Polisi dan Tentara Berseragam Sesuai Syariat Islam

Polisi dan Tentara Berseragam Sesuai Syariat Islam


780. Dari Samurrah ra, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Pakailah yang berwarna putih, karena sesungguhnya itu lebih bersih dan lebih pakaian baik dan kafankanlah jenazah kalian dengannya (kain berwarna putih)”. HR. Nasa’i dan Hakim. Hakim berkata: “Derajat hadits ini shahih.” [Imam Abu Zakariya bin Syaraf An Nawawi, “Riyadhus Sholihin Jilid Pertama”, 2008. Hal. 484.]

783. Dari Rifa’ah At-Tamimi ra, ia berkata: “Aku melihat Rasulullah SAW, beliau mengenakan dua pakaian berwarna hijau.” HR. Abu Daud dan Tarmizi dengan sanad yang shahih. [Ibid, hal.  485.]

785. Dari Amru bin Huraits ra, ia berkata: “Sepertinya aku melihat Rasulullah SAW, beliau memakai sorban berwarna hitam dan mengulurkan dua sudut sorban tersebut di antara dua bahunya.” HR. Muslim.
Dalam riwayat lain “Rasulullah SAW berkhutbah kepada manusia sedangkan beliau memakai sorban hitam.” [Ibid, hal. 485.]

789. Dari Ummi Salamah ra, ia berkata: “Pakaian yang paling disukai Rasulullah SAW adalah gamis.” HR. Abu Daud dan Tarmizi. Tarmizi berkata: “Derajat hadits ini hasan.” [Ibid, hal. 487.]

Tulisan ini terkait dibolehkannya Polwan di seluruh Indonesia berjilbab, sekaligus merupakan kelanjutan dari tulisan aku yang berjudul “Polisi dan Tentara Wanita Berjilbab”.

Beberapa waktu lalu, di jejaring sosial Facebook, aku share gambar-gambar desain seragam Polisi dan Tentara sesuai syariat Islam. Hanya saja, mohon maaf, pada gambar-gambar yang aku maksud masih terdapat kekeliruan, untuk itu, aku share ulang gambar desain yang telah diperbaiki. Hanya saja, gambar yang di share di jejaring sosial Facebook juga yang dimuat dalam blog ini sudah bukan asli buatan tangan tetapi telah mengalami berulangkali proses editing menggunakan photoshop. Editornya adik aku: R. Ahmad Zulfikar D. bin R. Muhammad Syarif H. D. A. Adik aku sempat menyarankan hal yang intinya agar aku menggambar dengan sebaik-baiknya dengan demikian tidak perlu terlalu banyak mengedit. -> Aku menyatakan kepada adik aku pernyataan yang intinya bahwa ide biasanya muncul secara bertahap, sometimes membutuhkan waktu yang lama, dan sedikit lelah jika harus mengulang-ulang gambar yang sama. Yet anyway, syukron, adik.

Dikarenakan sudah bukan karya tangan asli, aku pikir nilai seninya jadi berkurang. Aku tidak lagi fokus pada seni menggambar atau seni desain tapi lebih fokus untuk mengungkapkan pendapat dengan menyampaikan gambaran secara umum mengenai seragam Polisi dan Tentara sesuai syariat Islam.  Berikut gambar-gambar atau foto-fotonya (gambar maupun foto sewaktu-waktu dapat diedit ulang jika diperlukan):




Keterangan gambar:

Gambar di atas adalah gambar seragam Polisi atau Tentara Pria sesuai syariat Islam. Awalnya gambar dibuat bersamaan dengan gambar-gambar desain untuk Polisi wanita berjilbab, sebagai dukungan bagi Polwan di seluruh Indonesia untuk berjilbab. Selain desain seragam untuk Polisi wanita sesuai syariat Islam, aku juga membuat desain seragam untuk Polisi pria sesuai syariat Islam. Selama menggambar, aku berharap selain Polisi yang mengenakan seragam sesuai syariat Islam, Tentara pun mengenakan seragam sesuai syariat Islam.


Gambar kanan: Baju seragam dinas harian bisa berbentuk sedemikian, tunik dan celana panjang longgar untuk Polisi dan Tentara pria berwarna hijau. Ada gambar topi juga sorban, baiknya Polisi dan Tentara pria mengenakan sorban. Jika wanita khususnya Muslimah sejak dulu, termasuk zaman Rasulullah Muhammad saw., hingga saat ini dapat mengenakan kerudung/jilbab dalam keseharian, bukan tidak mungkin jika para pria Muslim pun mengenakan sorban dalam keseharian.


