Bid’ah: Terawih 23 Rakaat Berjamaah



2. Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah Kitabullah, dan sebaik-baik jalan hidup ialah jalan hidup Muhammad, sedangkan seburuk-buruk urusan agama ialah yang diada-adakan. Tiap-tiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan tiap bid’ah adalah sesat, dan tiap kesesatan (menjurus) ke neraka. (HR. Muslim) [Dr. Muhammad Faiz Almath, “1100 Hadits Terpilih: Sinar Ajaran Muhammad”, hal. 55.]
 
Tulisan ini ditulis sebagai peringatan kepada aku pribadi dan kaum Muslimin mengenai larangan bid’ah dalam hal ini bid’ah berupa shalat terawih 23 rakaat berjamaa’ah. Dulu ada saat dimana adakalanya aku shalat terawih berjamaah 23 rakaat di mesjid atau di surau, sesekali berjamaah 23 rakaat di rumah, namun setelah aku mengetahui mengenai bid’ahnya shalat terawih 23 rakaat berjamaah maka aku menghentikannya. 

Belakangan aku memang tidak setuju shalat terawih 23 rakaat berjamaah terlebih di mesjid karena tidak dicontohkan Rasulullah Muhammad saw, yang artinya hal ini adalah bid’ah. Kemudian baru-baru ini aku  mendengar bahwa Khalifah Islamic State melarang shalat tarawih berjamaah dikarenakan bid’ah. Jika larangan tsb benar adanya, maka aku setuju dengan pelarangan shalat terawih berjamaah tsb. Terkait pelaranagn ini, aku sempat menyebut Khalifah Daulah Islamiyah (IS) dengan sebutan “The Today’s Caliph.”

Kembali mengani shalat terawih berjam’ah, aku berusaha sedikit mengulas terjemah hadits yang aku baca di laman konsultasisyariah:

…, Namun beliau tidak keluar shalat jamaah tarawih karena khawatir Allah mewajibkan shalat malam itu. Demikian yang diceritakan Ibunda kaum mukminin, Aisyah radhiyallahu ‘anha. Dalam hadis riwayat Bukhari, Muslim, Nasai, Abu Daud, dan yang lainnya, Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan sejarah perjalanan shalat tarawih,
Dulu para sahabat melaksanakan shalat malam Ramadhan di masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terpencar-pencar. Ada shalat jamaah 5 orang, ada juga 6 orang shalat jamaah, dan ada yang kurang atau lebih dari itu. Suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhku untuk meletakkan tikar di dekat pitu rumahku (pintu rumah Aisyah, berada di sebelah kiri masjid, bagian depan). Kemudian setealah isya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat malam di atas tikar itu setelah menjalankan shalat isya. Para sahabat yang berada di masjid, segera berkumpul dan bermakmum kepada beliau. Setelah berlalu 1/3 malam, beliau usai, dan masuk rumah.
Di pagi harinya, banyak sahabat membicarakan shalat itu, sehingga di malam berikutnya, masjid nabawi penuh orang, menantikan shalat malam berjamaah.
Di malam Ramadhan ke-25, beliau keluar dan mengimami para sahabat dengan jumlah jamaah lebih banyak. Pagi harinya, perbincangan itu semakin tersebar. Hingga di malam 27, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membangunkan keluarganya dan melaksanakan shalat malam hingga akhir malam, dengan jamaah sangat banyak.
Di malam berikutnya, beliau tidak keluar rumah. Setelah beliau mengimami shalat isya, beliau masuk rumah, sementara masjid penuh para sahabat, menunggu shalat. Beliaupun bertanya kepadaku: ‘Wahai Aisyah, apa yang terjadi dengan para sahabat?’



‘Wahai Rasulullah, banyak orang mendengar tentang shalat anda kemarin, dan mereka ingin agar anda mengimami mereka.’ Jawab Aisyah. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh agar tikar kemarin digulung. Malam itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap ibadah di rumah, sampai subuh. Beliau keluar untuk mengimami shalat subuh, kemudian berkhutbah,

Wahai sekalian manusia, demi Allah, tadi malam saya tidak sedang lalai (tidak tidur) – walhamdu lillah – namun saya khawatir akan diwajibkan kepada kalian shalat malam ini, sehingga kalian tidak sanggup melakukannya. Lakukanlah amal sunah yang mampu kalian lakukan, karena Allah tidak bosan menerima amal kalian, sampai kalian bosa dalam bersamal. [HR. Bukhari 924, Muslim 761, Abu Daud 1373 dan yang lainnya]


Perlu ditekankan bahwa aku bukan syiah, aku hanya mencoba menyampaikan pendapat aku yang semoga pendapat aku tsb merupakan kebenaran, kebenaran di jalan Allah, kebenaran yang diridhai Allah Ta’ala di dunia dan di akhirat. Aamiin.

