Bid’ah: Terawih 23 Rakaat Berjamaah



2. Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah Kitabullah, dan sebaik-baik jalan hidup ialah jalan hidup Muhammad, sedangkan seburuk-buruk urusan agama ialah yang diada-adakan. Tiap-tiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan tiap bid’ah adalah sesat, dan tiap kesesatan (menjurus) ke neraka. (HR. Muslim) [Dr. Muhammad Faiz Almath, “1100 Hadits Terpilih: Sinar Ajaran Muhammad”, hal. 55.]
 
Tulisan ini ditulis sebagai peringatan kepada aku pribadi dan kaum Muslimin mengenai larangan bid’ah dalam hal ini bid’ah berupa shalat terawih 23 rakaat berjamaa’ah. Dulu ada saat dimana adakalanya aku shalat terawih berjamaah 23 rakaat di mesjid atau di surau, sesekali berjamaah 23 rakaat di rumah, namun setelah aku mengetahui mengenai bid’ahnya shalat terawih 23 rakaat berjamaah maka aku menghentikannya. 

Belakangan aku memang tidak setuju shalat terawih 23 rakaat berjamaah terlebih di mesjid karena tidak dicontohkan Rasulullah Muhammad saw, yang artinya hal ini adalah bid’ah. Kemudian baru-baru ini aku  mendengar bahwa Khalifah Islamic State melarang shalat tarawih berjamaah dikarenakan bid’ah. Jika larangan tsb benar adanya, maka aku setuju dengan pelarangan shalat terawih berjamaah tsb. Terkait pelaranagn ini, aku sempat menyebut Khalifah Daulah Islamiyah (IS) dengan sebutan “The Today’s Caliph.”

Kembali mengani shalat terawih berjam’ah, aku berusaha sedikit mengulas terjemah hadits yang aku baca di laman konsultasisyariah:

…, Namun beliau tidak keluar shalat jamaah tarawih karena khawatir Allah mewajibkan shalat malam itu. Demikian yang diceritakan Ibunda kaum mukminin, Aisyah radhiyallahu ‘anha. Dalam hadis riwayat Bukhari, Muslim, Nasai, Abu Daud, dan yang lainnya, Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan sejarah perjalanan shalat tarawih,
Dulu para sahabat melaksanakan shalat malam Ramadhan di masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terpencar-pencar. Ada shalat jamaah 5 orang, ada juga 6 orang shalat jamaah, dan ada yang kurang atau lebih dari itu. Suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhku untuk meletakkan tikar di dekat pitu rumahku (pintu rumah Aisyah, berada di sebelah kiri masjid, bagian depan). Kemudian setealah isya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat malam di atas tikar itu setelah menjalankan shalat isya. Para sahabat yang berada di masjid, segera berkumpul dan bermakmum kepada beliau. Setelah berlalu 1/3 malam, beliau usai, dan masuk rumah.
Di pagi harinya, banyak sahabat membicarakan shalat itu, sehingga di malam berikutnya, masjid nabawi penuh orang, menantikan shalat malam berjamaah.
Di malam Ramadhan ke-25, beliau keluar dan mengimami para sahabat dengan jumlah jamaah lebih banyak. Pagi harinya, perbincangan itu semakin tersebar. Hingga di malam 27, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membangunkan keluarganya dan melaksanakan shalat malam hingga akhir malam, dengan jamaah sangat banyak.
Di malam berikutnya, beliau tidak keluar rumah. Setelah beliau mengimami shalat isya, beliau masuk rumah, sementara masjid penuh para sahabat, menunggu shalat. Beliaupun bertanya kepadaku: ‘Wahai Aisyah, apa yang terjadi dengan para sahabat?’