Gambar tengah: Batik merupakan warisan budaya bangsa, menurut pendapat aku, tidak ada salahnya jika Polisi maupun Tentara mengenakan seragam batik atau seragam dengan aksen batik selama sesuai syariat Islam.
Gambar batik ini belum sempurna, hanya gambaran secara umum, para pengrajin batik, lebih mengerti mengenai letak motif pada pakaian.
Lambang pada gambar tengah adalah gambar Al Qur’an dan pedang. Polisi dan Tentara, khususnya yang beragama Islam, diharapkan berjuang dengan berpegang pada Kitabullah. Berpegang pada Kitabullah berarti pula berhukum berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah, berjihad meneggakkan kalimat tauhid, kemudian menegakkan syariat Islam.


Gambar kiri: Mungkin ada baiknya jika Polisi atau Tentara mempunyai seragam berupa gamis syar’i. Rompi sebagai variasi untuk kemudahan menempelkan tanda pengenal, atau tanda kepangkatan dan atribut lainnya sesuai syariat Islam. Rompi bisa dilepaskan, terutama saat shalat.

Warna seragam untuk Polisi dan Tentara dapat dibedakan, misalnya  ada berbagai jenis warna hijau, sedapat mungkin warna-warna hijau yang identik digunakan umat Islam, sesuai syariat Islam.  Mengenai emblem pada pakaian seragam dapat disesuaikan, yang terpenting sesuai syariat Islam.



Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya[1232] ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Al Ahzab (33): 59]
[1232]. Jilbab ialah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada.

“Wahai Asma’, jika seorang wanita telah menjalani haid, maka tidak diperbolehkan baginya dilihat kecuali ini dan ini. Beliau mengisyaratkan wajah dan kedua telapak tangannya.” (HR. Abu Dawud) [Syaikh Kamil Muhammad Uwaidah, Tafsir Wanita Edisi Lengkap”, 2008. Hal: 639.]

Perintah Allah agar Muslimah mengenakan kerudung menutupi dada terdapat dalam surah An Nur (24): 31.

Aku sangat senang mendengar kabar bahwa Polwan di seluruh Indonesia dibolehkan berjilbab. Kembali, aku mengucapkan terima kasih kepada Kapolri, Jendral Badrodin Haiti yang saat menjabat sebagai Wakapolri dengan pangkat Komjen, beliau mengizinkan Polwan tidak hanya di Aceh tetapi di seluruh Indonesia untuk berjilbab. Aku ucapkan terima kasih pula kepada seluruh staff POLRI dan pemerintah Indonesia atas diizinkannya Polwan di seluruh Indonesia mengenakan jilbab. Alhamdulillah.

Aku sempat sangat senang ketika mendengar kabar bahwa Tentara wanita pun dibolehkan berjilbab. Tapi ketika aku check ulang berita tsb, ternyata pembolehan Tentara wanita berjilbab ini untuk aktifitas di luar dinas, selama berdinas belum ada izin bagi tentara untuk berjilbab, hal tersebut cukup mengecewakan (boleh pake jilbabnya hanya setengah-setengah).

->Aku jadi inget dulu waktu SMU, saat sekolah khususnya saat Kegiatan Belajar Mengajar, aku mengenakan kerudung, di luar kegiatan KBM resmi atau di luar sekolah aku melepaskan kerudung, astaghfirullah. Hal ini membuat aku ditegur oleh salah satu teman aku, pria Muslim, anak dari salah satu guru agama di sekolah aku yang sekaligus merupakan seorang tokoh Persatuan Islam (PERSIS) Sukabumi. Saat dulu ditegur aku cukup kesal dan bete, tapi sekarang aku senang mengingat ada yang peduli dan menasihati aku di jalan Allah. -> Alhamdulillah, syukron tegurannya, akhi. Kemudian Umiku (yang cenderung NU sedikit Muhammadiyah) juga menasihati aku, bahkan aku sampai bermimpi Umi aku menasihati aku yang intinya agar aku serius dalam mengenakan kerudung. Dan ketika aku menyatakan perihal mimpi aku kepada Umi, Umi menyatakan bahwa memang hal tersebut saat itu adalah keinginan terdalam Umi agar aku serius/istiqomah dalam mengenakan kerudung. Memang, aku tidak langsung berubah hanya hal tersebut menjadi bahan pemikiran yang mendalam. Alhamdulillah, beberapa tahun kemudian aku berusaha istiqomah berkerudung, sekarang aku berusaha istiqomah berhijab, berusaha istiqomah berhijab syar’i untuk meraih ridha Allah, semoga Allah meridhai. Aamiin.