Mengenai terjemah hadits yang aku maksud, Rasulullah saw memerintahkan Aisyah untuk menggelar tikar DI DEKAT PINTU RUMAH AISYAH, untuk melaksanakan shalat sunnat (terawih). Menurut pendapat aku, jIka shalat terawih adalah sunnah yang lebih baik dilakukan di mesjid maka Rasulullah tidak akan memerintahkan Aisyah menggelar tikar di dekat pintu rumahnya tetapi beliau akan langsung menuju mesjid yang jaraknya sangat dekat/bersebelahan dengan rumah Aisyah. Dengan demikian shalat terawih baiknya dilakukan di rumah.

->Aku telah mendiskusikan pendapat aku dengan Abi dan Abi aku menyatakan pendapat aku benar. Aamiin. 

Aku harap tidak ada ulama yang membohongi umat atau menutup-nutupi kebenaran mengenai terlarangnya (bid’ahnya) shalat terawih berjamaah. Umar bin Khattab ra pun menyatakan bahwa tarawih berjamaah adalah bid’ah wlaupun menurut Umar ra terawih berjamaah adalah sebaik-baik bid’ah. Terima kasih kepada ulama maupun umat yang menyatakan kebenaran bahwa terawih berjamaah bid’ah. Abi aku (khalifah bagi keluarga aku) menyatakan bahwa tidak ada bid’ah hasanah, karena semua bid’ah DHOLALAH, yang ada adalah SUNNAH SAYIAH (yang tidak baik) dan SUNNAH HASANAH (yang baik).

Aku tidak bermaksud menyudutkan Umar ra. Jika harus ada yang dipersalahkan dalam perkara terawih berjamaah khususnya di mesjid ini, maka sepatutnya bukan hanya Umar ra yang dipersalahkan tetapi juga Ali ra yang dikabarkan mendorong terlaksananya perkara terawih berjamaah khususnya di mesjid ini. Ya Ali, sepupu Rasulullah, Kalifah Islam, kake aku tercinta, maafkan cucumu ini for blaming you (and Umar) atas kekisruhan terkait terawih yang melanda umat ini. 

Namun demikian, aku berpendapat bahwa jika pun Umar ra dan Ali ra melakukan kesalahan berupa bid’ah, semoga Allah Ta’ala mengampuni mereka, melimpahi mereka dengan rahmat-Nya mengingat mereka adalah para Khalifah Islam yang telah memperjuangkan tegaknya kalimat tauhid dengan sungguh-sungguh (sepenuh hati dan jiwa), memimpin dengan adil, bahkan ada yang melakukan berbagai penakhlukan untuk kejayaan Islam, membantu Rasulullah saw dalam menyeru umat manusia ke jalan Allah. Sedangkan kita, jika kita melakukan atau mengajak bid’ah yang dapat menjerumuskan kita ke neraka, memangnya apa yang sudah kita lakukan untuk tegaknya kalimat tauhid, tegaknya syariat Islam dan untuk kemajuan Islam dan kaum Muslimin? Jadi bagi kita yang tidak ada apa-apanya dibandingkan para Khalifah, jangan coba-coba kita melakukan ibadah yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah saw (ibadah yang tidak dicontohkan berarti bid’ah), minimal sedapat mungkin hidarilah bid’ah.

Jika ada ulama yang menyatakan bahwa Rasulullah saw. tidak pernah melarang shalat terawih maka hal tsb bisa jadi merupakan kebohongan yang nyata, Allah tidak membutuhkan shaumnya orang yang berbohong. Atau ulama yang memberikan pernyataan bahwa Rasulullah saw. tidak pernah melarang shalat terawih sedang lupa/khilaf. Berikut larangan mengenai shalat terawih berjamaah, maaf, beberapa kata ditulis dengan huruf kapital, supaya lebih jelas:
  • Rasulullah saw. MELARANG shalat Terawih Berjama’ah
408. Zaid bin Tsabit memberitakan bahwa Rasulullah saw. membuat sebuah kamar di bulan RAMADHAN, dan beliau shalat di situ beberapa malam. Lalu beberapa orang sahabat shalat pula seperti shalat Nabi. Setelah Nabi mengetahui akan hal itu maka beliau shalat sambil duduk.
Kemudian Nabi saw. datang kepada mereka dan bersabda: “Sesungguhnya aku tahu apa yang telah anda semua lakukan. SHALATLAH ANDA SEMUA DI RUMAH MASING-MASING, KARENA SHALAT YANG PALING UTAMA IALAH SHALAT SESEORANG DI RUMAHNYA, KECUALI SHALAT FARDU.” [Terjemah Shahih Bukhari 1, 1992, hal. 228.]