‘Wahai Rasulullah, banyak orang mendengar tentang shalat anda kemarin, dan mereka ingin agar anda mengimami mereka.’ Jawab Aisyah. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh agar tikar kemarin digulung. Malam itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap ibadah di rumah, sampai subuh. Beliau keluar untuk mengimami shalat subuh, kemudian berkhutbah,

Wahai sekalian manusia, demi Allah, tadi malam saya tidak sedang lalai (tidak tidur) – walhamdu lillah – namun saya khawatir akan diwajibkan kepada kalian shalat malam ini, sehingga kalian tidak sanggup melakukannya. Lakukanlah amal sunah yang mampu kalian lakukan, karena Allah tidak bosan menerima amal kalian, sampai kalian bosa dalam bersamal. [HR. Bukhari 924, Muslim 761, Abu Daud 1373 dan yang lainnya]


Perlu ditekankan bahwa aku bukan syiah, aku hanya mencoba menyampaikan pendapat aku yang semoga pendapat aku tsb merupakan kebenaran, kebenaran di jalan Allah, kebenaran yang diridhai Allah Ta’ala di dunia dan di akhirat. Aamiin.

Mengenai terjemah hadits yang aku maksud, Rasulullah saw memerintahkan Aisyah untuk menggelar tikar DI DEKAT PINTU RUMAH AISYAH, untuk melaksanakan shalat sunnat (terawih). Menurut pendapat aku, jIka shalat terawih adalah sunnah yang lebih baik dilakukan di mesjid maka Rasulullah tidak akan memerintahkan Aisyah menggelar tikar di dekat pintu rumahnya tetapi beliau akan langsung menuju mesjid yang jaraknya sangat dekat/bersebelahan dengan rumah Aisyah. Dengan demikian shalat terawih baiknya dilakukan di rumah.

->Aku telah mendiskusikan pendapat aku dengan Abi dan Abi aku menyatakan pendapat aku benar. Aamiin. 

Aku harap tidak ada ulama yang membohongi umat atau menutup-nutupi kebenaran mengenai terlarangnya (bid’ahnya) shalat terawih berjamaah. Umar bin Khattab ra pun menyatakan bahwa tarawih berjamaah adalah bid’ah wlaupun menurut Umar ra terawih berjamaah adalah sebaik-baik bid’ah. Terima kasih kepada ulama maupun umat yang menyatakan kebenaran bahwa terawih berjamaah bid’ah. Abi aku (khalifah bagi keluarga aku) menyatakan bahwa tidak ada bid’ah hasanah, karena semua bid’ah DHOLALAH, yang ada adalah SUNNAH SAYIAH (yang tidak baik) dan SUNNAH HASANAH (yang baik).

Aku tidak bermaksud menyudutkan Umar ra. Jika harus ada yang dipersalahkan dalam perkara terawih berjamaah khususnya di mesjid ini, maka sepatutnya bukan hanya Umar ra yang dipersalahkan tetapi juga Ali ra yang dikabarkan mendorong terlaksananya perkara terawih berjamaah khususnya di mesjid ini. Ya Ali, sepupu Rasulullah, Kalifah Islam, kake aku tercinta, maafkan cucumu ini for blaming you (and Umar) atas kekisruhan terkait terawih yang melanda umat ini. 

Namun demikian, aku berpendapat bahwa jika pun Umar ra dan Ali ra melakukan kesalahan berupa bid’ah, semoga Allah Ta’ala mengampuni mereka, melimpahi mereka dengan rahmat-Nya mengingat mereka adalah para Khalifah Islam yang telah memperjuangkan tegaknya kalimat tauhid dengan sungguh-sungguh (sepenuh hati dan jiwa), memimpin dengan adil, bahkan ada yang melakukan berbagai penakhlukan untuk kejayaan Islam, membantu Rasulullah saw dalam menyeru umat manusia ke jalan Allah. Sedangkan kita, jika kita melakukan atau mengajak bid’ah yang dapat menjerumuskan kita ke neraka, memangnya apa yang sudah kita lakukan untuk tegaknya kalimat tauhid, tegaknya syariat Islam dan untuk kemajuan Islam dan kaum Muslimin? Jadi bagi kita yang tidak ada apa-apanya dibandingkan para Khalifah, jangan coba-coba kita melakukan ibadah yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah saw (ibadah yang tidak dicontohkan berarti bid’ah), minimal sedapat mungkin hidarilah bid’ah.

