Poligami Syar'i I


Poligami Syar'i I
 
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil265), maka (kawinilah) seorang saja266), atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. [An Nisa (4): 3] 
265). Berlaku adil ialah perlakuan yang adil dalam meladeni isteri seperti pakaian, tempat, giliran dan lain-lain yang bersifat lahiriyah.
266). Islam memperbolehkan poligami dengan syarat-syarat tertentu. Sebelum turun ayat ini poligami sudah ada, dan pernah pula dijalankan oleh para Nabi sebelum Nabi Muhammad s.a.w. Ayat ini membatasi poligami sampai empat orang saja.

Sejak kecil, Mama selalu menanamkan agar aku tidak membenci poligami karena poligami memang dibolehkan dalam Islam, Allah mengizinkan poligami. Aku menyetujui dan menulis mengenai poligami bukan karena Mama aku jadi second wife, atau aku pengen jadi second, third or fourth wife dari seseorang tertentu. -> Baik Mama aku atau aku jadi second wife atau ngga, aku akan tetap menulis persetujuan aku terhadap praktek poligami. -> Maksudnya walaupun misalkan Mama aku dan aku jadi istri pertama, aku bakal tetap menyetujui poligami. Aku setuju poligami selain karena didikan Mama, aku juga membaca terjemahan Al Qur’an bahwa Allah memang membolehkan poligami, hal ini tertulis dalam Al Qur’an dalam surah An Nisa ayat 3 yang terjemahannya sebagai tertera di atas.

Dari ayat tsb dapat dikatahui bahwa menikahi lebih dari seorang perempuan diperbolehkan dalam agama Islam. Menurut aku, laki-laki yang melakukan poligami adalah laki-laki pemberani yang dipilih oleh Allah. -> Pemberani disini maksudnya tidak takut untuk berusaha adil. Ayat ini pula yang menjadi dasar bagi orang-orang yang mendukung poligami dan bagi para laki-laki yang melakukan poligami. 
 



  • Poligami menghindari zina
Aku juga mendukung poligami karena sangat prihatin dengan kondisi saat ini, dengan maraknya perselingkuhan dan perzinahan. Memang, aku sangat menghargai pria yang setia kepada satu istri, menurut aku pria setia itu kuat, diberi kekuatan oleh Allah, kekuatan untuk tahan dari godaan. Namun yang aku khawatirkan adalah pria-pria yang ngga jujur, so setia padahal di belakang istrinya genit-genit bahkan selingkuh dengan wanita lain. Terlebih menurut aku, genit-genit atau selingkuh dengan wanita lain di belakang maupun di depan pasangan yang sah adalah hal yang tidak dapat dibenarkan apalagi jika sampai berzina. Dalam aturan Islam, tidak dibenarkan mendekati zina apalagi sampai berzina. Daripada selingkuh ga jelas dan zina (ini fakta yang ga bisa disangkal bahwa saat ini hal demikian banyak terjadi), mending poligami aja, itu lebih baik. -> Para pria, silakan pilih: anda setia pada satu pasangan yang sah (ga selingkuh, ga genit-genit sama cewe lain juga tidak berzina) or I suggest you guys to practice polygamy (supaya pasangan sahnya lebih dari satu).

Ada juga orang-orang yang dengan congkak menolak poligami tapi akhirnya poligami poligami juga atau kalau perempuan, akhirnya dipoligami. -> Ini gambaran bahwa manusia sejatinya tidak dapat menentang aturan dan takdir Allah. 

  • Kesetiaan Perempuan vs Kesetiaan Laki-laki
Menurut pendapat aku, terdapat perbedaan perwujudan kesetiaan antara kesetiaan perempuan dan kesetiaan laki-laki. Wujud kesetiaan seorang perempuan adalah mutlak untuk memiliki (menikahi), mencintai dan berbakti kepada satu suami (dalam artian tidak berada dalam beberapa ikatan pernikahan dalam waktu yang bersamaan/ tidak melakukan poliandri dan tidak menjalin cinta dengan laki-laki lain). Sedangkan wujud kesetiaan bagi seorang laki-laki tidak mutlak hanya memiliki satu istri, yang terpenting bagi seorang laki-laki adalah bertanggung jawab terhadap keluarga, berusaha memenuhi kebutuhan lahir maupun batin bagi (para) istrinya, memberikan perlindungan, tidak berselingkuh* (bersikap jujur jika mencintai perempuan lain dan mengutarakan niatnya kepada sang istri jika hendak melakukan poligami) serta tetap berada dalam ikatan pernikahan dengan para istrinya (maksimal 4 istri).
*Menurut aku, yang dinamakan berselingkuh adalah berbohong atau tidak jujur.

Hal yang memungkinkan terjadinya poligami pada masa sekarang ini adalah angka kelahiran anak perempuan lebih tinggi daripada angka kelahiran anak laki-laki. Nabi Saw pun memberitakan bahwa suatu saat jumlah laki-laki dan perempuan adalah satu berbanding empat puluh (1:40), hal ini dinyatakan dalam hadits yang terjemahannya adalah sebagai berikut:



Dari Abu Musa al-Asy’ariy Ra, Sesungguhnya Nabi Saw bersabda: “Pasti akan datang pada manusia suatu masa, dimana seorang lelaki akan berkeliling membawa sedekah dari emas akan tetapi tidak menemukan seorang pun yang mau menerimanya, dan disaksikan pula seorang lelaki diikuti oleh empat puluh perempuan yang minta perlindungan darinya, karena sedikitnya lelaki dan banyaknya perempuan.”


Dan terjemahan hadits berikutnya adalah mengenai pernyataan Rasulullah saw yang menjelaskan bahwa kelak kemudian, menjelang kiamat, akan terjadi penurunan jumlah laki-laki dan peningkatan jumlah perempuan hingga menjadi satu berbanding lima puluh (1:50). Terjemahan hadits mengenai hal tersebut adalah sebagai berikut:

1612 Dari Anas r.a., katanya: Saya dengar Rasulullah saw. bersabda: “Diantara tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya (hilangnya) ilmu-pengetahuan, banyaknya kebodohan, banyaknya pelacuran, banyaknya orang minum minuman keras, sedikitnya jumlah laki-laki serta banyaknya jumlah wanita sehingga setiap lima puluh orang wanita hanya satu orang yang mengurusnya. ” Ringkasan Shahaih Bukhari Jilid IV hal 17

Salah satu isi dari terjemahan hadits-hadits tersebut menerangkan bahwa akan datang suatu masa dimana jumlah perempuan lebih banyak daripada laki-laki. Nampaknya tanda-tanda ini mulai terlihat saat ini dengan tingginya angka kelahiran anak perempuan.

Banyak perempuan menentang keras poligami dan ironisnya banyak para penentang poligami adalah para muslimah atau perempuan-perempuan yang mengaku beragama Islam. Entah sebab apa mereka menentang poligami, padahal dalam agama Islam poligami tidak dilarang. Alasan yang sering dikemukakan oleh para perempuan yang tidak menyetujui poligami adalah para laki-laki yang melakukan poligami itu tidak mungkin dapat berlaku adil, hal ini juga memang berdasarkan pada firman Allah surah An Nisa yang terjemahannya adalah sebagai berikut:

Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [An Nisa (4): 129]
Dengan menggunakan ayat tersebut, orang-orang yang tidak menyetujui poligami biasanya berasumsi bahwa seorang laki-laki itu tidak mungkin dapat berlaku adil walaupun diusahakan sekeras apa pun. Dan di ayat tersebut memang dijelaskan bahwa pria tidak dapat berlaku adil tapi bukan berarti pria dilarang poligami karena pada terjemahan ayat tersebut tertulis “karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung.”, terjemahan ayat tersebut tidak menyatakan “karena itu janganlah kamu memiliki istri lebih dari satu (poligami).” Jadi, sekali lagi, aku mau bilang bahwa poligami dibolehkan dalam Islam, dengan kata lain tidak ada larangan poligami dalam Islam. Memang tidak mudah untuk dapat berlaku adil namun setidaknya para laki-laki dapat berusaha untuk berlaku adil, karena aku yakin Allah akan menghargai sekecil apapun usaha seseorang yang berjuang dalam kebaikan dan berjuang untuk kebaikan dalam hal ini khususnya mengenai keadilan.


Memang benar merupakan hak setiap perempuan untuk memilih dimadu atau memilih tidak dimadu, namun yang aku khawatirkan dari para penentang poligami adalah jika alasan sebenarnya para perempuan menolak dipoligami adalah karena merasa takut untuk berbagi: merasa takut untuk berbagi suami dengan perempuan lain; merasa takut perhatian suaminya kepadanya akan berkurang; merasa takut rezekinya akan berkurang karena harus berbagi dengan perempuan lain, berbagi dengan anak-anak yang bukan anak kandungnya serta berbagi dengan orang-orang yang tidak ada ikatan darah dengannya. Rasa takut dan rasa sakit hati adalah hal yang wajar terjadi pada diri manusia, namun jika terus-menerus memeluk rasa takut dan sakit hati serta menjadikan ketakutan-ketakutan tersebut menjadi alasan untuk menentang poligami yang diizinkan oleh Allah, tidakkah penentangan itu dapat dikatakan egois?

[Pendapat aku yang aku kutip dari tulisan aku yang berjudul “Batik II”:
Kemudian, Kartini tahu dalam Islam poligami diizinkan, bukan suatu dosa bukan pula suatu cela. Namun menurut Kartini pribadi, karena poligami ia anggap menyakiti perempuan maka Kartini menganggap poligami sebagai dosa. (Habis Gelap Terbitlah Terang. 1992. Surat tertanggal 18 Agustus 1899 kepada nona Zeehandelaar.) -> Poligami dianggap menyakiti perempuan. Nah, justru mungkin karena harus menahan rasa sakit dipoligami tersebut, pintu surga terbuka dengan lebar bagi perempuan yang sanggup tabah menjalani poligami. Menjadi perempuan memang ga mudah, saat melahirkan kelihatannya harus menahan sakit yang amat sangat sampai-sampai ada yang harus kehilangan nyawa, saat menstruasi pun terkadang harus menahan rasa sakit, ketika dipoligami juga nampaknya musti menahan sakit, semoga ketabahan dalam menahan rasa sakit dapat mengantarkan para perempuan menuju surga Allah. Amin.
Menurut aku, poligami ngga dosa, dalam ajaran Islam pun diperbolehkan. Lain hal, kalo ada cowo poligami terus menganiaya para istri dan anak-anaknya, itu baru dosa. Kalo cowo yang berpoligami bersikap jujur dan baik terhadap para istri dan anak-anaknya justru berpahala dan insya Allah semua bisa merasa bahagia. -> Alhamdulillah, Allah mentakdirkan praktek poligami di keluarga aku.
Memang kadang ada cowo berpoligami lalu menganiaya istrinya dengan cara bersikap tidak adil, tapi menurut aku, mungkin seringnya banyak perempuan yang menganiaya diri sendiri dengan cara cemburu terlalu berlebihan (tidak bersabar), selain itu, selalu memiliki perasaan bahwa suaminya tidak adil lalu sang istri tidak bersyukur/ tidak berterima kasih kepada sang suami atas apa yang telah diberikan oleh suaminya tersebut. ‘Ya Allah, berikanlah maghfirah dan rahmat Engkau kepada kaum Muslimin. Amin.’]


Dalam hal poligami, bukan hanya tuntutan bagi para laki-laki untuk dapat berlaku adil (berpoligami), namun juga merupakan tuntutan bagi para perempuan untuk dapat berlaku sabar (dipoligami). Memang benar rasa cemburu pasti ada, Siti Aisyah, istri Rasulullah saja cemburu karena Rasulullah sering menyebut nama dan kebaikan almarhumah istri pertamanya, Siti Khadijah. Namun kecemburuan Aisyah ini, tidak sampai membuat Aisyah melarang Rasulullah menyebut nama Khadijah. Peristiwa lain berkaitan dengan rasa cemburu, Aisyah (bersama beberapa istri Rasulullah lainnya) pernah membuat sedikit makar terhadap Hafshah akibat Rasulullah suatu kali tinggal lebih lama di rumah Hafshah. Namun kecemburuan tersebut tidak sampai membuat Aisyah melarang Rasulullah untuk berpoligami, tidak sampai membuat Aisyah menentang aturan Allah.

26. Sesungguhnya cemburu (cemburu yang wajar dan masuk akal) dari keimanan. (HR. al-Baihaqi dan Ibnu Babawih). 1100 Hadits Terpilih: Sinar Ajaran Muhammad. Halaman: 263)

[Berkaitan dengan cemburu, aku ingin meminta maaf kepada para Muslimah yang pernah menjadi sasaran cemburu aku, aku meminta maaf atas sikap cemburu aku yang keterlaluan dan tidak sesuai dengan aturan Allah, seperti berkata-kata tidak bermanfaat terhadap para Muslimah yang aku cemburui, memusuhi para Muslimah yang aku cemburui, mempermalukan para Muslimah yang aku cemburui di depan umum. Semoga para Muslimah tersebut memaafkan aku, dan semoga Allah mengampuni aku dan para Muslimah yang pernah aku cemburui. Amin.

Aku yakin, aku juga pasti memiliki rasa cemburu jika suami aku kelak melakukan poligami, tapi masa gara-gara cemburu aku harus menentang aturan Allah? Allah yang Maha Pencemburu terhadap makhluk-Nya yang tidak taat kepada-Nya.

1610. Dari Mughirah r.a., Sa’d bin ‘Ubadah berkata: “Kalau saya lihat seorang laki-laki dengan isteri saya, tentu saya pukul ia dengan pedang tanpa maaf lagi.” Lalu Rasulullah saw. bersabda: “Jangan heran dengan perasaan cemburu Sa’d, karena saya sendiri lebih cemburu dari padanya, dan Allah lebih cemburu dari pada saya.” Ringkasan Shahaih Bukhari Jilid IV hal 16


Setelah membaca beberapa terjemah hadits termasuk terjemah hadits di atas, aku menarik simpulan bahwa perwujudan cemburu perempuan berbeda dengan perwujudan cemburu laki-laki. Jika seorang istri cemburu terhadap suaminya karena suaminya bersama wanita lain, maka sang istri tidak boleh berlaku gegabah terhadap suaminya maupun terhadap wanita lain yang bersama suaminya terkait dengan diperbolehkannya poligami di dalam Islam, terutama jika sang suami belum mempunyai 4 istri.

Sebaliknya, jika seorang suami melihat istrinya dengan pria lain khususnya jika sang istri dan si pria lain tersebut berprilaku mencurigakan, mengarah pada perselingkuhan, baiknya sang suami dapat bertindak tegas terhadap si pria lain yang bersama istrinya tersebut. -> Kalo perlu hajar aja si pria lain yang bersama istrinya tersebut. Kalo istrinya siy jangan dikasarin, perempuan kan makhluk lemah yang perlu dilindungi serta diajari dengan lemah lembut, atau diperlakukan sesuai aturan Islam. Kecuali jika si istri memang terbukti atau kedapatan sedang melakukan zina (dan terdapat cukup saksi) maka baik sang istri maupun si pria lain tersebut harus dirajam.

Tindakan tegas dari para suami terutama terhadap pria lain yang mengancam keutuhan rumah tangganya ini perlu dilakukan sehubungan dengan aturan Islam mengenai keharusan seorang suami untuk menjaga (para) istrinya serta keharusan (para) istri untuk setia terhadap suaminya (tidak berselingkuh) serta tidak melakukan poliandri.

Selain itu tindakan tegas ini dilakukan untuk menghindari kerugian dan kerusakan yang lebih besar, jika seorang istri dibawa* lari oleh pria lain maka yang akan mengalami kerugian adalah keluarga besar pihak suami juga keluarga besar pihak istri serta anak-anak karena dengan terlepasnya seorang istri dari seorang suami dikarenakan adanya pria lain dapat merenggangkan atau memutuskan tali silaturahim beberapa pihak keluarga besar.
*aku pilih kata dibawa lari oleh pria lain karena aku pikir perempuan itu makhluk lemah, serta lemah terhadap bujuk rayu jadi yang perlu ditindak tegas adalah si pria.

Anw waktu tanggal 02.02.2012 atau 09 Rabiul Awal 1433 H aku nonton berita mengenai seorang suami yang bekerja sebagai Polisi di Medan yang bertindak mencegah perselingkuhan dengan melakukan tindakan tegas terhadap pria lain yang bersama istrinya. -> Menurut aku, tindakan suami yang dibantu rekan-rekannya (beberapa Polisi) tersebut merupakan wujud da’wah dalam tindakan nyata.]

Sesungguhnya penyangkalan-penyangkalan dan penentangan-penentangan yang dibuat manusia terhadap aturan-aturan Allah Swt disebabkan oleh egoisme yang bersumber dari kecintaan yang berlebihan pada dunia sehingga menjauhkan diri dari kepasrahan diri kepada Allah Swt.

Ada golongan perempuan yang menentang poligami, ada pula golongan perempuan yang tidak menentang poligami, hanya saja belum siap untuk dipoligami. Pertanyaanya adalah: kapankah anda siap jika anda tidak mempersiapkan diri dari sekarang? Karena seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa saat ini jumlah perempuan lebih banyak daripada laki-laki, jadi adakah solusi yang lebih tepat untuk mengatasi banyaknya perempuan yang tetap melajang atau tidak menikah akibat terbatasnya kaum laki-laki selain poligami? Dengan diperbolehkannya seorang laki-laki menikahi empat orang perempuan, hal tersebut merupakan suatu solusi serta kasih sayang Allah kepada para perempuan agar tidak hidup melajang ketika jumlah laki-laki lebih sedikit daripada perempuan.

[Lagi pula aku berfikir mengenai diri aku atau anak-anak aku kelak, di zaman perempuan yang lebih banyak daripada laki-laki, daripada sama sekali tidak menikah lebih baik menikah dan menjadi istri kedua, ketiga atau keempat demi melaksanakan perintah Allah dan sunnah Rasul mengenai menikah.]

Islam memang membolehkan poligami, namun disamping membolehkan, Islam juga membatasi poligami dengan hanya membolehkan memiliki empat orang istri saja. Dalam aturan Islam, tidak diperbolehkan menikahi lebih dari empat orang perempuan. Memiliki empat orang istri sesuai dengan Al Qur’an surah Annisa yang telah disebutkan di atas, juga sesuai dengan sabda Rasulullah yang terjemahannya adalah sebagai berikut:

Abu Daud –dengan-sanadnya-meriwayatkan; bahwa Umairah Al-Asadi berkata, “Aku masuk Islam sedangkan aku memiliki delapan Istri, lalu aku tuturkan hal itu kepada Rasulullah, maka Rasulullah bersabda, ‘Pilihlah empat di antara mereka.”
Imam Asy-Syafi’I berkata dalam Musnad-nya,”Telah menceritakan kepadaku orang yang mendengar dari Ibnu Abi Ziyad, ia berkata, “Telah menceritakan kepadaku Abdul Majid dari Ibnu Salah bin Abdur Rahman dari Auf bin Al Harits, dari Naufal bin Mu’awiyah Al-Dailami, ia berkata, ‘Aku masuk Islam, sedang aku memiliki lima orang Istri.’ Kemudian Nabi bersabda kepadaku, ‘Pilihlah empat yang mana saja yang kamu sukai, dan lepaskan yang lain..” Tafsir Wanita hal 260

Jadi berdasarkan perintah Allah dan Rasulullah, istri yang dimiliki maksimal adalah 4 orang. 


Saat awal tulisan ini dibuat, aku menyatakan bahwa poligami dibatasi pada 4 orang istri saja. Namun terkait kondisi saat ini yang kabarnya wanita jauh lebih banyak daripada pria, maka aku mengutip pernyataan aku yang sempat dipublikasikan di jejaring sosial Facebook. Berikut pernyataanya:

"Kasus pria Muslim (Mualaf) dengan istri lebih dari 4 orang juga beberapa waktu ini kembali muncul dalam pemberitaan. Hanya saja, saat mengetahui berita tsb, aku telah memiliki pandangan yang berbeda. Kali ini, dengan situasi dan kondisi saat ini ketika jumlah wanita lebih banyak dari pria, aku cenderung untuk menyetujui apabila para pria Muslim/Mualaf beristri lebih dari 4, tepatnya maksimal 40 atau 50 orang. Hal ini berdasarkan terjemah hadits yang termuat di atas. Aku pernah membaca artikel mengenai hasil penelitian, yang sayangnya aku tidak ingat sumber beritanya, dikabarkan bahwa saat ini jumlah perbandingan antara pria dan wanita telah mencapai 1:40 (satu orang pria berbanding 40 orang wanita).


Mengenai pendapat aku yang menyetujui/membolehkan seorang pria Muslim/Mualaf menikahi (secara syar’i) lebih dari 4 orang wanita telah aku diskusikan dengan matang bersama Abiku. Berdasarkan hadits-hadits yang disebutkan di awal tulisan ini, Abi aku pun membenarkan tindakan pria yang menikahi (secara syar’i) lebih dari 4 orang istri (maksimal jumlah istrinya 40-50 wanita, tidak boleh lebih). Pembolehan ini terkait situasi yang memaksa (jumlah wanita yang lebih banyak daripada pria), salah satu kutipan terjamah hadits mengenai hal ini adalah berikut “sedikitnya jumlah laki-laki serta banyaknya jumlah wanita sehingga setiap lima puluh orang wanita hanya satu orang yang mengurusnya” . Menurut pendapat aku dan Abi, cara terbaik mengurus banyak wanita, 40-50 wanita terutama para Muslimah (atau jika terlanjur menikahi ahli kitab yang shaleh) adalah dengan menikahi atau tetap dalam pernikahan dengan mereka, menikah atau dalam pernikahan sesuai syariat Islam.


->Jika terdapat istri yg merupakan ahli kitab, sang istri sedapat mungkin diajak ke dalam Islam. Hanya Islam agama yg diridhai Allah.

-> Tidak dibenarkan melakukan poligami dengan cara semena-mena merebut pasangan/kekasih orang lain terlebih mengganggu istri orang hingga bercerai dari suaminya lalu dinikahi/dipoligami oleh pelaku kejahatan perebut istri orang tsb.

Aku juga berpikir bahwa, babi saja (yang notabene haram) bisa jadi boleh dimakan ketika tidak ada sesuatu pun makanan yang bisa dimakan, selama tidak menyengaja menginginkan babi dan memakannya tidak berlebihan, selama terdesak, apalagi poligami (menikah) yang jelas-jelas halal, karena menikah dan poligami adalah halal maka kewajiban yang perlu dipenuhi berdasarkan firman Allah adalah bersikap adil (sesuai syariat Islam). Kemudian merujuk sabda Rasulullah saw yang intinya memberitakan bahwa akan datang masa 1 pria mengurus 50 wanita, maka para istri tidak boleh berjumlah lebih dari 50 wanita. Aku bersedia mempertanggungjawabkan pernyataan aku ini kelak di hadapan Allah, insya Allah."





[Bicara mengenai poligami, aku mau mengutip tulisan dari tulisan aku yang berjudul Alim Ulama, kutipannya sebagai berikut:


  • "Aku nonton alim ulama yang bicara aneh mengenai poligami. Tidak sepantasnya seorang alim ulama yang menjadi panutan jamaah memberikan simpulan dan statement kalo orang yang melakukan poligami adalah orang sakit. Nah kalo menurut alim ulama itu orang yang melakukan poligami orang sakit, gimana sama Nabi Ibrahim as, Nabi Yaqub as, Nabi Daud as, Nabi Sulaiman as dan Rasulullah saw* yang mencontohkan poligami?
    Dan alim ulama tersebut terlihat tidak mendukung poligami dengan alasan masalah keadilan, dengan mencontohkan sulitnya membagi hari untuk kebersamaan seorang suami dengan para istrinya.  

    Menurut aku, adil bukan berarti dalam 7 hari istri pertama dan istri kedua musti mendapat jatah jumlah hari yang sama untuk bersama sang suami, masing-masing 3,5 hari. Dalam hal ini, soal jumlah hari yang sama jangan dijadikan patokan keadilan, dilihat dulu situasinya seperti apa.  

    Rasulullah telah mencontohkan bahwa keadilan terhadap para istri bukanlah dengan cara membagi jatah tinggal dalam jumlah hari yang sama antara istri pertama dan kedua, hal ini dijelasakan dalam terjemahan hadits berikut ini: 

    1609. Dari Anas r.a. katanya: Telah menjadi sunnah bahwa kalau seseorang mempunyai isteri janda, lalu ia kawin dengan seorang gadis, maka ia tetap tinggal dengan istri mudanya selama tujuh hari, setelah itu bergiliran. Kalau ia mempunyai istri gadis, lalu ia kawin pula denga seorang janda, maka ia tinggal selama tiga hari dengan istrinya yang baru, setelah itu bergiliran.” Ringkasan Shahaih Bukhari Jilid IV hal 16 

    Terjemahan hadits di atas memang mengenai kasus yang spesifik, seorang suami yang menikahi seorang gadis atau janda, dan jumlah 7 hari atau 3 hari itu sepertinya berlaku di saat hari-hari awal pernikahan, selanjutnya tidak ditentukan jumlah hari yang lebih rinci untuk jatah tinggal bersama istri pertama maupun kedua, baik yang berstatus gadis maupun janda. Namun dari terjemahan hadits tersebut dapat diketahui bahwa adil itu bukanlah menetapkan jumlah hari sama banyak, tapi dapat menetapkan sesuatu sesuai situasi dan kondisi berdasarkan aturan yang berlaku terutama aturan Islam. 

    Kalo menurut aku, setelah menjalankan aturan hari-hari pertama pernikahan sesuai sunnah Rasul, adalah wajar bila istri pertama dapet jatah tinggal lebih lama dengan suaminya karena istri pertama lebih dulu menikah dengan suaminya dan telah lebih lama bersama dengan suaminya sebagai suami istri, maksudnya wajar bila istri pertama mendapatkan hak istimewa. Tapi kalo suaminya mau dan istri pertamanya membolehkan suaminya tinggal lebih lama di tempat istri kedua, itu pun tak masalah. Yang terpenting adalah seorang suami memenuhi kebutuhan lahir-batin para istrinya dan tidak membiarkan ada istrinya yang terkatung-katung.  

    (Jadi pria yang adil memang tidak mudah, tapi yakinlah Allah Maha Adil dan Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada orang-orang yang berusaha membenarkan (mengakui kebenaran) dan melaksanakan setiap aturan-Nya.) 

    Aku menyarankan alim ulama tersebut untuk beristighfar, meralat pernyataanya serta lebih banyak bersabar dan bertawakal kepada Allah atas ujian yang berupa ketenaran dan banyaknya jamaah. Semoga Allah memberikan maghfirah dan rahmat-Nya kepada alim ulama tersebut. Amin. 

    *Ngeh nama-nama Nabi yang melakukan poligami setelah hari ini (090511) baca lagi majalah Alia: Pesona Muslimah No 07 Tahun VII Muharram – Shafar 1431/ Januari 2010 halaman 27]
Saat ini, poligami sepertinya dipersulit dengan alasan harus mengikuti Rasulullah menikahi janda tua, bukan perempuan muda dan cantik. Memang benar menikahi janda-janda tua dicontohkan oleh Rasulullah, dan menurut aku, sungguh mulia laki-laki yang dapat mengikuti jejak Rasulullah yang menikahi para janda khususnya janda tua.


[FYI, Saudah Radiyallahu anha, istri Rasulullah (yang sebelumnya berstatus janda) yang sudah sangat sepuh dan tidak tertarik lagi untuk melakukan hubungan suami istri, memberikan jatah tinggalnya bersama Rasulullah kepada Aisyah. Aisyah merupakan satu-satunya istri Rasulullah yang dinikahi saat ia masih gadis dan sangat belia. Jadi intinya, aku mau bilang kalo laki-laki yang istrinya belum 4 terus jujur dan terbuka bilang mau nikah lagi sama gadis, muda dan cantik ya jangan dilarang, karena berdasarkan kasus Saudah tersebut, seorang perempuan muda (Aisyah) dapat membantu istri yang lebih tua dalam melaksanakan tugas sebagai istri. -> Terinspirasi nulis ini setelah (100511) baca lagi majalah Alia. Alhamdulillah.]

Sudah diketahui oleh umum bahwa hanya Aisyah yang dinikahi Rasulullah ketika ia masih gadis dan berusia sangat belia, namun hal ini tidak berarti semua istri Rasulullah adalah janda tua, ada pula janda muda dan cantik seperti Zainab binti Jahsy dan Shafiyah binti Huyay. Selain itu, walaupun Rasulullah menikahi para janda bahkan janda tua, beliau tidak menekankan umatnya untuk menikahi para janda, hal ini dapat dilihat melalui terjemahan hadits yang telah dituliskan di atas, melalui terjemahan hadits tersebut dapat ditarik sebuah simpulan bahwa seorang laki-laki boleh menikah kembali dengan janda maupun gadis. Aku berasumsi bahwa para laki-laki boleh menikah kembali dengan janda tua, janda muda, janda kembang, maupun gadis muda, gadis ABG (dalam Islam diperbolehkan menikah di usia muda, yang ga boleh adalah berzina di usia muda maupun di usia tua), gadis remaja, gadis dewasa, ataupun gadis tua. -> Yang penting perempuan yang akan dinikahi single, bukan tunangan atau istri orang lain, dan yang terpenting menikah bukan berzina, serta jumlah istrinya tidak lebih dari 4.


Memang memiliki istri lebih dari satu memiliki resiko yang tinggi, bahkan aku pernah baca, bahwa di akhirat seorang suami yang melakukan poligami namun tidak berlaku adil terhadap para istrinya akan datang dengan pundak yang miring sebelah. Walaupun demikian, menurut aku, jika para laki-laki ingin melakukan poligami namun takut tidak dapat berlaku adil, singkirkanlah rasa takut itu jadilah laki-laki yang jujur dan pemberani, yang terpenting dalam berpoligami adalah selalu berniat dan berusaha untuk berbuat adil dengan menafkahi secara lahir maupun batin dan tidak membuat (para) istrinya terkatung-katung, serta yakinlah bahwa Allah Maha Adil, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 
 





  • Poligami mempererat ukuwah Islamiyah, mempererat tali persaudaraan sesama umat Islam.
Bagi para laki-laki yang melakukan poligami sudah sepatutnya untuk mendidik diri sendiri, para istri sekaligus anak-anaknya untuk menjadi umat yang bertaqwa kepada Allah. Dengan mendidik istri-istri dan anak-anak menjadi umat yang bertaqwa kepada Allah maka akan terbentuk pribadi-pribadi yang shalih dan shalihah yang mempererat ukuwah Islamiah sehingga umat Islam menjadi umat yang besar serta bersatu. Selain kewajiban untuk mendidik para istri dan anak-anak, laki-laki yang berpoligami juga diharapkan dapat memperhatikan dirinya sendiri misalnya dengan menjaga kesehatan agar dapat melindungi istri dan anak-anaknya baik secara lahir maupun batin, disamping melaksanakan kewajiban mencari nafkah untuk kesejahteraan kehidupan keluarganya. Dengan demikian, insya Allah akan tercipta generasi Muslimin yang bertaqwa kepada Allah dan bersatu padu dalam jumlah yang banyak. Amin."

->Para istri boleh membantu suami dalam mencari nafkah atas izin suami, baiknya membantu suami mencari nafkah dengan pekerjaan yang dapat dikerjakan di rumah, selama sang istri tidak melalaikan kewajiban mengurus suami dan mengurus serta mendidik anak sesuai syariat Islam.

->Poligami sepatutnya dilakukan sesuai syariat Islam, untuk meraih berkah, rahmat dan ridha Allah di dunia dan di akhirat. Aamiin.

Wallahualam.


Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.


19/11/2010
10/12/2010
0828/04/2011
080910282930/05/2011
07/06/2011
08/08/2011
EAP:
14212326/08/2011
04/09/2011
2829/11/2011 -> 0304 Muharram 1433 H

0812222324/07/2012 -> 1822 Sya’ban, 030405 Ramadhan 1433 H
0405/11/2012 -> 1921 Dzulhijjah 1433 H 
18/11/2012 -> 05 Muharram 1434 H 
13.12.2015 -> 01 Robiul Awal 1437 H