Sesuai konteks hadits di atas, pernyataan terakhir Rasulullah saw yang memerintahkan shalat sunnat di rumah masing-masing, kecuali shalat fardu, secara bahasa dapat diartikan bahwa Rasulullah saw secara tidak langsung melarang shalat sunnah berjama’ah terlebih shalat sunnah berjama’ah di mesjid tetapi memerintahkan shalat wajib/ fardu di mesjid. Dengan redaksi kalimat yang seperti demikian, maka dapat ditarik simpulan bahwa shalat terawih berjamaah khususnya di mesjid adalah terlarang.
Umat Islam sekarang banyak yang terbalik perilakunya, waktu shalat fardhu, mesjid/ surau sepi tetapi saat shalat sunnah terawih mesjid/ surau mendadak ramai bahkan di awal dan akhir Ramadhan biasanya mesjid/ surau penuh sesak.  

Melalui tulisan ini, aku meminta maaf kepada masyarakat di sekitar tempat tinggal aku, dikarenakan Abi aku pernah dengan speaker surau menyeru shalat terawih ketika setelah adzan subuh, hal itu dilakukan Abi aku dikarenakan Abi aku mungkin kesal terhadap seorang tokoh agama yang telah membohonginya kemudian kesal terhadap kebanyakan masyarakat yang saat salat fardu tidak mendatangi surau/ mesjid tetapi saat salat terawih berduyun-duyun berdatangan ke surau/mesjid. Aku akui apa yang Abi aku lakukan keliru, mohon maaf atas kekeliruan tsb, hanya pendapat Abi untuk menentang shalat sunnah berjamaah terlebih di mesjid/surau dan mendukung shalat fardu di mesjid adalah benar.

->Semoga Allah menyelesaikan urusan Abi aku dengan salah satu tokoh agama dengan cara yang ma’ruf, yang diridhai Allah Ta’ala di duia dan di akhirat. Aamiin.
Alhamdulillah, beberapa waktu kemudian, permasalahan yang dimaksud dianggap selesai, semoga kedepannya tidak ada lagi hal-hal yang merugikan khususnya terkait pelanggaran syariat Islam. Aamiin.

Shalat sunnah terawih berjamaah dimungkinkan untuk dilakukan di rumah masing-masing khususnya dalam rangka mendidik keluarga/anak-anak untuk membiasakan shalat sunnah terawih dengan jumlah rakaatnya pun tidak lebih dari 11 (sebelas). Hanya saja, jika sekiranya anggota keluarga dapat melakukan shalat sunnah masing-masing, hal tsb adalah langkah yang sangat baik.

Kemudian untuk perempuan, Rasulullah saw bersabda yang intinya bahwa sebaik-baiknya shalat adalah di rumah. Ini berlaku untuk shalat fardu terlebih shalat sunnah. Perempuan sangat lebih baik menunaikan shalat sunnah apa apun jenis shalat sunnahnya di rumah, kecuali shalat sunnah Idul Fitri dan Idul Adha yang baik bila dilakukan berjamaah di mesjid/ di area terbuka yang disediakan untuk shalat berjamaah dua Ied tsb. Perempuan dibolehkan pergi ke mesjid untuk i’tikaf baiknya i’tikaf bersama muhrim atau keluarga, atau ke mesjid untuk pengajian/ majelis ilmu Islam khusus ibu-ibu/ para wanita.

->Saat tulisan ini dibuat, aku lebih cenderung untuk beribadah di rumah.

  • Rasulullah saw. shalat hanya 11 (SEBELAS) rakaat
604. Dari Abu Salamah bin Abdurrahman r.a., ia bertanya kepada ‘Aisyah r.a. tentang bagaimana caranya Nabi saw. shalat pada bulan Ramadhan.
Jawab ‘Aisyah, “Rasulullah tidak pernah menambah shalatnya di bulan Ramadhan dan tidak pula di bulan lainnya, atas SEBELAS rakaat. Mula-mula beliau shalat empat rakaat, tetapi janganlah ditanya tentang kebagusan panjangnya shalat beliau. Kemudian beliau shalat empat raka’at lagi, dan janganlah ditanya pula bagaimana bagus dan lamanya. Kemudian beliau shalat tiga raka’at. [Terjemah Sahih Bukhari Jilid II, 1992, hal 41.]

Menganai jumlah raka’at, jumlah raka’at shalat yang biasanya ditunaikan oleh Rasulullah saw adalah sebelas raka’at, tidak lebih. Maka dari itu, shalat sunnat 23 rakaat adalah bid’ah. Jika ada yang beranggapan bahwa Rasulullah saw shalat 11 raka’at dengan membaca ayat-ayat panjang, maka kita yang hanya membaca ayat pendek maka raka’atnya harus lebih banyak, menurut pendapat aku hal tersebut tidak tepat. Seperti sabda Rasulullah saw:

…, Lakukanlah amal SUNAH yang mampu kalian lakukan, karena Allah tidak bosan menerima amal kalian, sampai kalian bosa dalam bersamal.”

Dari potongan terjemah hadits tersebut dketahui bahwa Rasulullah saw memerintahkan kita melakukan amal sunnah, telah kita ketahui bahwa shalat sesuai sunnah Rasul adalah 11 rak’aat, cukup 11 rak’aat, selanjutnya Rasulullah pun memberikan keringanan kepada kita umatnya yang ia cintai dengan menyatakan  pernyataan “yang mampu kalian lakukan”, hal ini berarti adalah sah membaca bacaan ayat-ayat Al Qur’an, termasuk ayat-ayat pendek, sesuai kemapuan kita. 
Aku pribadi belum dapat shalat sunnah terawih dengan sempurna, mungkin pernah terlewat melaksanakan terawih atau adakalanya jika rasa malas mendera, aku hanya shalat 5, 7 atau 9 rakaat, namun aku paham atau setidaknya mengetahui bahwa jumlah rakaat shalat sunnat terawih yang utama, sesuai sunnah Rasulullah saw, adalah 11 raka’at.

Semoga ada pelajaran, ilmu dan hikmah yang dapat dipetik dari tulisan ini. Semoga Allah memberikan taufiq dan hidayah kepada aku dan kaum Muslimin untuk bertaqwa. Semoga Allah meridhai aku dan kaum Muslimin di dunia dan di akhirat. Aamiin.

Wallahu’alam.
Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah
dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah

23.06.2015 -> 09 Ramadhan 1436 H
Revisi:
24.06.2015 -> 09 Ramadhan 1436 H
19.02.2016 -> 10 Jumadil Awal 1437 H

Hukum Islam Untuk Kasus Pembunuhan Angeline


Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar[853]. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan[854] kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan. [Q.S. Al Israa’ (17): 33]
[853]. Lihat no. [518]

[854]. Maksudnya: kekuasaan di sini ialah hal ahli waris yang terbunuh atau penguasa untuk menuntut kisas atau menerima diat. Lihat no. [111} dan [335].
[518]. Maksudnya yang dibenarkan oleh syara' seperti qishash membunuh orang murtad, rajam dan sebagainya.
[111]. Qishaash ialah mengambil pembalasan yang sama. Qishaash itu tidak dilakukan, bila yang membunuh mendapat kema'afan dari ahli waris yang terbunuh yaitu dengan membayar diat (ganti rugi) yang wajar. Pembayaran diat diminta dengan baik, umpamanya dengan tidak mendesak yang membunuh, dan yang membunuh hendaklah membayarnya dengan baik, umpamanya tidak menangguh-nangguhkannya. Bila ahli waris si korban sesudah Tuhan menjelaskan hukum-hukum ini, membunuh yang bukan si pembunuh, atau membunuh si pembunuh setelah menerima diat, maka terhadapnya di dunia diambil qishaash dan di akhirat dia mendapat siksa yang pedih.
[335]. Diat ialah pembayaran sejumlah harta karena sesuatu tindak pidana terhadap sesuatu jiwa atau anggota badan.

Tadinya tulisan ini merupakan tulisan di salah satu kolom di blog aku, namun dikarenakan diperlukan penjelasan yang panjang, maka aku memindahkan tulisan yang dimaksud lalu memberikan berbagai penjelasan di dalam posting ini.
Maaf, terdapat pernyataan aku telah aku revisi, berikut revisinya:

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.. Turut prihatin atas kabar mengenai kasus yang menimpa adik kecil bernama Angeline. Maaf, Abi dan aku meralat pernyataan kami menjadi sbb: Menurut Abi intinya bahwa kedua orang tua Angeline beruntung memiliki gadis cilik yang (jika ia belum baligh) maka ia diselamatkan oleh Allah. Allah memiliki berbagai macam cara untuk menyelamatkan manusia yang dipilih-Nya untuk selamat (selamat dari kekafiran, kemusyrikan dan kemunkaran lainnya –pen.). Aku pun berpendapat bahwa mungkin ini jalan terbaik dari Allah, daripada Angeline hidup dan besar bukan di dalam iman Islam. Jika Angeline belum dalam usia baligh, semoga Allah memasukkan ia ke dalam surga-Nya. 

Ketika awal mengetahui kabar mengenai kasus Angeline, saat ia diberitakan hilang, aku berpikir bahwa -Angeline yang kabarnya kerap mendapatkan siksaan- aku sangat ingin mengganti namanya dengan nama Fatimah atau Shafiyah, nama para tokoh wanita Muslimah tangguh, yang tegar menghadapi berbagai ujian bahkan yang berupa kekerasan/siksaan dari kaum kafir. Mengetahui kabar bahwa Angeline kerap disiksa, saat itu aku sempat berharap, Angeline kabur dari rumah lalu pergi ke kantor Polisi dan ditolong oleh Polisi atau bertemu dengan keluarga yang baik hati yang dapat melindungi Angeline dari berbagai siksaan dan kekerasan yang dilakukan bukan untuk mendidik di jalan Allah (dalam Islam dibolehkan memukul saat mendidik saat memasuki usia tertentu tetapi dengan pukulan yang tidak membahayakan), melimpahinya dengan kasih sayang, sedapat mungkin yang menolongnya Muslim. Maaf, saat itu aku tidak berpikir mengenai keberadaan orang tua kandung Angeline. Maaf pula saat itu aku tidak membantu mencari Angeline. Ternyata kemudian diberitakan bahwa Angeline ditemukan dalam keadaan tewas secara mengenaskan di tempat kediamannya. Sempat emosi jiwa waktu mendengar berita ini. Astaghfirullah.

Jika kedua orang tua kandung Angeline adalah Muslim, semoga Allah memberikan kesabaran dan ketabahan serta semoga Allah memberikan ganti yang terbaik menurut-Nya. Aamiin. Untuk ibu kandung Angeline, apabila ibunya seorang Muslim, diharapkan dapat berhijab syar’i untuk meraih ridha Allah. 

->Aku menghimbau agar kedepannya para ulama dan pemerintah dapat memberlakukan larangan bagi anak-anak yang lahir dari para orang tua Muslim (para orang tua yang beragama Islam) diadopsi oleh non Muslim.

-> Aku berpikir dan merasa bahwa sejak awal terdapat berbagai kejanggalan pada kasus ini. Aku pun berharap sepatutnya Polisi dapat bertindak lebih sigap dan tanggap untuk berbagai kasus termasuk kasus seperti ini.
Jika Angelline belum memasuki usia baligh maka dimungkinkan hukuman mati bagi pelaku atau –para- pelaku pembunuh Angeline, apalagi jika pembunuhan dilakukan dengan terencana dan disertai penganiayaan. 

->Masa baligh wanita dalam Islam dimulai pada usia 9 tahun.
Perhitungan usia Angeline WAJIB menggunakan kalender Hijriyah, penanggalan masehi dikonversi ke penanggalan Hijriyah. Biasanya hitungan umur antara penanggalan Masehi dan Hijriyah berbeda, umur berdasarkan perhitungan tahun Hijriyah akan selisih lebih tua satu tahun, hanya perlu dicek KETEPATAN (AKURASI) khusunya hari, tanggal, dan bulan lahir, apakah Angeline tepat sudah atau belum memasuki usia baligh. 

Hukuman bagi otak pembunuhan sengaja dan pembunuh suruhan*:

Terdapat berbagai pendapat yang berbeda dari para ahli fiqih/fuqaha terkait dalang pembunuhan dan pembunuh suruhan ini. Aku bukan fuqaha, hanya mengenai hal ini aku memiliki pendapat sbb:

->Dalang atau otak pembunuhan meskipun tidak langsung melakukan tindakan menghabisi nyawa orang lain tetapi memerintahkan atau membayar orang untuk melakukan pembunuhan maka wajib dihukum mati. Hal ini dikarenakan ia sebagai pangkal kejahatan, membuat orang lain melakukan kejahatan dan membuat orang lain kehilangan nyawa.

->Pembunuh yang membunuh di bawah tekanan/ancaman bahwa ia atau anggota keluarga/kerabatnya akan dibunuh/ dianiaya, maka dapat dikenai hukuman mati. Hal ini dikarenakan dalam Islam tidak boleh merugikan diri sendiri/ keluarga tetapi lebih tidak boleh lagi merugikan orang lain. Sedangkan bagi orang yang terlibat dalam pembunuhan seperti ikut menguburkan korban pembunuhan karena berada di bawah tekanan ancaman bahwa ia atau anggota keluarga/kerabatnya akan dibunuh/dianiaya jika tidak ikut serta dalam pembunuhan yang diperintahkan, maka ia tidak dikenai hukuman mati, hanya harus membayar diyat.

->Pembunuh yang membunuh karena dibayar/dijanjikan bayaran berupa uang ataupun harta benda (pembunuh bayaran), maka pembunuh jenis ini harus dihukum mati. Sedangkan orang yang terlibat dalam pembunuhan seperti ikut menguburkan korban pembunuhan karena dijanjikan bayaran tertentu untuk aksi kejahatannya tsb maka pelaku diharuskan membayar diyat.

Kecuali jika pembunuhnya adalah –para- non Muslim kemudian bersedia masuk dan memeluk Islam, maka –ia/ mereka- dapat dibebaskan dari segala tuntutan hukum.

*Dan diriwayatkan pula dari ‘Amr bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Nabi Saw. bersabda: "Orang mukmin itu tidak dihukum mati karena membunuh orang kafir." Ibnu Rusyd, “Bidayatul Mujtahid Jilid 5”, 1995/1416 H, hal. 143.

Setiap Muslim yang membunuh non Muslim, tidak dikenai hukuman mati, maksimal hanya dikenai hukuman membayar diyat dan membebaskan hamba sahaya atau untuk Muslim yang tak mampu maka berpuasa selama 2 bulan berturut-turut. 

Astaghfirullah, maaf banyak revisi, menurut pendapat aku, kasus ini cukup pelik. Bikin kepikiran dan sempet bikin susah tidur. Kasus ini membuat aku musti lebih banyak mempelajari hukum Islam.
Kepelikan kasus ini diantaranya adalah:


Agama

15. Tiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah-Islami). Ayah dan ibunya lah kelak yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (penyembah api dan berhala). (HR. Al Bukhari) 1100 Hadits Terpilih: Sinar Ajaran Muhammad, 1993/1414 H, hal. 238.

711. Dari Abu Hurairah r.a. katanya: “Rasulullah saw. ditanya orang perihal anak-anak orang musyrik. Sabda Nabi saw., “Allah Maha Tahu dengan keadaan mereka.” Terjemah Shahih Bukhari Jilid II, 1992, hal. 96.

Yang menjadi masalah adalah agama aku tidak mengetahu dengan pasti agama korban. Agama penting diketahui karena iman Islam adalah hal terpenting, puncak persoalan. Kemudian, agama akan mempengaruhi keputusan hukum terkait adopsi, usia, waris dan pembayaran diyat yang kesemua hal tsb harus sesuai syariat Islam.

Berikut asumsi aku mengenai agama korban dalam kasus ini. Jika korban belum baligh -apakah- dimungkinkan korban dimasukan ke dalam golongan Muslim sehubungan orang tua kandung korban adalah Muslim. Sedangkan jika korban sudah baligh, jika orang tua angkat yang telah membesarkan korban adalah Nasrani, kemungkinan korban dimasukkan ke dalam golongan kafir dzimmi sedangkan jika orang tua angkat yang telah membesarkan korban beragama Hindu kemungkinan korban dimasukkan ke dalam golongan musyrik.

Adopsi/ Pengangkatan Anak

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. [At Tahrim (66): 6]

Menurut pendapat aku, anak dari orang Muslim sepatutnya tidak diadopsi oleh non Muslim. Orang tua Muslim sepatutnya tidak membiarkan anaknya diadopsi oleh non Muslim.  Hal ini berdasarkan firman Allah yang tertulis dalam Al Qur’an surah At Tahrim (66): 6 yang terjemahannya tertulis di atas.

Keterangan Hasan Ayyub dalam buku Etika Islam, 1994, hal. 310, mengenai surah At Tahrim (66): 6 tsb adalah sebagai berikut:

“Maksud dari ayat tersebut, yaitu suami harus berusaha dengan sungguh-sungguh supaya dia dan keluarganya terpelihara dan selamat dari neraka, dengan cara menjauhkan diri dari hal-hal yang mengakibatkan masuk neraka seperti (kemaksiatan dan kemungkaran). “

Seorang suami sepatutnya memelihara keluarganya dari api neraka dengan cara menjaga dan menghindarkan keluarganya dari kemaksiatan dan kemungkaran terlebih dari kekafiran dan kemusyrikan.

Selain berdasarkan ayat Al Qur’an yang terjemah dan keterangannya telah disebutkan di atas terdapat pula hadits yang menjadi dasar larangan anak dari orang Muslim diadopsi oleh non Muslim, berikut terjemah haditsnya:

Hasan bin Ali r.a. mengatakan bahwa rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah swt. Akan meminta tanggung jawab setiap orang dari yang dipimpinnya, apakah dia menjaganya atau menyia-nyiakannya, bahkan seorang suami pun akan ditanya mengenai keluarganya.” (H.R. Ibn Hibban dalam sahihnya). Etika Islam, 1994, hal. 308.

Semua hadis berkenaan dengan tanggung jawab seorang laki-laki suami mengenai yang dipimpinnya terkandung dalam sebuah hadits yang singkat tetapi padat, yaitu, “Setiap kamu sekalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan ditanya (diminta tanggung jawab) mengenai yang dipimpinnya ....” (H. R. Imam Bukhari dan Muslim, serta yang lainnya). Ibid, hal. 309.

Dengan demikian, sedapat mungkin orang  tua Muslim tidak membiarkan anaknya diadopsi oleh non Muslim. Jika pengadopsian anak dari orang tua Muslim oleh non Muslim terlanjur terjadi dikarenakan ketidaktahuan atau keterpaksaan, maka baiknya bertaubat dan tidak mengulangi lagi, semoga Allah mengampuni. Aamiin. Jika anak dari orang tua Muslim yang diadopsi oleh non Muslim masih hidup, terlebih jika anak belum baligh, sedapat mungkin baiknya anak diambil kembali oleh orang tua Muslim.

Menurut menteri sosial, Khofifah Indar Parawansa, intinya saat ini terdapat program BPJS untuk membantu pasangan atau orang tua yang kesulitan dalam membiayai persalinan. BPJS ini dapat dibuat tepat pada saat dibutuhkan. Menurut pendapat aku, ini salah satu langkah tepat berupa solusi dari pemerintah untuk menghindari adopsi semena-mena. Hanya aku menghimbau agar BPJS dikelola sesuai syariat Islam salah satunya pembayarannya melalui bank syariah. 

Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu[1199]. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Q.S. Al Ahzab (5); 33]

[1199]. Maula-maula ialah seorang hamba sahaya yang sudah dimerdekakan atau seorang yang telah dijadikan anak angkat, seperti Salim anak angkat Huzaifah, dipanggil maula Huzaifah.

Kemudian, sesuai syariat Islam salah satunya berdasarkan surah Al Ahzab (5): 33, anak adopsi/anak angkat sepatutnya tetap menggandeng namanya dengan nama ayah kandungnya, misalnya: fulan bin fulan atau fulanah binti fulan; atau tetap menggandeng namanya ibunya jika anak tsb bukan dari pernikahan yg sah serta tidak diketahui siapa ayahnya, misalnya: fulan binti fulanah atau fulanah binti fulanah; atau menggandeng nama anak dengan nama orang tua angkat (Muslim) dengan menggunkan kata maula, misalnya fulan maula fulan atau fulanah maulana fulan. Jika orang tua kandung dari anak angkat memang diketahui, anak angkat sebaiknya mengetahui perihal orang tua kandungnya.

Usia

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa perhitungan usia korban WAJIB menggunakan kalender Hijriyah, hal ini dikarenakan pada zaman Rasulullah saw, mungkin belum ada converter untuk penanggalan, sedangkan sekarang telah ada converter Masehi ke Hijriyah maupun sebaliknya. Dengan demikian, ada baiknya jika converter penanggalan Masehi ke Hijriyah digunakan sehingga dapat tercapai penghitungan yang akurat atau mendekati akurat agar cenderung kepada sikap adil di jalan Allah.
Biasanya terdapat perbedaan perhitungan anatara penanggalan Masehi dan Hijriyah, umur berdasarkan perhitungan tahun Hijriyah akan selisih lebih tua satu tahun, hanya perlu dicek KETEPATAN (AKURASI) khusunya hari, tanggal, dan bulan lahir, apakah Angeline tepat sudah atau belum memasuki usia baligh. Sebagai contoh, aku kutip penjelasan dari majalah MEDIA SAF Vol. 01/ Edisi. 04/2010, hal. 12:

 “Selama ini kita mengitung usia dengan menggunakan kalender Masehi. Sebagai contoh, Anti lahir pada tanggal 27 Juli 1973. Pada tahu 2010, usia Anti adalah hasil pengurangan  tahun 2010 dengan tahun 1973, yaitu 37 tahun.

Selanjutnya, mari kita hitung usia Anti dengan menggunakan kalender hijriyah. Tanggal 27 Juli 1973 dikonversi ke tanggal hijriyah, yaitu 26 Jumadil Akhir 1393. Tahun 2010 sama dengan tahun 1431 Hijriyah. Usia Anti sekarang adalah tahun 1393 dikurangi tahun 1431. Usia Anti sekarang adalah 38 tahun.”

Waris

  • Muslim tidak menerima warisan dari orang kafir, orang kafir tidak menerima warisan dari orang Muslim
..., sebagaimana yang diriwayatkan dari Usamah bin Zaid, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda:

“Seorang Muslim tidak mewarisi orang kafir, dan orang kafir tidak mewarisi orang Muslim.” (Muttafaqun Alaih) Fiqih Wanita: Edisi Lengkap, 2008, hal 538.

Imam Malik dan fuqaha yang sependapat dengannya berpegangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh orang-orang terpercaya dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya:
Sesungguhnya Nabi Saw. bersabda, “Para pemeluk dua agama tidak saling mewaris.” Bidayatul Mujtahid Jilid 5, hal. 53

Sesuai syariat Islam, hak waris diberikan atas dasar hubungan pertalian darah, hubungan perkawinan, hubungan kekeluargaan seperti pertuanan (budak dan hamba sahaya) dan anak angkat. Anak angkat berhak mendapat hak waris selama seagama.
Dalam kasus ini, jika korban belum baligh maka korban tidak berhak mendapat harta waris. Keputusan ini berdasarkan pertimbangan bahwa, korban yang jika merupakan anak dari orang tua yang beragama Islam maka jika belum baligh ia dimasukkan ke dalam golongan Muslim. Dengan demikian, jika orang tua angkat korban selaku pewaris adalah non Muslim (kafir/ musyrik) maka korban yang digolongkan ke dalam Muslim tidak berhak menerima harta. Orang Islam tidak menerima waris dari orang kafir begitu pula sebaliknya. Maka hak waris pewaris jatuh kepada orang tua angkat korban yang masih hidup dan atau kepada saudara angkat korban: anak kandung yang masih hidup dari si pewaris. Hal ini pun hanya berlaku jika orang tua angkat atau saudara angkat korban atau ahli waris beragama bukan Islam dan TIDAK TERLIBAT PEMBUNUHAN khususnya pembunuhan dalam upaya mendapatkan harta warisan.  

Namun jika korban telah memasuki usia baligh, maka korban berhak mendapatkan harta warisan. Dikarenakan korban meninggal dunia, seperti yang telah disebutkan sebelumnya harta warisan jatuh kepada orang tua angkat korban yang masih hidup dan atau kepada saudara angkat korban, anak kandung dari pewaris yang masih hidup. Perlu ditekankan kembali, hal tersebut hanya berlaku jika orang tua angkat atau saudara angkat korban atau ahli waris seagama dengan pewaris dan TIDAK TERLIBAT PEMBUNUHAN khususnya pembunuhan dalam upaya mendapatkan harta warisan. 

  • Pembunuh tidak mendapatkan warisan
..., Hal itu sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Shallaallahu Alaihi wa Sallam:
“Tidak ada bagian warisan sedikitpun bagi pembunuh.” (H.R. An Nasa’i dan Abu Dawud) Ibid, hal 537.

Sesuai terjemah hadits di atas, diterangkan bahwa pembunuh tidak menerima warisan sedikit pun.
Dengan demikian, terkait kasus ini, jika korban telah baligh maka warisan jatuh kepada keluarga angkat korban yang tidak terlibat pembunuhan terlebih pembunuhan dalam upaya mendapatkan harta warisan. 

Sebagai pertimbangan, apabila terdapat kasus pembunuhan, khususnya pembunuhan dalam upaya mendapatkan harta warisan, yang melibatkan seluruh anggota keluarga korban selaku pewaris/ ahli waris maka keseluruhan anggota keluarga korban tidak mendapatkan warisan, warisan jatuh ke tangan saudara atau kerabat pewaris/ ahli waris yang tidak melakukan pembunuhan khususnya pembunuhan dalam upaya mendapatkan harta warisan.

Diyat

Jika korban belum baligh sedangkan pelakunya adalah non Muslim, maka pelaku dijatuhi hukuman mati. Mengenai hal ini harus aku pikirkan lebih lanjut.
Ulama fiqih, dimana anda semua, adakah yang bisa meyelesaikan kasus ini dengan benar dan adil sesuai syariat Islam?

Setiap non Muslim terkait kasus ini, diharapkan untuk bersedia memeluk Islam. Semoga Allah mengaruniakan kepada para non Muslim terkait kasus ini dan para non Muslim hidayah iman Islam. Semoga Allah mengaruniakan kepada setiap Muslim terkait kasus ini dan kaum Muslimin taufiq dan hidayah untuk bertaqwa. Aamiin.

Wallahu’alam.

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Source: Berbagai media khususnya tv one.
13.06.2015 -> 25 Sya’ban 1436 H
Revisi:
131415.06.2015 -> 262728 Sya’ban 1436 H
192023.06.2015 -> 020307 Ramadhan 1436 H