The Message To Mr. Komjen Pol. Purn. Ahwil Lutan SH, MBA, MM. and Mrs. Kemala Anggraini Ahwil


Posting dengan judul "The Message To Mr. Komjen Pol. Purn. Ahwil Lutan SH, MBA, MM. and Mrs. Kemala Anggraini Ahwil" ini merupakan isi message yang aku kirim via jejaring sosial untuk profil Fb atas nama Bapak Ahwil Lutan dan Ibu Kemala Anggraini Ahwil, surat ini terkait kasus narkotika yang melibatkan salah satu aktor Indonesia, juga terkait pembahasan hukuman sesuai syariat Islam untuk kasus tersebut. Berikut isi suratnya:

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum wr. wb.

Ua Ahwil, Ua Dini dan keluarga apa kabar? Aku Nyi Raden Siti Rohana (Hana)/ Siti Ruhana binti R. Muhammad Syarif Hidayat D. Aku cucu dari alm. Mayjen Pol. Purn. Husein Djajadiningrat dan almh. Lily Waliyah; serta aku keponakan dari alm. Brigjen Pol. Drs. Hendy dan Dra. R. Siti Fatimah (Tintin). Uncle and auntie, I am afraid that I’ve never met both of you and your family. Sejauh ini, alhamdulillah, Na sudah beberapa kali bertemu keluarga Ua alm. Irjen Pol. Purn. Firman Gani dan Ua Fifi S. Kaboel, sayang Na sepertinya belum sempat bertemu keluarga Ua Ahwil. Semoga suatu saat nanti, Allah mempertemukan Na dengan Ua Ahwil, Ua Dini dan keluarga.

Ua Ahwil dan Ua Dini, maafin Na tiba-tiba menghubungi Ua kemudian curhat dan bermaksud meminta bantuan terkait pemberitaan mengenai kasus narkotika yang melibatkan aktor Indonesia bernama Tjie Wei Kuang/ Roger Danuarta. Na pernah bertemu dia dalam sebuah kegiatan pembuatan sinetron, dan meskipun kami beda agama, Na rasa Na pernah mencintai dia. Saat ini, Na mungkin sudah mencintai orang lain namun Na masih sayang sama Roger, dalam artian Na masih peduli dan prihatin atas apa yang dia alami. Melalui pesan ini, yang ingin Na pertanyakan adalah terkait pemberitaan, terutama pemberitaan yang Na dapatkan melalui internet, mengenai hasil persidangan untuk kasus yang melibatkan Roger, yakni mengenai masa hukuman serta mengenai penolakan permohonan rehabilitasi yang diajukan oleh pihak Roger.

Pertama, mengenai lamanya masa hukuman, berdasarkan pemberitaan, terdakwa dapat dijatuhi hukuman sekitar 4 tahun penjara. Menurut hemat Na, hukuman 4 th – 12 th penjara bagi pengguna/ pengkonsumsi narkoba adalah terlalu lama karena sepengetahuan Na, berdasarkan hukum Islam, pengkonsumsi khamr (termasuk narkoba) dihukum dengan hukum cambuk/ dera sebanyak 40-80 kali dera. Na pikir, hukuman cambuk tidak akan menghabiskan waktu hingga bertahun-tahun, mungkin hanya menghabiskan waktu dalam hitungan jam. Berikut terjemahan hadits mengenai hukum cambuk/ dera:

1805. Dari Saib bin Yazid r.a. katanya: Di masa Rasulullah saw. Dibawa kepada kami orang yang meminum minuman yang memabuk dan di masa pemerintahan Abu Bakar dan permulaan pemerintahan Umar. Kami berdiri memukul orang itu dengan tangan, terompah dan mantel kami. Tetapi di akhir pemerintahan Umar, dipukulnya orang minum itu empat puluh kali. Dan setelah melampaui batas dan bertambah jahatnya dipukulnya delapan puluh kali. Sahih Bukhari IV Hal. 94.

