Marhaban Ya Ramadhan - Ied Mubarak


Sidang Itsbat: Ramadhan


Mengenai menonton sidang itsbat penentuan awal Ramadhan. Awalnya aku enggan nonton sidang itsbat, karena aku yakin untuk selalu bershaum dan berlebaran berkiblat ke kota Makkah, insya Allah. -> Untuk tahun ini (1434 H) pernyataan aku perlu dikaji ulang. Terlebih aku khawatir aku jadi emosi jiwa dan mengeluarkan komen aneh atau sembarangan. Tapi ternyata aku tetep nonton sidang tersebut di tv one karena penasaran terlebih Abi aku memerintahkan aku untuk nonton serta mempelajari dan menganalisis pernyataan yang diucapkan oleh para ulama, terutama para ulama dari perwakilan ormas. Walaupun sidang tersebut tidak ditayangkan secara penuh, dipotong-potong, tapi tetap ada hal yang menjadi catatan bagi aku, pertama siding itsbat kali ini berlangsung lebih tertib dibanding sidang sebelumnya. Alhamdulillah. -> Namun demikian, menurut Abi dan aku, bagusnya lain kali ga perlu ada sidang itsbat –juga pemantauan hilal- di banyak titik seperti  saat ini dan beberapa tahun ke belakang untuk lebih menghemat waktu, tenaga dan biaya. -> Biayanya lebih baik disedekahkan ke pada anak yatim piatu dan fakir miskin. Indonesia hanya perlu mengikuti pengumuman kerajaan Arab Saudi atau menunggu pengumuman dari Makkah. Semoga keputusan dari Makkah dibuat dengan ketaqwaan kepada Allah.

Catatan lain, saat menonton siaran tersebut, ada saat dimana Abi aku bilang yang intinya perhatikan kata SEBAGIAN pada saat salah alim yang menyatakan pendapatnya. Dari pernyataan alim tersebut aku menarik simpulan bahwa hilal tidak terlihat di sebagian wilayah Indonesia, berarti di sebagian wilayah Indonesia yang lainnya hilal sudah bisa terlihat. Menurut Abi aku, dengan demikian, jika pada tanggal 08 Juli 2013 petang (memasuki 01 Ramadhan 1434 H) di sebagian wilayah Indonesia hilal sudah terlihat, sepatutnya para ulama dan pemerintah tidak membuat keputusan bagi sebagian apalagi seluruh wilayah Indonesia untuk melaksanakan shaum pada hari Rabu, 10 Juli 2013. Malah seharusnya pemerintah menetapkan bahwa  awal Ramadhan jatuh pada Selasa, 09 Juli 1434 H. Ada pula alim yang sepengetahuan aku, ia menyatakan pernyataan yang bijaksana dengan menyarankan pemerintah untuk mempertimbangkan perhitungan hisab yang dilakukan pihak tertentu juga mempertimbangkan hasil rukyat di Cakung, sedangkan untuk pernyataan menyerahkan pada pemerintah, saran aku adalah menyerahkan hal ini pada pemerintah jika pemerintahnya berada dalam kebenaran sesuai syariat Islam. Kemudian saran baik lainnya yang disampaikan peserta sidang itsbat adalah untuk lebih memperhatikan penduduk yang tinggal di bagian timur Indonesia.

Abi aku memberi warning kepada para ulama khususnya ulama NU untuk berhati-hati bahwa jika melaksanakan shaum berbeda dengan kota Makkah (selama beberapa tahun ke belakang) atau berbeda dengan hasil hisab Muhamaddiyah atau hasil rukyat di Cakung, suatu saat dikhawatirkan banyak Muslim yang melaksanakan shaum di saat hilal sudah terlalu tinggi wich means telat. Kemudian Abi juga menyarankan pihak terkait untuk mengkaji ulang dan menganalisis kembali rukyat di Cakung. -> Metode rukyat apa yang digunakan di Cakung sehingga dapat menghasilkan laporan pengamatan yang berbeda dengan laporan pengamatan di banyak tempat di Indonesia; serta mengapa hasil rukyat di Cakung selalu sesuai dengan hasil hisab misalnya hasil hisab yang dilakukan Muhammadiyah serta -beberapa tahun ke belakang- dapat menyesuaikan hasil hisab dan rukyat di kota Makkah.

[Abi aku pernah menempuh pendidikan di jurusan fisika Universitas Padjadjaran walaupun tidak sampai selesai karena beliau memiliki minat yang tidak terlalu besar dalam pendidikan formal. Namun demikian beliau masih memiliki ketertarikan pada ilmu fisika.]

Menurut Abi aku, imkanur rukyat yang mengenakan hitungan derajat tertentu baiknya tidak digunakan jika hanya memecah belah umat. Aku sependapat dengan Abi aku, aku berharap kaum Muslimin bersatu di jalan Allah.Aku berharap umat Islam Indonesia dan kaum Muslimin seluruhnya tidak menutup mata dan tidak berdiam diri atau pasrah saja dengan keadaan terpecah belahnya umat dalam menentutakan Ramadhan dan Idul Fitri. Aku teringat ayat Al Qur'an yang intinya, jika terjadi perselisihan maka kembalikan kepada Al Qur'an dan As Sunnah, untuk itu aku ingin bertanya adakah ayat Al qur'an atau dalil Al hadits mengenai hilal baru dianggap ada setelah ketinggian 2 derajat?
 

Kemudian walaupun hilal di bawah dua derajat, namun  satelit dapat memindai akan adanya hilal, baiknya hal ini dijadikan pertimbangan untuk menetapkan Ramadhan dan Idul Fitri. Semoga MUI menetapkan fatwa akan sahnya memindai hilal dengan menggunakan satelit sehingga shaum maupun Idul Fitri tidak ditunda-tunda apabila hilal sudah terlihat melalui satelit. Pertimbangkan pula akan adanya orang-orang "bermata satelit", maksudnya adalah orang yang diberi kelebihan oleh Allah untuk dapat melihat hilal walaupun masih di bawah 2 derajat.

Oia aku sempet bilang sama adik aku sesuatu yang intinya kurang lebih “Kalo sekarang (08.07.13 -> 29 Sya’ban 1434 H – 01 Ramadhan 1434 H) di Cakung ada yang liat hilal terus menteri agama masih ngumumin awal puasa hari Rabu, jigana kudu dipaehan eta menteri agama.” -> Again, seperti tahun sebelumnya, di rumah, aku bikin komentar yang ditujukan kepada menteri agama. Berhubung aku ngerasa tindakan protes aku tersebut tidak tepat karena sepertinya aku musti membuat pernyataan dengan bahasa yang lebih sopan, dengan demikian lagi-lagi aku meminta maaf khususnya kepada menteri agama: Pa Suryadharma Ali, jangan bosen maafin aku ya. Oia Pa menteri, menurut aku, bagusnya nama Bapak diganti menjadi Muhammad Ali, atau Abdullah Ali atau Abdurrahman Ali. Aku dan keluarga juga meminta maaf kepada para staff kementrian agama dan para ulama yang menghadiri sidang itsbat, para ulama di tempat rukyat serta para peneliti yang terkait rukyat untuk penetapan 01 Ramadhan 1434 H. Namun, demikian aku tetap berharap umat Islam bersatu dalam menentukan Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha, berkiblat ke kota Makkah di jalan Allah.

Anw aku mendapatkan informasi dari tv one bahwa Indonesia dan Malaysia menetapkan bahwa Rabu, 10 Juli 2013 sebagai 01 Ramadhan 1434 H. While aku juga mendapat berita dari RCTI, METRO TV dan tv one bahwa negara Amerika, Jerman dan Palestina menetapkan bahwa Selasa, 09 Juli 2013 sebagai  01 Ramadhan 1434 H. -> Banyak Muslim yang memulai shaum Ramadhan di hari Selasa, jadi aku ga perlu merasa guilty untuk lebih menyetujui orang-orang yang memulai shaum pada hari Selasa. 

FYI, Umi dan adik perempuan aku insya Allah akan shaum pada hari Rabu, 10 Juli 2013 (1 Ramadhan 1434 H). -> Ikut pemerintah. Sementara ayah dan adik laki-laki aku sudah memulai shaum pada hari ini, Selasa, 09 Juli 2013 ( 1 Ramadhan 1434 H), alhamdulillah. -> Ikut Muhammadiyah. Sedangkan aku –jika Allah masih memberikan umur, kesehatan dan kesempatan-  mungkin akan shaum Ramadhan minggu depan, insya Allah. -> Berhubung sedang haid, menstruasi atau datang bulan (mulai 08.07.13 -> 29 Sya’ban 1434 H), jadi aku ikut hukum Allah yang ditetapkan untuk diri aku. Meskipun tahun ini –juga tahun lalu-, entah kedepannya, aku tidak dapat shaum di awal Ramadhan namun demikian aku yakin bahwa awal shaum Ramadhan dimulai pada hari Selasa, 09 Juli 2013 (01 Ramadhan 1434 H).

[Aku sempet merasa aneh karena selama dua tahun berturut-turut  (1433 H dan 1434 H) aku ga pernah shaum Ramadhan di awal-awal atau minggu pertama Ramadhan karena aku mengalami haid yang sering disebut banyak orang sebagai datang bulan. berdasarkan catatan diary aku, pada Ramadhan 1433 H aku mengalami datang bulan pada hari Kamis, 19 Juli 2012 atau 29 Sya’ban 1433 H di hari munculnya bulan baru, bulan Ramadhan, berdasarkan hisab dan rukyat di daerah tertentu seperti di Makkah dan Cakung. Kemudian pada tahun ini aku mengalami datang bulan pada hari Senin, 08 Juli 2013 atau 29 Sya’ban 1434 H di hari munculnya bulan baru, bulan Ramadhan, berdasarkan perkiraan NASA* mengenai munculnya bulan baru pada 08 Juli 2013. Dulu aku percaya dengan adanya kebetulan, sekarang aku bukan orang yang percaya dengan kebetulan karena aku meyakini bahwa semua sudah ditakdirkan oleh Allah.

*Aku denger Abi aku bilang yang intinya berdasarkan berita, menurut NASA bulan baru diperkirakan muncul pada 08 Juli 2013. Terlebih bertepatan dengan hari munculnya bulan baru, bulan Ramadhan, berdasarkan hisab dari pihak tertentu seperti  Muhammadiayah dan rukyat di daerah tertentu seperti di Cakung. -> Untuk di Makkah, berdasarkan informasi yang aku dapet, tahun ini (1434 H) penanggalan Umul Quro di Makkah tidak jelas, -awal hari- 01 Ramadhan 1434 H jatuh pada 09 Juli 2013 atau 10 Juli 2013. How come?]



[Sekedar Informasi:

Actually aku berpikir, mungkin ada beberapa latar belakang di bawah ini yang membuat Abi aku -sampai syawal 1434 H ini- cenderung pada Muhammadiyah sementara Umi aku cenderung pada pemerintah serta warga nahdiyin.

Abi aku sekolah TK di TK milik Polisi. Sementara sekolah SD di sekolah milik Polisi, lalu karena pindah domisili bersama orang tua maka Abi pindah ke SD swasta -> Katholik, kemudian kembali pindah domisili dan  Abi sekolah di SD negeri. Berlanjut ke SMP negeri. Lalu SMU di SMU swasta -> Katholik. Selanjutnya, kuliah di Perguruan Tinggi negeri, namun Abi tidak menyelesaikan kuliahnya. -> Like father like daughter. Abi pernah bekerja, mengajar, di beberapa sekolah negeri kemudian selama beberapa tahun mengajar di sekolah swasta -> Muhammadiyah. Sampai syawal 1434 H: Secara personal Abi tetap bergerak di bidang pendidikan informal, dan sebagai warga negara Abi turut membantu salah satu program pemerintah dalam bidang pendidikan non-formal. 

Umi aku awalnya sekolah SD di SD negeri, kemudian pindah ke SD swasta -> Muhammadiyah. Kemudian SMP di SMP negeri, lalu karena pindah domisili maka sekolah Umi pun pindah ke Madrasah Tsanawiyah sekaligus pesantren swasta ->NU. Sementara SMU di Madrasah Aliyah sekligus pesantren swasta -> NU, namun tidak sampai selesai. Umi aku mendapatkan surat kelulusan SMU melalui program pemerintah. Selanjutnya kuliah di  Sekolah Tinggi Agama Islam swasta -> NU namun tidak sampai selesai, kemudian berpindah ke Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan negeri, seperti halnya aku, Umi tidak menyelesaikan kuliahnya di saat pembuatan skripsi. Umi aku pernah bekerja, mengajar, di beberapa sekolah negeri. Sampai syawal 1434 H ini, Umi aku masih bekerja sebagai pegawai pemerintah di sekolah negeri.]

Ada yang perlu digarisbawahi dalam penentuan awal Ramadhan tahun ini (1434 H), perhitungan hisab Muhammadiyah Indonesia yang biasanya sama dengan perhitungan penanggalan ummul quro Arab Saudi, ternyata tahun ini berbeda, berdasarkan informasi yang aku dapat dari saudara aku yang menyaksikan berita di televisi, Makkah (Arab Saudi) memulai Ramadhan pada hari Rabu, 10 Juli 2013 sama dengan keputusan pemerintah Indonesia, Malaysia, Filipina dan negara-negara teluk. Abi dan aku mengira penanggalan Muhammadiyah Indonesia akan selalu sama atau minimal disinergikan dengan penanggalan Umul Quro Arab Saudi yang penduduknya banyak yang merupakan kaum Muwahidun atau ada pula yang menyebut mereka kaum Muhammadiyah Arab. -> Kaum yang mempelajari  ajaran Imam Abdul Wahab. Hal ini sempat membuat Abi aku dan aku heran bahkan mencurigai bahwa ada sesuatu yang janggal, adanya penghianatan dan ketidaksetiaan. 

Namun aku dan Abi juga sempat berpikir bahwa dengan dituliskannya tanggal 09 Juli 2013 sebagai awal Ramadhan di dalam kalender Matla Saudi, kami berpikir Arab Saudi tetap melindungi umat Islam yang menunaikan puasa pada hari tersebut. Syukron. 

Akhirnya aku dan Abi Googling pada tanggal 09 Juli 2013 malam (02 Ramadhan 1434 H), kemudian kami menemukan informasi dari http://saudagarmuslim.co.id, aku  menemukan informasi bahwa dalam penanggalan Arab Saudi/ Ummul Quro atau Matla Saudi awal Ramadhan jatuh pada 09 Juli 2013 atau 10 Juli 2013. Berikut kutipannya:

"E. UMMUL QURO (MATLA SAUDI) :
1 Romadlon 1434 = Selasa,9 Juli 2013 atau Rabu, 10 Juli 2013
1 Syawal 1434 = Kamis, 8 Agustus 2013"

Aku dan Abi heran bagaimana hal ini dapat terjadi? Bagaimana bisa -awal hari- 01 Ramadhan 1434 H terjadi dalam dua hari yang berbeda dalam satu penanggalan? Ketika mengetahui kejanggalan tersebut, ada saat aku reflex mengeluarkan komentar berikut: “Dasar Arab Saudi kurang ajar!” -> Astagfirullah, kenapa aku komen begini ya? Kan jadi musti minta maaf sama orang-orang / pemerintah Arab Saudi. Muslim of Saudi Arabia, please forgive me, afwan.

(Saat itu aku coba akses source asalnya: http://pakarfisika.wordpress.com namun saat itu alamat tersebut tidak dapat diakses).

Selain bersama keluarga dan saudara aku, aku juga sempat berbincang mengenai penentuan awal Ramadhan bersama beberapa orang, kami berbincang baik secara langsung maupun via sms, mereka yang sempat berbincang dengan aku mengenai  hal ini diantaranya: Roby (teman adik aku), Teh Yuni (teman aku), Bu Nina (tetangga aku), syukron telah menjadi teman berbincang. Syukron juga untuk ceramah di tv one yang telah mengingatkan aku untuk memperbaiki adanya kealpaan aku mengenai terjamah salah satu ayat Al Qur'an.

MARHABAN YA RAMADHAN. KEPADA KAUM MUSLIMIN AKU UCAPKAN SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH SHAUM RAMADHAN 1434 H.

[Pesan dan doa khusus untuk Muslim Aceh yang baru saja ditimpa musibah berupa bencana alam: Semoga Allah merahmati Muslim Aceh yang telah berusaha menjalankan dan meneggakkan hukum dan syariat Islam. Semoga musibah yang menimpa Muslim Aceh menjadi kifarat bagi dosa-dosa mereka, serta para Muslim yang meninggal dunia diampuni oleh Allah, amal-ibadah serta iman-Islam mereka diterima oleh Allah. Amin.]

Semoga Allah menerima amal-ibadah kaum Muslimin khususnya di bulan Ramadhan ini. Semoga Allah mempersatukan kaum Muslimin di dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Semoga Allah merahmati dan meridhai kaum Muslimin di dunia dan di akhirat. Amin.


Sidang Itsbat: Syawal


Aku menonton sidang itsbat penentuan awal Syawal atas kesadaran dan keingian sendiri. Alhamdulillah sidang itsbatnya terlihat berjalan lancar. Aku pun menonton dengan tenang di rumah.

Laporan hasil menonton acara sidang itsbat syawal 1434 H: Aku pribadi menarik simpulan bahwa berdasarkan pemberitaan yang intinya menyatakan bahwa posisi hilal sudah tinggi maka aku berpikir bahwa pada saat itu Ramadhan telah genap 30, kemudian memasuki 1 Syawal. Begitu pula Abi aku, menyatakan bahwa Ramadhan tahun ini genap 30 hari setelah menarik simpulan pemberitaan yang menyatakan bahwa hilal dapat terlihat dari tempat  yang biasanya hilal tidak –mudah- tampak, di Makasar.

Aku bersyukur dan sangat senang bahwa tahun ini mostly Muslim Indonesia merayakan Idul Fitri secara bersamaan. Syukron katsiron aku ucapkan kepada Menteri Agama beserta jajarannya yang telah memutuskan dan mengumumkan mengenai perayaan Idul Fitri yang memungkinkan Muslim Indonesia bahkan kaum Muslimin dunia untuk merayakan Idul Fitri pada hari yang sama secara sermpang, berbarengan. Alhamdulillah.



Menurut sumber yang sama dengan sebelumnya, berdasarkan penanggalan Arab atau matla Arab Saudi, Idul Fitri 1 Syawal 1434 H di Arab Saudi jatuh pada tanggal dan hari yang sama dengan Idul Fitri di Indonesia, yaitu pada tanggal 08 Agustus 1434 H, Kamis. Alhamdulilah. Syukron jiddan pemerintah Arab Saudi.


SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1434 H. MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.

Akhirnya, untuk penetapan Ramadhan dan Idul Fitri, aku berpegang pada pesan Abi aku berikut ini:

·         Supaya umat Islam bersatu, baiknya kaum Muslimin mengikuti kota Makkah dalam penentuan shaum dan lebaran, selama kota Makkah berada dalm kebenaran. -> Jika Muslim di kota Makkah keliru dalam penentuan shaum mupun lebaran, maka Muslim di negara lainnya wajib menasihati.
·         Kaum Muslimin musti mengetahui sifat hilal, sejak zaman Rasulullah, hilal atau kemunculan bulan baru merupakan sesuatu yang tidak mudah dilihat, hanya sedikit orang yang diberi kesempatan untuk melihat hilal dan tidak dari setiap tempat hilal dapat terlihat.-> Kecuali pake satelit terus disiarkan via televisi atau streaming internet baru mungkin hilal dapat terlihat di bebagai tempat di seluruh dunia.
·         Sesuai sunnah Rasulullah, jika ada satu orang saja Muslim yang mengaku melihat hilal dan bersedia disumpah dengan nama Allah oleh penguasa maka sudah sepatutnya kita mempercayai Muslim tersebut. Sebaiknya kita tidak mendustakan kesaksian seorang Muslim yang telah bersedia disumpah dengan nama Allah atau dengan Al Qur’an.

·         Berdasarkan sunnah Rasulullah pula, melaksanakan shaum Ramadhan 29 hari namun jika hilal belum terlihat boleh menggenapkannya menjadi 30 hari. Berikut aku kutip haditsnya:

938. Dari Abdullah r.a., katanya Rasulullah saw. bersabda: “Sebulan itu ada dua puluh sembilan malam. Maka janganlah kamu puasa sebelum melihatnya (bulan). Jika (bulan) itu tertutup atasmu, cukupkanlah tiga puluh. Sahih Bukhari II  P. 215

Baiknya, melaksanakan shaum 29 Ramadhan selama 29 hari secara berturut-turut dalam beberapa tahun jika memang kondisi memungkinkan, lebih mengutamakan yang ganjil, yang lebih disukai Allah. Namun suatu kali, jika kondisinya memaksa, boleh menggenapkannya selama 30 hari. -> Jangan dibalik 30 hari terus baru sesekali 29 hari.

· Ada riwayat yang menyatakan bahwa sahabat bersama Rasulullah dominan berpuasa selama 29 hari. 
 
[Sepengetahuan aku, biasanya sahum 29 hari seringnya ditunaikan oleh umat Islam dari Al Islam, dari ormas Muhammadiyah dan FPI.]

Sebagai informasi, pada awal masa Islam, kaum Muslimin banyak yang belum dapat membaca, menulis dan berhitung maka digunakanlah rukyat, namun seiring berjalannya waktu, kaum Muslimin kian pandai dalam hal membaca, menulis dan berhitung maka selain rukyat dianjurkan pula melakukan hisab. Berikut hadits mengenai hisab:

937. Dari Abdullah r.a., katanya Rasulullah saw. pernah berbicara perihal Ramadhan: Sabda beliau: “Janganlah kamu puasa sehingga kamu melihat bulan, dan janganlah kamu berbuka sehingga kamu melihatnya. Maka jika bulan itu tertutup di atasmu, kira-kirakanlah bilangannya (buat lah perhitungan hari baginya).” Ibid.


Dalam tulisan ini dan dalam seluruh tulisan aku mungkin saja ada situasi dan kondisi yang berubah, namun aku tidak dapat selalu menginformasikan perubahan tersebut kepada pembaca, dengan demikian aku memohon maaf.


Wallahu’alam.

09.07.13 -> 01 Ramadhan 1434 H.
Revisi:
11.07.13 -> 03 Ramadhan 1434 H
0607.08.13 -> 30 Ramadhan 1434 H.
24.08.13 -> 17 Syawal 1434 H 
06.09.13 -> 30 Syawal 1434 H
09.09.13 -> 03 Dzulqo'dah 1434 H

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.