Hukum Islam untuk Kasus LP Cebongan, Sleman

Hukum Islam untuk Kasus LP Cebongan, Sleman


Kasus Pembunuhan dengan Kesewenang-Wenangan di LP Cebongan, Sleman.Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar[853]. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan[854] kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan. [Q.S. Al Israa’ (17): 33]
[853]. Lihat no.
[518].

[854]. Maksudnya: kekuasaan di sini ialah hal ahli waris yang terbunuh atau penguasa untuk menuntut kisas atau menerima diat. Lihat no.
[111] dan [335].[518]. Maksudnya yang dibenarkan oleh syara' seperti qishash membunuh orang murtad, rajam dan sebagainya.
[111]. Qishaash ialah mengambil pembalasan yang sama. Qishaash itu tidak dilakukan, bila yang membunuh mendapat kema'afan dari ahli waris yang terbunuh yaitu dengan membayar diat (ganti rugi) yang wajar. Pembayaran diat diminta dengan baik, umpamanya dengan tidak mendesak yang membunuh, dan yang membunuh hendaklah membayarnya dengan baik, umpamanya tidak menangguh-nangguhkannya. Bila ahli waris si korban sesudah Tuhan menjelaskan hukum-hukum ini, membunuh yang bukan si pembunuh, atau membunuh si pembunuh setelah menerima diat, maka terhadapnya di dunia diambil qishaash dan di akhirat dia mendapat siksa yang pedih.
[335]. Diat ialah pembayaran sejumlah harta karena sesuatu tindak pidana terhadap sesuatu jiwa atau anggota badan.

Awalnya aku berpikir bahwa pembunuhan yang dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan Cebongan adalah wajar karena pembunuhan tersebut dilakukan terhadap orang-orang yang memiliki track record sebagai bukan orang-orang "innocent" terlebih setelah mengetahu bahwa korban adalah non-Muslim. Namun menurut Abi aku, pembunuhan seperti itu tidak dibenarkan karena orang-orang tersebut dibunuh di dalam penjara tanpa terlebih dahulu diadili dengan dijatuhi hukuman mati. Jika hal ini tidak diselesaikan di dunia, dikhawatirkan di akhirat orang-orang yang dibunuh tersebut atau keluarga mereka -walaupun mereka non-Muslim- akan menuntut keadilan di hadapan Allah swt.

Maka dari itu, aku khawatir pembunuhan yang dilakukan oleh beberapa anggota KOPASUS tersebut merupakan pembunuhan secara zalim. Setelah mengetahui bahwa pembunuhan tersebut merupakan pembunuhan yang tidak dibenarkan, aku sempat berpikir bahwa para pembunuh tersebut harus dihukum mati, namun setelah aku mempelajari lebih lanjut, aku membuat putusan sebagai berikut:

Jika memang hal tersebut merupakan pembunuhan secara zalim, maka aku berpendapat bahwa keluarga yang dibunuh berhak meminta diyat, bukan qisash (hukum bunuh) karena, jika para anggota KOPASSUS tersebut Muslim, maka mereka tidak boleh dibunuh karena telah membunuh orang kafir, hal ini sesuai dengan terjemah hadits berikut: Dan diriwayatkan pula dari ‘Amr bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Nabi Saw. bersabda: "Orang mukmin itu tidak dihukum mati karena membunuh orang kafir." Ibnu Rusyd, 1995/1416. P. 143. Terlebih, orang-orang yang dibunuh bukan merupakan orang-orang dalam kategori tidak bersalah atau tidak terbebas dari kasus. Namun demikian, sekali lagi aku tekankan bahwa keluarga korban yang dibunuh di dalam LP berhak menuntut para anggota KOPASUS untuk membayar ganti rugi (diat) seperti yang dijelaskan dalam surat Bani Israil di atas.

Ganti rugi disarankan berupa unta, namun dapat pula berupa sapi, emas, perak atau pakaian. Berikut terjemah hadits serta pendapat para imam dan para fuqaha mengenai hal tersebut:

Diyat Berupa Unta

Abu Daud meriwayatkan dari 'Amr bin Syu'aib dari ayahnya dari kakaknya:
"Sesungguhnya Rasulullah Saw. menetapkan bahwa barangsiapa membunuh dengan tersalah, maka diyatnya adalah seratus unta, yaitu tiga puluh unta betina binti makhadh, tiga puluh unta betina binti labun, tiga puluh unta hiqqah, dan sepuluh unta jantan ibni labun." Ibnu Rusyd, 1995/1416. P. 173.

Diyat Berupa Emas dan Perak

Imam Malik berpegangan dengan penilaian Umar bin Al-Khaththab ra. Terhadap seratus unta dari pemilik emas dengan seribu dinar dan dari pemilik perak dengan dua belas ribu dirham.
Ulama Hanafiyah berpegangan dengan hadis yang dieiwayatkan Umar ra. pula, yaitu bahwa ia menilai satu dinar denga sepuluh dirham. Juga ijma’ fuqaha untuk menilai berat timbangan dalam zakat dengan dirham-dirham.

Imam Syafi’I berpendapat bahwa pada dasarnya diyat itu adalah seratus unta. Adapun penetapan Umar ra. Seribu dinar untuk pemilik emas dan dua belas ribu dirham untuk pemilik perak tidak lain karena jumlah tersebut merupakan harga unta dinilai dengan emas dan perak pada masa itu.
…,
Abu Yusuf, Muhammad bin Al-Hasan, dan tujuh fuqaha Madinah berpendapat bahwa pemilik kambing dikenai diyat sebanyak dua ribu ekor, pemilik sapi dua ratus ekor, dan pemilik pakaian dua ratus potong pakaian.

…, Juga hadis yang disandarkan oleh Abu Bakar bin Abu Syaibah dari Atha’:
"Rasulullah Saw. menetapkan diyat atas harta orang banyak dalam wujud apa juga harta itu. Atas pemilik unta seratus ekor unta, atas pemilik sapi dua ratus ekor sapi, dan atas pemilik pakaian dua ratus lembar pakaian." Ibid. P. 174 dan 176. Fuqaha golongan pertama berpegangan dengan hadis yang diriwayatkan dri ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya bahwa Nabi Saw. bersabda:
"Diyat orang kafir adalah separuh dari diyat orang Muslim." Ibid. P. 182. Berdasarkan terjemah hadits di atas, dijelaskan bahwa diat bagi orang kafir adalah setengah dari diyat orang Muslim. Memang, ada hadits lain yang menjelaskan bahwa orang Yahudi dan Nasrani yang berdamai dengan orang Islam (kafir dzimmi) diyatnya sama dengan diyat orang Muslim. Namun, dalam kasus ini, dengan terlebih dahulu melihat latar belakang korban sebagai non-Muslim yang tidak tak bersalah, maka masing-masing terdakwa hanya diwajibkan membayar setengah dari ketentuan pembayaran diyat, misalnya: 100 ekor unta menjadi 50 ekor unta, atau 200 ekor sapi menjadi 100 ekor sapi, atau seribu dinar menjadi lima ratus dinar bagi pemilik emas, atau 12.000 dirham menjadi 6000 dirham bagi pemilik perak atau 200 potong pakaian menjadi 100 potong pakaian.

Dengan demikian, maka dapat dibuat putusan bahwa pembayaran diyat dapat berupa unta, sapi, emas, perak maupun pakaian. Berhubung saat menulis ini, aku sama sekali tidak mengerti mengenai unta binti anu, unta anu dan unta ibni anu, serta perihal dinar dan dirham maka untuk hal-hal tersebut pihak-pihak terkait silahkan bertanya kepada pihak-pihak yang mengerti akan hal tersebut, atau mungkin dapat bertanya kepada orang-orang Arab yang memahami hal tersebut. -> KBRI dan KJRI di Arab jangan sering kali hanya disibukkan dengan urusan TKI sebagai penghasil devisa, baiknya juga disibukkan dengan kerja sama dan pengaturan hukum dan syariat Islam.

Maaf, ternyata sebelumnya aku melewatkan sedikit penjelasan mengenai unta yang disebut sebagai syarat diyat, di dalam buku yang aku jadikan sumber referensi terdapat catatan yang menyebutkan bahwa unta binti makhadh adalah unta betina memasuki tahun kedua, unta binti labun adalah unta betina memasuki tahun ketiga, unta hiqqah adalah unta yang memasuki tahun ke empat, sedangkan unta jadza'ah adalah unta yang memasuki tahun ke lima. Ibid P. 171.

Selain membayar diyat juga diperintahkan untuk memerdekakan budak:

"…, Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian damai antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barangsiapa yang tidak memperolehnya337), maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara taubat kepada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." [Q.S. An Nisaa’ (4): 92]

337) Maksudnya: tidak mempunyai hamba; tidak memperoleh hamba sahaya yang beriman atau tidak mampu membelinya untuk dimerdekakan. Menurut sebagian ahli tafsir, puasa dua bulan berturut-turut itu sebagai ganti dari pembayaran diat dan memerdekakan hamba sahaya.

Berdasarkan terjemah ayat Al Qur’an di atas, selain membayar diyat juga diperintahkan untuk memerdekakan hamba sahaya, namun khusus bagi terdakwa yang beragama Islam, jika tidak mampu membayar diyat maka dapat diganti dengan puasa selama dua bulan berturut-turut. Dalam kasus LP Cebongan ini, menurut aku, ada baiknya para anggota KOPASSUS yang terlibat dalam kasus ini, membayar diyat kepada korban sebagai cara taubat kepada Allah kemudian sebagai bentuk permohonan maaf kepada keluarga korban. Selain itu, ada baiknya para anggota KOPASSUS tersebut memerdekakan hamba sahaya, setiap terdakwa masing-masing memerdekakan atau menebus seorang TKW Muslim yang bekerja di/ke luar negeri tanpa muhrim, diutamakan TKW yang sedang berada dalam kesulitan/ didzalimi/ teraniaya, supaya dibebaskan dan dapat kembali ke tanah air, kembali ke rumah-rumah mereka.
 
Jika para anggota KOPASSUS tersebut telah membayar diat dan memerdekakan budak, maka mereka tidak dijatuhi hukuman seumur hidup, mereka dibebaskan dan tetap bekerja sebagai anggota KOPASSUS, dengan catatan tidak melakukan kejahatan lagi.

Dalam kasus ini aku dan Abi mengkhawatirkan adanya keterlibatan negara/ keterlibatan korps TNI, misalnya pembunuhan ini dilakukan atas perintah dari atasan. Untuk itu, aku sarankan negara atau korps TNI serta semua pihak yang terlibat dalam kasus pembunuhan yang zalim ini, untuk membantu para terdakwa pembunuhan tersebut dalam melunasi diyat.

Intermezo: Suatu kali aku denger seorang penyiar radio mengutip pernyataan salah seorang Jendral mengenai premanisme yang inti pernyataannya adalah jika para preman tidak dapat DIBINA maka DIBINASAKAN saja. -> Aku sempet ketawa waktu denger ini.

Aku berpendapat bahwa setiap preman, termasuk anggota gank motor, yang merupakan pembunuh atau terlibat pembunuhan tanpa haq terhadap orang yang beragama Islam sudah sepatutnya dieksekusi dengan hukuman mati namun dengan cara diadili terlebih dahulu (dijatuhi hukuman mati).

Oia menurut aku dan Abi, KOPASSUS itu cocok untuk menjadi "algojo" syariat Islam, soalnya mereka pemberani dan terlatih, jadi bagusnya KOPASSUS itu menjadi eksekutor bagi para pembunuh yang telah diadili dan dijatuhi hukuman mati, menjadi juru cambuk dan rajam bagi pezina, menjadi ahli potong tangan bagi para pencuri dan koruptor yang telah diadili dan dijatuhi hukuman potong tangan.

Berhubung aku bukan alim, aku mohon maaf jika penjelasan aku di atas terkait hukum Islam merupakan penjelasan yang tidak atau belum tepat. Bagi ulama yang mengerti dan memahami hukum Islam, aku harap dapat menjelaskan hukum untuk berbagai persoalan yang dihadapi umat, hukum yang sesuai syariat Islam. Semoga Allah merahmati dan meridhai kaum Muslimin di dunia dan di akhirat. Amin.

Kepada para keluaraga korban dan para terdakwa dalam kasus pembunuhan di LP Cebongan ini, serta kepada para non-Muslim seluruhnya, aku sampaikan ajakan sebagai berikut: "Maukah kalian masuk dan memeluk Islam?"

Wallahu’alam.

Sumber:
Al Qur’an digital dan Al Qur’an dan terjemahannya, Depag RI.
Bidayatul Mujtahid Jilid 5. Ibnu Rusyd. Penerjemah: Imam Ghozali Said, Drs, MA; A. Zaidun, Drs. Pustaka Amani: Jakarta, Oktober 1995 / Jumadil Ula 1416.
Televisi khususnya station-station televisi yang menyiarkan berita.

30.04.13 -> 19 Jumadil Akhir 1434 H
2021.06.13 -> 12 Sya’ban 1434 H
Revisi:
1617.07.13 -> 09 Ramadhan 1434 H


Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Polisi dan Tentara Wanita Berjilbab

Kewajiban Menutup Aurat Bagi Muslimah  
(Termasuk Bagi Polisi dan Tentara Muslimah)

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya[1232] ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Al Ahzab (33): 59]

[1232]. Jilbab ialah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada.
"Wahai Asma’, jika seorang wanita telah menjalani haid, maka tidak diperbolehkan baginya dilihat kecuali ini dan ini. Beliau mengisyaratkan wajah dan kedua telapak tangannya." (HR. Abu Daud) Syaikh Kamil Muhammad, 2008. P. 693.
Terjemah ayat Al-Qur’an serta dalil Al Hadits di atas merupakan perintah bagi para Muslimah untuk menutup aurat, untuk mengenakan hijab maupun jilbab.

Jadi, Ibu-ibu Polisi wanita dan Tentara wanita yang PEMBERANI, jika ada atasan menghalangi/ melarang penggunaan jilbab maka wajib memberikan nasihat, lebih bagus lagi jika atasan tersebut dinasihati beramai-ramai sambil mendo’akan atasan tersebut agar diberi taufiq dan hidayah oleh Allah untuk mengizinkan penggunaan jilbab bagi para Polwan dimana pun berada.

Pa Presiden, Pa Kapolri, Pa Panglima TNI baiknya menasihati jika ada anggota atau petinggi TNI-Polri menghalagi atau melarang penggunaan jilbab bagi Polisi-Tentara wanita, jika anggota atau petinggi TNI-Polri tetap bersikeras tidak mengizinkan penggunaan jilbab, bagusnya dipindahkan tugaskan saja menjadi non-job. Kemudian, jika ada anggota maupun petinggi TNI-Polri yang menghalagi tegaknya hukum dan syariat Islam, maka pecat atau keluarkan saja dari Kepolisian RI. Kecuali jika ia meminta maaf lalu mengizinkan penggunaan jilbab dan memudahkan bahkan membantu tegaknya hukum dan syariat Islam, bisa saja pangkat atau jabatannya dinaikkan: mengangkat pemimpin pria Muslim yang menegakkan hukum dan syariat Islam, dengan niat dan tujuan berjuang fisabilillah. -> Walaupun sepertinya masih banyak ketidakberesan di tubuh Polri khususnya, namun tidak ada salahnya sedikit demi sedikit TNI-Polri memperbaiki diri serta berusaha menegakkan hukum dan syariat Islam. Demikian halnya dengan diri aku yang juga belum beres, namun ada baiknya sedikit demi sedikit aku memperbaiki diri serta berusaha menegakkan hukum dan syariat Islam.

Anw, sepengetahuan aku menutup aurat sepertihalnya dengan jilbab bukan hanya untuk para wanita Muslim tapi jilbab atau kerudung juga diperuntukan bagi para wanita Yahudi dan Nasrani. Contoh penggunaan jilbab ini terdapat dalam perjanjian lama, dicontohkan oleh Sarah, istri Abraham (Ibrahim) juga oleh Rebekah, istri Ishaq. Jadi, umat Yahudi dan umat Nasrani: Kristen aliran apa pun, gereja manapun -kecuali mungkin GS (Gereja Setan)- tentunya mengimani bahwa Ibrahim dan Ishaq adalah para nabi, maka sepatutnya mereka mencontoh istri para nabi tersebut dalam mengenakan pakaian yang menutup aurat. Umat Islam pun mengimani Ibrahim as dan Ishaq as sebagai para nabi dan rasul Allah, selain itu umat Islam juga mengimani bahwa Isa as dan Muhammad saw merupakan nabi dan rasul Allah. Saran aku, yang paling baik, semoga diridhai Allah, adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani masuk dan memluk Islam kemudian mengenakan pakaian yang menutup aurat sesuai syariat Islam. 

Terima kasih untuk anggota khususnya petinggi Polri yang mengizinkan penggunaan jilbab bagi Polwan, penggunaan jilbab bukan hanya bagi Polwan di Aceh tapi di seluruh Indonesia. Berjilbab di dalam setiap kesempatan, situasi dan kondisi, jilbab menjadi pakaian sehari-hari sesuai syara. Semoga para pemimpin Muslim yang membantu dan memudahkan tegaknya hukum dan syariat Islam, mendapat rahmat dan ridho Allah di dunia dan di akhirat. Amin.

[Actually, saat aku menulis tulisan mengenai Polisi wanita dan Tentara wanita termasuk Polwan mengenakan jilbab, ada rasa ragu terkait pekerjaan Polisi dan Tentara wanita, karena aku lebih setuju jika para wanita berada di rumah, menuntut ilmu terutama ilmu agama Islam: mempelajari Al Qur'an dan As Sunnah, melayani suami, mendidik
anak-anak: mengajarkan Al Qur'an dan As Sunnah kemudian mengajarkan ilmu yang bermanfaat di dunia dan di akhirat, merawat anak-anak dan mengurus rumah tangga. Baik pula bagi para wanita jika di rumah, selain mendidik anak-anak sendiri juga mendidik anak-anak para tetangga: mengajarkan Al Qur'an dan As Sunnah kemudian mengajarkan ilmu yang bermanfaat di dunia dan di akhirat, mendidik mereka sesuai syariat Islam. Terlebih masih banyak Polwan yang berdandan dan bersikap seperti laki-laki, di dalam Islam wanita dilarang berdandan dan berprilaku seperti pria.

Namun demikian, jika suami mengizinkan istrinya untuk bekerja dengan pekerjaan dan penghasilan yang hallal di luar rumah, apalagi dalam bidang yang sama dengan suami (selama para wanita tersebut tidak menjadi pemimpin bagi para laki-laki), serta dapat berakhlak sesuai syariat Islam, maka aku tidak dapat melarang. Hanya saja, aku tetap lebih setuju jika wanita lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat umumnya bagi orang lain, khususnya bagi diri sendiri dan keluarga dengan mengharap rahmat dan ridha Allah di dunia dan di akhirat.]


Terima kasih, syukron, aku ucapkan kepada Ibu Nisa dan Ibu Romelah (para Polwan) yang sudah bersedia berbincang bersama aku, salah satunya mengenai penggunaan jilbab bagi Polwan. Selanjutnya Aku ucapkan syukron kepada Ua aku, Siti Fatimah (Tintin), yang memberitahukan bahwa Polwan akan diizinkan berjilbab.
Syukron juga aku ucapkan kepada Tante Grace (Ibu Edy) yang menyampaikan informasi kepada Ua aku bahwa Polwan akan diizinkan berjilbab.Semoga Allah menjadikan kami sebagai Muslimah yang bertaqwa kepada Allah, Muslimah yang mukhlish. Amin. 
 
-> Subhanallah walhamdulillah, Kapolri, Pa Sutarman, mengizinkan Polwan di seluruh Indonesia berjilbab, bolehnya Polwan berjilbab ini diberlakukan sejak Rabu, 20.11.13. -> 16 Muharram 1435 H. 


Syukron Pa Sutarman. Jazakallah. Semoga Allah senantiasa merahmati Pa Sutarman. Terima kasih POLRI.

-> Aku terlalu excited hingga memajang gambar satu bintang hijau. Padahal Kapolri kan udah punya banyak bintang kuning. 

-> Setelah terdapat pernyataan penundaan izin pemakaian jilbab bagi Polwan, aku sempet bepikir yang intinya kurang lebih 'Kayaknya kalo izin pemakaian jilbab bagi Polwan seluruh Indonesia tidak jadi disahkan, aku turunin pangkat Kapolri jadi bintang satu lagi. Tapi kalo izin pemakaian jilbab bagi Polwan seluruh Indonesia jadi disahkan mungkin aku kasih Kapolri satu bintang lagi supaya jadi bintang 5. Bisa ga ya kayak gini?' -> Pemikiran ini sepertinya kurang tepat, mustinya jika izin pemakaian jilbab bagi Polwan seluruh Indonesia tidak jadi disahkan, diturunkan satu bintang tapi jika izin pemakaian jilbab bagi Polwan seluruh Indonesia jadi disahkan, dinaikkan satu bintang.

Aku menyayangkan penundaan izin pemakaian jilbab bagi Polwan selain di Aceh. Aku pun sedih tidak dapat berbuat banyak bagi Polwan terkait jilbab ini. Aku berterima kasih kepada para Muslim khususnya para Muslimah yang telah menyatakan kesediaannya untuk membantu para Polwan untuk berjilbab. Menurut Republika Online, Chofifah Indar Parawansa menyatakan hal yang intinya bahwa ia dan banyak Muslimah bersedia membantu Polwan terkait jilbab. Syukron aku ucapkan kepada Bu Chofifah dan para Muslimah yang bersedia membantu Polwan dalam mengenakan jilbab. Jazakallah.

Salah satu sahabat aku, Rika Oktariani Syahputri, yang merupakan seorang istri Polisi pun mengutaran pendapat yang intinya adalah ada baiknya bahwa Polwan di seluruh Indonesia segera mendapat izin untuk mengenakan jilbab, berbuat baik hendaklah tidak ditunda-tunda. Syukron Bu Rika atas pendapatnya.

Aku harap izin pemakaian jilbab bagi Polwan seluruh Indonesia segera disahkan.

Ramadhan 1435 H: Alhamdulillah, anggaran untuk seragam Polwan berjilbab disetujui oleh DPR. Berikut link beritanya: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/14/07/03/n84c06-dpr-dianggap-beri-kelegaan-polwan-ingin-berjilbab  
Semoga anggaran tersebut dapat dipergunakan dengan semestinya di jalan Allah.


Semoga Allah merahmati dan meridhai kaum Muslimin di dunia dan di akhirat. Amin.


Sumber:
Al Qur’an digital dan Al Qur’an dan terjemahannya, Depag RI.
Fiqih Wanita: edisi Lengkap. Syaikh Kamil Muhammad ‘Uwaidah. Penerjemah: M. Abdul Ghoffar E.M. Pustaka Al Kautsar: Jakarta, 2008.
Agama. Kompasiana. com/2010/08/12/ …
Republika Online


Televisi khususnya TV One. 


Wallahu’alam.

2021.06.13 -> 12 Sya’ban 1434 H



Revisi:
161727.07.13 -> 0920 Ramadhan 1434 H
21.11.13 -> 17 Muharram 1435 H
30.04.14 -> 30 Jumadil Akhir 1435 H
06.07.14 -> 09 Ramadhan 1435 H


Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.
 

Bid’ah: Perayaan Memperingati Isra Mi’raj



2. Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah Kitabullah, dan sebaik-baik jalan hidup ialah jalan hidup Muhammad, sedangkan seburuk-buruk urusan agama ialah yang diada-adakan. Tiap-tiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan tiap bid’ah adalah sesat, dan tiap kesesatan (menjurus) ke neraka. (HR. Muslim). Muhammad Faiz Almath, Dr; 1414 H/ Juni 1993 M. P: 55.
 
Setiap Muslim wajib mengimani Isra Mi’raj, namun demikian, keimanan terhadap peristiwa tersebut tidaklah perlu diaktualisasikan dengan berupa perayaan memperingati Isra Mi’raj karena perayaan demikian adalah bid’ah, sesat. Rasulullah tidak mencontohkan perayaan memperingati diangkatnya beliau ke langit untuk mendapat perintah shalat dari Allah swt tersebut. Dengan demikian, seyogianya peringatan Isra Mira’j tidak dilakukan baik dalam bentuk dzikir dan shalawat bersama, tabligh akbar, atau dalam bentuk-bentuk lainnya.

Terlebih tidak ada yang mengetahui waktu yang pasti mengenai peristiwa Isra Mi’raj, kecuali Allah Ta’ala Yang Maha Mengetahui. Berikut kutipan mengenai perbedaan perkiraan waktu terjadinya Isra Mi’raj:
            “Ada perbedaan pendapat mengenai penetapan waktu kejadiannya, yaitu sebagai berikut:
  1. Isra’ terjadi pada tahun tatkala Allah memuliakan beliau dengan nubuwah. Ini menurut pendapat Ath-Thabary.
  2. Isra’ terjadi lima tahun setelah diutus sebagai rasul. Ini menurut An-Nawawy dan Al- Qurthuby.
  3. Isra’ terjadi pada malam tanggal dua puluh tujuh dari bulan Rajab tahun kesepuluh dari nubuwah. Ini merupakan pendapat Al-Allamah Al-Manshurfury.
  4. Ada yang berpendapat, Isra’ terjadi enam bulan sebelum hijrah, atau pada bulan Muharram tahun ketiga belas dari nubuwah.
  5. Ada yang berpendapat, Isra’ terjadi setahun dua bulan sebelum hijrah, tepatnya pada bulan Muharram tahun ketiga belas dari nubuwah.
  6. Ada yang berpendapat, Isra’ terjadi setahun sebelum hijrah, atau pada bulan Rabi’ul-Awwal tahun ketiga belas dari nubuwah.
Tiga pendapat pertama tertolak. Dengan pertimbangan, karena Khadijah Radiyallahu Anha meninggal dunia pada bulan Ramadhan tahun kesepuluh dari nubuwah. Sementara pada saat meninggalnya belum ada kewajiban shalat lima waktu. Juga tidak ada perbedaan pendapat, bahwa diwajibkannya shalat lima waktu pada malam Isra’. Sedangkan tiga pendapat lainnya tidak ada satu pun yang menguatkannya. Hanya saja kandungan surat Al-Isra’ menunjukkan bahwa Isra’ terjadi pada masa-masa akhir. “ Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury, 2007. P: 191. 

Selain perbedaan waktu terlaksananya peristiwa Isra Mi’raj, ada pula perbedaan pendapat terkait perjumpaan Rasulullah Muhammad saw dengan Allah swt saat Isra Mi’raj. Ada yang berpendapat bahwa Nabi saw melihat Allah, ada pula yang berpendapat bahwa Nabi saw tidak melihat Allah. Semoga terjemah hadits di bawah ini dapat membantu:

1438. Dari Aisyah r.a., katanya: “Barangsiapa mengira bahwa Muhammad melihat Tuhannya, sesungguhnya ia telah memasuki suatu kesalahan yang besar. Hanya beliau melihat Jibril dalam rupa dan bentuk kejadian yang sebenarnya, menutupi apa yang ada di tepi langit”. Shahih Bukhari III. P: 178.

Berdasarkan terjemah hadits di atas, dapat ditarik simpulan bahwa Rasaulullah saw tidak melihat Allah saat Mi’raj.

Kembali pada larangan perayaan memperingati Isra Mi’raj. Mungkin ada yang menganggap membuat perayaan Isra Mi’raj sebagai bentuk cinta kepada Rasulullah saw, namun menurut pendapat aku, anggapan tersebut keliru karena perayaan semacam ini tidak dicontohkan oleh Rasulullah saw. Di dalam Islam hanya ada dua hari raya yang merupakan hari perayaan keagamaan bagi kaum Muslimin yakni Idul Fitri dan Idul Adha. 

Atau mungkin ada pula yang menganggap perayaan Isra Mi’raj sebagai sarana menuntut ilmu, silaturahim bahkan sedekah. Menuntut Ilmu, silaturahim dan sedekah tidak perlu dilakukan dalam bentuk perayaan seperti perayaan Maulid dan Isra Mi’raj,  menuntut ilmu, silaturahim bahkan sedekah dapat dilakukan di berbagai waktu dan kesempatan terutama pada waktu dan kesempatan yang bukan merupakan aktivitas atau tradisi bid’ah. 

[Dulu, terutama saat sekolah, aku berkali-kali mengikuti perayaan Isra Mi’raj, alhamdulillah sekarang tidak lagi. Mudah-mudahan Allah mengampuni kesalahan-kesalahan aku yang terdahulu. Amin.]
Apabila kita benar-benar mencintai Allah dan Rasul-Nya, kemudian ingin menghayati makna dari Isra Mi’raj maka ada baiknya kita memperbaiki shalat kita sehari-hari karena Rasulullah saw diperjalankan Isra kemudian Mi’raj adalah untuk menerima perintah shalat 5 waktu dari Allah swt, sebagai kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap Muslim. 

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. [Al Ankabut (29):45]
1085. Dari Jabir, dia berkata: “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya (perusak garis batas) antara seseorang dan kesyirikan serta kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim) Imam Nawawi; 2006. P: 262.

1086. Dari Buraidah ra dari Nabi saw beliau bersabda: “Perjanjian yang ada di antara kita dan mereka (kaum munafiq) adalah shalat, maka barangsiapa meninggalkan shalat maka ia telah kafir.” (HR. Tirmidzi dia berkata: “Hadits Hasan Shahih.”) Ibid. P: 262.

Sedemikian pentingnya shalat sehingga seorang Muslim yang dengan sengaja meninggalkan shalat dianggap sebagai musyrik atau kafir. Setelah aku berdiskusi dengan Abi aku, meninggalkan shalat bisa jadi musyrik atau kafir, tepatnya kafir perbuatan, namun belum tentu murtad selama seorang tersebut masih meyakini dan mengucapkan dua kalimah syahadat, masih bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Namun demikian, aku tetap mengingatkan diri sendiri dan kaum muslimin untuk menunaikan bahkan mendirikan shalat terutama shalat fardhu 5 waktu sehari semalam setiap harinya, kecuali bagi wanita yang berhalangan untuk shalat secara syara (haid, nifas).

Aku memang belum shalat dengan baik, dimulai dari wudhu –atau jika terpaksa tayammum- yang belum sempurna, bacaannya pun belum fasih, terkadang masih ada bacaan shalat yang aku hafal, serta gerakan shalatnya yang belum tartib bahkan kadang aku lupa rakaat saat tengah shalat sehingga harus sujud sahwi di akhir shalat. Ditambah lagi shalat tidak di awal waktu, bahkan terlewat waktu atau adakalanya tertinggal. Hal-hal yang membuat shalat tidak di awal waktu biasanya adalah faktor dari dalam dan luar diri seperti rasa lapar, jika aku lapar –tidak sedang shaum- dan makanan telah tersedia maka aku akan makan terlebih dahulu sebelum shalat, kemudian faktor dari dalam diri lainnya seperti rasa malas ditambah godaan syetan yang terkutuk, aku berlindung kepada Allah dari nafsu diri serta dari godaan setan yang terkutuk; selain itu ada pula faktor yang membuat shalat sama sekali terlewat/ tertinggal yakni karena ketiduran. Jika aku tertinggal shalat karena ketiduran (terutama di saat sakit), biasanya jika shalatnya dapat dijama takhir, aku menjama’ shalat tersebut atau bila shalatnya tidak dapat dijama’ maka aku mengqhada shalat tersebut. Jika aku ketiduran, maka aku shalat setelah bangun. Namun jika aku bangun kesiangan pada pagi hari pukul 05.45 atau lebih, saat matahari terbit, maka aku baru akan menunaikan shalat subuh pada pukul 06. 30 atau lebih, saat matahari telah meninggi.

330. Ibnu Umar r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kamu shalat saat matahari terbit dan janganlah pula di saat matahari terbenam.” (Shahih Bukhari 1. P: 194)

331. Ibnu Umar r.a. mengatakan, bahwa Rasulullah saw, bersabda: “Apabila tepi matahari telah muncul hendak terbit, maka tundalah shalat lebih dahulu sehingga matahari agak tinggi sedikit dari pinggir langit, dan apabila tepi matahari telah mulai hilang di tepi langit maka tundalah shalat lebih dahulu sehingga matahari itu terbenam sama sekali. “ (Shahih Bukhari 1. P: 195)

Sepengetahuan aku penundaan ini dilakukan untuk menghindari menyembah syetan, kaum Muslimin menyembah hanya kepada Allah swt. Selain itu terkait penundaan waktu shalat ini terdapat penjelasan ilmiah yang tidak dapat aku jelaskan, karena aku tidak ingat pastinya, mengenai energy pada saat matahari terbit, saat di posisi tertinggi dan saat terbenam.  
Kemudian sejauh ini, ada shalat yang sering aku tunda pelaksanaanya, yakni shalat Isya. Aku melakukan hal tersebut karena penundaan pelaksaan shalat Isya tidak di awal waktu adalah dibolehkan dalam Islam.

324. Daru (dari –pen.) Anas, katanya: “Nabi saw. menunda shalat ‘Isya hingga seperdua malam, barulah beliau shalat.

Kemudian beliau bersabda: “Orang-orang lain telah shalat dan mereka telah tidur. Adapun kamu sama juga seperti dalam shalat selama kamu menanti-nantikan shalat itu.” (Shahih Bukhari I. P: 192-193)   

Menurut terjemah hadits di atas, Rasulullah menunda hingga seperdua malam, namun demiikian, aku berulangkali shalat Isya pada sepertiga malam, bahkan saat waktu sahur atau sebelum masuk waktu Subuh. Mudah-mudahan kedepannya aku dapat menunaikan shalat dengan lebih baik. Semoga Allah swt memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada aku untuk dapat menunaikan shalat dengan khusyu.
Dengan demikian, marilah kita saling mengingatkan dan nasihat menasihati untuk menunaikan shalat serta berusaha untuk memperbaiki shalat kita. Bagi Muslimin yang telah baik shalatnya, telah khusyu, mudah-mudahan dapat mepertahankan bahkan meningkatkan kualitas shalatnya, semoga Allah menerima dan meridhai di dunia dan di akhirat. Amin.

Aku menghimbau diri sendiri dan orang-orang yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya untuk meninggalkan tradisi-tradisi bid’ah seperti: perayaan memperingati Maulid Nabi, perayaan memperingati Isra Mi’raj, perayaan memperingati tahun baru Hijriah (1 Muharram), tradisi tahlillan bagi orang yang telah meninggal dunia (1 hari, 7 hari, 40 hari, 1000 hari dll), serta aktivitas serta tradisi bid’ah lainnya yang memang harus ditinggalkan.    

Kemudian aku pun menghimbau diri sendiri dan orang-orang yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya untuk kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Kemudian mengikuti imam atau ulama yang memang mengajarkan dan mengamalkan Al Qur’an dan As Sunnah.  

Sekedar informasi: -Salah satunya- Roja Tv mungkin dapat membantu para Muslim khususnya di Indonesia dalam mempelajari Islam, terdapat berbagai informasi bermanfaat mengenai syariat Islam, sebagai contoh pengetahuan Islam mengenai ibadah wajib dan sunnah juga muamalah serta ada pula tausyiah dalam bahasa Arab.

Aku menghimbau diri sendiri dan kaum Muslimin untuk belajar kepada ulama Muwahidun atau shalafi karena sepengetahuan aku para ulama Muwahidun atau Salafi sangat menghindari bid’ah kemudian kebanyakan dari mereka dapat menjelaskan mengenai tata cara ibadah termasuk shalat sesuai Al Qur’an dan As Sunnah. Banyak ulama Muwahidun atau Salafi belajar dari –buah pemikiran- Imam Abdul Wahab yang merupakan salah seorang ulama dari Bani Tamim, sementara Bani Tamim merupakan kaum yang disebut atau dinubuatkan oleh Nabi sebagai kaum yang paling keras menentang Dajjal. 

1204 Dari Abu Hurairah r.a. katanya: Saya senantiasa mengasihi bani Tamim semenjak saya dengar tiga hal dari Rasulullah s.a.w. yang disabdakan beliau mengenai mereka. Saya dengar beliau bersabda: “Mereka itu umatku yang paling keras (berani terhadap Dajjal)”. Dan waktu sedekah dari mereka tiba, Rasulullah s.a.w. bersabda: “inilah sedekah kaum kita”. Dan tentang tawanan dari mereka yang ada pada Aisyah, beliau bersabda “Merdekakanlah tawanan itu, sesungguhnya ia dari anak Ismail.” Shahih Bukhari III. P: 47.

Dari terjemah hadits di atas dapat diketahuai bahwa Rasulullah sangat mengasihi Bani Tamim, untuk itu ada baiknya kaum Muslimin seluruhnya juga mengasihi Bani Tamim karena Allah Ta’ala serta ada baiknya jika kaum Muslimin belajar dari para ulama Bani Tamim dan para ulama yang mengikuti jejak para ulama Bani Tamim terutama dalam memerangi bid’ah dan kekufuran.

Source:
·         1100 Hadits Terpilih: Sinar Ajaran Muhammad. Muhammad Faiz Almath, Dr. Gema Insani Press, Jakarta: 2003/ 1414 H.
·         Kehidupan Nabi Muhammad saw dan Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib ra. Abul Hasan An-Nadawi. Yunus Ali Mudhor (penerjemah). CV. As Syifa, Semarang.
·         Muhammad, Nabiku. Ummu Thoriq. Al kautsar Kids, Jakarta: 2011/ 1432 H. -> Makasi buat murid aku, Rahaf, yang sudah berbaik hati meminjami aku buku ini. Alhamdulillah.
·         Riwayat Nabi Muhammad. Ismail Pamungkas. PT Remaja Rosdakarya, Bandung: 1997.
·         Sirah Nabawiyah. Syaikh Shaffiyyurahman Al-Mubarakfurry. Kathur Suhardi (penerjemah). Pustaka Al Kautsar, Jakarta: 2007.
·         Terjemah Hadits Shahih Bukhari. H. Zainuddin Hamidy; H. Fachruddin HS; H. Nasharuddin Thaha et. al. Widjaya, Jakarta: 1992.

Catatan:
Aku mohon maaf kepada pembaca dan semua pihak atas kesalahan-kesalahan yang belum aku perbaiki pada beberapa tulisan aku sebelumnya.

Wallahu’alam bi showab.
 
0405/06/13 -> 2627 Rajab 1434 H
05/05/16 -> 27 Rajab 1434 H


Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.