Jika ada ulama yang menyatakan bahwa Rasulullah saw. tidak pernah melarang shalat terawih maka hal tsb bisa jadi merupakan kebohongan yang nyata, Allah tidak membutuhkan shaumnya orang yang berbohong. Atau ulama yang memberikan pernyataan bahwa Rasulullah saw. tidak pernah melarang shalat terawih sedang lupa/khilaf. Berikut larangan mengenai shalat terawih berjamaah, maaf, beberapa kata ditulis dengan huruf kapital, supaya lebih jelas:
  • Rasulullah saw. MELARANG shalat Terawih Berjama’ah
408. Zaid bin Tsabit memberitakan bahwa Rasulullah saw. membuat sebuah kamar di bulan RAMADHAN, dan beliau shalat di situ beberapa malam. Lalu beberapa orang sahabat shalat pula seperti shalat Nabi. Setelah Nabi mengetahui akan hal itu maka beliau shalat sambil duduk.
Kemudian Nabi saw. datang kepada mereka dan bersabda: “Sesungguhnya aku tahu apa yang telah anda semua lakukan. SHALATLAH ANDA SEMUA DI RUMAH MASING-MASING, KARENA SHALAT YANG PALING UTAMA IALAH SHALAT SESEORANG DI RUMAHNYA, KECUALI SHALAT FARDU.” [Terjemah Shahih Bukhari 1, 1992, hal. 228.]

Sesuai konteks hadits di atas, pernyataan terakhir Rasulullah saw yang memerintahkan shalat sunnat di rumah masing-masing, kecuali shalat fardu, secara bahasa dapat diartikan bahwa Rasulullah saw secara tidak langsung melarang shalat sunnah berjama’ah terlebih shalat sunnah berjama’ah di mesjid tetapi memerintahkan shalat wajib/ fardu di mesjid. Dengan redaksi kalimat yang seperti demikian, maka dapat ditarik simpulan bahwa shalat terawih berjamaah khususnya di mesjid adalah terlarang.
Umat Islam sekarang banyak yang terbalik perilakunya, waktu shalat fardhu, mesjid/ surau sepi tetapi saat shalat sunnah terawih mesjid/ surau mendadak ramai bahkan di awal dan akhir Ramadhan biasanya mesjid/ surau penuh sesak.  

Melalui tulisan ini, aku meminta maaf kepada masyarakat di sekitar tempat tinggal aku, dikarenakan Abi aku pernah dengan speaker surau menyeru shalat terawih ketika setelah adzan subuh, hal itu dilakukan Abi aku dikarenakan Abi aku mungkin kesal terhadap seorang tokoh agama yang telah membohonginya kemudian kesal terhadap kebanyakan masyarakat yang saat salat fardu tidak mendatangi surau/ mesjid tetapi saat salat terawih berduyun-duyun berdatangan ke surau/mesjid. Aku akui apa yang Abi aku lakukan keliru, mohon maaf atas kekeliruan tsb, hanya pendapat Abi untuk menentang shalat sunnah berjamaah terlebih di mesjid/surau dan mendukung shalat fardu di mesjid adalah benar.

->Semoga Allah menyelesaikan urusan Abi aku dengan salah satu tokoh agama dengan cara yang ma’ruf, yang diridhai Allah Ta’ala di duia dan di akhirat. Aamiin.
Alhamdulillah, beberapa waktu kemudian, permasalahan yang dimaksud dianggap selesai, semoga kedepannya tidak ada lagi hal-hal yang merugikan khususnya terkait pelanggaran syariat Islam. Aamiin.

Shalat sunnah terawih berjamaah dimungkinkan untuk dilakukan di rumah masing-masing khususnya dalam rangka mendidik keluarga/anak-anak untuk membiasakan shalat sunnah terawih dengan jumlah rakaatnya pun tidak lebih dari 11 (sebelas). Hanya saja, jika sekiranya anggota keluarga dapat melakukan shalat sunnah masing-masing, hal tsb adalah langkah yang sangat baik.

