Haramnya Babi: Penelitian Ilmiah



Aku MENYALIN tulisan ini dari buku “Pola Makan Rasulullah: Makanan Sehat Berkualitas Menurut al-Quran dan as-Sunnah” karya Prof. Dr. Abdul Basith Muhammad as-Sayyid, halaman 211-228. Untuk itu aku meminta izin sekaligus meminta maaf kepada Prof. Dr. Abdul Basith serta penerbit almahira karena aku menyebarkan ilmu ini tanpa izin langsung tertulis dari penulis dan penerbit. Syukron jiddan.

 -> Sebelumnya aku ingin menyatakan bahwa terdapat sedikit perbedaan diksi (pemilihan kata) dalam terjemahan ayat-ayat Al Qur’an di dalam buku tersebut dengan terjemahan Al Qur’an versi Departemen Agama, namun perbedaan tersebut tidak membuat perubahan makna inti dari ayat-ayat tersebut.

“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari  rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian dan bersyukurlah kepada Allah, jika kalian hanya menyembah kepada-Nya. Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa terpaksa (memakannya), bukan karena menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang,” (QS. al-Baqarah [2]:172-173).

“Diharamkan bagi kalian (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kalian sembelih, dan (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan pula) mengundi nasib dengan azlâm (anak panah), karena itu suatu perbuatan fasik. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agama kalian, sebab itu janganlah kalian takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian untuk kalian, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagi kalian, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama kalian. Tetapi  barang siapa terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. al-Mâ’idah [5]:3)

“Katakanlah, "Tidak ku dapati dalam apa yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan memakannya bagi yang ingin memakannya, kecuali daging hewan yang mati (bangkai), darah yang mengalir, daging babi - karena semua itu kotor - atau hewan yang disembelih bukan (atas) nama Allah. Tetapi barang siapa terpaksa, bukan karena menginginkan dan tidak melebihi (batas darurat), maka sungguh, Rabbmu Maha Pengampun, Maha Penyayang," (QS. al- An’âm [6]:145)
“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagi kalian bangkai, darah, daging babi dan (hewan) yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah; tetapi barang siapa terpaksa (memakannya) bukan karena menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. an-Nahl [16]: 115)

Daging Babi
Babi adalah hewan yang sangat kotor, dia biasanya memakan segala sesuatu yang diberikan kepadanya, baik kotoran maupun bangkai, bahkan kotorannya sendiri atau kotoran manusia akan dimakan. Babi memiliki tabiat malas, tidak suka cahaya matahari, tidak suka berjalan-jalan, sangat suka makan dan tidur, memiliki sifat yang paling tamak. Semakin bertambah usia, babi akan semakin bodoh dan malas, tidak memiliki kehendak dan berjuang bahkan untuk membela diri sendiri saja enggan.

Babi adalah Gudang Parasit dan Bakteri yang Membahayakan
Babi banyak menimbulkan penyakit pada manusia. Babi dianggap hewan yang tidak layak dikonsumsi. Di antara parasit-parasit ini adalah sebagai berikut.

1.                  Cacing Taenia Solium
Parasit ini berupa larva yang berbentuk gelembung pada daging babi atau butiran butiran telur pada usus babi. Jika seseorang memakan daging babi tanpa dimasak dengan baik, maka dinding-dinding gelembung ini akan dicerna oleh perut manusia dan larva-larva itu kemudian akan tumbuh di usus manusia. Peristiwa ini akan menghalangi perkembangan tubuh dan akan membentuk cacing pita yang panjangnya bisa mencapai 10 kaki, yang menempel di dinding usus dengan cara menempelkan kepalanya lalu menyerap unsur-unsur makanan yang ada di lambung. Hal itu bisa menyebabkan seseorang kekurangan darah dan gangguan pencernaan, karena cacing ini dapat mengeluarkan racun.

Apabila pada diri seseorang –khususnya anak-anak- telahterdsapat cacing ini di lambungnya, maka dia akan mengalami hysteria atau perasan cemas. Terkadang larva yang ada di dalam usus manusia ini akan memasuki saluran peredaran darah dan terus menyebar ke seluruh tubuh, termasuk otak, hati, saraf tulang belakang dan paru-paru. Dalam kondisi seperti ini cacing tersebut dapat menyebabkan penyakit yang mematikan.

2.                  Cacing Trichinila Spiralis
Cacing ini ada pada babi dalam bentuk gelembung-gelembung lembut. Jika seseorang mengonsumsi daging babi tanpa dimasak dengan baik, maka gelembung-gelembung-yang mengandung larva cacing ini- dapat tinggal di otot dan daging manusia, sekat antara paru-paru dan jantung, dan di daerah-daerah lain di tubuh. Penyerangan cacing ini pada otot dapat menyebabkan rasa sakit yang luar biasa dan menyebabkan gerakan jadi lambat, ditambah lagi sulit melakukan aktivitas. Sedang keberadaannya di sekat tersebut akan mempersempit pernapasan, yang bisa berakhir pada kematian. 

3.                  Cacing Schistosoma Japonicum
Ini adalah cacing yang lebih berbahaya daripada Schistosoma yang dikenal di Mesir. Dan babi adalah satu-satunya binatang yang mengandung cacing ini. Cacing ini dapat menyerang manusia apabila mereka menyentuh atau mencucu dengan air yang mengandung larva cacing ini yang biasanya dating dari kotoran babi yang masuk ke dalm air tersebut. Cacing ini dapat membakar kulit manusia serta dapat menyelinap ke dalm darah, paru-paru, dan hati. Cacing ini berekembang sangat cepat, dalam sehari bisa mencapai 20.000 telur, yang dapat membakar kulit, lambung dan hati. Terkadang dapat menyerang otak dan saraf tulang belakang yang bisa menyebabkan kelumpuhan dan kematian.

4.                  Fasciolepsis Buski
Parasit ini hidup di usus halus babi dalm waktu yang lama. Ketika terjadi percampuran anatara usus dan tinja, parasit ini kan berada dalam bentuk tertentu yang bersifat cair yang bisa memindahkan penyakit pada manusia. Kebanyakan jenis penyakit ini terdapat di daerah Cina dan Asia Timur. Parasit ini bisa menyebabkan gangguan pencernaan, diare, dan pembengkakan di sekujur tubuh, yang bisa menyebabkan kematian.

5.                  Cacing Ascaris
Panjang cacing ini sekitar 10 inci. Cacing ini bisa menyebabkan radang paru-paru, batang tenggorokan, dan penyumbatan lambung. Cacing ini tidak bisa dibasmi di dalm tubuh, kecuali dengan cara operasi.

6.                  Cacing Anklestoma
Larva cacing  ini masuk ke dalam tubuh dengan cara membakar kulit ketika seseorang berjalan, mandi, atau minum air yang tercemar.
Cacing ini bisa menyebabkan diare dan pendarahan di tinja, yang bisa menyebabkan terjadinya kekurangan darah, kekurangan darah, kekurangan protein dalam tubuh, pembengkakang tubuh, dan menyebabkan seorang anak mengalami keterlambatan dalam pertumbuhan fisik dan mental, lemah jantung dan akhirnya bisa menyebabkan kematian.  

7.                  Calonorchis Sinensis
Ini jenis cacing yang menyelinap dan tinggal di dalam air empedu hati babi, yang merupakan sumber utama penularan penyakit pada manusia. Cacing ini terdapat di Cina dan Asia Timur, karena orang-orang di sana biasa mengonsumsi babi. Virus ini bisa menyebababkan pembengkakan hati manusia dan penyakit kuning yang disertai diare yang parah, dan tubuh menjadi kurus dan berakhir dengan kematian.

8.                  Cacing Paroganimus
Cacing ini hidup di paru-paru babi. Cacing ini tersebar luas di Cina dan Asia Tenggara tempat dimana babi banyak dikonsumsi. Cacing ini bisa menyebabkan radang paru-paru. Sampai sekarang belum ditemukan cara membunuh cacing di dalam paru-paru. Tapi yang jelas cacing ini tidak dapat ditemukan, kecuali di tempat babi hidup. Parasit ini bisa menyebabkan pendarahan paru-paru kronis., dimana penderitanya akan merasa sakit, ludah berwarna cokelat seperti karat, karena terjadi perdarahan pada kedua paru-paru.

9.                  Swine Erysipelas
Parasit ini terdapat di kulit babi. Parasit ini selalu siap untuk pembakaran pada kulit manusia yang mencoba mendekati atau berinteraksi dengannya. Parasit ini menyebabkan radang kulit manusia yang memperlihatkan warna merah dan suhu tubuh tinggi.

Kuman-kuman yang ada pada babi dapat menyebabkan berbagai macam penyakit, misalnya:
·                     TBC
Penyakit ini mungkin berasal dari babi yang dagingnya dimakan oleh manusia manusia tanpa dimasak dengan baik. Bisa juga terjadi hanya dengan menyentuhnya.
·                     Cacar (Small Pox)
Virus ini pindah dari babi ke tubuh manusia dengan cara peresentuhan atau makan daging yang terkena penyakit ini.
·                     Gatal-gatal (Scabies)
Penyakit ini bisa mengenai manusia dengan cara menyentuh kulit babi.
·                     Kuman Rusiformas N
Yaitu kuman yang bisa melakukan pembusukan pada kedua kaki dan sulit untuk disembuhkan.
·                     Salmonella Choler Suis
·                     Blantidium Coli
Babi dianggap sebagai hewan utama yang menjadi tempat tumbuh suburnya parasit ini, yang menyebabkan disentri parah pada seseorang.
·                     Mikroba Brocellosis
Kotoran babi dianggap sebagai sumber utama munculnya mikroba ini. Penyakit yang ditimbulkan oleh mikroba ini sangat menular yang dapat menimbulkan penyakit di daerah sekitarnya, serta bisa menyebabkan demam malta fever pada manusia.
·                     Mikroba Toxoplasma Gondi
Mikroba ini banyak sekali terdapat di tempat-tempat pemeliharaan babi. Penyakit ini menyerang manusia melalui makanan yang tercemar oleh kotoran babi atau menghirup udara atau debu yang memngandung gelembung-gelembung mikroba ini.
Mikroba ini masuk pada getah bening, limpa, dan hati. Hal itu menyebabkan demam yang panjang dan menurunnya imunitas tubuh, radang otot, dan jantung. Serta bisa menyebabkan gangguan pernafasan, karena mikroba ini juga menyerang paru-paru. Bisa juga menyerang mata berupa peradangan parah pada daerah mata, yang akhirnya bisa menyababkan kebutaan.
Mikroba ini pun bisa menyerang sel-sel telinga bagian dalam yang bisa menyebabkan ketulian. Terkadang  mentyerang wanita hamil, yang karenanya janin yang lahir akan meninggal beberapa hari atau beberapa minggu setelah kelahiran. Atau bisa juga, bayi akan lahir dalam keadaan cacat.

Catatan
Sekarang, setelah kita memaparkan jenis-jenis parasit dan kuman yang disebarkan oleh babi pada manusia, maka hendaklah kita merenung dan mengambil pelajaran dari apa yang ditetapkan syariat Islam yang 14 abad muncul lebih awal dibandingkan ilmu kedokteran modern.

Ada yang mengatakan, “Daging hewan pada umumnya bahkan sayur mayur mengandung kuman yang berbahaya, tetapi daging babi dianggap sebagai daging yang paling banyak mengandung parasit dan kuman. Setelah ilmu pengetahuan terus berkembang, kita pun mengetahui bahwa ilmu pengetahuan juga menganjurkan untuk menjauhi daging babi. Telah tampak dengan jelas bahwa kebanyakan dari parasit dan kuman yang ada pada babi dapat membunuh manusia.”

Namun demikian, masih saja ada orang-orang bodoh yang mengatakan, “Berbagai alat modern sudah jauh lebih maju dan bisa menanggulangi cacing-cacing ini sehingga tidak berbahaya lagi, karena suhu tinggi yang dihasilkan alat modern ini bisa membunuh cacing dan parasit tersebut.” Orang-orang itu lupa, bahwa pengetahuan mereka memerlukan waktu yang panjang untuk menemukan satu atau dua penemuan kecil. Siapa yang berani menjamin kalau di dalam daging babi tidak terdapat bahaya lain yang belum terungkap? Dan sampai sekarang tidak diketahui berapa derajat panas yang bisa membunuh cacing-cacing ini.
Yang perlu dipikirkan adalah hikmah Allah swt ketika mengharamkan daging babi ini, karena parasit-parasit dan penyakit-penyakit yang disebutkan di atas ternyata belum dapat disembuhkan sampai sekarang, khususnya jika parasit dan cacing itu sudah menyerang bagian-bagian penting tubuh, seperti otak, sumsum tulang belakang, jantung atau sekat antara jantung dan paru-paru.

Ada orang yang mengatakan , “Masih ada cacing lain yang seperti ini, tetapi cacing ini ada pada sapi yang disebut dengan cacing T. Saginata.” Ada perbedaan yang mendasar antara kedua cacing ini, dimana jenis cacing T. Saginata yang ada di babi akan melangsungkan proses hidupnya di dalam tubuh manusia. Adapun cacing T. Saginata yang menyerang sapi, hanya dapat hidup di sapi saja dan tidak dapat hidup di tubuh manusia. Sebab, lambat laun cacing itu akan hilang dan punah. Keberadaan cacing ini dalam tubuh manusia mungkin disebabkan oleh proses masak yang tidak baik.

Bukankah syariat Islam yang jauh lebih dulu menyampaikan informasi kepada manusia lebih layak untuk dijadikan pegangan daripada ungkapan-ungkapan sebagian orang yang tidak mau mengikuti tuntunan syariat ini dan menghalalkan apa yang dihalalkannya, karena terbukti diturunkan dari Dzat Yang Mahabijak lagi Maha Mengetahui.

Daging babi adalah daging yang paling sulit dicerna, karena banyak mengandung zat lemak, yang bisa menyebabkan timbulnya beberapa jenis penyakit, seperti penyakit mengerasnya dinding-dinding pembuluh, meningkatnya tekanan darah, serangan jantung, dan radang persendian.

Tabel berikut menjelaskan kadar lemak yang terdapat pada beberapa jenis daging:

Yang Gemuk
Yang Sedang
Yang Kurus
Babi
91%
60%
29%
Sapi Betina
35%
20%
6%
Domba
56%
29%
14%

Dari tabel di atas diketahui dengan jelas bahwa daging babi mengandung lemak paling tinggi dan paling sulit dicerna daripada daging-daging yang lain. Sekalipun orang yang memakan daging babi ini terlihat menikmatinya, tapi sebenarnya dia tengah makan racun yang meyerupai lemak.

Penelitian Ilmiah

Jika kita mengambil tiga potong daging, pertama daging babi, kedua daging domba, dan ketiga daging sapi dalam usia yang sama. Lalu kita biarkan terkena matahari, apa yang akan terjadi? Bahwa daging yang pertama kali membusuk adalah daging babi lalu daging domba, dan terakhir adalah daging sapi. Dalam beberpa kasus, daging sapi malah langsung kering dan rusak. Apabila daging-daging segar tersebut dimasak, maka yang paling lambat matang adalah daging babi. Tidak seorang pun bisa menjamin daging babi bersih dari kuman yang menjadi sumber peryakit. Dari beberpa penelitian diperoleh kesimpulan bahwa daging domba dan sapi berada di lambung selama 3 jam agar pencernaanya bisa berjalan sempurna. Sedang daging babi membutuhkan waktu 5 jam agar lambung bisa mencernanya.
Daging babi tidak banyak mengandung gizi seperti daging-daging yang lain. Daging babi bukan racun ganas yang membunuh pemakannya seketika itu juga tetapi ia termasuk racun yang akan membunuh pemakannya secara perlahan, hingga akhirnya akan menimbulkan penyakit kronis.

Agama-Agama yang Mengharamkan Daging Babi
1.                  Yahudi
Dalam Taurat secara jelas telah disebutkan pernyataan yang mengharamkan makan daging babi, “Sesungguhnya babi adalah hewan yang tidak layak dimakan, tidak bersih, dan haram untuk dimakan, serta tidak boleh disentuh jika sudah menjadi bangkai. Babi adalah kotoran bagi manusia, “ (Safar: 11: 7-8).

2.                  Agama Nasrani
Kitab Perjanjian Lama telah mengharamkan makan daging babi. Sementara orang-orang Kristen mempercayai Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Keduanya dalam pandangan mereka adalah kitab suci yang menggabungkan ajaran-ajaran kedua kitab tersebut.
Yang pasti, ajaran pokok semua pendeta Nasrani secara keseluruhan berpegang pada perjanjian lama ini.

3.                  Kong Hu Cu
Mayoritas orang Cina adalah pemeluk agama Kong Hu Cu, yang telah mengaharamkan daging babi, dengan berdasarkan kitab mereka yang secara tegas menyebutkan bahwa tidak seorang pun diperkenankan makan daging babi atau daging anjing.
Kitab suci ini sudah ada sejak 3000 tahun yang lalu, dan orang-orang Mesir kuno pun telah mengetahui bahaya akibat daging babi atau anjing. Oleh karena itu, mereka pun mengharamkannya.

4.                  Agama Hindu
Para pemeluk agama Hindu telah mengharamkan diri mereka sendiri makan daging babi. Mereka harus benar-benar menjauhinya karena tuntutan ajaran agama mereka. Dan mereka menganggap makan daging sebagai perbuatan memelukan dan aib.

Pendapat Salah Satu Gerakan Misionaris Tentang Danging Babi1]
Dalam bukunya, LI Kulli Thariqin al-Bidayah2] pendeta Ben Heg Ben mengatakan, “Banyak dari pengikut agama-agama yang suka makan daging babi mengajukan pertanyaan ini kepada saya, ‘Apakah kami akan masuk neraka Jahanam karena memakan daging babi?’

Saya pun menjawab, ‘Ini adalah masalah pemeliharaan kesehatan dari penyakit. Orang yang hendak menghamba kepada tuhan harus memperhatikan kesehatannya, karena ini sangat menunjang sekali dalam ritual ibadah. Bukan babi saja yang harus dijauhi, tetapi segala sesuatu yang membahayakan kesehatan.” (Tidak diragukan lagi bahwa pernyataan semacam ini benar-benar sesuai dengan ajaran Islam).
Pendeta ini menambahkan, “Dulu aku adalah seorang pemakan daging babi. Kini aku ingin menginformasikan beberapa hal kepada Anda-ketika dulu masih menyukai daging babi, aku suka merasa sakit di bagian pencernaan, aku selalu mengeluh dengan rasa sakit itu. Tetapi ketika aku berhenti memakan daging babi, maka rasa sakit itu pun hilang.

Aku bersaksi, jika setiap orang mengikuti dan menaati ajaran agama Tuhannya, khususnya dalam hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan, maka dia kan benar-benar memiliki tubuh yang sehat. Dan setiap orang yang tidak meyakini ajaran-ajaran Tuhannya, maka dia akan merasakan sejumlah penderitaan dan kesakitan. Anda punya kebebasan untuk memakan daging babi, tetapi anda yang bertanggung jawab jika terserang sejumlah penyakit. Ketika aku tidak menginginkan penyakit apa pun bagi diriku, maka aku pun menolak untuk makan daging babi.”

Seorang temen pernah bertanya kepadaku, “Anda tidak suka memakan daging babi, apakah anda masih suka memakan lemaknya?”
Aku menjawab, “Bukankah lemak ini termasuk bagian dari babi?” Dia menjawab, “Benar”. Dia menambahkan, “Sesungguhnya saya tidak memakan daging babi secara keseluruhan, saya hanya makan pahanya saja.”

Yang demikian itu, memperjelas kita bahwa ungkapan orang di atas betul-betul membingungkan dan menunjukkan kekacauan pemikirannya. Sesungguhnya Rabb telah melarang kita juga melarang kita mengkonsumsi dagingnya atau sekedar menyentuhnya. Hal itu telah dijelaskan dalam kitab suci bahwa setiap daging babi adalah najis. Oleh karena itu, pahanya juga termasuk bagian dari daging babi,” tegas sang Pendeta.

Sang pendeta menambahkan, “Saya punya seorang murid yang wajahnya penuh dengan bintik-bintik kecil seperti jerawat. Saya katakan kepadanya bahwa penyakit ini timbul karena hobimu memakan daging babi. Lalu saya nasihatkan untuk tidak mengkonsumsi daging babi lagi jika dia ingin sembuh. Setelah beberapa tahun, saya bertemu lagi dengannya dan saya lihat wajahnya sudah putih bersih. Dia mengatakan bahwa dia telah meninggalkan daging babi.”

Dia berkata, “Dulu saya termasuk orang yang tergila-gila pada daging babi, lemak, dan darahnya, tetapi saya merasa menyesal ketika membaca kitab suci, karena Tuhan telah mengharamkannya.
Pada suatu hari saya pergi untuk melihat sebuah kandang babi, tiba-tiba saya merasa jijik. Ternyata babi suka memakan kotoran manusia. Barangkali ini adalah alasan mengapa kebanyakan orang-orang Cina terkena penyakit TBC yang telah banyak memakan korban jiwa.

Pada suatu hari saya pergi mengunjungi pedagang lainnya, saya melihat bahwa bagian dalam kulit kambing terlihat bersih dan putih, sementara bagian dalam kulit babi penuh dengan bintik-bintik merah. Saya betul-betul yakin, bahwa bintik-bintik merah itu sama seperti yang saya lihat di wajah teman saya. Barangkali hal itu karena teman saya terbiasa makan daging babi. Adalah tubuh kita yang telah diciptakan untuk beribadah, karena itu sewajarnya kita mencegah najis mengenai tubuh kita atau singgah di tubuh kita, karena tubuh kita kan memasuki tempat yang suci yaitu tempat ibadah.”

Di bumi bagian timur banyak orang yang menderita dan mengeluh karena tubuhnya tertimbun lemak. Sebabnya karena mereka menyukai daging babi. Dalam etika orang-orang Yahudi sehari-hari tidak dikenal kalimat: ‘parasit atau gelembung.’ Yang demikian karena nenek moyang Yahudi sejak ribuan tahun yang lalu tidak memakan daging babi. Berbeda dengan generasi mereka sekarang, yang tidak takut memakan daging babi ini. Oleh karenanya, tubuh mereka banyak terserang berbagai jenis penyakit.

Kata kais ditemukan dalam bahasa Latin, karena orang-orang Romawi sangat menyukai daging babi. Kata ini berarti ‘babi kecil’ atau ‘anak babi’. Seorang dokter Eropa pernah berkata, “Mereka yang suka makan daging babi, maka anak-anak mereka akan terkena penyakit ‘akyas’ sampai tiga turunan.”
Pendeta ini juga berkata: “Saya pernah memperoleh informasi dari seorang teman yang bekerja sebagai ahli kimia di sebuah pabrik yang bertugas mengawasi daging. Dia telah mengabarkan bahwa di dalam babi ini ada sekitar 90 jenis penyakit. Dan dia memperlihatkan kepada saya beberpa jenis kuman yang ada di dalam daging babi dan di atas kulitnya dengan bantuan mikroskop. Dia juga memperlihatkan cacing-cacing kecil yang berkembang di otot-otot seseorang setelah dia mengkonsumsi dagingnya, dan menetap di sana sampai orang itu meninggal.

Di dalam daging babi itu juga terdapat sejumlah parasit yang berbentuk seperti rambut yang kelak hidup di lambung seseorang yang mengkonsumsinya. Ada juga beberpa jenis cacing yang hidup dalam saluran pembuluh darah dan memiliki kepala pada kedua ujungnya. Teman saya member tahu bahwa di san ada lebih dari 20 jenis kuman yang ada dalm daging babi yang tidak mati pada suhu yang tinggi. Apabila kuman tersebut sampai ke mata, maka akan dapat membutakan mata. Apabila masuk ke saraf telinga, maka akan menghilangkan indra pendengaran. Dan jika masuk ke paru-paru, maka akan dapat menyebabkan penyakit TBC. Atas dasar penemuan ini, selayaknya didinformasikan untuk segera mengubur babi-babi tersebut secara keseluruhan.
Ketika seorang teman saya mengetahui bahaya daging babi ini, dia pun memutuskan untuk menghentikan hobinya memakan daging babi.”
Sesungguhnya teori makan dan minum telah disebutkan dalmm kitab suci, “Apakah kalian tahu kebenaran sehingga kalian benar-benar paham dan jelas tentang cara makan dan minum?”

Bangkai dan Darah
Bangkai dan darah adalah dua hal yang ditolak oleh jiwa yang sehat. Bangkai hukumnya haram, kecuali bangkai ikan dan belalang. Darah juga haram, kecuali hati dan limpa.
Bangkai binatang merupakan tempat yang subur untuk tumbuhnya sejumlah mikroba, diantara sejumlah mikroba ini terdapat mikroba yang bisa menyebabkan penyakit berbahaya bagi manusia, bahkan bisa menjadi racun yang dapat membunuh mereka. Racun ini terkadang tidak akan hilang hanya dengan dimasak.
Darah adalah sarana yang subur bagi tumbuh kembang mikroba. Bahkan para ahli bakteri apabila hendak mengembangbiakkan mikroba tertentu, mereka akan memberi darah sebagai nutrisi.
Keberadaan darah dalam tubuh hewan bangkai membantu tumbuhnya mikroba dalam tubuh dan dapat mempercepat rusaknya (busuk) daging.

Keberadaan darah dalam lambung manusia dapat membantu pembentukan unsur-unsur amoniak yang dapat membahayakan otak. Sehingga terjadi berbagai perubahan penyakit yang terkadang sampai pada tingkat koma dan hilangnya kesadaran. Hal itu terjadi karena manusia banyak mengeluarkan darah, misalnya pendarahan di paru, lambung, atau usus.

Oleh karena itu, setelah disembelih, hendaklah sembelihan benar-benar dibersihkan dari darahnya. Yang terpenting, sebelum disembelih harus dibacakan basmallah, agar sembelihan tersebut menjadi halal. Kami tidak mengetahui secara pasti kalau di sana terdapat berbagai penyakit lain atau alasan-alasan yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern yang menjadi dasar diharamkannya darah ini.
Apakah ilmu manusia telah sampai atau belum pada hikamah diharamkannya darah ini, tapi tang jelas ilmu Ilahi telah memutuskan bahwa bangkai dan darah adalah tidak baik. Ini saja sebenarnya sudah cukup menjadi  alasan, karena Allah swt tidak mengharamkan sesuatu, kecuali yang buruk dan membahayakan bagi kehidupan manusia, baik manusia sudah mengetahui bahayanya maupun belum. Pertanyaannya adalah, apakah memang manusia benar-benar mengetahui segala sesuatu yang bisa meneyebabkan penyakit dan apa-apa yang bermanfaat baginya?

Yang dimaksud dengan darah adalah darah yang mengalir dari hewan ketika dilakukan penyembelihan. Hal itu didasarkan pada firman Allah swt,

“Katakanlah, ‘Tidak aku dapati di dalam apa yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan memakannya bagi yang lain memakannya, kecuali daging hewan yang mati (bangkai), darah yang mengalir, daging babi - karena semua itu kotor - atau binatang yang disembelih bukan atas (nama) Allah. Tetapi barangsiap terpaksa, bukan karena menginginkan dan tidak melebihi (batas darurat), maka sungguh, Rabbmu Maha Pengampun, Maha Penyayang,’". (QS. Al-An’am [6}: 145).

Sedang darah yang memiliki pengertian daging,misalnya limpa ataupun yang bercampur dengan daging yang keberadaanya tidak mengalir, maka demikian itu tidak haram, karena adanya ijma’ yang menghalalkan hal tersebut. Dan juga didasarkan pada hadits Rasulullah saw,
“Telah dihalalkan bagi kita, dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai adalah bangkai ikan dan belalang, sedang dua darah adalah hati dan limpa.”




-----------------------


Jika banyak pendidik dalam dunia pendidikan di Indonesia memberikan BAHAN AJAR berupa PHOTOCOPY dari hasil karya orang lain tanpa izin (yang aku kategorikan sebagai piracy, atau menurut salah satu dosen aku hal tersebut dinamakan copy left sebagai antithesis dari copyright), sepengetahuan aku terkesan dibolehkan dalam dunia pendidikan -> aku mengalami, ada banyak bukti, hal ini sering kali terjadi selama aku berada dalam dunia pendidikan baik sebagai anak didik maupun sebagai pendidik. Apakah jika aku memberikan BAHAN AJAR dengan cara MENYALIN (yang mungkin dikategorikan sebagai plagiarism) juga dibolehkan?

Apabila banyak pendidik menganggap plagiarisme (plagiarism) merupakan pelanggaran dan bukan persoalan yang remeh, sepatutnya tanggapan yang sama juga ditujukan untuk masalah pembajakan (piracy).

Aku memohon maaf kepada semua pihak atas setiap kesalahan yang pernah aku perbuat terkait piracy maupun plagiarism selama aku menjadi anak didik maupun pendidik. Aku pun memohon maaf kepada semua pihak yang telah dirugikan terutama  terkait 3 bahan bacaan yang terdapat di blog aku:
1. Poligami II (aku copy paste sebagian besar isi tulisan berjudul “MENGENAL TA’ADUD BUKAN POLIGAMI” oleh Atina Mumtazah dari majalah Alia: Pesona Muslimah No 07 Tahun VII Muharram – Shafar 1431 Januari 2010);
2. Haramnya Babi: Penelitian Ilmiah;
3. Hukum Memperingati Maulid Nabi (aku copy paste sebagian besar isi tulisan karya Hasan Al Husaini yang dimuat Mukminun.com).
Bahan bacaan berjudul Poligami II dan Hukum Memperingati Maulid Nabi sudah tidak aku muat dalam artikel blog yang aku share, namun demikian sampai saat ini aku tetap memampang bahan bacaan berjudul “Haramnya Babi: Penelitian Ilmiah” di blog aku, sebagai pengetahuan mengenai haramnya babi serta bahaya babi bagi kesehatan juga sebagai bahan refleksi khususnya bagi aku dan para pendidik untuk memikirkan dan merenungkan kembali mengenai PIRACY and PLAGIARISM.

Terima kasih kepada para pendidik yang telah mengingatkan aku akan plagiarism. Alhamdulillah. Mudah-mudahan kedepannya aku dapat menjadi lebih baik, bertaqwa kepada Allah. Semoga Allah memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada aku dan para pendidik Muslim untuk menjadi Muslimin yang bertaqwa kepada Allah. Amin.


Wallahu’alam.



Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.
 


  
23/03/11
03041314/04/11
01/05/11
06/06/11
21/11/12 -> 07 Muharram 1434 H
2025/12/12 -> 0612 Shafar 1434 H 
E.A.P:
29/12/12 -> 15 Shafar 1434 H
04/01/13 -> 21 Shafar 1434 H
2627/01/13 -> 141516 Rabiul Awal 1434 H 
0203/02/13 -> 212223 Rabiul Awal 1434 H