Semoga Panglima TNI, Moeldoko, segera mengizinkan para Tentara wanita berjilbab tidak hanya saat di luar dinas tetapi ketika berdinas, dapat berhijab syar’i setiap saat untuk meraih ridha Allah.


Keterangan gambar:

Gambar kanan: Baju seragam dinas harian bisa berbentuk sedemikian, tunik dan celana panjang longgar untuk Polisi dan Tentara wanita (Muslimah) berwarna hijau. Kerudung bisa disesuaikan selama model dan warnanya syar’i.


Gambar tengah: Batik merupakan warisan budaya bangsa, menurut pendapat aku, tidak ada salahnya jika Polisi maupun Tentara mengenakan seragam batik atau seragam dengan aksen batik selama sesuai syariat Islam. Kerudung bisa disesuaikan selama model dan warnanya syar’i.
Gambar batik ini belum sempurna, hanya gambaran secara umum, para pengrajin batik, lebih mengerti mengenai letak motif pada pakaian.
Lambang pada gambar tengah adalah gambar Al Qur’an dan pedang. Polisi dan Tentara, khususnya yang beragama Islam, diharapkan berjuang dengan berpegang pada Kitabullah. Berpegang pada Kitabullah berarti pula berhukum berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah, berjihad meneggakkan kalimat tauhid, kemudian menegakkan syariat Islam.
Sepengetahuan aku, menurut fiqih Islam, wanita tidak dibenarkan menggunakan lambang seperti pedang, lambang sejata diperuntukkan bagi pria, hanya untuk Polisi dan Tentara wanita mungkin lambang tersebut dapat digunakan selama tidak berlebihan. Hal ini berdasarkan pertimbangan bahwa Rasulullah melarang wanita berperang tetapi saat kondisi terpaksa pernah ada wanita yang maju ke medan perang mengacungkan dan mengarahkan senjata ke arah lawan. Untuk itu, gambar lambang yang memuat gambar pedang pada seragam Polisi dan Tentara wanita sengaja aku buat sedikit, hanya sebagai aksen.

Gambar kiri: Mungkin ada baiknya jika Polisi atau Tentara mempunyai seragam berupa gamis syar’i. Rompi untuk perempuan dibuat panjang, hingga menutupi bagian –maaf- bokong. Rompi sebagai variasi untuk kemudahan menempelkan tanda pengenal, atau tanda kepangkatan dan atribut lainnya sesuai syariat Islam. Rompi bisa dilepaskan, terutama saat shalat.

Warna seragam untuk Polisi dan Tentara dapat dibedakan, misalnya  ada berbagai jenis warna hijau, sedapat mungkin warna-warna hijau yang identik digunakan umat Islam, sesuai syariat Islam. Mengenai emblem pada pakaian seragam dapat disesuaikan, yang terpenting sesuai syariat Islam.
Semoga gambar-gambar di atas dapat menjadi masukan untuk seragam Polisi maupun Tentara sesuai syariat Islam.


Desain gambar pakaian seragam Polisi dan Tentara wanita di atas diinspirasi dari seragam kerja aku ketika mengajar di Pendididkan Anak Usia Dini (PAUD) yang dikelola keluarga aku. Saat itu, para orang tua murid memberikan bahan yang kemudian kami jadikan seragam.
  
Sekedar informasi, kepala sekolah PAUD yang dikelola keluarga aku adalah masih keluarga aku, beliau merupakan istri dari seorang (alm.) purnawirawan POLRI dengan pangkat terakhir Brigjen. Ayah beliau, kakek aku, pun seorang (alm.) purnawirawan POLRI  dengan pangkat terakhir Mayjen. Dulu para almarhum ini, saat masih hidup, sempat tergabung dalam ABRI. Hal ini mungkin salah satunya yang membuat aku merasa familiar dengan ABRI (TNI-POLRI).



Gambar kanan: Seragam atasan dan celana panjang. Kerudung hitam dan putih: Rabbani. Sepatu: Fladeo (warna broken white, maaf warna diedit menjadi warna putih), Bata (warna hitam). -> Sebagai gambaran. Sangat disayangkan pakaian atasannya kurang panjang (bukan tunik) dan celana panjangnya kurang longgar. Aku lupa siapa yang mendesain seragam tersebut. Adakalanya aku mendesain seragam untuk sekolah yang dikelola keluarga aku. Seragam di atas, awalnya dikenakan  oleh salah satu rekan kerja aku, salah satu sahabat aku saat bekerja, seorang Sunda-Batak, Muslimah (Mamanya seorang Batak, Mualaf).

Peraga busana: aku.



Gambar kiri: Seragam gaun semi gamis. Kerudung hitam dan putih: Rabbani. Sepatu: Fladeo (warna broken white, maaf warna diedit menjadi warna putih), Bata (warna hitam). -> Sebagai gambaran. Awalnya seragam tsb khusus untuk aku kenakan, dengan izin kepala sekolah, sekitar tahun 2010 (1431 H) aku khusus memesan model seragam yang aku inginkan tersebut kepada salah satu penjahit terbaik di Sukabumi. Aku memesan seragam dengan model demikian karena agar lebih syar’i. Dulu biasanya, aku mengenakan seragam tersebut dengan kerudung warna broken white juga sepatu dengan warna senada, broken white.
Setelah aku tidak lagi bekerja secara resmi di  sekolah yang dikelola oleh keluarga aku, seragam tersebut “dialihpakaikan”, seragam tersebut pernah dikenakan oleh rekan aku, salah seorang istri Polisi, seorang Jambi-Batak, Muslimah (Mamanya juga seorang Batak, Mualaf).

Peraga busana: aku. Anw, untuk Polisi maupun Tentara wanita tidak perlu khawatir bentuk tubuh gemuk lalu merasa tidak cocok mengenakan gamis dengan model seperti di atas. Foto di atas diambil saat perut aku terlihat gendut karena memang belakangan aku jarang sit up dan mungkin karena mengenakan pakaian rangkap yang membuat aku terkesan gendut. Sempet ngga pede terlihat gendut mungkin karena pernah mengikuti sanggar modeling dan kami dilarang gendut kemudian aku pernah mendapat “gelar” perut paling rata diantara sahabat-sahabat aku (saat itu perut rata didapat dengan rajin sit up). Tapi adik aku meyakinkan hal yang intinya bahwa walaupun terlihat gendut, musti tetap percaya diri.

Anw untuk pria, sepengetahuan aku di dalam Islam dianjurkan untuk tidak memiliki perut buncit, sayang aku lupa haditsnya. Namun demikian, aku pikir para Polisi yang melaksanakan program mengurangi obesitas, kegemukan dan sejenisnya bagi para anggotanya khususnya Polisi pria adalah baik. 

Seragam tersebut saat ini telah memasuki masa pensiun, seragam tersebut sudah tidak dipakai lagi walaupun masih dalam kondisi baik. Saat itu beberapa stel seragam serupa di atas akan dihibahkan ke luar pulau Jawa, jika aku tidak keliru ke Sulawesi, hanya paket seragam yang kami kirim kembali lagi ke kami dikarenakan alamat yang kami tuju tidak ditemukan.

Bagi para Polisi wanita dan Tentara wanita, tanpa mengurangi rasa sayang sebagai sesama Muslimah, tanggapan aku mengenai wanita yang bekerja khususnya Polwan dan Tentara wanita ada dalam tulisan aku berikut ini:

Semoga Polisi dan Tentara dapat berpakaian syar'i tidak hanya di saat dinas atau hanya di luar dinas, tapi juga dapat berpakaian syar'i setiap saat dalam kehidupan sehari-hari. Semoga Allah meridhai kaum Muslimin di dunia dan di akhirat. Aamiin.

Wallahu’alam.

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Maaf, sebelumnya aku sempat keliru menuliskan tanggal untuk penanggalan Hijriyah yang sekarang telah aku perbaiki, sbb:
11.06.2015 -> 2324 Sya’ban 1436 H
Revisi:
1213.02.2015 -> 2425 Sya'ban 1436 H

0 komentar: