Sya'ban - Ramadhan

Sebelumnya aku sampaikan permohonan maaf bahwa untuk menghindari kerancuan, judul dan isi posting ini telah mengalami revisi:


Ada hal yang ingin aku kisahkan, mengenai beberapa peristiwa di bulan Sya'ban dan Ramadhan 1435 H ini:

-> Mengenai penutupan lokalisasi Dolly, aku mengapresiasi hal tersebut. Alhamdulillah. Semoga sedikit demi sedikit maksiat dan kemungkaran dapat diberantas. Hanya saja, aku tidak dapat memberikan persetujuan jika wanita memimpin kaum pria, hal ini bertentangan dengan sunnah Rasulullah. Aku hanya dapat berdoa: Semoga Allah memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada aku dan walikota Surabaya untuk menjadi Muslimah yang bertaqwa. Aamiin.

-> Kemudian, mengenai wisata yang tidak aku rencanakan. Beberapa waktu lalu aku pergi ke Pelabuhan Ratu bersama Umi, adik-adik, paman (adik Umi) dan keluarganya, satu teman adik laki-laki aku, satu teman adik perempuan aku dan seorang driver. Tentunya Pelabuhan Ratu memiliki pemandangan yang indah, subhanallah. Anw ketika aku kecil, kedua orang tua aku menyewa rumah sederhana di Pelabuhan Ratu, setiap liburan tiba aku kerap tinggal di salah satu kawasan Pantai Selatan tersebut, di Cimaja.

Terkait pemberitaan mengenai pariwisata syariah, aku pikir Jawa Barat sudah termasuk wilayah yang menerapakan pariwisata syariah, sehingga di kawasan pantai Pelabuhan Ratu pengunjungnya diatur untuk berbusana dan berperilaku syar’i. Namun ternyata aku masih melihat beberapa perempuan mengenakan hot pants dan pakaian tidak menutup aurat lainnya. -> Sebelum aku protes Bali mustinya aku koreksi Pelabuhan Ratu dulu. Sayang waktu itu aku tidak berani menyapa dan menyeru untuk mengenakan pakaian yang menutup aurat secara syar’i. Aku harap pemerintah lebih serius membuat peraturan mengenai pariwisata syariah termasuk membuat peraturan mengenai busana dan perilaku para wisatawan di area pariwisata khususnya di area pariwisata syariah.


-> Aku turut prihatin atas pemberitaan mengenai musibah yang menimpa kel. Alm. Ustad Jeffry Al Bukhory. Semoga Allah memberikan kesabaran dan ketabahan kepada Mba Pipik dan keluarga. Aamiin.


-> Hari ini (27.06.14 -> 29 Sya’ban 1435 H) saat aku dalam perjalanan dari suatu keperluan, dari atas ojek aku liat kirab Polisi SETUKPA, aku ga tau kirab dalam rangka apa? Entah kenapa sedih, terharu, bangga, pokonya campur aduk, berikut perasaan yang kata orang Sunda disebut “waas” waktu liat para Polisi berbaris terlebih sambil menyayikan mars yang nampaknya bertemakan semangat juang dalam meneggakkan kebenaran; kemudian saat salah satu Polwan di mobil pengawal mengumumkan mengenai tekad Polisi untuk menjadi menjadi pengayom, pelindung masyarakat, menjadi Polisi yang baik dan aku juga mendengar Polwan tersebut mengucapkan salam sebagaimana umat Islam mengucapkan salam. Alhamdulillah. Memang sudah sepatutnya kita umat manusia menegakkan kebenaran, menegakkan kebenaran di jalan Allah.

Oia dalam posting ini, aku juga ingin menyatakan bahwa para wanita sepatutnya tidak berada di barisan depan, para pria lah yang sepatutnya berada di barisan depan, serta polisi yang berada di mobil pengawal/patwal yang berada di bagian depan sepatutnya adalah para polisi pria.

-> Islam memiliki aturan yang lengkap, bahkan untuk berbaris pun diatur dengan sedemikian rupa.

Sayangnya tadi aku lihat para Polwan masih nampak berpakaian sebagaimana pria, kemudian tidak berjilbab. Dan sayangnya pula tadi aku tidak berani menegur. Walaupun aku tidak dapat bahkan terkadang tidak berani mengingatkan satu per satu orang yang tidak berjilbab, baik yang tidak berjumpa terutama yang bejumpa dengan aku, namun aku tetap berharap para Muslimah memiliki kesadaran pribadi untuk mengenakan jilbab syar'i. Kemudian aku akan tetap mempertanyakan kepada Bapak Kapolri, “Kapankah para Polwan di seluruh Indonesia diperbolehkan mengenakan jilbab/hijab syar'i?”
Oia para Muslimah anggota marching band pun diharapkan dapat mengenakan jilbab/ hijab syar'i.

Anw aku lagi jarang menonton televisi namun pada tanggal 29.06.14 -> 02 Ramadhan 1435 H, di rumah suadara aku, aku membaca koran Radar Sukabumi edisi 26.06.14/ 27 Sya'ban 1435 H. -> Dalam penanggalan yang aku pegang, 26.06.14 = 28 Sya'ban 1435 H. Dalam koran tersebut terdapat pemberitaan mengenai rangkaian kegiatan memperingati HUT POLRI/ hari jadi Bahayangkara. Mungkin kirab yang aku maksud pun terkait hal tersebut. Mengenai hal ini, aku hanya ingin menyatakan bahwa, perayaan hari ulang tahun tidak terdapat dalam ajaran Islam.

Aku berdo'a, semoga Allah mengaruniakan taufiq dan hidayah kepada aku dan para Polisi dan mantan Polisi Muslim untuk bertaqwa kepada Allah, dan semoga Allah memberikan hidayah kepada para Polisi dan mantan Polisi non Muslim untuk masuk dan memeluk Islam. Aamiin.


-> Masih hari ini (27.06.14 -> 29 Sya’ban 1435 H), mohon maaf aku ucapkan kepada berbagai pihak baik Polisi maupun masyarakat pada umumnya karena hari ini ojek yang aku tumpangi melakukan pelanggaran dengan menerobos traffic light saat lampu masih menunjukkan isyarat berhenti. Aku sadar hal ini dapat membahayakan keselamatan banyak pihak. Dengan adanya peristiwa  tersebut, tadi aku meminta pengemudi  ojek yang aku tumpangi  untuk kedepannya tidak menerobos lampu lalu lintas saat lampu merah menyala. Namun demikian aku tetap mengucapkan terima kasih kepada Aa ojek yang sudah bersabar mengantar aku ke beberapa tempat yang aku tuju.




-> Selanjutnya, alhamdulillah, bertemu kembali dengan bulan suci Ramadhan. Aku mengucapkan “Selamat menunaikan ibadah shaum Ramadhan kepada kaum Muslimin.”

Oia aku sempet searching internet, dan berdasarkan berbagai pemberitaan diantaranya VOA Islam, Antara News, blog Al habib info dll, mengacu pada hisab Muhammadiyah, aku dan beberapa anggota keluarga akan memulai shaum Ramadhan pada hari Sabtu, 28 Juni 2014 (01 Ramadhan 1435 H), insya Allah. Sampai saat ini aku bukan anggota atau jamaah Muhammadiyah, namun dalam beberapa tahun belakangan aku shaum mengikuti perhitungan hisab Muhammadiyah untuk pelaksanaan Ramadhan, Idul Fitri begitu pula  Idul Adha. -> Ini lama-lama aku jadi jamaah Muhammadiyah juga.
 
Ada yang menjadi keprihatinan aku dan keluarga terkait pelaksanaan Ramadhan, Idul Fitri maupun Idul Adha, yakni adanya perbedaan di antara kaum Muslimin dalam melaksanakan awal bulan suci dan hari raya tersebut. -> Biasanya aku sedih dan rada-rada emosi jiwa, berikut bosen tiap taun begitu lagi begitu lagi: tidak bersatu, jika umat Islam berbeda dalam menentukan awal bulan suci dan hari raya.

Mengenai pemberitaan penentuan awal Ramadhan 1435 H, aku membaca beberapa berita via internet, salah satunya melalui Republika Online.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/fatwa/14/06/28/n7u3qh-pemerintah-tetapkan-satu-ramadhan-pada-29-juni

Yang ingin aku pertanyakan dari pemberitaan tersebut adalah, jika hilal kurang dari 1 derajat bukankah masih ada kemungkinan bahwa hilal sebenarnya muncul (hanya < 1 derajat) dan dapat saja terlihat?

Aku mengapresiasi sikap pemerintah dan menteri agama yang baru, Lukman Hakim Saifuddin, yang merancang rencana pertemuan rutin ormas Islam untuk penetapan bulan suci guna mencapai persatuan kaum Muslimin. -> Aku pikir, tidak hanya pelaksanaan bulan suci yang musti berbarengan, pelaksanaan hari raya, Idul Fitri dan Idul Adha, pun semestinya bersamaan. Atau lebih tepatnya seperti menurut ketua MUI, Din Syamsudin, yang intinya kedepannya diperlukan dialog intensif antar berbagai ormas Islam untuk memiliki pemikiran dan pandangan yang sejalan dalam membuat penanggalan qomariah (Hijriyah). -> Maksudnya tentunya penanggalan Hijriyah yang sama, seragam.

Aku sempat sedih dan khawatir waktu tau umat Islam kembali berbeda dalam melaksanakan awal Ramadhan, terlebih saat aku mengetahui berdasarkan pemberitaan bahwa mayoritas umat Islam, bahkan Arab Saudi berikut negara-negara Teluk, kemudian  Inggris dan Amerika Serikat dan Kanada bagian selatan, menunaikan awal Ramadhan 1435 H ini pada Ahad, 29.06. 14. Bagi aku, persatuan umat Islam sangat penting, hanya saja bagi Abi aku kebenaran lebih penting, beliau menyatakan hal yang intinya adalah percuma bersatu jika salah. Maksud beliau adalah, beliau -begitupun aku- mengharapkan persatuan dalam kebenaran, persatuan dalam kebenaran di jalan Allah.

Untuk itu, berdasarkan hasil diskusi yang aku lakukan dengan Abi, aku sempat berpikir dan mempertanyakan beberapa hal berikut kepada diri sendiri yang mungkin dapat juga menjadi bahan pemikiran dan perenungan bagi kaum Muslimin umumnya dan pihak-pihak terkait khususnya, pertanyaannya adalah:

Pentingkah penanggalan hijriyah bagi umat Islam? Jika memang penting, sedangkan hisab tidak atau kurang dianggap sah karena harus selalu melakukan rukyat, bagaimana kaum Muslimin membuat penanggalan selama setahun qomariyah? Jika hisab tidak atau kurang dianggap sah bagaiamana kaum Muslimin dapat MEMPERKIRAKAN hari-hari biasa atau bulan suci dan kedua hari raya selama satu tahun untuk membuat penanggalan? Kemudian jika harus selalu menunggu hasil rukyat, berarti kaum Muslimin baru dapat mencetak penanggalan setiap selesai merukyat atau setelah sidang isbat atau bahkan setiap selesai merukyat di setiap bulannya? Dapat dibayangkan jika hisab tidak atau kurang dianggap sah karena harus melihat rukyat terlebih dahulu harus berapa kali kaum Muslimin mencetak almanak/ kalender, mungkin 12 kali dalam setahun atau minimal 3 kali dalam setahun: saat awal Ramdhan, awal Idul Fitri dan Dzulhijjah? Jika hal tersebut terjadi, apakah hal ini tidak dikategorikan dalam pemborosan? Kemudian jika hisab tidak atau kurang dianggap sah karena harus selalu melakukan rukyat, maka kemungkinan besar umat Islam akan sulit memiliki penanggalan/ alamanak terlebih alamanak yang berlaku secara global/ internasional. Kalau umat Islam bikin kalender aja ga bisa, repot, senantiasa berbeda-beda, kapan umat Islam dunia akan bersatu, bersatu dalam kebenaran di jalan Allah?

-> Tentunya hasil hisab antara semua pihak terkait hasilnya haruslah sama.

Mungkin perlu dijelaskan bahwa meskipun umat Islam membuat Persatuan Muslim Dunia tetapi berbeda dalam melaksanakan Ramadhan, Idul Fitri maupun Idul Adha atau salah satu dari hari-hari tersebut, tetap saja umat Islam belum seutuhnya bersatu. Perbedaan pelaksanaan Ramadhan, Idul Fitri maupun Idul Adha atau salah satu dari hari-hari tersebut merupakan tanda utama bahwa umat Islam belum bersatu.

Oia ada pula pertanyaan yang diajukan oleh Abi aku untuk ormas Muhammadiyah, inti pertanyaanya adalah mengapakah Ramadhan tahun lalu berlangsung selama 30 hari dan Ramadhan tahun ini pun jika Idul Fitri menurut perhitungan Muhammadiyah jatuh pada tanggal 28 Juli 2014, maka akan berlangsung 30 hari? Padahal sunnah pada masa Rasulullah masa shaum itu dominan ganjil, 29 hari. Saran dari Abi aku yang merupakan jama'ah Muhammadiyah adalah seyogiayanya ormas Muhammadiyah lebih teliti dan berhati-hati dalam melakukan perhitungan kalender qomariyah, termasuk dalam menentukan awal Ramadhan dan awal Idul Fitri serta waktu Idul Adha.

Berdasarkan pemberitaan, nampaknya sidang isbat kali ini lebih baik dari sidang-sidang sebelumnya, proses diskusi yang biasanya memuat debat alot tidak ditayangkan. Alhamdulillah. Namun demikian, aku berharap semoga kedepannya tidak perlu ada sidang isbat.

Di bulan suci Ramdhan ini aku bermaksud memohon maaf kepada kaum Muslimin atas perilaku yang tidak berkenan seperti, aku cemberut dan manyun saat bete atau kesal, menggunjing, membuat beberapa kekeliruan di tulisan aku namun belum aku perbaiki, mungkin ada janji yang belum tertunaikan, atau perilaku tidak baik lainnya. Mudah-mudahan Allah mengganti akhlak buruk aku dengan akhlak terpuji, semoga aku dapat bersabar, tidak lekas marah, walaupun marah, marah di jalan Allah. Aamiin.

‘Ya Allah, bagaimanakah caranya agar aku dan kaum Muslimin Indonesia cerdas dan bertaqwa kepada Allah?’ 

Sources:

http://ramadan.liputan6.com/read/2070252/obama-ucapkan-selamat-ramadan-kepada-muslim-sedunia

http://www.republika.co.id/berita/ramadhan/puasa-mancanegara/14/06/29/n7xdt9-pm-inggris-selamat-berpuasa-bagi-muslim-di-seluruh-dunia

Mohon maaf untuk beberapa sumber yang tidak aku cantumkan di tulisan ini.

-> To Mr. Obama and Mr Cameron: Thank you for the attention. Moreover I want to ask an important question to Mr. Obama and Mr. Cameron also to all the people of England and USA who are not Moslems, the question is: "Would you all guys like to be Moslems?" Semoga Allah mengarunikan hidayah-Nya kepada Barrack Obama dan David Cameron beserta keluarga serta para non Muslim Inggris dan Amerika untuk masuk dan memeluk Islam. Aamiin.

Semoga Allah mengarunikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kaum Muslimin untuk bertaqwa kepada Allah. Mudah-mudahan Allah mempersatukan kaum Muslimin dalam kebenaran di jalan Allah, semoga Allah meridhai kaum Muslimin di dunia dan di akhirat. Aamiin.

Catatan:

938. Dari Abdullah r.a., katanya Rasulullah saw. bersabda: “Sebulan itu ada dua puluh sembilan malam. Maka janganlah kamu puasa sebelum melihatnya (bulan). Jika (bulan) itu tertutup atasmu, cukupkanlah tiga puluh. Sahih Bukhari II : 215

937. Dari Abdullah r.a., katanya Rasulullah saw. pernah berbicara perihal Ramadhan: Sabda beliau: “Janganlah kamu puasa sehingga kamu melihat bulan, dan janganlah kamu berbuka sehingga kamu melihatnya. Maka jika bulan itu tertutup di atasmu, kira-kirakanlah bilangannya (buat lah perhitungan hari baginya).” Sahih Bukhari II : 215

Terjemah hadits di atas adalah terjemah hadits mengenai rukyat dan hisab. Kaum Muslimin mengenal rukyat terlebih dahulu, kemudian setelah banyak diantara kaum Muslimin yang telah dapat berhitung dikenalah hisab.

Sebagai informasi, pada 01.07.14 -> 04 Ramadhan 1435 H, Abi aku memberitahukan informasi yang intinya bahwa negara Eropa menunaikan shaum pertama 01 Ramadhan 1435 H pada hari Sabtu 28.06.14. Aku merasa sedikit lega saat mengetahui bahwa ada umat Islam yang juga mengawali shaum pada hari tersebut, alhamdulillah. Hanya saja, aku belum dapat sepenuhnya merasa lega selama umat Islam seluruh dunia belum bersatu dalam melaksanakan Ramadhan, Idul Fitri maupun Idul Adha. Berikut link artikel yang intinya mengenai awal puasa negara Eropa yang memuat pendapat ECFR mengenai perlunya menggunakan perhitungan astronomi serta artikel yang intinya mengenai upaya penulis Agus Mustofa memperkenalkan astrofotografi sebagai upaya untuk menyatukan kaum Muslimin dalam penentuan Ramadhan. Semoga umat Islam bersatu dalam kebenaran di jalan Allah. Aamiin.

http://ramadan.tempo.co/read/news/2014/06/27/151588474/Negara-Eropa-Puasa-Hari-Pertama-pada-Sabtu

http://www.tempo.co/read/news/2014/04/26/061573320/Penentuan-Puasa-Berbeda-Solusinya-Astrofotografi

Pada tulisan aku yang lainnya mengenai bulan Ramadhan aku pernah menuliskan hal sebagai berikut:



"Sudah merupakan takdir Allah bahwa negara-negara yang mudah/ dapat pertama kali melihat hilal adalah negara yang penduduknya merupakan pemeluk Islam terbesar di dunia yaitu Indonesia serta negara pusat Islam dunia, Arab Saudi.

Adanya satu sistem kalender Islam dimungkinkan bila penentuan Ramadhan dan hari-hari besar Islam (Idul Fitri dan Idul Adha) waktunya ditetapkan mengacu ke Arab Saudi (Kota Mekkah atau Madinah)."
 

Hanya saja setelah membaca artikel di atas, serta berbagai informasi yang aku dapat, aku bermaksud  menyatakan bahwa, tak hanya di Indonesia dan Arab Saudi sebagai negara dengan umat Islam terbesar di dunia, di berbagai belahan dunia ini terdapat tempat-tempat lain yang memungkinkan untuk proses rukyat, yang hasil rukyat tersebut dapat saja berlaku secara global. Kemudian, sejak lama terlebih setelah membaca salah satu artikel di atas, aku berpikir bahwa penggunaan teknologi dapat dilakukan dalam proses rukyat disamping proses rukyat secara manual / menggunakan mata telanjang.

Terkait tempat rukyat, aku tetap berusaha menyatakan kebenaran mengenai hal tersebut, sedikit keterangan terkait tempat rukyat menurut ulama, berikut keterangannya:

"Ulama Madinah meriwayatkan dari Malik berita bahwa di wilayah lain ada orang melihat bulan tidak bisa dijadikan dasar penetapan, kecuali jika berita tersebut dibuat oleh orang yang diutus oleh penguasa atau tokoh agama. Ibnu Majisyun dan Al-Mughirah (pengikut Malik) memilih pendapat ini. 


Ijma’ ulama menetapkan bahwa bulan yang terlihat di wilayah lain yang jauh tidak bisa dijadikan dasar penetapan tanggal, seperti antara Spanol dan Hijaz." Bidayatul Mujtahid 2: Hal 89.

Mengenai pendapat di atas, jumhur ulama menetapkan bahwa wilayah yang berjauhan tidak dapat dijadikan dasar untuk penetapan tanggal, namun menurut hemat aku, untuk persatuan umat Islam, aku sepakat dengan pendapat ulama Madinah dan imam Malik mengenai kemungkinan bolehnya penetapan tanggal meskipun wilayahnya berjauhan selama atas perintah penguasa atau tokoh agama.

Namun demikian, menurut pendapat aku, guna tercapainya persatuan umat Islam seluruh dunia sudah sepatutnya hisab diutamakan, hisab dilakukan untuk pembuatan almanak Hijriyah yang penanggalannya seragam dan berlaku secara internasional. Jika kaum Muslimin seluruh dunia telah menyepakati penggunaan almanak Hijriyah yang sama, tentunya kaum Muslimin wajib istiqomah untuk menggunakan penanggalan yang telah disepakati kaum Muslimin di seluruh dunia setiap tahunnya.

Menurut pendapat aku, apabila terdapat alamak yang sudah disepakati oleh kaum Muslimin seluruh dunia, baiknya jika untuk pengumuman resmi awal Ramadhan dan Idul Fitri, juga pengumuman pelaksanaan Idul Adha (setelah wukuf di Arafah) dilakukan oleh pemerintah Islam/ khilafah Islam yang sepatutnya berada di Arab (Makkah) yang disiarkan ke seluruh penjuru dunia. Semoga kaum Muslimin bersatu dalam kebenaran di jalan Allah. Aamiin. Semoga Allah meridhai kaum Muslimin di dunia dan di akhirat. Aamiin.



Assalamu’alaikum..

Berikut share terkait rukyat dan hisab untuk komen di jejaring sosial Facebook:

Permisi, share:

http://nasional.kompas.com/read/2015/07/07/17424021/PP.Muhammadiyah.Tetapkan.Idul.Fitri.17.Juli


http://www.viva.co.id/ramadhan2015/news/read/647834/muhammadiyah--idul-fitri-17-juli-2015 -> Diakses tgl 09.07.2015 ( 22 Ramadhan 1436 H)
http://jizuna.blogspot.com/2012/05/makalah-hisab.html -> Diakses tgl 09.07.2015 ( 22 Ramadhan 1436 H)








Terkait hisab dan rukyat (setelah beberapa tahun belakangan berdiskusi dengan Abi dan membaca beberapa literatur):


Mengenai rukyat, selama terdapat SEORANG pelapor/ saksi, akan lebih baik  jika ada saksi lainnya (dimanapun ia/ mereka) berada lalu atas kesaksian tersebut ia/mereka bersedia disumpah dengan nama Allah maka pemimpin umat Islam dunia, KHALIFAH ISLAM, dapat menetapkan awal Ramadhan dan Syawal secara serempak untuk kaum Muslimin di seluruh dunia. Sedangkan apabila BULAN TERTUTUP AWAN maka pergunakanlah hasil HISAB yang telah ada/ telah ditetapkan. Khalifah Islam menetapkan awal Ramadhan dan Syawal secara serempak untuk kaum Muslimin di seluruh dunia. Khalifah Islam juga yang menetapkan almanak Hijriyah untuk kaum Muslimin di seluruh dunia (almanak hijriyah internasional).


->Pusat KHILAFAH ISLAMIYYAH baiknya terletak di kota MAKKAH.


Semoga Allah mengaruniakan kepada para non Muslim terkait artikel/artikel2 di atas dan seluruh non Muslim hidayah iman Islam. Semoga Allah mengaruniakan kepada Muslimin terkait artikel/artikel2 di atas dan kaum Muslimin hidayah untuk bertaqwa.


Semoga Allah menegakkan kalimat tauhid di muka bumi ini, kemudian semoga Allah menegakkan syariat Islam di muka bumi ini. Semoga Allah meridhai kaum Muslimin di dunia dan di akhirat. Aamiin.


Wallahu’alam.

09.07.2015 -> 22 Ramadhan 1436 H

Wallahu’alam bi showab.

27.06.14 sore -> 01 Ramadhan 1435 H
Revisi:
272830.06.14 -> 0103 Ramadhan 1435 H
01020413141517.07.14 -> 0508171921 Ramadhan 1435 H   
09.07.2015 -> 22 Ramadhan 1436 H

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.


0 komentar: