Bid’ah: Perayaan Memperingati Isra Mi’raj



2. Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah Kitabullah, dan sebaik-baik jalan hidup ialah jalan hidup Muhammad, sedangkan seburuk-buruk urusan agama ialah yang diada-adakan. Tiap-tiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan tiap bid’ah adalah sesat, dan tiap kesesatan (menjurus) ke neraka. (HR. Muslim). Muhammad Faiz Almath, Dr; 1414 H/ Juni 1993 M. P: 55.
 
Setiap Muslim wajib mengimani Isra Mi’raj, namun demikian, keimanan terhadap peristiwa tersebut tidaklah perlu diaktualisasikan dengan berupa perayaan memperingati Isra Mi’raj karena perayaan demikian adalah bid’ah, sesat. Rasulullah tidak mencontohkan perayaan memperingati diangkatnya beliau ke langit untuk mendapat perintah shalat dari Allah swt tersebut. Dengan demikian, seyogianya peringatan Isra Mira’j tidak dilakukan baik dalam bentuk dzikir dan shalawat bersama, tabligh akbar, atau dalam bentuk-bentuk lainnya.

Terlebih tidak ada yang mengetahui waktu yang pasti mengenai peristiwa Isra Mi’raj, kecuali Allah Ta’ala Yang Maha Mengetahui. Berikut kutipan mengenai perbedaan perkiraan waktu terjadinya Isra Mi’raj:
            “Ada perbedaan pendapat mengenai penetapan waktu kejadiannya, yaitu sebagai berikut:
  1. Isra’ terjadi pada tahun tatkala Allah memuliakan beliau dengan nubuwah. Ini menurut pendapat Ath-Thabary.
  2. Isra’ terjadi lima tahun setelah diutus sebagai rasul. Ini menurut An-Nawawy dan Al- Qurthuby.
  3. Isra’ terjadi pada malam tanggal dua puluh tujuh dari bulan Rajab tahun kesepuluh dari nubuwah. Ini merupakan pendapat Al-Allamah Al-Manshurfury.
  4. Ada yang berpendapat, Isra’ terjadi enam bulan sebelum hijrah, atau pada bulan Muharram tahun ketiga belas dari nubuwah.
  5. Ada yang berpendapat, Isra’ terjadi setahun dua bulan sebelum hijrah, tepatnya pada bulan Muharram tahun ketiga belas dari nubuwah.
  6. Ada yang berpendapat, Isra’ terjadi setahun sebelum hijrah, atau pada bulan Rabi’ul-Awwal tahun ketiga belas dari nubuwah.
Tiga pendapat pertama tertolak. Dengan pertimbangan, karena Khadijah Radiyallahu Anha meninggal dunia pada bulan Ramadhan tahun kesepuluh dari nubuwah. Sementara pada saat meninggalnya belum ada kewajiban shalat lima waktu. Juga tidak ada perbedaan pendapat, bahwa diwajibkannya shalat lima waktu pada malam Isra’. Sedangkan tiga pendapat lainnya tidak ada satu pun yang menguatkannya. Hanya saja kandungan surat Al-Isra’ menunjukkan bahwa Isra’ terjadi pada masa-masa akhir. “ Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury, 2007. P: 191. 

Selain perbedaan waktu terlaksananya peristiwa Isra Mi’raj, ada pula perbedaan pendapat terkait perjumpaan Rasulullah Muhammad saw dengan Allah swt saat Isra Mi’raj. Ada yang berpendapat bahwa Nabi saw melihat Allah, ada pula yang berpendapat bahwa Nabi saw tidak melihat Allah. Semoga terjemah hadits di bawah ini dapat membantu:

1438. Dari Aisyah r.a., katanya: “Barangsiapa mengira bahwa Muhammad melihat Tuhannya, sesungguhnya ia telah memasuki suatu kesalahan yang besar. Hanya beliau melihat Jibril dalam rupa dan bentuk kejadian yang sebenarnya, menutupi apa yang ada di tepi langit”. Shahih Bukhari III. P: 178.

Berdasarkan terjemah hadits di atas, dapat ditarik simpulan bahwa Rasaulullah saw tidak melihat Allah saat Mi’raj.

Kembali pada larangan perayaan memperingati Isra Mi’raj. Mungkin ada yang menganggap membuat perayaan Isra Mi’raj sebagai bentuk cinta kepada Rasulullah saw, namun menurut pendapat aku, anggapan tersebut keliru karena perayaan semacam ini tidak dicontohkan oleh Rasulullah saw. Di dalam Islam hanya ada dua hari raya yang merupakan hari perayaan keagamaan bagi kaum Muslimin yakni Idul Fitri dan Idul Adha. 

Atau mungkin ada pula yang menganggap perayaan Isra Mi’raj sebagai sarana menuntut ilmu, silaturahim bahkan sedekah. Menuntut Ilmu, silaturahim dan sedekah tidak perlu dilakukan dalam bentuk perayaan seperti perayaan Maulid dan Isra Mi’raj,  menuntut ilmu, silaturahim bahkan sedekah dapat dilakukan di berbagai waktu dan kesempatan terutama pada waktu dan kesempatan yang bukan merupakan aktivitas atau tradisi bid’ah. 

[Dulu, terutama saat sekolah, aku berkali-kali mengikuti perayaan Isra Mi’raj, alhamdulillah sekarang tidak lagi. Mudah-mudahan Allah mengampuni kesalahan-kesalahan aku yang terdahulu. Amin.]
Apabila kita benar-benar mencintai Allah dan Rasul-Nya, kemudian ingin menghayati makna dari Isra Mi’raj maka ada baiknya kita memperbaiki shalat kita sehari-hari karena Rasulullah saw diperjalankan Isra kemudian Mi’raj adalah untuk menerima perintah shalat 5 waktu dari Allah swt, sebagai kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap Muslim. 

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. [Al Ankabut (29):45]
1085. Dari Jabir, dia berkata: “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya (perusak garis batas) antara seseorang dan kesyirikan serta kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim) Imam Nawawi; 2006. P: 262.

1086. Dari Buraidah ra dari Nabi saw beliau bersabda: “Perjanjian yang ada di antara kita dan mereka (kaum munafiq) adalah shalat, maka barangsiapa meninggalkan shalat maka ia telah kafir.” (HR. Tirmidzi dia berkata: “Hadits Hasan Shahih.”) Ibid. P: 262.

Sedemikian pentingnya shalat sehingga seorang Muslim yang dengan sengaja meninggalkan shalat dianggap sebagai musyrik atau kafir. Setelah aku berdiskusi dengan Abi aku, meninggalkan shalat bisa jadi musyrik atau kafir, tepatnya kafir perbuatan, namun belum tentu murtad selama seorang tersebut masih meyakini dan mengucapkan dua kalimah syahadat, masih bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Namun demikian, aku tetap mengingatkan diri sendiri dan kaum muslimin untuk menunaikan bahkan mendirikan shalat terutama shalat fardhu 5 waktu sehari semalam setiap harinya, kecuali bagi wanita yang berhalangan untuk shalat secara syara (haid, nifas).

Aku memang belum shalat dengan baik, dimulai dari wudhu –atau jika terpaksa tayammum- yang belum sempurna, bacaannya pun belum fasih, terkadang masih ada bacaan shalat yang aku hafal, serta gerakan shalatnya yang belum tartib bahkan kadang aku lupa rakaat saat tengah shalat sehingga harus sujud sahwi di akhir shalat. Ditambah lagi shalat tidak di awal waktu, bahkan terlewat waktu atau adakalanya tertinggal. Hal-hal yang membuat shalat tidak di awal waktu biasanya adalah faktor dari dalam dan luar diri seperti rasa lapar, jika aku lapar –tidak sedang shaum- dan makanan telah tersedia maka aku akan makan terlebih dahulu sebelum shalat, kemudian faktor dari dalam diri lainnya seperti rasa malas ditambah godaan syetan yang terkutuk, aku berlindung kepada Allah dari nafsu diri serta dari godaan setan yang terkutuk; selain itu ada pula faktor yang membuat shalat sama sekali terlewat/ tertinggal yakni karena ketiduran. Jika aku tertinggal shalat karena ketiduran (terutama di saat sakit), biasanya jika shalatnya dapat dijama takhir, aku menjama’ shalat tersebut atau bila shalatnya tidak dapat dijama’ maka aku mengqhada shalat tersebut. Jika aku ketiduran, maka aku shalat setelah bangun. Namun jika aku bangun kesiangan pada pagi hari pukul 05.45 atau lebih, saat matahari terbit, maka aku baru akan menunaikan shalat subuh pada pukul 06. 30 atau lebih, saat matahari telah meninggi.

330. Ibnu Umar r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kamu shalat saat matahari terbit dan janganlah pula di saat matahari terbenam.” (Shahih Bukhari 1. P: 194)

331. Ibnu Umar r.a. mengatakan, bahwa Rasulullah saw, bersabda: “Apabila tepi matahari telah muncul hendak terbit, maka tundalah shalat lebih dahulu sehingga matahari agak tinggi sedikit dari pinggir langit, dan apabila tepi matahari telah mulai hilang di tepi langit maka tundalah shalat lebih dahulu sehingga matahari itu terbenam sama sekali. “ (Shahih Bukhari 1. P: 195)

Sepengetahuan aku penundaan ini dilakukan untuk menghindari menyembah syetan, kaum Muslimin menyembah hanya kepada Allah swt. Selain itu terkait penundaan waktu shalat ini terdapat penjelasan ilmiah yang tidak dapat aku jelaskan, karena aku tidak ingat pastinya, mengenai energy pada saat matahari terbit, saat di posisi tertinggi dan saat terbenam.  
Kemudian sejauh ini, ada shalat yang sering aku tunda pelaksanaanya, yakni shalat Isya. Aku melakukan hal tersebut karena penundaan pelaksaan shalat Isya tidak di awal waktu adalah dibolehkan dalam Islam.

324. Daru (dari –pen.) Anas, katanya: “Nabi saw. menunda shalat ‘Isya hingga seperdua malam, barulah beliau shalat.

Kemudian beliau bersabda: “Orang-orang lain telah shalat dan mereka telah tidur. Adapun kamu sama juga seperti dalam shalat selama kamu menanti-nantikan shalat itu.” (Shahih Bukhari I. P: 192-193)   

Menurut terjemah hadits di atas, Rasulullah menunda hingga seperdua malam, namun demiikian, aku berulangkali shalat Isya pada sepertiga malam, bahkan saat waktu sahur atau sebelum masuk waktu Subuh. Mudah-mudahan kedepannya aku dapat menunaikan shalat dengan lebih baik. Semoga Allah swt memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada aku untuk dapat menunaikan shalat dengan khusyu.
Dengan demikian, marilah kita saling mengingatkan dan nasihat menasihati untuk menunaikan shalat serta berusaha untuk memperbaiki shalat kita. Bagi Muslimin yang telah baik shalatnya, telah khusyu, mudah-mudahan dapat mepertahankan bahkan meningkatkan kualitas shalatnya, semoga Allah menerima dan meridhai di dunia dan di akhirat. Amin.

Aku menghimbau diri sendiri dan orang-orang yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya untuk meninggalkan tradisi-tradisi bid’ah seperti: perayaan memperingati Maulid Nabi, perayaan memperingati Isra Mi’raj, perayaan memperingati tahun baru Hijriah (1 Muharram), tradisi tahlillan bagi orang yang telah meninggal dunia (1 hari, 7 hari, 40 hari, 1000 hari dll), serta aktivitas serta tradisi bid’ah lainnya yang memang harus ditinggalkan.    

Kemudian aku pun menghimbau diri sendiri dan orang-orang yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya untuk kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Kemudian mengikuti imam atau ulama yang memang mengajarkan dan mengamalkan Al Qur’an dan As Sunnah.  

Sekedar informasi: -Salah satunya- Roja Tv mungkin dapat membantu para Muslim khususnya di Indonesia dalam mempelajari Islam, terdapat berbagai informasi bermanfaat mengenai syariat Islam, sebagai contoh pengetahuan Islam mengenai ibadah wajib dan sunnah juga muamalah serta ada pula tausyiah dalam bahasa Arab.

Aku menghimbau diri sendiri dan kaum Muslimin untuk belajar kepada ulama Muwahidun atau shalafi karena sepengetahuan aku para ulama Muwahidun atau Salafi sangat menghindari bid’ah kemudian kebanyakan dari mereka dapat menjelaskan mengenai tata cara ibadah termasuk shalat sesuai Al Qur’an dan As Sunnah. Banyak ulama Muwahidun atau Salafi belajar dari –buah pemikiran- Imam Abdul Wahab yang merupakan salah seorang ulama dari Bani Tamim, sementara Bani Tamim merupakan kaum yang disebut atau dinubuatkan oleh Nabi sebagai kaum yang paling keras menentang Dajjal. 

1204 Dari Abu Hurairah r.a. katanya: Saya senantiasa mengasihi bani Tamim semenjak saya dengar tiga hal dari Rasulullah s.a.w. yang disabdakan beliau mengenai mereka. Saya dengar beliau bersabda: “Mereka itu umatku yang paling keras (berani terhadap Dajjal)”. Dan waktu sedekah dari mereka tiba, Rasulullah s.a.w. bersabda: “inilah sedekah kaum kita”. Dan tentang tawanan dari mereka yang ada pada Aisyah, beliau bersabda “Merdekakanlah tawanan itu, sesungguhnya ia dari anak Ismail.” Shahih Bukhari III. P: 47.

Dari terjemah hadits di atas dapat diketahuai bahwa Rasulullah sangat mengasihi Bani Tamim, untuk itu ada baiknya kaum Muslimin seluruhnya juga mengasihi Bani Tamim karena Allah Ta’ala serta ada baiknya jika kaum Muslimin belajar dari para ulama Bani Tamim dan para ulama yang mengikuti jejak para ulama Bani Tamim terutama dalam memerangi bid’ah dan kekufuran.

Source:
·         1100 Hadits Terpilih: Sinar Ajaran Muhammad. Muhammad Faiz Almath, Dr. Gema Insani Press, Jakarta: 2003/ 1414 H.
·         Kehidupan Nabi Muhammad saw dan Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib ra. Abul Hasan An-Nadawi. Yunus Ali Mudhor (penerjemah). CV. As Syifa, Semarang.
·         Muhammad, Nabiku. Ummu Thoriq. Al kautsar Kids, Jakarta: 2011/ 1432 H. -> Makasi buat murid aku, Rahaf, yang sudah berbaik hati meminjami aku buku ini. Alhamdulillah.
·         Riwayat Nabi Muhammad. Ismail Pamungkas. PT Remaja Rosdakarya, Bandung: 1997.
·         Sirah Nabawiyah. Syaikh Shaffiyyurahman Al-Mubarakfurry. Kathur Suhardi (penerjemah). Pustaka Al Kautsar, Jakarta: 2007.
·         Terjemah Hadits Shahih Bukhari. H. Zainuddin Hamidy; H. Fachruddin HS; H. Nasharuddin Thaha et. al. Widjaya, Jakarta: 1992.

Catatan:
Aku mohon maaf kepada pembaca dan semua pihak atas kesalahan-kesalahan yang belum aku perbaiki pada beberapa tulisan aku sebelumnya.

Wallahu’alam bi showab.
 
0405/06/13 -> 2627 Rajab 1434 H
05/05/16 -> 27 Rajab 1434 H


Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.