Selanjutnya, mengenai penolakan permohonan rehabilitasi, berdasarkan pemberitaan, alasan penolakan tersebut adalah karena hakim khawatir akan terganggunya persidangan akibat jauhnya jarak antara tempat persidangan di Jakata Timur dengan Lido sebagai tempat rehabilitasi. Yang ingin Na tanyakan adalah, benarkah jika majelis hakim memberikan putusan penolakan terhadap permohonan rehabilitasi yang diajaukan oleh seorang (non Muslim) terdakwa kasus narkotika, padahal –berdasarkan pemberitaan- kondisi kesehatan terdakwa di bawah normal (dalam keadaan tidak baik) sebagai efek dari narkoba yang ia gunakan?

Sumber: Tempo.co; Liputan6. Com; KapanLagi.com; tabloidbintang.com.

Menurut pendapat Na, daripada diperlakukan tidak semestinya, seperti berlama-lama ditahan di penjara serta proses rehabilitasi dipersulit, bila terdakwa kasus penggunaan narkotika merupakan seorang pria Yahudi atau Nasrani, lebih baik dihukum sesuai Al kitab: Imamat 10: 9-10; Ulangan 21: 20-21. Hanya saja, yang Na harapkan adalah bukan pada hukuman yang tertera dalam ayat Al kitab tersebut, hukum mati,  tetapi lebih kepada upaya kaum Muslimin dalam mengajak/ menyeru mereka untuk masuk dan memeluk Islam, karena jika seorang non Muslim yang bersedia untuk masuk dan memeluk Islam, maka ia dapat dibebaskan dari hukuman atas –semua- kesalahannya. Atau bila seruan ke dalam Islam bagi para non Muslim yang melakukan pelanggaran tidak berjalan sesuai harapan, minimal dapat diberlakukan hukuman sesuai syariat Islam.

Khususnya kepada Ua Ahwil, Na mohon penjelasan, nasihat dan bantuan dari Ua Ahwil terkait hal yang telah Na sampaikan. Mohon koreksi bila terdapat pendapat Na yang keliru, terutama pendapat yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Na sangat berharap tegaknya hukum yang adil sesuai syariat Islam.

[Ua Ahwil dan Ua Dini, Na sempet khawatir pemberitaan terkait kasus narkotika yang melibatkan aktor yang Na maksud, dipolitisir oleh pihak-pihak tertentu. Hal lain terkait pemberitaan tersebut adalah, saat Na mengetahui pemberitaan kasus tersebut, terutama ketika awal-awal, sempat membuat Na berulang kali menangis hingga Na sempat beberapa hari sakit demam. Astaghfirullahaladzim. Sementara itu saat Na masih concern pada pemberitaan kasus narkotika tersebut, pada tanggal 05 April 2014 (05 Jumadil Akhir 1435 H) di rak di tempat penyimpanan barang-barang, di rumah keluarga di Sukabumi, Na menemukan buku “TAKTIK DAN TEHNIK PENYIDIKAN KEJAHATAN NARKOTIKA/ DRUG ENFORCEMENT HANBOOK” DEA-USA, DITERJEMAHKAN OLEH MR/MRS AHWIL LUTAN DIBANTU KAMSI. Di dalam buku tersebut terdapat sepucuk surat dari Ua Ahwil yang ditujukan kepada Ua Hendy terkait buku tersebut. Foto buku dan surat terlampir:

 


Ket: Foto surat diedit, diblur pada bagian cap.
Saat menemukan buku tersebut, entah kenapa tiba-tiba terpikir bahwa mungkin suatu saat Na harus menghubungi Ua Ahwil terkait kasus yang telah Na ceritakan. Ua maafin Na udah baca buku di atas yang terbatas untuk kepentingan POLRI beserta Na baca isi surat yang pernah Ua Ahwil kirim ke Ua Hendy terkait buku tersebut. Na sudah meminta izin untuk membaca buku tersebut kepada keluarga alm. Ua Hendy, alhamdulillah, diizinkan.



Oia Ua Ahwil dan Ua Dini, suatu kali, sudah cukup lama, Na pernah membaca buku yang sepertinya buku tersebut diberikan oleh Ua Ahwil kepada Ua Hendy. Dulu, Na belum terlalu memahami isi buku tersebut. Belakangan Na melihat ulang buku tersebut, nampak di bagian dalam buku tersebut terdapat sedikit memo berupa tulisan tangan yang tulisannya: “Kepada KBP. Drs. Hendi”, dilengkapi tanda tangan Ua Ahwil. Buku tersebut, semacam mini biografi, yang berisi kumpulan catatan harian Ua Ahwil ketika bertugas sebagai duta besar RI untuk Mexico, Honduras, Costa Rica dan Panama.

Hanya saja, terkait narkotika, Na baru benar-benar ngeh bahwa Ua Ahwil memiliki spesialisasi terkait penanganan kasus narkotika setelah Na membaca buku  yang fotonya tercantum dalam pesan ini; serta setelah Na check profil Facebook atas nama Ua Ahwil; juga setelah Googling mengenai profil Ua Ahwil. Beberapa hari lalu, saat searching di internet, Na sempat membaca ulang (secara skimming) posting isi buku “Dari Trunojoyo 3 ke Calle Julio Verne 27” via sebuah blog, hendrarp.blogspot.com. Saat itu barulah Na menyadari bahwa dalam buku tersebut terdapat sekilas informasi terkait narkotika, terlebih buku tersebut sarat informasi bermanfaat, khususnya informasi mengenai sejarah, politik, ekonomi dan budaya yang terdapat di Indonesia dan di beberapa wilayah di Amerika Tengah.



->Semoga informasi yang ada dapat digunakan oleh kaum Muslimin khususnya dalam upaya terkait syiar Islam.
 

Na berusaha untuk berkomunikasi dengan Ua Ahwil terkait permasalahan narkotika dan hukum khususnya terkait hukum Islam setelah sedikit mengetahui rekam jejak Ua Ahwil, setelah ngeh bahwa Ua Ahwil memiliki spesialisasi dalam bidang penanganan narkotika juga setelah Na menyadari adanya gelar SH yang mengikuti nama Ua Ahwil. Na berharap dapat mendiskusikan hal yang beberapa waktu ini cukup menjadi bahan pemikiran Na, khususnya terkait hukum Islam.

Ua Ahwil dan Ua Dini, Na sangat berharap bahwa hukum yang adil sesuai syariat Islam -termasuk untuk kasus khamr (juga narkotika)- dapat ditegakkan. Mudah-mudahan Allah menegakkan syariat Islam di muka bumi ini. Semoga Allah meridhai kaum Muslimin di dunia dan di akhirat. Aamiin.]

Ua Ahwil dan Ua Dini, sebelumnya Na bermaksud memohon maaf karena message ini akan Na publikasikan. Na juga memohon maaf kepada semua keluarga maupun keluarga dari keluarga Na yang namanya tercantum di message ini, sementara Na tidak meminta izin atas pencantuman nama anggota keluarga (saudara-saudara) Na tersebut. Na mohon izin dan pengertiannya. Syukron..
Sekian pesan dari Na, Na ucapkan terima kasih atas perhatian Ua Ahwil dan Ua Dini. Salam baktos untuk putra, putri serta cucu Ua Ahwil. Semoga Allah senantiasa melindungi, memberkahi dan merahmati Ua Ahwil dan keluarga. Aamiin.

Wallahu’alam.

Wassalamu’alaikum wr. wb.
Nyi Raden Siti Rohana (Hana)/
Siti Ruhana Binti R. Muhammad Syarif Hidayat D.




 

0 komentar: