Cinta Karena Allah



Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. [Q.S. Al Israa’ (17): 32]
 


38. Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah ra dari Nabi Saw, Beliau bersabda: “Seorang muslim tidak ditimpa oleh rasa letih, penyakit, gelisah, sedih, ganggguan ataupun kegundahan, hingga duri yang tertancap padanya melainkan Allah menebus dengannya sebagian dari kesalahan-kesalahannya.” (HR. Bukhari-Muslim) Imam Nawawi, Tarjamah Riyadhus Shalihin Jilid 1, hal. 93.


Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Tulisan kali ini mengenai luka yang aku alami pada 17.03.2015 malam (27 Jumadil Awal 1436 H), saat menggoreng mpek-mpek, tangan  aku terkena minyak –sangat- panas.  Sebelumnya, aku meminta maaf karena memperlihatkan bagian lengan, di sekitar area pergelangan tangan, yang semestinya tidak diperlihatkan dikarenakan termasuk aurat, namun kali ini terpaksa sebagai barang bukti. Berikut gambarnya:


Ada beberapa area yang terkena luka, pertama luka di jari yang terlihat agak tinggi, jari tengah, dan di jari yang terlihat lebih pendek dari jari tengah, jari manis hanya luka di jemari tersebut tidak terlalu kentara, yang lebih terlihat adalah luka besar dan kecil di bagian lengan kanan, sekitar area pergelangan tangan. Begitu terkena luka tersebut, aku langsung inget dosa-dosa aku, seperti: aku mungkin menggunjing beberapa saudara aku. -> Saudara-saudara aku yang aku maksud, maafin aku ya. Kemudian, luka besar dan luka kecil membuat aku mengingat dua orang sebut saja “this person” and “that person”, aku ingat perilaku aku baru-baru ini, mungkin menyatakan hal “macam-macam” yang berpotensi menyakiti hati mereka dengan cara yang tidak sesuai syariat Islam. Aku mau minta maaf sama mereka: Roger Danuarta “this person” dan Tex Saverio “that person” maafin aku untuk perilaku aku yang tidak sesuai syariat Islam.*
*Aku tidak meminta maaf untuk mengajak kalian masuk dan memeluk Islam, aku tidak meminta maaf untuk melarang kemusyrikan, kekafiran, kemaksiatan dan kemunkaran lainnya.
Uniknya, pada luka-luka tersebut aku menemukan luka yang membentuk simbol cinta atau love. Simbol dapat terlihat pada foto di atas. Foto yang sebelah kanan adalah foto asli dengan kamera 360, foto yang sebelah kiri adalah foto hasil editan, untuk memperjelas bagian luka yang membentuk simbol cinta atau love.



Luka-luka tersebut membuat aku mengingat kejadian dulu, berawal dari sekedar hubungan “kakak-adik” antara aku dan beberapa pria yang kemudian menjadi  sayang bahkan cinta selayaknya kekasih. Saat itu aku mencintai seorang pria yang memang aku pilih untuk aku sukai/ sayangi, tampan, pintar, ternyata seorang China-Indonesia, non Muslim. Lalu aku membagi cinta karena pada dasarnya aku kurang setia, perlu didik untuk setia, berikut bingung juga jika musti setia sama pria yang beda agama, terlebih aku bete menunggu pria yang saat itu aku cintai tersebut untuk pindah agama ke dalam Islam, sembari akunya ngga ngajakin pria yang saat itu aku cintai tersebut memeluk Islam. ‘Jadi ini siapa yang tidak cerdas?’ Padahal mungkin pria yang saat itu aku cintai tersebut tertarik pada Islam, pria ini pernah bercerita dan bertanya hal terkait Islam. ->Belakangan kabarnya pria yang aku maksud ini menjadi Muslim. Jika memang kabar tersbut benar, alhamdulillah.

Saat itu, aku membagi cinta pria yang aku cintai tersebut dengan sahabat dari pria tersebut, juga handsome and smart, seorang Muslim, aku juga mencintai pria ini terlebih sebelum kami benar-benar saling kenal pria ini memang ramah, bersikap nice sama aku sebagai adik kelasnya. Suatu saat aku membuat pria Muslim yang aku cintai tersebut menangis, hal tersebut dikarenakan saat itu aku membagi cinta dengan sahabatnya juga saat itu aku menyayangi salah satu temannya (saat itu ada 3 pria yang menjalin kedekatan dengan aku). Ketika pria Muslim yang saat itu aku cintai tersebut menyatakan hal yang intinya dia kecewa dengan perilaku aku hingga sempat menangis, aku malah marah-marah, yang mungkin hal tersebut memperparah lukanya. Dan beberapa hari kemudian, dengan digenapi beberapa dosa aku lainnya, juga membuat pria Muslim yang aku cintai dan mungkin juga mencintai aku menangis dan terluka, aku mengalami sebut saja kecelakaan yang sangat menyakitkan, yang mengharuskan aku masuk klinik.

-> Actually, aku ragu pastinya ada 3, 4, 5 atau 6 pria yang "ada apa-apa" dengan aku saat itu.
  
Anw waktu dulu saat menjalin kedekatan dengan pria yang pernah aku cintai, bahkan pernah sangat aku cintai, aku sebut saja "Pria dengan nomor punggung 1", pria ini kerap menampakkan rasa sayang atau mungkin cinta dan peduli terhadap aku, namun aku tidak tahu apakah dulu saat menjalin kedekatan dengan aku, pria yang pernah aku cintai ini dekat dengan wanita lain selain aku? Hanya pria yang pernah aku cintai ini pernah bercerita yang mengisyaratkan bahwa waktu itu dia masih mencintai mantan kekasihnya. Pria yang pernah aku cintai ini dan mantan kekasihnya harus berpisah karena perbedaan agama. Aku dan mantan kekasih dari pria yang pernah aku cintai ini satu angkatan, awalnya kami tidak terlalu saling mengenal namun setelah kami sama-sama menjadi mantan dari pria yang pernah sangat aku cintai ini, kami berteman. Sepengetahuan aku, dulu pria yang pernah aku cintai ini bukan peselingkuh, mungkin tipe pria setia. Btw saat itu aku setuju saja jika pria yang pernah aku cintai ini mencintai aku dan bersama aku namun juga mencintai dan bersama wanita lain, selama ia jujur. 
Yang aku sayangkan dari hubungan aku dan pria yang pernah aku cintai ini, sampai saat tulisan ini dibuat, aku dan pria yang pernah aku cintai ini tidak lagi menjalin silaturahim yang baik. Jika pria yang pernah aku cintai ini sekarang telah menjadi Muslim, aku sangat ingin berbaikan (islah), maksudnya agar tidak ada permusuhan, memperbaiki silaturahim sebagai sesama Muslim. 

Kemudian pria yang juga pernah aku cintai, bahkan juga pernah sangat aku cintai, sebut saja "Pria dengan nomor punggung 2". Aku tahu pria yang pernah sangat aku cintai ini mencintai wanita lain selain aku. Aku tahu karena memang kami berada di lingkungan sekolah yang sama, kemudian saat pria yang pernah sangat aku cintai ini telah kuliah, ia sempat bercerita kepada aku. Wanita lain yang ia cintai adalah kaka kelas aku: seorang yang cantik dan sepengetahuan aku kaka kelas aku ini baik, aku dan kaka kelas ini berhubungan baik, aku sayang sama kaka kelas aku ini, kaka kelas aku ini sepertinya juga menyayangi aku, alhamdulillah. Faktor pendorong yang sangat berperan dalam hubungan baik antara aku dan kaka kelas wanita tersebut adalah: kami mencintai pria yang sama. Selain kaka kelas aku tersebut, pria yang pernah sangat aku cintai ini juga dekat dengan satu wanita lain, aku tahu tapi aku tidak mengenal wanita tersebut. Oia, nampaknya ada saat dimana pria yang pernah sangat aku cintai ini ia menjalin kedekatan dengan aku, ia juga  masih dekat dengan mantan kekasihnya, adik kelas aku, salah satu musisi Indonesia. Anw waktu di sekolah, aku pernah mau nangis karena salah satu teman aku, seorang pria, yang juga teman dari pria yang pernah sangat aku cintai ini, berkali-kali ceng-cengin aku dengan menyatakan bahwa adik kelas aku ini lebih keren dari aku, bahkan temen aku tersebut sampai membawa fotonya untuk diperlihatkan kepada aku. Saat itu bahkan sampai sekarang aku akui sebagai seorang perempuan muda, adik kelas aku ini cantik dan skill musiknya keren. Sekarang kalo aku inget kejadian tersebut entah kenapa lucu, dan menganggap hal tersebut sebagai latihan kesabaran, sebagai wanita yang sangat menyetujui poligami. Selain para wanita tersebut, aku tidak tahu pasti apa pria yang pernah sangat aku cintai ini dekat dengan wanita lainnya, ia tidak terlalu terbuka mengenai hal ini sama halnya dengan aku yang saat itu tidak sepenuhnya terbuka mengenai hubungan aku dengan beberapa pria. Alhamdulillah, sejauh ini silaturahim aku dengan pria yang pernah sangat aku cintai ini baik.

Selanjutnya pria yang pernah sangat aku sayangi, sebut saja "Pria dengan nomor punggung 3", seorang yang cakep dan sepengetahuan aku, ia bijaksana dan baik, dulu aku sangat dekat dengan pria ini. Saat aku dekat dengan pria ini, pria ini dicintai maupun disayangi oleh sekitar 3 wanita selain aku, actually mungkin lebih dari 3 wanita, hanya dengan ketiga wanita yang aku maksud, aku berhubungan baik bahkan ada diantaranya meskipun kami saling tahu bahwa kami "ada hati", menyukai, mencintai atau menyayangi, pria yang sama, kami tetap saling menyayangi. Seingat aku, pria yang pernah sangat aku sayangi ini selalu berusaha bersikap jujur dan terbuka mengenai kedekatannya dengan beberapa wanita. Aku kagum dengan pria ini karena di bawah perlindungannya tiga bahkan empat wanita yang sama-sama menyukai, menyayangi atau mencintainya dapat hidup dengan akur dan damai. Alhamdulillah, sejauh ini silaturahim aku dengan pria yang pernah sangat aku sayangi ini baik.

->Sejak lama, aku memiliki kecenderungan menyukai pria-pria yang disukai, disayangi, dicintai oleh banyak wanita dan pria-pria tersebut bersikap jujur serta dapat menakhlukkan, menyayangi atau mencintai (mengurus) beberapa wanita dengan baik. -> Pria-pria yang berbakat untuk poligami. Aku pikir dan aku rasa bakat macam ini perlu diasah, dikembangkan dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, dalam bentuk poligami sesuai syariat Islam.


->Untuk Aa-Aa Muslim yang pernah deket sama aku, dan mungkin merasa pernah dizalimi oleh aku, maafin aku.

Sejak saat itu, ada rasa kapok untuk membuat pria MUSLIM yang aku cintai apalagi yang mencintai aku menangis dan terluka, pertama aku khawatir dosa, takut kepada Allah, kemudian aku khawatir hukum Allah langsung berlaku kepada aku. Dan sekarang untuk soal cinta, sepertinya aku musti waspada pula, terhadap para pria non Muslim, jika pria non Muslimnya baik terlebih di dalam hatinya mungkin tertarik pada Islam, tertarik memeluk Islam, aku ga boleh “macam-macam” khawatir dosa, takut kepada Allah, kemudian khawatir pula hukum Allah yang langsung berlaku kepada aku.
->Tetapi jika para pria non Muslimnya menentang Islam dan tidak mau bertaubat, bagusnya pria-pria non Muslim yang begitu mati aja.

Kemudian salah satunya dengan pengalaman tersebut, aku sangat berusaha untuk tidak lagi menjalin kedekatan bertopeng “sahabat”, “kaka-adik” dan hubungan serupa  dengan pria bukan muhrim baik dari kalangan pria Muslim terlebih dari kalangan pria non Muslim. Cara aku saat ini mencintai atau menyayangi khususnya pria-pria non Muslim mungkin keliru, sejatinya aku semestinya mencintai/ menyayangi pria Muslim. Saat ini aku peduli terhadap pria/ pria-pria yang terlanjur aku cintai atau sayangi terutama karena aku menginginkan pria/pria-pria non Muslim tersebut masuk dan memeluk Islam. 

Mengenai hubungan pria dan wanita bukan muhrim:
Oia sekarang aku pikir hubungan antara wanita dan pria bukan muhrim memang harus berhati-hati jangan sampai menimbulkan hubungan yang tidak sesuai syariat Islam misalnya pacaran, HTS atau TTM, ada pernyataan teman aku yang aku ingat dan pernah aku sampaikan di dalam tulisan mengenai salah satu aktor ternama Indonesia yang dulu aku sebut intinya sebagai seorang yang aku sayang, sekarang aku sebut "this person", dengan diketahui seorang desainer ternama Indonesia yang dulu aku sebut intinya sebagai seorang yang aku cintai, sekarang aku sebut "that person", sangat disesalkan mereka non Muslim (semoga Allah mengaruniakan kepada mereka hidayah iman Islam), pernyataannya adalah “terkadang kita hanya enggan mengakui bahwa kita mencintai seseorang”. Aku khawatir sebenarnya aku mencintai mereka padahal sepatutnya aku sadar bahwa antara Muslim dan non Muslim pengejawantahan cinta ini terbatas.
Kemudian, aku mengetahui bahwa di dalam Islam tidak ada pacaran, yang ada ta'aruf, hanya saja sejauh ini aku berpikir bahwa jika pria dan wanita yang seagama (seiman, sekeyakinan) terlanjur berpacaran, telah menjadi sepasang kekasih, apalagi telah menjalin kasih sejak lama, aku berusaha untuk tidak menyatakan pernyataan seperti "Sudahlah putuskan saja", aku lebih memilih untuk menyatakan  "Ayolah nikahi saja" atau "Ayolah menikah saja". 
Dalam Islam memang diperintahkan untuk menjauhi zina, hanya bagi yang terlanjur berpacaran, baiknya segera mengakhiri pacaran tersebut dengan menikah karena bagi aku mendekati zina apalagi zina berbahaya, dan lebih berbahaya lagi adalah pezina lalu peselingkuh pula, tidak setia. Tidak setia bukan berarti tidak poligami, tidak setia di sini maksudnya berselingkuh, poligami sesuai syariat Islam tetap harus diperjuangkan. Kemudian, jika pasangan yang telah lama berpacaran/ telah lama menjalin kasih lalu tiba-tiba dinasihati "Sudahlah putuskan saja" aku berpikir yang ibaratnya kita yang "memegang-megang" bahkan mungkin "memecahkan" barang (mendekati zina apalagi zina, merusak terutama merusak moral/akhlak), masa orang lain yang harus bertanggung jawab, sepatutnya kita, yang memacari, atau yang berpacaranlah yang bertanggungjawab dengan menikahi/ menikah sesuai syariat Islam.
[Menulis sambil feeling guilty bilang cinta/ sayang sama dua orang pria berikut mereka non Muslim pula, ditambah membuat semacam janji bersedia menikah, pernikahan sesuai syariat Islam, tetapi kepada dua orang. Astaghfirullah.
Kemudian, diberitahukan bahwa selain men-tag mereka dalam beberapa posting aku di media sosial, adakalanya aku mengirimi mereka message/ pesan.]
-> Jika pada pasangan yang tidak seagama, dan si pasangan non Muslimnya, terutama pria non Muslim, sudah diajak memeluk Islam namun tidak mau memeluk Islam, baru aku dapat menyatakan "Sudahlah putuskan saja".
Dengan demikian aku menyatakan bahwa meskipun  aku belum dapat melaksanakan aturan Islam dengan baik namun aku harus menyatakan bahwa di dalam Islam tidak ada pacaran, HTS atau TTM, atau hubungan tidak syar'i lainnya, wanita dan pria bukan muhrim sebaiknya menjaga jarak, jika ingin saling mengenal terkait pernikahan maka dilakukan dengan cara ta'aruf.



Anw beberapa waktu belakangan, aku sedang memikirkan tulisan aku mengenai larangan tattoo dalam Islam: Allah dan Rasul-Nya melarang tattoo. Hanya sehubungan sejak kecil aku suka menggambar kemudian ternyata pria yang dulu aku sebut sebagai seorang yang aku cintai sekarang aku sebut “that person”, seorang desainer, lengannya bertatoo (yang hal ini sempat membuat aku kecewa dan emosi jiwa). Untuk "that person": Terima kasih jika kamu tidak menambah tatoo. Selain itu juga mungkin karena orang yang dulu aku sebut sebagai seorang yang aku sayangi sekarang aku sebut “this person” pernah membuatkan simbol love dan menuliskan namanya (maklum dia artis), aku sempat memikirkan mengenai menggambar –bukan mentattoo- hiasan di tubuh yang dibolehkan dalam Islam, seperti menggambar dengan henna. Aku berulangkali berpikir jika aku memiliki suami, baik dia suka menggambar ataupun tidak, aku mau suami aku menggambar  di tubuh aku, menggambar simbol cinta/love atau menuliskan nama  dia dengan henna. Dan ternyata, sebelum aku punya suami, Allah sudah memberikan semacam “tattoo” cinta/love  di tubuh aku, tanda bekas luka terkena minyak panas di lengan aku yang nampak seperti  simbol cinta/love, aku sebut saja “tanda cinta/ the symbol of love”. Simbol cinta/love tersebut nampakanya semi permanen, sulit hilangnya.

->Tatoo/ rajah merupakan hal yang terlarang, bagi yang belum ditatoo jangan melakukannya, bagi yang sudah terlanjur, jika tidak memungkinkan dihilangkan, maka jangan menambah tatoonya (bertaubat); namun jika memungkinkan untuk dihilangkan baiknya dihilangkan seraya bertaubat.

Luka yang nampak seperti lambang cinta atau love tersebut membawakan inspirasi bagi aku untuk membuat kata-kata berikut:

Bahkan di dalam luka-luka, aku menemukan cinta. Even in scars, I found love. Subhanallah.

[Aku cinta cinta, cinta mencintai dan dicintai karena Allah, di jalan Allah. I love love, love to love and to be loved because of Allah, in Allah’s path.]

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa aku. Semoga Allah Yang Maha Mencintai mengaruniakan aku cinta yang karena Allah, cinta di jalan Allah.



Pesan dari aku terkait cinta karena Allah:


Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)[1034]. [Q.S. An Nur (24): 26]

[1034]. Ayat ini menunjukkan kesucian 'Aisyah r.a. dan Shafwan dari segala tuduhan yang ditujukan kepada mereka. Rasulullah adalah orang yang paling baik maka pastilah wanita yang baik pula yang menjadi istri beliau. 

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin[1028]. [Q.S. An Nur (24); 3]
[1028]. Maksud ayat ini ialah: tidak pantas orang yang beriman kawin dengan yang berzina, demikian pula sebaliknya.

->Dalam Islam tidak ada pacaran, yang ada adalah ta'aruf. Ta'aruf dalam pandangan aku, tidak musti dengan seorang yang tidak kita kenal sebelumnya, tidak melulu harus membuat proposal/ karya tulis untuk saling mengenal, dapat pula berta'aruf dengan Muslim yang sudah kita kenal, terkait hal ini dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad saw yang menikah dengan para wanita yang kebanyakan dari mereka telah beliau kenal -lama- sebelumnya, hanya beliau tidak melalui proses pacaran tetapi meminang dan menikah sesuai syariat Islam, para istri Rasulullah yang dimaksud diantaranya Khadijah yang sebelumnya merupakan atasan sekaligus parter bisnis beliau, Aisyah yang merupakan putri dari sahabat beliau yang sangat beliau percaya, Abu Bakar As-Shidiq, kemudian Zainab yang masih merupakan sepupu beliau, kecuali Shafiyah dan Mariyah yang beliau belum kenal sebelumnya. Memilih calon suami/ istri dari kalangan yang telah kita kenal, yang terbaik adalah dengan orang yang memang baik agamanya (keIslamannya).


Namun bagi aku dan para Muslim yang terlanjur menempuh jalan hidup yang tidak Islami, seperti berpacaran atau hal-hal serupa yang tidak sesuai syariat Islam, maka perbuatan tersebut harus dihentikan (bertaubat), kemudian memilih calon suami/istri dari kalangan Muslim/ Mualaf yang belum baik agamanya tetapi mau sama-sama memperbaiki diri di jalan Allah. Begitu juga bagi yang telah terlanjur memiliki kekasih apalagi yang telah lama menjalin kasih dihimbau untuk menjauhi zina (bertaubat), sedapat mungkin segera menikah sesuai syariat Islam.

->Diharapkan untuk saling mengingatkan saling nasihat menasihati agar pria tidak mempermainkan wanita, begitu pula wanita tidak mempermainkan pria. Pria yang sepatutnya lebih dahulu memberi contoh baik kepada wanita, menjaga para wanita di jalan Allah.

->Wajib mengakui pernikahan/ dilarang mengingkari pernikahan yang sah sesuai syariat Islam. -> Sepatutnya pernikahan adalah pernikahan seagama, seiman Islam; pernikahan bukan hasil dari merebut istri atau suami orang; pernikahan bukan hasil dari meminta cerai paksa tanpa alasan syar'i; pernikahan bukan dengan cara mengelabui pasangan dengan mengaku single/duda/janda padahal sudah menikah.
Sepengetahuan aku, efek yang dapat saja terjadi karena tidak bertaubat dari mengingkari pernikahan adalah kesengsaraan bahkan kesengsaraan hingga ajal menjemput. -> Lebih dikhawatirkan lagi adalah kesengsaraan di akhirat.  





14. Barangsiapa yang merusak hubungan pelayannya dengan keluarganya bukanlah dia termasuk dari golongan kami dan barangsiapa yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya maka dia juga bukan golongan kami. (HR. Al Baihaqi). [Dr. Muhammad Faiz Almath, "1100 Hadits Terpilih: Sinar Ajaran Muhammad", hal. 254.]
 

->Dilarang mengganggu apalagi merebut kekasih terlebih istri seorang Muslim, jika sudah terjadi, kembalikan kepada yang memang berhak. Juga tidak boleh semena-mena merebut istri dari non Muslim, jika seorang Muslim mencintai istri dari non Muslim dan istri non Muslim pun mecintai pria Muslim tsb bahkan bersedia memeluk Islam, maka terlebih dahulu suaminya diajak untuk masuk dan memeluk Islam. Jika suaminya bersedia memeluk Islam, maka jangan rebut istrinya, namun jika suaminya tidak bersedia memeluk Islam, silahkan ceraikan mereka dan nikahi istrinya secara syar’i. Dalam hal ini, kaum Muslimin khususnya pria Muslim sepatutnya berhati-hati terhadap suami/istri orang, terutama suami/istri milik Muslim. Berdasarkan hukum Islam, mengganggu istri milik Muslim sangat terlarang apalagi merebutnya.
Jangan pula merebut suami orang, jika perempuan gadis/ janda, janda yang bukan hasil dirayu, dipaksa atau memaksa untuk diceraikan oleh suaminya terdahulu (janda yang bukan hasil perceraian yang melanggar syariat Islam), memang mencintai suami orang yang seiman Islam, poligami saja.  Kemudian kaum Muslimin patut pula berhati-hati terhadap istri milik non Muslim yang tidak memerangi Islam (kafir dzimmy), hindari mengganggu (termasuk berselingkuh) juga merebut istri mereka (kafir dzimmy) karena mengganggu/menyakiti kafir dzimmy dikhawatirkan akan berperkara dengan Rasulullah saw di hadapan Allah di akhirat kelak. Kecuali istri milik kafir yang memerangi islam (kafir harbi), jika para istri mereka bersedia masuk dan memeluk Islam silahkan ceraikan mereka dari suami kafir mereka yang memerangi Islam, lalu nikahi secara syar'i para wanita yang bersedia masuk dan memeluk Islam tersebut.

->Jika terlanjur memiliki kekasih beda agama, sedapat mungkin kekasih yang non Muslim tsb diajak untuk masuk dan memeluk Islam. Apabila kekasih bersedia memeluk Islam dan bersedia selamanya tetap dalam iman Islam, maka silahkan menikah secara syar’i. Jika kekasih tidak bersedia memeluk Islam, baiknya mencari kekasih baru yang bersedia selamanya memeluk Islam atau yang memang seorang Muslim, kemudian menikah secara syar’i.

-> Baik pria maupun wanita, hindari selingkuh. Jangan samapai menjadi pribadi "sudah pezina, peselingkuh pula". Wanita wajib setia pada satu suami (tidak poliandri). Jika seorang suami Muslim mencintai wanita lain, maka sepatutnya jujur kepada istri. Dalam Islam, seorang suami memang disunnahkan poligami, kemudian dibolehkan untuk menikah kembali tanpa sebelumnya meberitahukan kepada istri sebelumnya, namun menurut pendapat aku, kejujuran adalah lebih utama, lebih baik jujur walaupun menyakitkan, para pria harus pintar merayu istri agar diizinkan bahkan diikhlaskan untuk berpoligami.

->Para pria Muslim, jika mau dan mampu berpoligami, maka poligamilah sesuai syariat Islam. SEMANGAT POLIGAMI di jalan Allah.


Pengingat sangat penting khususnya bagi aku, umumnya bagi kaum Muslimin terkait cinta di jalan Allah, cinta karena Allah:

Perintah mencintai Nabi Muhammad saw lebih dari mencintai seluruh manusia pada umumnya:
9. Tiada seorang beriman hingga aku lebih dicintai dari ayahnya, anaknya, dan seluruh manusia. (HR. Al Bukhari) [Dr. Muhammad Faiz Almath, 110 Hadits Terpilih: Sinar Ajaran Muhammad, hal. 18.]

Perintah mencintai Nabi Muhammad saw, mencintai ahlul baitnya, dan –mencintai- membaca Al Qur’an:
Didiklah anak-anakamu pada tiga perkara: mencintai nabimu, mencintai ahli baitnya, dan membaca Al Qur’an … (H.R. Ath-Thabrani). [Dr. Abdullah Nashih Ulwan, Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam Jilid 1, hal. 145.]


Semoga Allah mengaruniakan kepada para non Muslim yang namanya tertulis dalam tulisan ini serta kepada para non Muslim hidayah iman Islam. Semoga Allah mengaruniakan kepada aku dan kaum Muslimin taufiq dan hidayah untuk bertaqwa. Semoga Allah meridhai kaum Muslimin di dunia dan di akhirat. Aamiin.

Wallahu’alam.

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

19.03.2015 -> 29 Jumadil Awal 1436 H.

Revisi:
20.03.2015 -> 29 Jumadil Awal 1436 H.
23242526.03.2015 -> 0304050607 Jumadil Akhir 1436 H. 
29.04.2015 -> 1011 Rajab 1436 H
25262728.05.2015 -> 0709 Sya’ban 1436 H
13.01.2015 -> 01 Robiul Awal 1437 H




0 komentar: