Shaum Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha

Tulisan ini merupakan bentuk keprihatinan aku dan Abi atas perbedaan yang kerap terjadi di tubuh kaum Muslimin dalam penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha. -> Abi (Papa) menyarankan agar aku menuliskan hal yang intinya sebagai berikut: 

Jika masing-masing negara menentukan awal (1) Ramadhan atau awal (1) Syawal, bagaimana umat Islam membuat kalender? Karena tidak mungkin ada kalender Hijriyah versi Indonesia, kalender Hijriyah versi Arab, kalender Hijriyah versi Malyasia, atau kalender Hijriyah versi Bangladesh. Jika seperti ini maka umat Islam tidak akan pernah bisa membuat almanak Islam (tahun Hijriyah).

Sudah merupakan takdir Allah bahwa negara-negara yang mudah/ dapat pertama kali melihat hilal adalah negara yang penduduknya merupakan pemeluk Islam terbesar di dunia yaitu Indonesia serta negara pusat Islam dunia, Arab Saudi.

Adanya satu sistem kalender Islam dimungkinkan bila penentuan Ramadhan dan hari-hari besar Islam (Idul Fitri dan Idul Adha) waktunya ditetapkan mengacu ke Arab Saudi (Kota Mekkah atau Madinah).

Wallahu’alam.
-----
Aku pribadi sedih ketika umaro (pemimpin) Islam di Indonesia, dalam hal ini Menteri Agama, para staff dan banyak alim ulama mengatasnamakan persatuan umat Islam dan menggunakan ayat Al Qur’an dan dalil Al Hadits untuk mempertahankan ego. Aku kecewa ketika Idul Fitri lalu (1 Syawal 1432 H) pemerintah memberikan himbauan kepada Muhammadiyah yang isi himbauannya intinya agar Muhammadiyah tidak bersikap egois dengan merayakan Idul Fitri satu hari lebih dahulu (30 Agustus 2011, Selasa) daripada yang telah ditetapkan pemerintah (31 Agustus 2011, Rabu) demi menjaga persatuan Islam.
 -> Muhammadiyah dianggap memecah belah persatuan umat Islam.

Padahal pada faktanya, menurut berita, banyak negara seperti Malaysia, Rusia, Tunisia, Jepang dan Arab merayakan Idul Fitri pada hari Selasa, 30 Agustus 2011, sama seperti yang dilakukan Muhammadiyah. -> Membatin: ‘Emangnya umat Islam di Indonesia doang?’ Justru, menurut aku, Muhammadiyah-lah yang telah menjaga persatuan Islam.
  • Terdapat kutipan yang ingin aku share sebagai pelajaran untuk aku dan kaum Muslimin khususnya untuk para alim ulama, aku ambil dari buku Etika Islam: Menuju Kehidupan Yang Hakiki hal 646 yang aku baru ngeh sekitar tanggal 1/ 2 Juni 2012 (11/12 Rajab 1433 H). Kutipannya adalah sebagai berikut:   

“Manusia yang bukan dajjal lebih aku takuti akan menggangu kamu sekalian daripada dajjal.” Ada yang bertanya, “Siapa mereka itu?” Rasul saw. Menjawab, “Mereka adalah para imam atau pemimpin (orang berilmu) tetapi menyesatkan umat.” (H.R. Imam Ahmad dengan sanad yang bagus, seperti dikatakan al Iraqi)
  
 -> kutipan di atas dikutip dari tulisan aku yang berjudul “Alim Ulama”.
 
Tahun lalu (Idul Fitri 1432 H) aku berlebaran bukan pada hari Rabu, seperti yang diumumkan pemerintah tapi pada hari Selasa seperti yang dilakukan kebanyakan orang Islam di ormas Muhammadiyah, di negara Arab dan di beberapa negara lainnya (beberapa negara ini mungkin saja lebarannya berkiblat ke negara Arab). Aku takut dosa kalo tetap shaum di saat hilal sudah terlihat. -> Dosa kan ditanggung masing-masing tidak ditanggung pemerintah atau segelintir alim ulama. Karena pada saat itu, menurut berita, telah ada beberapa orang yang melihat hilal di daerah Cakung, dan aku yakin orang yang melihat hilal itu tidak berdusta, para saksi tersebut tentu telah disumpah terlebih dahulu dengan nama Allah.

[Menurut penjelasan Abi aku, inti penjelasannya (aku jelasin dengan bahasa aku): pada zaman Rasulullah ada seorang Arab badui (Arab desa) melihat hilal lalu disumpah, Nabi Muhammad saw pun lalu menetapkan lebaran berdasarkan laporan SEORANG badui tersebut. 

Saat ini menurut pemerintah Indonesia sepertinya mesti BANYAK ORANG yang liat hilal, kalo hanya SATU atau EMPAT orang maka dianggap tidak sah. Astagfirullah.

DEMI ALLAH, DOSA BESAR JIKA MENUTUPI KEBENARAN. (24/07/2012 -> 05 Ramadhan 1433 H) Memikirkan kebenaran, aku teringat akan Allah Yang Maha Benar. 'Semoga Allah memberikan keputusan terbaik untuk aku dan kaum Muslimin Indonesia agar tidak termasuk ke dalam orang-orang yang terus menerus berada dalam kesalahan dan kesesatan. Amin.' -> Terpikir untuk memperbaiki redaksi doa dan harapan aku ini setelah dini hari tadi (23/07/2012 -> 04 Ramadhan 1433 H) dalam keadaan setengah terjaga, aku mendengar suara ceramah dari tv di luar kamar aku. Sekilas ceramah yang aku tangkap intinya kira-kira mengenai shiddiq atau benar, benar itu ada benar dan ada yang paling benar. -> Asykuruka Pak Kyai yang sudah menyampaikan hal ini, jazakallah khoiron.  

Beralih topik pembicaraan: Mengenai hilal yang tertutup awan, Abi aku mempertanyakan kalo misalkan menurut hisab bulan sudah muncul tapi ternyata bulan tertutup awan, bagaimanakah hukumnya? -> Bagaimana jika masalahnya adalah bukan karena bulannya belum muncul, tapi bulannya sudah muncul hanya saja tertutup awan jadi bulan tersebut tidak terlihat.]

Disamping itu, aku pun takut, jika berlebaran ikut pemerintah Indonesia sehingga tidak merayakan lebaran di hari yang sama dengan umat Islam di banyak negara maka aku tidak menjaga persatuan Islam.

Kembali untuk menekankan mengenai persatuan Islam, jika banyak negara berbeda-beda dalam menentukan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha maka umat Islam sulit untuk bersatu. Disamping itu, umat Islam tidak akan pernah dapat membuat penanggalan/ almanak Islam. Maka sekali lagi aku mau sarankan, intinya: Baiknya, penentuan Ramadhan dan hari-hari besar Islam (Idul Fitri dan Idul Adha) waktunya ditetapkan berkiblat ke Arab Saudi (Kota Makkah atau Madinah).

[Aku nulis ini bukan karena Umi (Mama) aku lulusan dari Sekolah Dasar Muhammadiyah 28 Jakarta; bukan karena Abi (Papa) aku merupakan mantan guru Bahasa Inggris dan Matematika di Sekolah Menengah Kejuruan Muhammadiyah 01 Sukabumi; bukan karena adik laki-laki aku lulusan Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah 01 Sukabumi; bukan karena salah satu sepupu aku pernah sekolah di Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah 01 Sukabumi; bukan juga karena ada mantan murid aku yang merupakan siswi Universitas Muhammadiyah Sukabumi. Serta sampai saat ini aku pun bukan anggota maupun simpatisan ormas Islam yang sejak tadi namanya aku sebut-sebut (mention), Muhammadiyah.


Syawal 1434 H: Sebelumnya aku menyatakan bahwa aku bukan simpatisan Muhammadiyah, mungkin saat ini pun belum tepat jika aku disebut sebagai simpatisan hanya saja aku kagum pada perjuangan Muhammadiyah yang kerap mendirikan sekolah Islam Muhammadiyah mengimbangi keberadaan sekolah-sekolah non-Muslim.  Aku berharap dapat bersama jamaah Muslim yang berusaha menegakkan hukum dan syariat Islam di Indonesia dan di muka bumi ini baik itu misalkan jamaah Muhammadiyah, FPI, Hizbut Tahrir dan Al Islam, selama mereka semua berada di jalan Allah.

Aku nulis ini bukan juga karena Abi (dan aku) keturunan Arab. Sampai saat ini, aku pun ga punya koneksi dengan pemerintah atau kerajaan Arab.
Kalaupun misalkan aku dan keluarga aku ga pernah ada hubungan sama sekali dengan Muhammadiyah, dan jika seandainya aku dan keluarga aku ga punya darah Arab maka aku akan tetap menyajikan fakta mengenai Idul Fitri versi Muhammadiyah dan negara Arab. 
  • Aku nulis ini karena walaupun aku belum dapat menjalin ukuwah Islamiyah dengan baik, tapi aku peduli dengan Islam dan umat Islam, aku peduli dengan persatuan Islam.
  • Disamping itu, aku nulis ini karena aku malu sama umat agama lain, khususnya Nasrani -malah ada yang sempet ngetawain- karena umat Islam lebarannya beda-beda. Adik aku juga merasakan hal yang sama (malu).
    'Mudah-mudahan setiap non Muslim yang menertawakan atau pernah menertawakan perbedaan lebaran umat Islam diberi hidayah oleh Allah untuk masuk dan memeluk Islam, lalu menetukan dan merayakan hari besar Islam dengan berkiblat ke kota Makkah atau Madinah. Amin.'

    Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya. Dan Akupun membuat rencana (pula) dengan sebenar-benarnya. Q.S. At Thariiq (86): 15-16.

    Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik[1249] dan amal yang saleh dinaikkan-Nya[1250]. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur. Q.S. Faathir (35): 10.

    [1249]. Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa perkataan yang baik itu ialah Kalimat Tauhid yaitu Laa ilaa ha illallaah; dan ada pula yang mengatakan zikir kepada Allah dan ada pula yang mengatakan semua perkataan yang baik yang diucapkan karena Allah.

    [1250]. Maksudnya ialah bahwa perkataan baik dan amal yang baik itu dinaikkan untuk diterima dan diberi-Nya pahala.

    Semalem (22/07/2012 -> 04 Ramadhan 1433 H) aku baca ulang buku Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam jilid 2,dan aku baru ngeh lagi mengenai wacana konspirasi orang-orang anti Islam terutama orang-orang Kristen untuk menjauhkan kaum Muslimin dari kota Makkah, kutipan wacana tersebut adalah sebagai berikut:

    2). Seorang missionaris, William Jeford Balcrof, berkata, “Jika Al-Qur’an dapat disisihkan dan kota Makkah dapat diputuskan hubungannya dari negara-negara Arab, maka sangat memungkinkan bagi kita untuk melihat seorang Arab secara bertahap mengikuti kemajuan Barat, terjauh dari Muhammad dan sekitarnya.”22)  Hal. 198.
    22) Yaduru ‘l-Bala’ (Akar Malapetaka), p.201.

    2). Missionaris Laurence Braun berkata, “Jika kaum Muslimin bersatu dalam imperium Arab, ini dapat menjadi kutukan dan bahaya bagi dunia. Juga dapat menjadi sumber karunia bagi dunia. Adapun jika mereka terpecah belah, maka ketika itu mereka tidak berharga dan tidak berpengaruh …. 30)  Hal. 201.
    30) Yaduru ‘l-Bala’, p.202.
     
    Jadi intinya aku kutip wacana di atas, supaya aku dan kaum Muslimin bertindak cerdas dengan berkiblat ke Arab Saudi khususnya kota Makkah dalam menetukan hari besar umat Islam sehingga kaum Muslimin tidak berpecah belah tapi bersatu dalam jalinan ukuwah Islamiyah. 'Mudah-mudahan Allah memberikan pertolongan-Nya kepada kaum Muslimin di muka bumi ini untuk dapat bersatu dalam Daulah Islam. Amin.' 
  •  
     
  • Terlebih, aku nulis ini karena aku ngerasa malu dan risih beberapa kali -termasuk kali ini, Ramadhan 1433 H- aku liat di tv para pemimpin Islam dan segelintir alim ulama ribut adu argumen menentukan hari besar umat Islam. -> Jika para pemimpin dan alim ulama bersikap demikian, bagaimana dengan aku, umat? 'Kapankah hal ini berakhir?'
  • Aku baru nulis sekarang, ngga dari taun kemarin, karena baru hari ini kepikiran cara menuliskannya. Aku musti tetap berterima kasih kepada Allah atas ide, inspirasi dan segala hal yang telah Allah berikan kepada aku dan juga Abi. Alhamdulillah.]

“MARHABAN YA RAMADHAN… Kepada kaum Muslimin di seluruh dunia dimanapun berada, aku mengucapkan: Selamat menunaikan ibadah shaum Ramadhan 1433 H. Semoga Allah meridhai serta mencurahkan maghfirah, rahmat, taufiq, hidayah, dan inayah-Nya kepada kaum Muslimin. Amin.”


[Alhamdulillah wa syukurillah Idul Fitri 1 Syawal 1433 H dilaksanakan secara bersamaan di banyak negara termasuk di negara Indonesia. 

Aku ucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin kepada kaum Muslimin dimanapun berada terutama kepada Bapak Menteri Agama dan staff serta kepada para alim ulama. 

Semoga seterusnya kaum Muslimin dapat melaksanakan hari besar Islam secara bersamaan. Mudah-mudahan Allah mempersatukan kaum Muslimin dalam ridha-Nya. Amin.]  



Akhirnya, untuk penetapan Ramadhan dan Idul Fitri, aku berpegang pada pesan Abi aku berikut ini:

·         Supaya umat Islam bersatu, baiknya kaum Muslimin mengikuti kota Makkah dalam penentuan shaum dan lebaran, selama kota Makkah berada dalm kebenaran. -> Jika Muslim di kota Makkah keliru dalam penentuan shaum mupun lebaran, maka Muslim di negara lainnya wajib menasihati.
·         Kaum Muslimin musti mengetahui sifat hilal, sejak zaman Rasulullah, hilal atau kemunculan bulan baru merupakan sesuatu yang tidak mudah dilihat, hanya sedikit orang yang diberi kesempatan untuk melihat hilal dan tidak dari setiap tempat hilal dapat terlihat.-> Kecuali pake satelit terus disiarkan via televisi atau streaming internet baru mungkin hilal dapat terlihat di bebagai tempat di seluruh dunia.
·         Sesuai sunnah Rasulullah, jika ada satu orang saja Muslim yang mengaku melihat hilal dan bersedia disumpah dengan nama Allah oleh penguasa maka sudah sepatutnya kita mempercayai Muslim tersebut. Sebaiknya kita tidak mendustakan kesaksian seorang Muslim yang telah bersedia disumpah dengan nama Allah atau dengan Al Qur’an.

·         Berdasarkan sunnah Rasulullah pula, melaksanakan shaum Ramadhan 29 hari namun jika hilal belum terlihat boleh menggenapkannya menjadi 30 hari. Berikut aku kutip haditsnya:

938. Dari Abdullah r.a., katanya Rasulullah saw. bersabda: “Sebulan itu ada dua puluh sembilan malam. Maka janganlah kamu puasa sebelum melihatnya (bulan). Jika (bulan) itu tertutup atasmu, cukupkanlah tiga puluh. Sahih Bukhari II  P. 215

Baiknya, melaksanakan shaum 29 Ramadhan selama 29 hari secara berturut-turut dalam beberapa tahun jika memang kondisi memungkinkan, lebih mengutamakan yang ganjil, yang lebih disukai Allah. Namun suatu kali, jika kondisinya memaksa, boleh menggenapkannya selama 30 hari. -> Jangan dibalik 30 hari terus baru sesekali 29 hari.

· Ada riwayat yang menyatakan bahwa sahabat bersama Rasulullah dominan berpuasa selama 29 hari. 
 

Semoga Allah meridhai serta melimpahkan maghfirah dan rahmat-Nya di dunia dan di akhirat kepada para umaro, para alim ulama, dan kaum Muslimin yang berniat dan berusaha menegakkan kalimat tauhid dan menegakkan hukum Allah, serta mewujudkan persatuan Islam di muka bumi ini. Mudah-mudahan Allah mempersatukan kaum Muslimin di muka bumi ini dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Amin ya rabbal alamin. 

Wallahu’alam.

19/07/2012 sore-petang -> akhir 29 Sya’ban awal 1 Ramadhan 1433 H

E.A.P.:
20232425/07/2012 -> 01040507 Ramadhan 1433 H
18/08/2012 -> 01 Syawal 1433 H



09.09.13 -> 03 Dzulqo'dah 1434 H



Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.