Kemudian untuk perempuan, Rasulullah saw bersabda yang intinya bahwa sebaik-baiknya shalat adalah di rumah. Ini berlaku untuk shalat fardu terlebih shalat sunnah. Perempuan sangat lebih baik menunaikan shalat sunnah apa apun jenis shalat sunnahnya di rumah, kecuali shalat sunnah Idul Fitri dan Idul Adha yang baik bila dilakukan berjamaah di mesjid/ di area terbuka yang disediakan untuk shalat berjamaah dua Ied tsb. Perempuan dibolehkan pergi ke mesjid untuk i’tikaf baiknya i’tikaf bersama muhrim atau keluarga, atau ke mesjid untuk pengajian/ majelis ilmu Islam khusus ibu-ibu/ para wanita.

->Saat tulisan ini dibuat, aku lebih cenderung untuk beribadah di rumah.

  • Rasulullah saw. shalat hanya 11 (SEBELAS) rakaat
604. Dari Abu Salamah bin Abdurrahman r.a., ia bertanya kepada ‘Aisyah r.a. tentang bagaimana caranya Nabi saw. shalat pada bulan Ramadhan.
Jawab ‘Aisyah, “Rasulullah tidak pernah menambah shalatnya di bulan Ramadhan dan tidak pula di bulan lainnya, atas SEBELAS rakaat. Mula-mula beliau shalat empat rakaat, tetapi janganlah ditanya tentang kebagusan panjangnya shalat beliau. Kemudian beliau shalat empat raka’at lagi, dan janganlah ditanya pula bagaimana bagus dan lamanya. Kemudian beliau shalat tiga raka’at. [Terjemah Sahih Bukhari Jilid II, 1992, hal 41.]

Menganai jumlah raka’at, jumlah raka’at shalat yang biasanya ditunaikan oleh Rasulullah saw adalah sebelas raka’at, tidak lebih. Maka dari itu, shalat sunnat 23 rakaat adalah bid’ah. Jika ada yang beranggapan bahwa Rasulullah saw shalat 11 raka’at dengan membaca ayat-ayat panjang, maka kita yang hanya membaca ayat pendek maka raka’atnya harus lebih banyak, menurut pendapat aku hal tersebut tidak tepat. Seperti sabda Rasulullah saw:

…, Lakukanlah amal SUNAH yang mampu kalian lakukan, karena Allah tidak bosan menerima amal kalian, sampai kalian bosa dalam bersamal.”

Dari potongan terjemah hadits tersebut dketahui bahwa Rasulullah saw memerintahkan kita melakukan amal sunnah, telah kita ketahui bahwa shalat sesuai sunnah Rasul adalah 11 rak’aat, cukup 11 rak’aat, selanjutnya Rasulullah pun memberikan keringanan kepada kita umatnya yang ia cintai dengan menyatakan  pernyataan “yang mampu kalian lakukan”, hal ini berarti adalah sah membaca bacaan ayat-ayat Al Qur’an, termasuk ayat-ayat pendek, sesuai kemapuan kita. 
Aku pribadi belum dapat shalat sunnah terawih dengan sempurna, mungkin pernah terlewat melaksanakan terawih atau adakalanya jika rasa malas mendera, aku hanya shalat 5, 7 atau 9 rakaat, namun aku paham atau setidaknya mengetahui bahwa jumlah rakaat shalat sunnat terawih yang utama, sesuai sunnah Rasulullah saw, adalah 11 raka’at.

Semoga ada pelajaran, ilmu dan hikmah yang dapat dipetik dari tulisan ini. Semoga Allah memberikan taufiq dan hidayah kepada aku dan kaum Muslimin untuk bertaqwa. Semoga Allah meridhai aku dan kaum Muslimin di dunia dan di akhirat. Aamiin.

Wallahu’alam.
Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah
dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah

23.06.2015 -> 09 Ramadhan 1436 H
Revisi:
24.06.2015 -> 09 Ramadhan 1436 H
19.02.2016 -> 10 Jumadil Awal 1437 H

0 komentar: