Hukum Islam Untuk Kasus Korupsi

Hukum Islam Untuk Kasus Korupsi

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Al Ma’aidah (5): 38

1382 Dari Abu Hurairah r.a., katanya: Nabi s.a.w. berdiri bersama kami, lalu beliau menyebut perkara korupsi . 1 Beliau mengatakan perkara itu besar dan amat besar. Beliau bersabda : “Saya nanti menemui seorang kamu pada hari kiamat, di atas bahunya (kuduknya) ada kambing yang mengembek, kuda yang meringkik”. Orang itu berkata: “Ya Rasulullah! Tolonglah saya!” Saya menjawab: “Saya tidak dapat menolong engkau sedikit pun. Sesungguhnya saya pernah menyampaikan kepada engkau”. Dan di atas bahunya unta yang melenguh, orang itu berkata: “ Ya Rasulullah, tolonglah saya!” Saya menjawab: “Saya tidak dapat menolong engkau sedikitpun. Sesungguhnya saya pernah menyampaikan kepada engkau”. Dan di atas bahunya emas dan perak (harta). Ia berkata: “Ya Rasulullah! Tolonglah saya!” Saya menjawab: “Saya tiada dapat menolong engkau sedikit pun. Sesungguhnya saya pernah menyampaikan kepada engkau”. Dan di atas bahunya sepotong kain yang berkibar-kibar. Dia berkata: “Ya Rasulullah! Tolong saya!” Saya menjawab: “Saya tiada dapat menolong engkau sedikit pun. Sesungguhnya saya pernah menyampaikan kepada engkau”. SB III P. 148-149

Tulisan mengenai hukum Islam untuk korupsi ini sudah sejak lama ingin aku buat dan selesaikan, namun hal ini baru terlaksana pada masa peralihan pemerintahan baru, dari pemerintahan Bapak Soesilo Bambang Yudhoyono ke pemerintahan presiden terpilih. Hal ini aku lakukan karena memang sepertinya aku tidak rajin terlebih aku berpikir bahwa untuk menjaga situasi Republik Indonesia yang kondusif, lebih baik aku menuliskan dan menyelesaikan tulisan aku ini saat masa jabatan presiden ke-6 menjelang berakhir.

Selama 10 tahun masa pemerintahan SBY ada hal yang sebetulnya ingin aku sampaikan selaku rakyat. Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada presiden Republik  Indonesia beserta jajarannya yang selama ini telah berkerja untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Aku akui aku merasakan manfaat yang besar dan kebaikan dari kepemimpinan beliau. Pa SBY pasti tau kalo aku dan keluarga ada kalanya, meskipun tidak selalu, memakan RASKIN (BERAS MISKIN), hal ini sebenarnya mungkin karena aku pribadi malas, padahal, alhamdulillah, Allah mengaruniakan keluarga aku lahan yang cukup luas untuk digarap; selain itu aku pikir sebenarnya aku memiliki kemampuan lain yang dapat aku kerjakan sebagai sarana untuk setidaknya mencapai hidup yang lebih sejahtera. Kembali pada jasa pemerintah, aku beberapa kali mendengar adanya rakyat yang “curhat” mengenai rasa senang dan rasa terima kasih mereka dipimpin oleh Pa SBY, sebagai rakyat kecil, mereka merasa terbantu terutama dengan adanya program raskin dan dana bantuan pemerintah bagi anak sekolah yang tak mampu.

->Dengan berbagai pernyataan aku, aku udah ga terlalu memikirkan lagi bahwa orang yang aku cintai semakin membenci aku setelah aku menuliskan berbagai hal yang aku rasakan, yang penting adalah aku mau aku dan bangsa Indonesia berusaha memberantas korupsi, dan yang lebih penting adalah aku dan bangsa Indonesia menegakkan syariat Islam.

Kemudian sebagai rakyat terlebih sebagi sesama Muslim, setelah beberapa tahun masa jabatan SBY, sebenarnya aku sangat ingin walaupun mungkin hanya sekali mengucapkan selamat Idul Fitri dan bermaafan kepada pemimpin aku, minimal dilakukan via jejaring sosial, seperti halnya saat aku melalukan berbagai kritik atau masukan untuk pemerintah. Namun ada hal yang mengganjal untuk aku melakukan hal tersebut yakni terkait korupsi. Aku heran mengapa bisa terjadi ada pemimpin partai partai yang tidak mengetahui atau tidak terlibat dalam pengucuran dana yang dipakai secara menyimpang sementara anggota-anggotanya mengetahui dan menjadi tersangka korupsi, padahal semestinya pengucuran dan pengaliran dana tersebut pertama-tama diketahui oleh pemimpin partai? Dan jika pun tahu, kenapa pemimpin tersebut tidak menjabarkan bahkan jika ia sendiri terlibat tindak korupsi mengapa tidak mengakui secara ksatria?

->Meskipun misalkan seseorang bukan lagi ketua partai, namun sebagai pembina partai terlebih ada pula anggota keluarga terdekatnya yang merupakan anggota partai yang pernah seseorang tersebut pimpin, maka sewajarnya ia masih mengetahui hal ihwal dalam kepartaiannya.

Terpikir mengenai beberapa nama orang yang terlibat kasus korupsi, seperti: Nazzarudin, dan Angelina Sondakh. Kemudian teringat pula tersangka yang berasal dari salah satu partai Islam: Ahmad Fathanah dan Anis Matta. Kemudian, mengenai mantan menteri agama, Surya Dharma Ali, aku sedih beliau sebagai tokoh agama yang semestinya menjadi representasi umat Islam, diduga terlibat korupsi.

Lalu, tentang presiden terpilih, Joko Widodo, sewajarnya aku mengucapkan selamat pada presiden baru namun hal tersebut tidak aku lakukan terkait aku tidak menyetujui langkah-langkahnya yang menyisakan pemimpin-pemimpin non Muslim untuk memimpin rakyat yang kebanyakan beragama Islam. Di dalam Islam terdapat larangan bahwa non Muslim memimpin kaum Muslimin. Kemudian ada beberapa hal lain yang pernah aku sebutkan di salah satu atau dua tulisan aku. Selain itu, terkait korupsi, beredar kabar mengenai keterlibatannya dalam penyimpangan dana pengadaan bus Trans Jakarta.

->Saat tulisan ini dibuat aku masih merasa terpaksa dan dipaksa mengakui presiden terpilih, namun demikian aku tetap berharap yang baik-baik terutama tegaknya syariat Islam di Indonesia bahkan di seluruh dunia.

Mungkin bisa jadi aku salah mengenai apa yang aku tuliskan, jika aku keliru semoga orang yang istilahnya aku tuduh memaafkan aku. Namun jika mereka memang terlibat korupsi sudah sepatutnya dikenai hukuman sesuai syariat Islam.

Ada curhatan aku terkait korupsi dan manipulasi dana yang pernah aku buat beberapa waktu lalu (2011), terdapat kekeliruan dalam isi curhat aku yakni pernyataan aku yang mentolerir pemotongan dana bantuan tanpa aku mempelajari hal tersebut berdasarkan syariat Islam, isi curhatannya adalah sebagai berikut:

[Anw aku ingin mengucapkan terima kasih kepada pemerintahan R.I terutama kepada Ibu Negara (Bunda PAUD) yang sudah memajukan dan memperhatikan program Pendidikan Anak Usia Dini serta menggalakan program Perpustakan Keliling. -> SIKIB.
Disamping ucapan terima kasih, aku juga ingin menyampaikan masalah mengenai kucuran dana pemerintah untuk PAUD. Aku menyampaikan hal ini dengan resiko aku diberhentikan dari tempat aku bekerja atau mungkin aku dipenjarakan atau lebih parahnya sekolah PAUD tempat aku mengabdi ditutup/ dihentikan izin operasionalnya. -> Apa pun yang terjadi terutama kepada diri aku, kebenaran tetap harus dinyatakan.

PAUD tempat aku mengabdi yang dikelola oleh keluargaku seringkali mendapat kucuran dana dari pemerintah, bahkan tak jarang dana bantuan tersebut jumlahnya cukup besar. Awalnya, sebelum ngeh terhadap permainan kucuran dana, aku bersyukur dan seneng-seneng aja sekolah PAUD yang dikelola keluarga aku menerima uang atau barang yang disebut sumbangan dari pemerintah tersebut. Namun sekarang, setiap ada kata mendapat bantuan, mendapat sumbangan atau mendapat kucuran dana aku selalu merasa sedih bahkan marah karena aku tahu dalam proses untuk mendapatkan dana tersebut terdapat konspirasi, manipulasi dan kebohongan. -> Sekarang kalo sekolah PAUD kami dapet dana bantuan, AKU PRIBADI ga mau terima uang sepeser pun dari dana tersebut, aku ga mau, aku, Mama aku, Papa aku dan adik-adik aku memakan uang yang aku tahu hasil konspirasi, manipulasi dan kebohongan. Semoga Allah melindungi dan menyelamatkan aku dan keluargaku di dunia dan di akhirat. Amin.

Manipulasi tersebut biasanya berupa kebohongan data dalam proposal yang dilakukan untuk menutupi biaya pemotongan dana bantuan oleh pemerintah terkait. Aku kecewa setiap kali ada pengarahan sebelum bantuan dikucurkan, fihak pemerintah cuap-cuap mengenai tidak adanya potongan, atau pengarahan mengenai diwajibkannya melapor jika terjadi pemotongan. Namun pada kenyataanya pemotongan tersebut tetaplah ada dan terjadi dan tidak boleh sampai mencuat ke publik.
Bukannya aku ga setuju dengan adanya pemotongan dana, pemotongan tersebut wajar dan harus dilakukan terutama oleh dinas-dinas terkait karena sebagai konsekuensi dari adanya sistem birokrasi. Tanpa melalui bantuan dinas-dinas terkait tersebut, dana bantuan tidak mudah turun ke setiap lembaga PAUD. Lagi pula, para staff dinas terkait khususnya dinas pendidikan daerah membutuhkan ongkos bensin, ongkos makan (ongkos transport) untuk menyampaikan proposal ke tingkat provinsi bahkan ke tingkat pusat. -> Emangnya para staff Dinas Pendidikan Kota Sukabumi nganterin proposal ke Dinas Pendidikan Jawa Barat (di Bandung) atau Dinas Pendidikan Nasional (di Jakarta) tu jalan kaki, kaga pake duit, pake ada peraturan ga bole ada potongan segala? -> Memang, para staff dinas tersebut digaji dan ada biaya perjalanan dinas, tapi menurut aku, gaji mereka dan biaya perjalanan dinas tidak akan memadai untuk mereka dan keluarga mereka jika digunakan untuk mengantarkan proposal-proposal dana bantuan -yang jumlahnya puluhan dan dalam waktu yang tidak bersamaan - milik lembaga-lembaga PAUD ke tingkat provinsi maupun tingkat pusat. 

Menurut hemat aku, pemotongan wajar dan harus dilakukan selama caranya fair, jujur, terbuka dengan cara: mencantumkan dengan jelas dan rinci data jumlah serta prosentase pemotongan dana bantuan di dalam proposal. -> Jangan sampe pemotongan ini dijadikan ajang korupsi atau ajang menggasak dana untuk rakyat kecil. Dan satu lagi, yang harus dicantumkan secara jelas dan rinci data jumlah dan prosentasenya di dalam proposal adalah ZAKAT, karena selama ini pemerintah tidak pernah menyarankan para penerima dana bantuan untuk mengeluarkan zakat, padahal zakat itu penting dan sangat penting.

Oia Allhamdulillah, berkat rahmat Allah PAUD kami bisa berkembang, setelah itu, memang benar aku akui bahwa PAUD kami bisa berkembang  salah satunya melalui dukungan dan bantuan dari pemerintah. Namun jujur saja, aku ngerasa kami dan PAUD kami dimanfaatkan oleh fihak-fihak tertentu untuk mengeruk keuntungan, sebagai akses turunnya beberapa dana pendidikan. Dan parahnya fihak lembaga PAUD kami jadi harus membuat beberapa data fiktif, jadi harus berbohong demi turunnya dana yang tidak hanya dipergunakan oleh lembaga PAUD kami tapi juga dinikmati oleh fihak-fihak terkait.

(Saat ini, aku akui, di satu sisi aku tidak bertanggung jawab karena aku sudah berlepas diri dari membuat atau terlibat dalam pembuatan proposal-proposal dana bantuan untuk lembaga tempat aku mengabdi, namun di sisi lain aku sedang dan harus berusaha menegakkan kebenaran dan kejujuran baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Untuk itu, sekarang aku tidak pernah lagi membuat atau terlibat dalam pembuatan proposal dana bantuan serta yang paling penting, sekarang aku pribadi tidak pernah menerima, meminta bahkan tidak pernah menginginkan uang dari hasil konspirasi, manipulasi dan kebohongan.)

Melalui tulisan ini, aku ingin meminta maaf kepada semua fihak karena aku pernah terlibat dalam pembuatan proposal yang di dalamnya terdapat data fiktif atau manipulasi data. Dan aku pun meminta maaf kepada banyak pemilik atau pramuwisma toko atau pekerja tempat foto copy karena aku pernah meminta bon kosong, kwitansi kosong atau nota tidak bertanggal. Hal-hal yang sepertinya sepele ini seringnya salah dan membahayakan, mengajarkan ketikdakjujuran, aku tidak akan mengulangi lagi hal tersebut. Semoga Allah mengampuni aku di dunia maupun di akhirat. Amin.
Aku menyatakan hal ini karena aku tidak ingin kebohongan terus berlanjut, walaupun dalam hal yang terlihat sepele, aku tidak ingin terus terlibat atau bersinggungan dengan lingkaran setan. Aku ingin diri sendiri dan orang-orang lebih jujur, terbuka, baik dan benar. Aku ingin disayangi, dicintai dan diselamatkan oleh Allah di dunia maupun di akhirat. Amin. ]

Mungkin ada kalanya aku memelakukan ketidak jujuran, biasanya itu tidak bermaksud sengaja atau dikarenakan ketidaktahuan aku, namun yang aku sayangkan adalah jika terdapat pihak-pihak yang menjebak aku untuk berbohong atau berkata/berprilaku tidak jujur, ini musibah. Mudah-mudahan Allah menghindarkan aku dari kejahatan diri sendiri dan kejahatan orang-orang yang berhati dengki dan jahat. Semoga Allah senantiasa melindungi aku dan kaum Muslimin. Aamiin.

Catatan penting: Sesuai syariat Islam, ada 3 situasi dimana berbohong dibolehkan, yakni: saat berperang, ketika mendamaikan orang yang berselisih dan untuk menghibur hati istri, tentunya borbohong di sini tidak dilakukan semena-mena namun musti dilakukan sesuai syariat Islam.
 
Demikian curhat di atas, pembahasan kembali mengenai masalah korupsi dan manipulasi.


Siapa saja yang telah kami angkat untuk mengerjakan suatu pekerjaan/jabatan kemudian kami telah memberikan gaji, maka sesuatu yang diterima di luar gajinya yang sah adalah ghulul (korupsi)((HR. Bukhari)) ROL 10 Syawal 1434 H (17.08.2013)

Memang terdapat hadits mengenai tidak diperbolehkannya menerima uang, barang atau materi lainnya selain uang gaji. Namun untuk hal pengurusan proposal, mungkin tidak mengapa jika memberikan ongkos transport untuk pengajuan proposal atau biaya pengiriman proposal, terlebih jika proposal berjumlah banyak dan dikirim dalam waktu yang berbeda-beda, dari daerah yang berjauhan atau bukan di pusat karena tidak mungkin jika mengandalkan gaji petugas pemerintah yang mengantarkan proposal tersebut. Aku berpikir demikian berdasarkan pengalaman bahwa aku pernah mengantarkan sebuah proposal dana bantuan ke Dinas Pendididkan Provinsi Jawa Barat, di Bandung, bersama dengan pengelola PAUD yang dikelola keluarga aku yang masih merupakan Ua aku atau Tante dekat aku, saat itu di dinas provinsi kami bersinergi dengan salah satu pejabat dinas pendidikan Sukabumi yang jika beliau berkenan menganggap aku keponakan atau keponakan jauh, beliau masih merupakan Tante jauh aku. -> Ua dan Tante aku ini berkarakter cerdas, perhatian, dan pekerja keras. Aku pastinya bersyukur dan bangga bila memiliki saudara dengan berbagai kelebihan yang digunakan di jalan Allah, namun akan sangat kecewa jika memiliki saudara yang berbagai kelebihannya tidak digunakan di jalan Allah. Kemudian meskipun aku tahu kami bersaudara, saudara dekat dan jauh, aku berpendapat bahwa saat dalam dunia kerja kami semua berusaha untuk tetap bersikap profesional. 


Dengan pengalaman tersebut, aku jadi mengetahui bahwa mengirimkan proposal pengajuan dana bantuan ini tentulah membutuhkan biaya, terutama untuk transport dan makan. Aku bahkan berpikir bagaimana jika proposal yang diajaukan berjumlah banyak dan disampaikan tidak dalam satu hari yang sama tetapi di hari yang berbeda-beda, akan menghawatirkan jika menggunakan gaji petugas dinas terkait. Dengan demikian, aku berpikir bahwa mungkin tidak mengapa jika ada pemotongan dana bantuan sejumlah biaya transport -bensin untuk kendaraan dinas dan makan untuk petugas- pengiriman proposal ke luar daerah Sukabumi, yang dilarang adalah pemotongan dalam jumlah besar terlebih untuk hal yang tidak semestinya. Atau apakah lebih baik jika disediakan dana khusus oleh pemerintah bagi para petugas dinas untuk pengurusan termasuk pengiriman sebuah laporan sebagai upaya untuk menghindari penerimaan uang di luar gaji? Upaya untuk menghindari korupsi?

->Ulama dan para ahli fiqih yang shiddiq, amanah dan faqih, mungkin ada yang bisa membantu, mengenai solusi sesuai hukum Islam untuk hal ini?

Kemudian ada situasi yang pernah aku alami terkait memberikan sesuatu kepada orang yang telah menerima gaji, misalkan: saat salah satu saudara aku sakit, dirawat di rumah sakit, kemudian terdapat cukup banyak orang yang menjenguknya, mendoakan dan membawakan makanan, alhamdulillah, sehubungan banyak terdapat makanan, maka saudara aku yang sakit tersebut menyuruh aku dan sepupu aku untuk membagi-bagikan makanan tersebut, maka makanan tersebut dibagikan ke suster, perawat/ tenaga medis lalu kepada beberapa rekan pendidik, dan beberapa pekerja (mereka adalah orang-orang yang telah menerima gaji ada yang dari pemerintah ada pula dari non pemerintah),pembagian makanan tersebut dilakukan dengan niat  memberi agar makanan tidak mubadzir.

Kemudian sangat penting bahwa mencatat data mengenai dana misalnya terkait nominal juga jumlah dan jenis barang untuk ditulis dalam laporan pertanggungjawaban janganlah di "mark up", tuliskan saja seadanya misalnya harga 1 unit computer Rp1.750.000,- maka dituliskan sebesar itu pula, Rp1.750.000,-, jangan dilebihkan maupun dikurangi; beserta jumlah dan jenis barangnya pun harus sesuai. Jika ada kelebihan bahkan kekurangan juga termasuk pemotongan -untuk transport petugas dinas- maka wajib pula dituliskan dengan baik, benar dan gamblang dalam laporan pertanggungjawaban.

Selanjutnya, yang sangat penting adalah mencantumkan ZAKAT.

->Oia, terkait dana bantuan pemerintah, aku akui aku pengecut karena tidak berani langsung menyatakan protes, kritik, maupun sekedar masukan aku pada petugas-petugas yang bersangkutan terkait hal ini padahal ada kesempatan untuk bertemu dan berbincang. Terlebih padahal salah satu diantara petugas tersebut ada yang masih terbilang Tante jauh aku, semestinya aku dapat mengkomunikasikan hal yang aku maksud dengan beliau, tapi dengan Ua atau Tante dekat aku tentunya aku mengkomunikasikan mengenai kejanggalan terkait proposal dana bantuan dari pemerintah.

Lalu, aku pikir, para pendidik termasuk guru terlebih yang bergelar S. Ag., S.Pdi atau gelar pendidikan Islam lainnya untuk tidak terlibat kasus korupsi maupun manipulasi dana. Para murid dapat melakukan “identifikasi” (peniruan) terhadap perilaku para gurunya, jika para guru mereka penipu, curang dan korup maka akan menghasilkan murid-murid yang kemungkinan besar tak jauh beda dari guru mereka, dan akan terbentuk pula bangsa yang masyarakatnya penipu, curang dan korup. Sepatutnya para guru menjadi teladan kebenaran, kejujuran dan keadilan bagi para muridnya, teladan di jalan Allah.

-> Mengenai penipu, curang dan korup aku musti melihat pula ke dalam diri sendiri. Semoga Allah mengarunikan taufiq dan hidayah kepada aku dan kaum Muslimin untuk bertaqwa kepada Allah. Aamiin.


-> Sehubungan terdapat perintah untuk bertaqwa kepada Allah, maka aku menyatakan hal berikut ini:

Terkait proposal hibah akreditasi sekolah PAUD yang dikelola oleh keluarga aku yang kabarnya harus diserahkan kepada pihak terkait pada hari ini 28.08.2014 -> 02/03 Dzulqo’dah 1435 H, aku bermaksud menuliskan beberapa catatan, sebagian intinya adalah informasi yang aku ulang, isinya sebagai berikut:

Walaupun saat tulisan ini dipublish, aku tidak lagi secara resmi bekerja di PAUD yang dikelola oleh keluarga aku, hal ini dikarenakan tadinya aku ingin lebih meluangkan banyak waktu untuk Abi aku yang sempat sakit, kemudian aku enggan berurusan dengan proposal manipulasi, aku sempat menjabat sebagai bendahara dan wakil bendahara, aku takut pertanggungjawaban kepada Allah di akhirat kelak jika terlibat hal yang tidak jujur dan tidak benar. -> Meskipun aku tidak jago matematika dan aku akui error-error kecil pernah terjadi, tetapi saat bekerja sebagai bendahara maupun sebagai wakil bendahara yang berkaitan erat dengan keuangan, aku berusaha bekerja dengan baik, benar dan teliti, aku sadar bahwa pekerjaan tersebut amat riskan terlebih aku sadar bahwa kelak pekerjaan tersebut akan aku pertanggungjawabkan kepada Allah. Kemudian seperti yang telah aku jelaskan, yang intinya aku tidak ingin aku dan keluarga aku memakan uang hasil manipulasi, namun berharap memakan rezeki hallal. Selain itu, aku juga pernah termasuk sebagai seorang pendidik, aku tidak ingin menjadi pendidik dengan akhlak penipu, curang dan korup. Aku berharap menjadi pendidik yang dapat menjadi teladan di jalan Allah, bertaqwa kepada Allah.

Meskipun atas keinginan aku, aku tidak secara resmi menjadi staff di PAUD yang dikelola oleh keluarga aku, aku sedikit banyak masih mengetahui jika PAUD yang dikelola keluarga aku mendapat dana bantuan, tentunya aku mengingatkan terlebih kepada keluarga aku untuk berlaku jujur dalam membuat proposal, hanya saja aku akui tidak setiap saat aku dapat memberi nasihat. Selain itu, walaupun bukan staff resmi, aku pun masih sering membantu memelihara kebersihan lingkungan sekolah.


Maaf, aku lupa menyatakan bahwa biasanya untuk menjaga kebersihan di lingkungan sekolah yang dikelola keluarga aku, aku diberi gaji sekitar Rp.100 ribu/bln. Aku bersedia menerima gaji tersebut karena aku pikir, uang untuk gaji tersebut didapat dari uang sekolah yang dibayarkan oleh murid-murid, bukan dari uang proposal. Aku berpikir bahwa uang yang didapat dari orang tua murid adalah hallal, aku berbaik sangka bahwa para orang tua murid bekerja dengan pekerjaan dan penghasilan hallal. ->Jika ada orang tua murid yang masih terlibat riba atau hal haram mudah-mudahan dapat segera meninggalkan hal terlarang tersebut. Semoga mendapat pekerjaan yang hallal. Aamiin.
Kemudian aku harus melaporkan bahwa, aku dan keluarga aku sering mendapat makanan dari pihak sekolah, makanan yang berasal dari pihak sekolah maupun yang berasal dari para orang tua. Aku harap, hal ini tidaklah masalah selama tidak berlebihan. Aku berterima kasih atas pemberian yang diberikan berbagai pihak tersebut. Alhamdulillah.

->Actually, aku tak digaji pun tak masalah, selama ini keluarga aku sudah sangat baik kepada aku, terlebih aku berniat membantu keluarga aku selama mereka di jalan Allah.
Sebelumnya aku sempat menyatakan bahwa aku menerima gaji untuk membantu menjaga kebersihan lingkungan sekolah PAUD yang aku maksud, namun kemudian aku tidak menerima gaji untuk aktifitas membantu memelihara kebersihan lingkungan sekolah tersebut, dengan demikian aku merasa lebih tenang. Alhamdulillah.
 
->Penting pula dijelaskan bahwa kami merasa menjadi "sapi perah" karena kami harus melakukan manipulasi akibat adanya pemotongan dana bantuan, padahal jika semua berjalan penuh kejujuran dan keadilan di jalan Allah, kami berusaha mengabdi dalam bidang pendidikan dengan ikhlas di jalan Allah.


Selanjutnya, aku mengingatkan kembali mengenai hal yang sangat penting yang mengenai hal ini, awalnya aku diingatkan oleh Ua aku yakni mengenai membayarkan ZAKAT dari dana bantuan. Kamudian menurut pendapat aku, laporan mengenai pembayaran zakat tersebut harus dituliskan dalam laporan pertanggungjawaban.


Kemudian, selain proposal yang ditawarkan oleh pihak pemerintah, terkadang ada pula proposal yang diajukan oleh pihak PAUD yang dikelola keluarga aku kepada pemerintah, meski ada pengajuan yang bukan atas dasar persetujuan keluarga aku. Namun demikian, pihak keluarga aku berusaha untuk bertanggung jawab untuk hal tersebut.


Lalu, demi Allah, aku nyatakan bahwa selama aku bekerja, ketika PAUD yang dikelola oleh keluarga aku mendapat bantuan dari pemerintah, seringnya bantuan tersebut juga dibagi dengan pihak-pihak terkait dalam jumlah yang tidak sedikit. Hal ini, yang menurut pendapat aku merupakan tindakan suap, dilakukan untuk mempermudah birokrasi terkait PAUD yang dikelola oleh keluarga aku kedepannya karena jika kami tidak memberi jatah kepada pihak-pihak terkait terkesan bahwa sekolah yang kami kelola tidak akan terlalu diperhatikan, bahkan mungkin akan disisihkan. Atau minimal kami dianggap tidak perhatian dan tidak loyal. Bahkan lebih mengkhawatirkan bila kami melaporkan adanya pemotongan dana bantuan pemerintah, kami akan ditindak, padahal pemotongan dalam jumlah sedikit terlebih banyak termasuk dalam kategori korupsi.


Selain itu, demi Allah, aku juga nyatakan bahwa selama aku bekerja di PAUD yang dikelola oleh keluarga aku, aku dan pihak sekolah kerap melakukan tindakan yang masuk pada kategori suap seperti melakukan “salam tempel”, memberikan parcel kepada para petugas atau pejabat terkait yang tidak dapat dipungkiri bertujuan untuk mempermudah birokrasi yang hal ini semestinya tidak kami lakukan.



8. Allah melaknat penyuap, penerima suap, dan yang memberi peluang bagi mereka. (HR. Ahmad) 1100 Hadits terpilih: Sinar Ajaran Muhammad P. 165 





Terkait suap yang secara tak langsung mungkin saja aku lakukan saat kunjungn istri pejabat kota Sukabumi dan istri pejabat kota Tasimkmalaya beserta jajarannya pada 25.09.’14 (01 Dzulhijjah 1435 H). Aku diminta membantu dalam membuat souvenir tali asih berupa hasil karya untuk para istri pejabat beserta jajarannya, aku membantu dengan senang hati. Kami memberikan souvenir tali asih dengan niat memberi hadiah/kenang-kenangan di jalan Allah. Namun belakangan aku berpikir bahwa hal tersebut dikhawatirkan terkait suap, aku tidak paham apakah para istri pejabat tersebut berhak menerima souvenir hanya aku mengkhawatirkan mengenai souvenir yang diberikan kepada orang-orang  yang telah diberi gaji oleh pemerintah, karena takut merupakan tindakan suap dan korupsi.

Kemudian, aku melakukan sedikit manipulasi saat membantu menghias souvenir tersebut, hal ini dikarenakan keterbatasan sarana seni berupa benang. Aku menggunakan sehelai benang sisa berwarna hijau tua, untuk mengimbangi 2 helai benang (rangkap) berwarna hijau muda. Mungkin hal ini sepatutnya tidak aku lakukan. Hanya saja aku melaporkan hal ini kepada pihak-pihak yang terkait souvenir tersebut, terutama kepada orang yang juga menghiasi soauvenir tersebut. Dari hal ini aku mendapat banyak pelajaran, dimulai dari mengingat kembali cara menghias dengan salah satu teknik tertentu, kemudian pelajaran mengenai kejujuran, ketelitian dan kehati-hatian. Aku sampaikan permohonan maaf atas pengerjaan souvenir tali asih yang dilakukan dengan tidak rapi atau tidak dengan usaha terbaik. Namun hal yang amat penting adalah, aku sampaikan mohon maaf kepada berbagai pihak apabila pemberian souvenir tersebut terindikasi suap, maksudnya apabila souvenir tersebut diberikan kepada orang yang sudah diberi gaji oleh pemerintah. Aku ucapkan terimakasih kepada istri pejabat kota Sukabumi dan kota Tasikmalaya beserta jajarannya, juga Polisi, Satpol PP, Hasip, dan PKK yang telah mengujungi sekolah yang dikelola keluarga aku. Terima kasih pula aku ucapkan kepada berbagai pihak, terutama kepada pihak sekolah dan pihak orang tua murid atas terlaksananya acara tersebut. Alhamdulillah. Dari kunjungan tersebut, aku mendapat banyak pelajaran. -> Semoga aku dapat terus berusaha untuk menengakkan syariat Islam.



Disamping itu, aku menghimbau pihak-pihak terkait tidak melakukan pemotongan dana bantuan baik besar maupun kecil. Jika memang terpaksa ada pemotongan dari dana bantuan untuk transport petugas dinas terkait, maka potongan hanya sejumlah biaya yang mencukupi transport, itu pun harus dituliskan dengan jujur (shidiq) dan benar/ dapat dipercaya (amanah) di dalam laporan pertanggungjawaban. Baiknya pemerintah yang menyediakan anggaran untuk pengurusan proposal tersebut seperti biaya transport untuk petugas yang mengantarkan proposal ke pemerintah pusat atau daerah sehingga tidak ada pemotongan, menghindari korupsi. Baiknya dana tersebut dijelasakan kepada kami orang awam, rakyat. Aku berharap tidak ada manipulasi antara pemerintah dan rakyat, aku harap adanya keterbukaan, kejujuran, kebenaran di jalan Allah.


Selain itu, aku pernah meminta bon maupun kwitansi kosong biasanya berstempel toko atau bertanda tangan pemilik dari toko, hal ini dilakukan agar aku dan pihak sekolah dapat menuliskan harga sesuai dengan kepentingan kami bukan sesuai kenyataan, mark up ini dilakukan biasanya untuk menutupi atau mengcover adanya pemotongan dana bantuan yang diberikan kepada pihak-pihak terkait sementara pemotongan dana bantuan tersebut tidak boleh dituliskan dalam laporan pertanggungjawaban. Dengan demikian, kami memanipulasi berbagai harga barang dan (dapat pula) jasa untuk mengcover pemotongan dana bantuan tersebut yang kemudian data hasil mark up tersebut dituliskan ke dalam laporan pertanggungjawaban. Aku bertaubat kepada Allah dari tindakan tidak jujur tersebut, kemudian khusus tindakan tidak jujur yang aku maksud, aku memohon maaf kepada berbagai pihak terutama beberapa toko maupun lembaga yang mungkin pernah menjadi sasaran kekeliruan aku tersebut. Aku harap tidak ada lagi permintaan BON/KWITANSI KOSONG dan sejenisnya terlebih untuk manipulasi atau hal-hal negatif lainnya, apalagi jika dilakukan oleh Muslim.


Seterusnya, kembali aku tekankan hal yang intinya kewajiban menuliskan dengan gamblang, jujur dan benar setiap pemasukan dan pengeluaran termasuk menuliskan harga asli saat pembelian berbagai barang serta biaya asli untuk penggunaan berbagai jasa pada setiap laporan pertanggungjawaban. -> Mungkin ada hal-hal yang sulit dituliskan terlalu detail, seperti misalnya transport angkot atau ojek, maka hal tersebut dapat dituliskan secara global sebagai dana transport, namun tidak dibenarkan melakukan mark up yang berlebihan. Jika ternyata ada sisa atau kelebihan dari dana bantuan maka WAJIB pula dituliskan.


Selanjutnya, aku menyayangkan jika sampai ada pejabat atau pihak terkait yang berhura-hura seperti misalnya berbelanja, jalan-jalan ke luar negeri dan bersenang-senang dengan menggunakan uang rakyat atau uang hasil pemotongan dana-dana bantuan. Semoga tidak ada pejabat atau pihak terkait yang seperti demikian, jika ada semoga kebiasaan buruk tersebut dapat segera dihentikan.


Korupsi dan manipulasi yang kerap terjadi seperti hal sepele yang sudah biasa namun pada kenyataannya hal tersebut sangat merusak moral atau akhlak bangsa, sehingga sudah sepatutnya kejahatan tersebut dihentikan. Mungkin para Ulama, KPK, BPK bisa membantu dalam upaya menyelesaikan korupsi yang merajalela ini, kemudian baik pemerintah maupun rakyat dapat bekerja sama dalam pemberantasan korupsi yang sudah mendarah daging dalam bangsa ini. Semoga Allah menolong. Semoga permasalahan terkait korupsi dapat diselesaikan sesuai syariat Islam untuk meraih ridha Allah Ta’ala di dunia dan di akhirat. Aamiin.


-> Entah mengapa, aku merasa ada sedikit kendala ketika menuliskan hal ini, gangguan dalam menegakkan syariat Islam, seperti pernah PLN tiba-tiba mematikan listrik di saat-saat mendesak ketika tulisan ini akan dipublish, dan beberapa konspirasi menguji iman dan kekuatan mental. Terlebih ada pula kekhawatiran bahwa aku belum menulis dengan benar sesuai syariat Islam.

->Aku memohon maaf kepada Pa SBY dan Pa Jokowi atas kekeliruan aku menepatkan posting ini di komen box posting mereka lalu aku menghapus dan memindahkan posting ini ke komen box posting-posting mereka yang lain tanpa pemberitahuan dan permintaan maaf. Khusus untuk tindakan aku melakukan penghapusan dan pemindahan letak posting ini tanpa pemberitahuan tersebut, aku meminta maaf. Hal ini aku lakukan karena aku memilih posting yang terdapat unsur tidak terlalu banyak gambar; meskipun ada gambar, gambar berupa pas foto; berusaha memilih posting yang mendekati kesesuaian dengan syariat Islam.



Aku ingin mempertanyakan sesuatu yakni, patutkah apabila seorang pemimpin sebuah lembaga pemberantasan korupsi bekerja sama dengan pemimpin atau pemimpin negara yang terindikasi korupsi maupun suap? Tentunya tidak. Pertanyaannya, bagaimanakah cara untuk menghindari hal tersebut? Dan apabila terjadi, apakah sanksi sesuai syariat Islam untuk hal tersebut?
 

Mungkin apa yang aku sampaikan dapat saja terlalu frontal, aku memohon maaf kepada kaum Muslimin apabila cara penyampaian yang aku lakukan tidak sesuai syariat Islam. Semoga aku dapat menyampaikan kebenaran di jalan Allah dengan cara yang lebih baik, sesuai syariat Islam.

Hukum Islam bagi para pelaku korupsi adalah potong tangan. Kemudian perlu juga adanya kebijakan seperti pada zaman khalifah Umar bin Khattab yakni mengaudit harta kekayaan pejabat, ketika sebelum dan sesudah menjabat, sehingga jika ada kelabihan yang tidak didapat di jalan Allah maka harta benda tersebut harus dikembalikan ke negara.

Syukron aku ucapkan kepada para petugas pemerintah; para pendidik termasuk para ustad/ustadzah, para guru, dan tutor; serta para petugas pemerintah khususnya dan setiap orang umumnya yang tidak terlibat hal-hal menyimpang terkait berbagai dana apa pun, yang bekerja dengan jujur dan ikhlas karena Allah.

Terima kasih aku ucapkan kepada berbagai pihak yang telah membawakan inspirasi untuk pembuatan maupun revisi tulisan aku. Semoga korupsi dapat diberantas, syari'at Islam dapat ditegakkan. 

Semoga Allah meridhai kaum Muslimin di dunia dan di akhirat. Aamiin.

Source: Buku Tarikh Islam (Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah) untuk kelas 1 KMI. Pondok Modern Gontor Ponorogo Indonesia.
->Syukron Galaxy FM atas tips berupa nasihat yang membawakan inspirasi untuk beberapa revisi di tulisan ini.
Berbagai media televisi, kemudian media berita elektronik.


Wallahu’alam bi showab.

25.08.2014 -> 30 Syawal 1435 H
Revisi:
26282930.08.2014 -> 0203040506 Dzulqo'dah 1435 H 
05.10.2014 ->  11 Dzulhijjah 1435 H
21.12.2014 -> 28 Shafar 1436 H

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.





0 komentar: