imam Hakim, dia mengatakan, hadits ini shahih isnadnya, dan diriwayatkan pula oleh Abu bakar bin Abu Syaibah dengan isnad sahih)
Ibid, hal. 377.

Kemudian aku berharap para desainer Muslim dapat membuat pakaian menutup aurat, pakaian syar’i. Baju yang tidak menutup aurat, busana yang menentang syariat Islam juga menjadi kerisauan tersendiri bagi aku, Indonesia sebagai negara dengan mayoritas umat Islam tetapi banyak penduduknya berpakaian melanggar syariat Islam. Parahnya pemerintah pun tidak bertindak tegas untuk pelanggaran ini, kecuali sejauh ini di Aceh yang seringkali mengadakan razia pakaian yang melanggar syariat Islam, hal ini dilakukan agar para Muslimah dapat berpakaian syar’i. Mungkin –setiap- pemimpin bangsa ini dapat menginstruksikan kepada keluarganya lalu kepada rakyat untuk berpakaian syar’i. 


“Dari Ma’qal bin Yasar r.a. dari nabi saw. Beliau bersabda, ‘Tidak ada seorang raja (pemimpin, penguasa –pen.) pun yang menguasai urusan kaum muslimin kemudian tidak berusaha dengan sungguh-sungguh dan tidak menasihati mereka kecuali tidak masuk surga beserta mereka.” (H. R. Muslim dan Tabrani. Tabrani menambahnya, “Seperti menasihati dan berusaha bersungguh-sungguh terhadap dirinya”) [Hasan Ayub, “Etika Islam: Menuju Kehidupan yang Hakiki, hal. 166.]

Oia terkait desainer, dan tetangga, seingat aku Ibu Sjamsidar Isa (Tjammy), ketua IPMI (Ikatan Perancang Mode Indonesia), adalah tetangga aku, kediaman Ibu Tjammy yang di Sukabumi berada di samping kanan bagian depan rumah keluarga besar aku, waktu kecil aku pernah bertemu Ibu Tjammy dan pernah bermain dengan anak perempuannya. Namun, belakangan aku jarang melihat keluarga Ibu Tjammy. Terlebih setelah besar, sampai tulisan ini ditulis, aku jarang berinteraksi dengan para tetangga aku khususnya yang berada di komplek depan rumah utama keluarga besar aku. Terkait pembahasan mengenai busana Muslim, aku harap, Ibu Tjammy dapat lebih mendukung dan mensukseskan syiar fashion Islami terlebih syiar busana Muslim syar’i untuk meraih ridha Allah di dunia dan di akhirat.
Aku ucapkan terima kasih kepada para desainer Muslim yang telah membuat busana-busana Muslim, para desainer tersebut diantaranya adalah Irna Mutiara, Tuti Adib dan Dian Pelangi. Semoga para desainer Muslim dapat beristiqomah membuat busana Muslim terlebih busana Muslim syar’i untuk meraih ridha Allah di dunia dan di akhirat.

Sebagai informasi, bagi Muslimah baik mengenakan busana syar'i dengan warna yang tidak mencolok (warna pastel misalnya cream) atau warna gelap, sedangkan warna terbaik adalah putih. Semoga para Muslimah di seluruh dunia yang belum mengenakan hijab, dapat mengenakan hijab syar’i untuk meraih ridha Allah swt. Semoga aku dan seluruh Muslimah di seluruh dunia, yang telah berhijab namun belum berhijab syar’i dapat mengenakan hijab syar’i untuk meraih ridha Allah swt. Para pria rata-rata telah berpakaian menutup aurat, bagi para pria yang belum berpakaian menutup aurat dengan syar’i, diharapkan dapat berpakaian menutup aurat secara syar’i. Semoga baik pria maupun wanita dapat berpakaian syar’i untuk meraih ridha Allah. Semoga para pria yang telah berpakaian syar’i dan para wanita yang telah mengenakan hijab syar’i, diridhai oleh Allah swt. Aamiin.

  • 780. Dari Samurah ra, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Pakailah yang berwarna putih, karena sesuangguhnya itu lebih bersih dan lebih baik, kafankanlah jenazah kalian dengannya (kain berwarna putih). HR. Nasa’I dan Hakim. Hakim berkata: “Derajat hadits ini shahih.” [Imam Abu Zakariya bin Syaraf An Nawawi, Riaydhus Sholihin: Jilid Pertama, hal. 484.]
  • 785. Dari Amru bin Huraits ra, ia berkata: “Sepertinya aku melihat Rasulullah SAW, beliau memakai sorban berwarna hitam dan mengulurkan dua sudut sorban tersebut diantara dua bahunya.” HR. Muslim.
Dalam riwayat yang lain “Rasulullah SAW berkhutbah kepada manusia sedangkan beliau memakai sorban hitam.” [Ibid, hal. 485.]

  • 785. Dari al-Bara’ ra, dia berkata: “Rasulullah saw adalah orang yang sedang , tidak tinggi dan tidak pendek (tetapi lebih dekat kepada tinggi, -pent). saya telah melihat beliau dalam pakaian hullah40 merah, saya belum pernah melihat sesuatu yang lebih indah daripada beliau.” (HR. Bukhari – Muslim) [Imam Nawawi, “Tarjamah Riyadhus Shalihin Jilid 2”, hal. 76.]
    40 Hullah adalah pakaian yang memiliki lapisan luar dan lapisan dalam dari satu jenis (dan ia juga: pakian setelan atas dan bawah dari satu jenis, -pent)

    ->Pria dibolehkan mengenakan pakaian mencolok (kecuali warna za'faran). Hanya saja, berdasarkan terjemah hadits di atas, aku berpendapat bahwa aku sepatutnya ingat dan percaya bahwa tidak ada pria yang dapat menandingi pesona Rasulullah saw dalam mengenakan pakaian merah. Dalam berpakaian merah, pria saja sebaiknya tidak ditandingkan dengan Rasulullah saw, maka sebaiknya wanita pun tidak berusaha menandingi beliau.
    ->Terkait banyaknya aturan Islam (berdasarkan Al Qur'an dan Al Hadits) untuk melindungi wanita, aku menyetujui saran ulama yang intinya bahwa ada baiknya wanita tidak mengenakan pakaian berwarna mencolok, yang menarik perhatian.
     
     
  • 787. Dari Abu Ramtsah Rifa’ah at-Taimi rahimahullah, dia berkata: “Saya melihat Rasulullah saw memakai pakaian warna hijau.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi dengan sanad shahih) [Ibid., hal. 78.] 

  • 811. Dari Ali r.a. dia berkata: “Saya melihat Rasulullah saw mengambil sutera lalu dipegangnya dengan tanga kanannya dan mengambil emas lalu dipegangnya dengan tangan kirinya kemudian bersabda: “Sesungguhnya dua benda ini adalah haram atas kaum laki-laki dari umatku.” (HR. Abu Daud dengan sanad hasan) [Ibid, hal. 94.]
  • Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
    “Wahai Asma’, jika seorang wanita telah menjalani haid maka, tidak diperbolehkan baginya dilihat kecuali ini dan ini. Beliau mengisyaratkan wajah dan kedua telapak tangannya.” (HR. Abu Dawud) [Syaikh Kamil Muhammad Uwaidah, Fiqih Wanita: Edisi Lengkap, hal. 639.]
  • “Hati-hatilah kamu jangan sampai mengenakan pakaian orang-orang yang bukan beragama Islam.” (H. R. Ibnu Hibban) [Dr. ‘Abdu ‘l-Lah Nashih ‘Ulwan, Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam Jilid 2, hal. 299]
  • Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, secara marfu’. Ia meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda: “Peliharalah jenggot, cukurlah kumis, dan janganlah kalian menyerupai Yahudi dan Nasrani.” [Ibid, hal. 382]

  • “Ada dua kelompok penghuni neraka yang belum pernah aku melihatnya yaitu: Suatu kaum yang bersamanya cambuk seperti ekor sapi yang digunakannya untuk mencambuk orang-orang, dan wanita-wanita berpakaian tetapi telanjang, genit, kepalanya seperti punuk unta yang miring, mereka tidak masuk surga, tidak juga mencium bau surga, sesungguhnya bau surga tercium dari jarak ini dan itu.” (HR. Imam Muslim.)  [Ibid, hal. 639.]
  • 2. Dalam Riwayat Muslim dari Hadits Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah bersabda, “Siapa saja dari perempuan yang memakai wewangian, maka janganlah dia ikut shalat isya’ bersama kami.”2)
Dalam riwayat Imam Ahmad dengan sanad hasan dari hadits Al-Asy’ari, dia berkata, Rasulullah bersabda, “Barang siapa diantara wanita yang memakai parfum, dan dia berjalan di tengah-tengah manusia dengan tujuan untuk mencium wanginya, maka wanita itu telah berzina.”3)
2. HR> Muslim:444
3. HR> Ahmad: 4/313, 418 dan dalam An Nasai: 8/153 dengan sanad yang dinyatakan shahih oleh Syeikh Al-Albanu dalam Shahih Sunan An-Nasai.
[Syaikh Imad Zaki Al-Barudi, “Tafsir Wanita: Penjelasan Terlengkap Tentang Wanita Dalam Al Qur’an”, Pustaka Al Kautsar, 2006, hal: 624.]
  • …, Imam Ahmad telah meriwayatkan (5/205) dengan hasan lighairih dari hadits Usamah dia berkata, “Rasulullah memberikan pakaian asal Mesir yang agak (kurang -pen.) tebal. Kain itu diberikan sebagai hadiah oleh Dahyah Al-Kalbi. Maka saya pakaikan kain itu buat istriku.” Maka Rasulullah bersabda, “Kenapa kamu tidak memakai pakaian yang kuberikan padamu itu?”, Saya katakana: wahai Rasulullah saya pakaiakan pakaian itu untuk istriku! Rasulullah  Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Suruh dia untuk memakai pakaian dalam di bawah pakaian itu, sebab saya khawatir kain itu menggambarkan bentuk tulangnya.”1)
  1. HR. Imam Ahmad: 5/205 dengan sanad hasan. [Ibid, hal. 625.]
  • 787. Dari ‘Aisyah ra, ia berkata: “Satu kali Rasulullah saw keluar shalat subuh, beliau memakai kain yang terbuat dari bulu berwarna hitam bermotif pelana unta.” HR. Muslim [Imam Abu Zakariya bin Syaraf An Nawawi, Riaydhus Sholihin: Jilid Pertama, hal. 486.]
  • 790. Dari Asma binti Yazid r.a., ia berkata: “Adalah ujung lengan baju Rasulullah hanya sampai pergelangan tangan.” (HR. Abu Daud, Tarmizi. Tarmizi berkata: “Derajat hadits ini hasan.” [Ibid. 487]  
  • 797. Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi Saw, beliau bersabda: “Kain (sarung, pakaian) apa saja yang berada di bawah kedua mata kaki maka berada di neraka44. (HR. Bukhari) [Imam Nawawi, “Tarjamah Riyadhus Shalihin Jilid 2”, hal. 82.]

    799. Dari Ibn Umar ra dari Nabi saw, beliau bersabda: “Isbal itu ada pada sarung, gamis (kemeja panjang) dan surban, maka barangsiapa menyeret sesuatu karena sombong (ada rasa bangga, pent.) maka Allah tidak akan melihat kepadanya di hari kiamat.” (HR. Abu Daud dan Nasa’i dengan sanad shahih)

  • 472.    Dari Abu Hurairah ra dari Nabi saw beliau bersabda: “Celakalah367 hamba dinar dan hamba dirham, (Celakalah) hamba Qathifah dan Khamishah. Apabila ia diberi ia ridha (rela) dan jika tidak diberi ia jengkel.” (HR. Bukhari)[Imam Nawawi, Tarjamah Riyadhus Shalihin Jilid 1, hal. 486.]

    367     Celakalah orang yang mencintainya, mencari, menimbun dan menjaganya seolah-olah ia adalah budaknya. Semoga Allah melindungi kita dari penghambaan yang hina ini. Qathifah adalah pakaian yang dihiasi dengan renda-renda yang bergelantungan. Sedang Khamishah adalah selimut persegi empat.

    806.    Dari Mu’adz Ibn Anas ra bahwa Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa meninggalkan (kemewahan dalam) pakaian karena tawadhu’ kepada Allah, padahal ia mampu untuk berpakaian mewah maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat dihadapan para makhluk hingga Dia memberikan hak memilih dari baju iman yang manakah dia ingin memakainya.” (HR. Tirmidzi, dia berkata: “Hadits Hasan”) [Imam Nawawi: Tarjamah Riyadhus Shalihin Jilid 2, hal. 92.]
  • 624. Dari Abu Hurairah ra bahwasannya Rasulullah saw bersabda: “Ketika seorang laki-laki berjalan dengan pakaian hullah 427 yang sangat ia banggakan, dengan rambut tersisir, sambil bersikap congkak dalam jalannya, tiba-tiba Allah menenggelamkannya (ke perut bumi), maka ia terus tenggelam dan turun ke dalam bumi sampai pada hari kiamat.” (HR. Bukhari – Muslim) [Imam Nawawi, “Tarjamah Riyadhus Shalihin Jilid 1”, hal. 600.]
     
  • 517. Dari Ilyas bin Tsa’labah ra, ia berkata: “Para sahabat Rasulullah meminta agar Rasulullah memakai pakaian bagus (mewah –pen.) pada suatu hari saja, Rasulullah SAW bersabda: “Dengarlah!, dengarlah! Sesungguhnya berpakaian yang lusuh termasuk dari iman, sesungguhnya berpakaian yang lusuh termmasuk dari iman.”, yaitu berkulit kering karena kehidupan yang sulit dan tidak bermewah.” HR. Abu Daud. [Imam Abu Zakariya bin Syaraf An Nawawi, Riaydhus Sholihin: Jilid Pertama, hal. 342.] 
  •  
     

Maaf, tulisan ini saat awal dipublish sangatlah belum lengkap, saat ini tulisannya telah direvisi dan dilengkapi. Demikian tulisan ini, semoga bermanfaat bagi kaum Muslimin. Tulisan ini sewaktu-waktu dapat mengalami revisi jika diperlukan. Semoga Allah mengaruniakan kepada para non Muslim hidayah iman Islam. Semoga Allah mengaruniakan kepada aku dan kaum Muslimin taufiq dan hidayah untuk bertaqwa. Semoga Allah meridhai kaum Muslimin di dunia dan di akhirat. Aamiin.

Wallahu’alam.

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.
01.11.2015 -> 20 Muharram 1437 H

Revisi:
07080911.11.2015 -> 202526272829 Muharram 1437 H
13141516172527.11.2015 -> 0102030405131516 Shofar 1437 H
0405.12.2015 -> 23 Shofar 1437 H
13151926.12.2015 -> 01030714 Robiul Awal 1437 H
17.06.2016 -> 12 Ramadhan 1437 H

0 komentar: