Hukum Islam untuk Kasus LP Cebongan, Sleman

Hukum Islam untuk Kasus LP Cebongan, Sleman


Kasus Pembunuhan dengan Kesewenang-Wenangan di LP Cebongan, Sleman.Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar[853]. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan[854] kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan. [Q.S. Al Israa’ (17): 33]
[853]. Lihat no.
[518].

[854]. Maksudnya: kekuasaan di sini ialah hal ahli waris yang terbunuh atau penguasa untuk menuntut kisas atau menerima diat. Lihat no.
[111] dan [335].[518]. Maksudnya yang dibenarkan oleh syara' seperti qishash membunuh orang murtad, rajam dan sebagainya.
[111]. Qishaash ialah mengambil pembalasan yang sama. Qishaash itu tidak dilakukan, bila yang membunuh mendapat kema'afan dari ahli waris yang terbunuh yaitu dengan membayar diat (ganti rugi) yang wajar. Pembayaran diat diminta dengan baik, umpamanya dengan tidak mendesak yang membunuh, dan yang membunuh hendaklah membayarnya dengan baik, umpamanya tidak menangguh-nangguhkannya. Bila ahli waris si korban sesudah Tuhan menjelaskan hukum-hukum ini, membunuh yang bukan si pembunuh, atau membunuh si pembunuh setelah menerima diat, maka terhadapnya di dunia diambil qishaash dan di akhirat dia mendapat siksa yang pedih.
[335]. Diat ialah pembayaran sejumlah harta karena sesuatu tindak pidana terhadap sesuatu jiwa atau anggota badan.

Awalnya aku berpikir bahwa pembunuhan yang dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan Cebongan adalah wajar karena pembunuhan tersebut dilakukan terhadap orang-orang yang memiliki track record sebagai bukan orang-orang "innocent" terlebih setelah mengetahu bahwa korban adalah non-Muslim. Namun menurut Abi aku, pembunuhan seperti itu tidak dibenarkan karena orang-orang tersebut dibunuh di dalam penjara tanpa terlebih dahulu diadili dengan dijatuhi hukuman mati. Jika hal ini tidak diselesaikan di dunia, dikhawatirkan di akhirat orang-orang yang dibunuh tersebut atau keluarga mereka -walaupun mereka non-Muslim- akan menuntut keadilan di hadapan Allah swt.

Maka dari itu, aku khawatir pembunuhan yang dilakukan oleh beberapa anggota KOPASUS tersebut merupakan pembunuhan secara zalim. Setelah mengetahui bahwa pembunuhan tersebut merupakan pembunuhan yang tidak dibenarkan, aku sempat berpikir bahwa para pembunuh tersebut harus dihukum mati, namun setelah aku mempelajari lebih lanjut, aku membuat putusan sebagai berikut:

Jika memang hal tersebut merupakan pembunuhan secara zalim, maka aku berpendapat bahwa keluarga yang dibunuh berhak meminta diyat, bukan qisash (hukum bunuh) karena, jika para anggota KOPASSUS tersebut Muslim, maka mereka tidak boleh dibunuh karena telah membunuh orang kafir, hal ini sesuai dengan terjemah hadits berikut: Dan diriwayatkan pula dari ‘Amr bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Nabi Saw. bersabda: "Orang mukmin itu tidak dihukum mati karena membunuh orang kafir." Ibnu Rusyd, 1995/1416. P. 143. Terlebih, orang-orang yang dibunuh bukan merupakan orang-orang dalam kategori tidak bersalah atau tidak terbebas dari kasus. Namun demikian, sekali lagi aku tekankan bahwa keluarga korban yang dibunuh di dalam LP berhak menuntut para anggota KOPASUS untuk membayar ganti rugi (diat) seperti yang dijelaskan dalam surat Bani Israil di atas.

Ganti rugi disarankan berupa unta, namun dapat pula berupa sapi, emas, perak atau pakaian. Berikut terjemah hadits serta pendapat para imam dan para fuqaha mengenai hal tersebut:

Diyat Berupa Unta

Abu Daud meriwayatkan dari 'Amr bin Syu'aib dari ayahnya dari kakaknya:
"Sesungguhnya Rasulullah Saw. menetapkan bahwa barangsiapa membunuh dengan tersalah, maka diyatnya adalah seratus unta, yaitu tiga puluh unta betina binti makhadh, tiga puluh unta betina binti labun, tiga puluh unta hiqqah, dan sepuluh unta jantan ibni labun." Ibnu Rusyd, 1995/1416. P. 173.

Diyat Berupa Emas dan Perak

Imam Malik berpegangan dengan penilaian Umar bin Al-Khaththab ra. Terhadap seratus unta dari pemilik emas dengan seribu dinar dan dari pemilik perak dengan dua belas ribu dirham.
Ulama Hanafiyah berpegangan dengan hadis yang dieiwayatkan Umar ra. pula, yaitu bahwa ia menilai satu dinar denga sepuluh dirham. Juga ijma’ fuqaha untuk menilai berat timbangan dalam zakat dengan dirham-dirham.

Imam Syafi’I berpendapat bahwa pada dasarnya diyat itu adalah seratus unta. Adapun penetapan Umar ra. Seribu dinar untuk pemilik emas dan dua belas ribu dirham untuk pemilik perak tidak lain karena jumlah tersebut merupakan harga unta dinilai dengan emas dan perak pada masa itu.
…,
Abu Yusuf, Muhammad bin Al-Hasan, dan tujuh fuqaha Madinah berpendapat bahwa pemilik kambing dikenai diyat sebanyak dua ribu ekor, pemilik sapi dua ratus ekor, dan pemilik pakaian dua ratus potong pakaian.

…, Juga hadis yang disandarkan oleh Abu Bakar bin Abu Syaibah dari Atha’:
"Rasulullah Saw. menetapkan diyat atas harta orang banyak dalam wujud apa juga harta itu. Atas pemilik unta seratus ekor unta, atas pemilik sapi dua ratus ekor sapi, dan atas pemilik pakaian dua ratus lembar pakaian." Ibid. P. 174 dan 176. Fuqaha golongan pertama berpegangan dengan hadis yang diriwayatkan dri ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya bahwa Nabi Saw. bersabda:
"Diyat orang kafir adalah separuh dari diyat orang Muslim." Ibid. P. 182. Berdasarkan terjemah hadits di atas, dijelaskan bahwa diat bagi orang kafir adalah setengah dari diyat orang Muslim. Memang, ada hadits lain yang menjelaskan bahwa orang Yahudi dan Nasrani yang berdamai dengan orang Islam (kafir dzimmi) diyatnya sama dengan diyat orang Muslim. Namun, dalam kasus ini, dengan terlebih dahulu melihat latar belakang korban sebagai non-Muslim yang tidak tak bersalah, maka masing-masing terdakwa hanya diwajibkan membayar setengah dari ketentuan pembayaran diyat, misalnya: 100 ekor unta menjadi 50 ekor unta, atau 200 ekor sapi menjadi 100 ekor sapi, atau seribu dinar menjadi lima ratus dinar bagi pemilik emas, atau 12.000 dirham menjadi 6000 dirham bagi pemilik perak atau 200 potong pakaian menjadi 100 potong pakaian.

Dengan demikian, maka dapat dibuat putusan bahwa pembayaran diyat dapat berupa unta, sapi, emas, perak maupun pakaian. Berhubung saat menulis ini, aku sama sekali tidak mengerti mengenai unta binti anu, unta anu dan unta ibni anu, serta perihal dinar dan dirham maka untuk hal-hal tersebut pihak-pihak terkait silahkan bertanya kepada pihak-pihak yang mengerti akan hal tersebut, atau mungkin dapat bertanya kepada orang-orang Arab yang memahami hal tersebut. -> KBRI dan KJRI di Arab jangan sering kali hanya disibukkan dengan urusan TKI sebagai penghasil devisa, baiknya juga disibukkan dengan kerja sama dan pengaturan hukum dan syariat Islam.

Maaf, ternyata sebelumnya aku melewatkan sedikit penjelasan mengenai unta yang disebut sebagai syarat diyat, di dalam buku yang aku jadikan sumber referensi terdapat catatan yang menyebutkan bahwa unta binti makhadh adalah unta betina memasuki tahun kedua, unta binti labun adalah unta betina memasuki tahun ketiga, unta hiqqah adalah unta yang memasuki tahun ke empat, sedangkan unta jadza'ah adalah unta yang memasuki tahun ke lima. Ibid P. 171.

Selain membayar diyat juga diperintahkan untuk memerdekakan budak:

"…, Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian damai antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barangsiapa yang tidak memperolehnya337), maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara taubat kepada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." [Q.S. An Nisaa’ (4): 92]

337) Maksudnya: tidak mempunyai hamba; tidak memperoleh hamba sahaya yang beriman atau tidak mampu membelinya untuk dimerdekakan. Menurut sebagian ahli tafsir, puasa dua bulan berturut-turut itu sebagai ganti dari pembayaran diat dan memerdekakan hamba sahaya.

Berdasarkan terjemah ayat Al Qur’an di atas, selain membayar diyat juga diperintahkan untuk memerdekakan hamba sahaya, namun khusus bagi terdakwa yang beragama Islam, jika tidak mampu membayar diyat maka dapat diganti dengan puasa selama dua bulan berturut-turut. Dalam kasus LP Cebongan ini, menurut aku, ada baiknya para anggota KOPASSUS yang terlibat dalam kasus ini, membayar diyat kepada korban sebagai cara taubat kepada Allah kemudian sebagai bentuk permohonan maaf kepada keluarga korban. Selain itu, ada baiknya para anggota KOPASSUS tersebut memerdekakan hamba sahaya, setiap terdakwa masing-masing memerdekakan atau menebus seorang TKW Muslim yang bekerja di/ke luar negeri tanpa muhrim, diutamakan TKW yang sedang berada dalam kesulitan/ didzalimi/ teraniaya, supaya dibebaskan dan dapat kembali ke tanah air, kembali ke rumah-rumah mereka.
 
Jika para anggota KOPASSUS tersebut telah membayar diat dan memerdekakan budak, maka mereka tidak dijatuhi hukuman seumur hidup, mereka dibebaskan dan tetap bekerja sebagai anggota KOPASSUS, dengan catatan tidak melakukan kejahatan lagi.

Dalam kasus ini aku dan Abi mengkhawatirkan adanya keterlibatan negara/ keterlibatan korps TNI, misalnya pembunuhan ini dilakukan atas perintah dari atasan. Untuk itu, aku sarankan negara atau korps TNI serta semua pihak yang terlibat dalam kasus pembunuhan yang zalim ini, untuk membantu para terdakwa pembunuhan tersebut dalam melunasi diyat.

Intermezo: Suatu kali aku denger seorang penyiar radio mengutip pernyataan salah seorang Jendral mengenai premanisme yang inti pernyataannya adalah jika para preman tidak dapat DIBINA maka DIBINASAKAN saja. -> Aku sempet ketawa waktu denger ini.

Aku berpendapat bahwa setiap preman, termasuk anggota gank motor, yang merupakan pembunuh atau terlibat pembunuhan tanpa haq terhadap orang yang beragama Islam sudah sepatutnya dieksekusi dengan hukuman mati namun dengan cara diadili terlebih dahulu (dijatuhi hukuman mati).

Oia menurut aku dan Abi, KOPASSUS itu cocok untuk menjadi "algojo" syariat Islam, soalnya mereka pemberani dan terlatih, jadi bagusnya KOPASSUS itu menjadi eksekutor bagi para pembunuh yang telah diadili dan dijatuhi hukuman mati, menjadi juru cambuk dan rajam bagi pezina, menjadi ahli potong tangan bagi para pencuri dan koruptor yang telah diadili dan dijatuhi hukuman potong tangan.

Berhubung aku bukan alim, aku mohon maaf jika penjelasan aku di atas terkait hukum Islam merupakan penjelasan yang tidak atau belum tepat. Bagi ulama yang mengerti dan memahami hukum Islam, aku harap dapat menjelaskan hukum untuk berbagai persoalan yang dihadapi umat, hukum yang sesuai syariat Islam. Semoga Allah merahmati dan meridhai kaum Muslimin di dunia dan di akhirat. Amin.

Kepada para keluaraga korban dan para terdakwa dalam kasus pembunuhan di LP Cebongan ini, serta kepada para non-Muslim seluruhnya, aku sampaikan ajakan sebagai berikut: "Maukah kalian masuk dan memeluk Islam?"

Wallahu’alam.

Sumber:
Al Qur’an digital dan Al Qur’an dan terjemahannya, Depag RI.
Bidayatul Mujtahid Jilid 5. Ibnu Rusyd. Penerjemah: Imam Ghozali Said, Drs, MA; A. Zaidun, Drs. Pustaka Amani: Jakarta, Oktober 1995 / Jumadil Ula 1416.
Televisi khususnya station-station televisi yang menyiarkan berita.

30.04.13 -> 19 Jumadil Akhir 1434 H
2021.06.13 -> 12 Sya’ban 1434 H
Revisi:
1617.07.13 -> 09 Ramadhan 1434 H


Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.