Batik II

-->
Tulisan ini tidak bermaksud membahas mengenai batik seperti tulisan aku sebelumnya yang berjudul “Batik”. Tulisan ini lebih merupakan tulisan mengenai tulisan aku yang berjudul “Batik” serta hal-hal yang berkaitan (maupun yang dikait-kaitkan bahkan yang tidak berkaitan) dengan tulisan tersebut.

FYI, aku nulis tulisan sebelumnya yang berjudul “Batik” dengan tujuan agar aku dan orang-orang bisa bedain, mana yang namanya MENCURI budaya milik daerah atau negara lain, mana yang namanya PENCAMPURAN budaya/ AKULTURASI budaya antar satu daerah/ negara dengan daerah/ negara lainnya. -> Aku mau bilang sama Malaysia: Jangan nyuri budaya batik yang merupakan salah satu karya seni dan budaya Indonesia. Aku juga mau bilang sama orang Indonesia: Sudah sepatutnya menjaga budaya sendiri selama budaya tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

[Saat pertama menulis tulisan ini, aku akui aku belum menyadari pentingnya persatuan Islam, pentingnya kaum muslimin bersatu padu seluruhnya, namun setelah membaca komen-komen di beberapa video lagu Maher Zein serta membaca komen-komen di situs Eramuslim (aku ga inget kapan ngakses video-video dan situs tersebut), juga setelah baca sebuah artikel di majalah Educare edisi Mei 2011 (dibaca tanggal 15/11/11 atau 19 Dzulhijjah 1432 H.), dan setelah membaca beberapa komen orang-orang dalam 1 exemplar koran pembagian dari pemerintah -> makasi pemerintah, koran Pikiran Rakyat edisi 15 November 2011 atau 29 Dzulhijjah 1432 H. (dibaca tanggal 15&16/11/11 atau 19&20 Dzulhijjah 1432 H.), alhamdulillah aku menyadari mengenai pentingnya umat Islam bersatu padu seluruhnya dalam kebaikan dan kebenaran.

Dengan demikian aku ingin meluruskan dan menjelaskan pernyataan aku yang berkaitan dengan Indonesia dan Malaysia. Berkaitan soal pencurian budaya, aku akan tetap menentang pencurian walaupun itu dilakukan oleh sesama Muslim (dalam hal ini Malaysia). Karena Rasulullah Muhammad saw pun bersikap keras terhadap para pencuri (yang mencuri dalam jumlah tertentu) bahkan Rasulullah Muhammad saw akan memotong tangan putri kesayangnya, Fatimah ra, apabila putri kesayangnya tersebut mencuri.

Sebagai umat Islam, sudah sepatutnya saling mengingatkan dan saling menasihati apabila ada yang berbuat salah, jangan seperti kebanyakan orang kafir yang tidak saling menasihati ketika ada yang berbuat maksiat dan kejahatan, atau lebih parah mereka malah bekerja sama dalam berbuat maksiat, melakukan kejahatan dan kerusakan. -> Menurut aku, Khilafah Islamiyah atau Daulah Islam sulit untuk tercipta dan tegak selama masih banyak Muslim yang mencuri, mengambil hak orang lain, korupsi, dan tidak jujur.

Soal lain berkaitan dengan Indonesia dan Malaysia, aku akan mendukung Malaysia jika memang orang-orangnya pemeluk Islam yang taat kepada Allah dan Rasulullah Muhammad saw, berikap sportif (tidak licik), dan bermental juara. -> Dalam hal ini, aku mau cerita mengenai sepak bola Indonesia versus Malaysia. Walaupun aku ga terlalu suka sepak bola tapi kalo disuru milih, aku bakal milih tim sepak bola yang pemainnya kebanyakan beragama Islam, bermain sportif dan bermental juara sekalipun mereka berasal dari MALAYSIA! (dengan catatan: tidak ada aksi kekerasan dalam dukung-mendukung sebuah tim sepak bola).-> Aku ga mau umat Islam berantem -sama umat Islam- atau bahkan mati cuma gara-gara PERMAINAN sepak bola. -> Ini namanya mati sia-sia.

Intinya, sesama Muslim sudah sepatutnya saling nasihat-menasihati. Jika ada Muslim yang salah maka sesama Muslim wajib memperingatkan/ menasihati yang salah. Jika ada Muslim yang benar maka sesama Muslim wajib membela Muslim yang benar.
Semoga Allah mematikan aku dalam keadaan mengucapkan dan menegakkan kalimat tauhid: Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.]

Selain itu, aku juga mau ralat kesalahan aku mengenai menghargai karya seni, sebelumnya aku nulis tentang menghargai karya orang lain, apalagi kalo karyanya bagus. Nah, menurut pendapat aku sekarang, ga semua karya orang lain atau karya seni perlu diapresiasi meskipun karyanya bagus. Kalo karya seseorang itu bagus tapi melanggar aturan Islam apalagi menghina (aturan) Islam, ngapain dihargai? Karya seni yang patut dihargai adalah karya seni yang sesuai dengan aturan Islam, standarisasi bagus dan Indah harus sesuai aturan Islam baru kemudian sesuai dengan nilai estetika. Misalnya, menggambar sesuai dengan aturan Islam: tidak menggambar makhluk bernyawa seperti manusia dan hewan, tapi boleh menggambar tumbuhan; bunga; daun; buah; baju (terutama yang menutup aurat); pemandangan: laut, pantai, gunung, bukit, sawah; selain itu perahu dan benda-benda tak bernyawa atau benda mati lainnya (yang tidak vulgar dan tidak mengerikan.).

1045. diriwayatkan dari Ibn ‘Abbas r.a.: Seorang lelaki datang dan berkata, “Wahai, Ibn ‘Abbas! Aku seorang manusia. Penghasilanku adalah dari keahlianku membuat lukisan-lukisan ini.” Ibn ‘Abbas berkata, “Aku hanya akan mengatakan kepadamu apa yang kudengar dari Rasulullah Saw. yaitu, ‘Siapa pun yang membuat gambar-gambar (lukisan) akan diazab Allah hingga ia masukan nyawa (kehidupan) pada gambar-gambar (lukisan) itu, dan ia tidak akan pernah bisa melakukannya.”’ Mendengar hal ini wajah orang itu berubah pucat. Ibn ‘Abbas berkata, “Aku iba melihatmu! Apabila kamu tetap bersikeras membuat gambar-gambar (lukisan), aku nasihatkan buatlah lukisan pohon atau objek lukisan yang tidak memiliki nyawa.” [3: 428-S.A.] Ringkasan Shahih Al-Bukhari hal 440-441.

[Menghilangkan ciri-ciri makhluk bernyawa dengan cara memotong gambar pada bagian kepala dapat dilakukan pada situasi terdesak sebagai bentuk keringanan. Keterangan mengenai hal ini terdapat dalam buku Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam II. 1981. DR. Abdullah Nashih Ulwan. Hal 388. Keterangan sebagai berikut:

Yang perlu menjadi perhatian adalah, bahwa dengan merubah gambar (lukisan) dan menghilangkan ciri-ciri ‘makhluk bernyawa’ adalah menjadikan gambar (lukisan) itu halal dan boleh memaafkannya. An-Nasa’i dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya meriwayatkan, bahwa Jibril as. mohon izin kepada Rasulullah saw. maka, Rasulullah saw. berkata kepadanya:
“Silakan masuk” Jibril berkata, “Bagaimana aku masuk sedang dalam rumahmu terdapat tabir yang berlukis? Jika memang terpaksa demikian, maka potong kepalanya atau potonglah untuk dijadikan bantal atau hamparan”.

Untuk keadaan darurat pula, menggambar manusia sepertinya dapat dilakukan, misalkan gambar sketsa wajah orang-orang kriminil, gambar bagian-bagian anggota tubuh sebagai alat peraga. -> Dalam keadaan terdesak untuk kepentingan ilmu pengetahuan bukan untuk hiasan atau pajangan. -> Menarik simpulan ini setelah (040911) baca lagi buku Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam II. 1981. DR. Abdullah Nashih Ulwan. Hal 388.

Sedangkan untuk foto dapat dibuat untuk beberapa kepentingan sebagai berikut seperti kartu identitas, barang bukti, foto keluarga (sesekali), foto event penting seperti pernikahan, kemudian silaturahim keluarga besar, lalu reuni dengan catatan tidak mengambil foto secara berlebihan. Tidak dibenarkan memajang foto makhluk bernyawa di dinding rumah, jadi sebaiknya foto-foto disimpan di dalam album foto, di dalam folder computer atau di burn ke dalam CD/DVD. Untuk pemajangan foto makhluk bernyawa di tempat umum baiknya tidak perlu dilakukan kecuali untuk memajang foto pencarian buronan atas kasus kejahatan. Sedangkan pemajangan foto makhluk bernyawa di internet dengan tujuan sebagai barang bukti terutama untuk peristiwa penting, jika situasi dan kondisi memungkinkan untuk pengeditan guna menghilangkan ciri-ciri makhluk bernyawa, ada baiknya pengeditan tersebut dilakukan, kecuali dalam keadaan terpaksa.

Sepatutnya setiap foto dibuat sesuai syariat Islam.]

Selain menggambar sesuai aturan Islam, juga bermain musik tetap dalam koridor Islam: lirik lagu dan gerakannya sopan, tidak mempropagandakan kata-kata atau gerakan-gerakan yang mencontohkan serta mengajak untuk melakukan kemusyrikan, kebejatan dan maksiat; pakaian yang dipakai para pemain musik dan penyanyi (termasuk backing vocal, penari latar dan semua yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan permainan musik tersebut) pun sopan tidak memamerkan aurat; musiknya bukan musik keras seperti hard rock atau metal.

{Btw buat yang merasa pinter, ga usah TERLALU banyak nanya, misal: soal sopan, vulgar, atau music keras. Ga sedikit orang yang banyak bertanya tuh bukan karena ga tau tapi pertanyaan-pertanyaanya sekedar untuk ngetes atau bahkan lebih parahnya untuk membelokkan dari kebenaran. -> Masya Allah.

The real question is: Maukah kita taat kepada Allah?

Aku sedih, kesal dan prihatin kalo aku sendiri atau liat orang lain banyak nanya tapi malah jadi membangkang, malah jadi ga taat kepada Allah. Semoga Allah menujukki aku dan kaum Muslimin ke jalan yang lurus. Amin.}

Info berikutnya:
Info pertama, mengenai perayaan hari Kartini, sekarang aku pribadi udah ga mau lagi merayakan hari Kartini, awalnya kalo aku dapet undangan untuk menghadiri acara tersebut, aku masi dateng walaupun sebentar dengan tujuan menghormati tuan rumah yang sudah mengundang. Kapan ya orang Indonesia berhenti merayakan hari Kartini? -> Aku butuh proses untuk berhenti menghadiri perayaan tanggal 21 April tersebut, dan alhamdulillah tahun 2012/1433 H ini aku sudah tidak merayakan dan tidak menghadiri undangan perayaan hari Kartini dengan pertimbangan jika aku masih menghadiri perayaan tersebut, maka aku turut andil dalam keberlangsungan perayaan tersebut karena menurut aku, perayaan tersebut sepatutnya dihentikan.

Aku ga antusias lagi merayakan hari Kartini karena setelah aku baca beberapa buku serta keterangan mengenai Kartini, ada beberapa pemikiran Kartini yang menurut aku terlalu liberal, bahkan ada yang tidak sesuai dengan akidah Islam. Misalnya, dalam surat-surat Kartini kepada teman-temannya yang berkebangsaan Belanda dan beragama Non-Muslim (Nasrani), Kartini yang seorang Muslim kerap menyebut Allah dengan kata Bapak (lihat surat tertanggal: 6 November 1899 kepada nona Zeehandelaar dan surat tertanggal 17 Agustus 1902 kepada tuan E.C. Abendanon. Habis Gelap Terbitlah Terang: 1992. Hal 45 dan 150) -> Allah ngga beranak! Jadi, jangan sekali-kali menyebut Allah dengan kata Bapak.

Selain itu, Kartini menyatakan bahwa semua agama baik dan bagus. -> Surat kepada nyonya van Kol tertanggal 21 Juli 1902 (Habis Gelap Terbitlah Terang: 1992. Hal 141. Lihat juga buku Fakta dan Data Yahudi di Indonesia Dulu dan Kini: 2007. Hal 67). Menurut aku, pernyataan semua agama baik adalah sesat. -> Mengenai hal ini dapat dibaca dalam tulisan aku yang berjudul “Lakum Dinukum Waliadin (Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku)”.

Kemudian, Kartini mendukung bahkan memberikan tips mengenai siasat zending yang baik terhadap pribumi, walaupun Kartini sendiri tidak setuju dengan Kristenisasi “Pendek kata: usahakanlah zending itu ---- tetapi tidak dengan menasranikan orang!”. -> Surat kepada tuan E.C Abendanon tertanggal 31 Januari 1903 (Habis Gelap Terbitlah Terang: 1992. Hal 176:) -> Menurut aku, yang namanya zending otomatis tujuan utamanya menasranikan orang. Zending dilakukan, salah satunya memang karena kesalahan orang Islam sendiri yang ga peduli kepada sesama Muslim, tidak berkasih sayang sebagaimana orang-orang Mukmin berkasih sayang, tapi bukan berarti orang Islam musti ngedukung zending. Orang Islam yang mendukung zending atau menutup mata terhadap adanya zending aku ibaratkan sebagai orang tua yang memiliki anak, lalu orang tua tersebut menyerahkan pengurusan anaknya baik dari segi kasih sayang, pendidikan maupun finansial kepada orang lain. -> Jadi wajar kalo si anak lebih sayang sama orang lain itu dibanding sama orang tuanya. Sekarang, tugas aku dan kaum Muslimin untuk lebih saling memperhatikan dan berkasih sayang sesuai ajaran Islam, juga saling mengingatkan apabila terjadi penyimpangan dari ajaran Islam. Dan yang paling penting, aku dan umat Islam lebih banyak bergantung dan berserah diri kepada Allah Swt.
Selain itu, pemikiran mengenai kesetaraan peranan antara perempuan dan laki-laki yang menurut aku terlalu bebas, tidak sesuai dengan aturan Islam. Misalnya, berdasarkan buku mini biografi Kartini yang pernah aku baca, terdapat ide agar perempuan dapat pergi bersekolah ke luar negeri. Masalahnya di sini, bukan berarti perempuan ga boleh menuntut ilmu sampai ke negeri jauh, tapi bersama siapakah si perempuan itu pergi? Kalo ga sama muhrim mana boleh perempuan pergi jauh-jauh, terus lama, sendirian pula. Sepertinya hal ini tidak dijelaskan oleh Kartini. -> Berfikir: Untung Kartini kaga jadi pergi sekolah ke Belanda, soalnya keburu nikah serta karena alasan politis, Kartini dilarang pergi sama Abendanon. Kalo dia jadi pergi sendiri ke Belanda dengan beasiswa dari pemerintah Belanda, maka mungkin sekali terjadi pelanggaran terhadap ajaran Islam dan kemungkinan pemikiran emansipasi liberal* dia semakin mengkhawatirkan. Alhamdulillah, Allah menyelamatkan Kartini. *Istilah emansipasi liberal aku ngarang sendiri. Hee

Kemudian, Kartini tahu dalam Islam poligami diizinkan, bukan suatu dosa bukan pula suatu cela. Namun menurut Kartini pribadi, karena poligami ia anggap menyakiti perempuan maka Kartini menganggap poligami sebagai dosa. (Habis Gelap Terbitlah Terang. 1992. Surat tertanggal 18 Agustus 1899 kepada nona Zeehandelaar.) -> Poligami dianggap menyakiti perempuan. Nah, justru mungkin karena harus menahan rasa sakit dipoligami tersebut, pintu surga terbuka dengan lebar bagi perempuan yang sanggup tabah menjalani poligami. Menjadi perempuan memang ga mudah, saat melahirkan kelihatannya harus menahan sakit yang amat sangat sampai-sampai ada yang harus kehilangan nyawa, saat menstruasi pun terkadang harus menahan rasa sakit, ketika dipoligami juga nampaknya musti menahan sakit, semoga ketabahan dalam menahan rasa sakit dapat mengantarkan para perempuan menuju surga Allah. Amin.

Menurut aku, poligami ngga dosa, dalam ajaran Islam pun diperbolehkan. Lain hal, kalo ada cowo poligami terus menganiaya para istri dan anak-anaknya, itu baru dosa. Kalo cowo yang berpoligami bersikap jujur dan baik terhadap para istri dan anak-anaknya justru berpahala dan insya Allah semua bisa merasa bahagia. -> Alhamdulillah, Allah mentakdirkan praktek poligami di keluarga aku.

Memang kadang ada cowo berpoligami lalu menganiaya istrinya dengan cara bersikap tidak adil, tapi menurut aku, mungkin seringnya banyak perempuan yang menganiaya diri sendiri dengan cara cemburu terlalu berlebihan (tidak bersabar), selain itu, selalu memiliki perasaan bahwa suaminya tidak adil lalu sang istri tidak bersyukur/ tidak berterima kasih kepada sang suami atas apa yang telah diberikan oleh suaminya tersebut. ‘Ya Allah, berikanlah maghfirah dan rahmat Engkau kepada kaum Muslimin. Amin.’

Semoga Allah mengampuni Kartini yang mungkin menyatakan hal-hal yang menyimpang dari ajaran Islam karena ketidaktahuannya akibat terbatasnya buku-buku Islam yang diterjemakan ke dalam bahasa Indonesia pada saat itu.

Namun demikian, aku meneladani jasa Karitini dalam memajukan pendidikan bagi perempuan dengan cara membuat sekolah khusus wanita, di sekolah tersebut diajarkan merenda dan menjahit. Di samping itu, Kartini dan suaminya juga turut berperan dalam mengembangkan keterampilan bagi pria yaitu pertukangan, ukiran khas Jepara dan kerjinan emas. Terlebih, Kartini turut pula memberi peranan untuk memajukan usaha kecil seperti industri rumahan ukiran Jepara.

Info kedua, sekarang aku seneng pake batik bahkan batik-batik berwarna dominan cokelat maupun hitam yang dimiliki secara turun temurun oleh keluarga aku. -> Batik yang sebelumya aku bilang terkesan kuno, kolot dan suram. Berikut batik yang aku maksud, terdapat dua foto dari jenis batik yang sama, satu foto tanpa blitz, satu lagi foto dengan blitz:



Tapi tetep, aku juga pake batik pilih-pilih lha yaa, bukan berdasarkan masa dan harga, tapi berdasarkan warna dan gambar pada batik tersebut. Kalo batiknya berwarna mencolok, aku ogah pakenya soalnya dalam ajaran Islam, perempuan ga boleh pake warna-warna mencolok di sembarang tempat. Abis tu kalo gambarnya terlihat jelas bentuk hewan atau manusia, aku juga kaga mau pake, kembali lagi, soalnya ga sesuai sama aturan Islam.

Foto di atas: Mix and Match baju batik No 1,2, 6,7,8 batiknya beli while No 3,4,5 batik turun temurun. Maaf, jika beberapa baju mungkin belum sesuai syariat Islam.



Actually, selama beberapa tahun ini aku bingung memikirkan mengenai batik tulis dan batik cap, aku kasian sama pengrajin batik tulis tapi juga memikirkan sesuatu yang intinya 'Apakah produsen batik cap musti gulung tikar demi pengrajin batik tulis?'. Mungkin yang bisa aku sarankan adalah bila konsumen mampu serta situasi dan kondisi memungkinkan maka sedapat mungkin belilah batik tulis, namun jika konsumen tidak/ kurang mampu atau situasi dan kondisi tidak memungkinkan maka barulah membeli batik cap. Wallahu'alam.

[Sekarang aku ga mau beli atau nerima pemberian baju yang bergambar hewan dan manusia. Maaf kalo sebelumnya aku melakukan kesalahan dengan menyatakan pernyataan yang intinya bahwa aku akan memakai baju stok lama aku yang bergambar kupu-kupu hingga usang karena dalam Islam diajarkan untuk memakai baju hingga usang. Saat ini, aku ralat pernyataan tersebut karena setelah aku fikir ulang, jika aku terus memakai baju bergambar hewan maka bisa jadi akan menjadi contoh yang tidak baik bagi kaum Muslimin yang melihat aku mengenakan baju tersebut, maka aku memutuskan untuk memusnahkan baju-baju aku yang bergambar hewan, kemungkinan besar dengan cara membakar baju-baju tersebut karena tidak memungkinkan dilakukan pemotongan pada bagian gambar kepala. -> Selain hal ini terdapat pula pertimbangan lain.

Berikut foto pembakaran baju bermotif kupu-kupu, juga foto pembakaran baju-baju lainnya diantaranya baju bermotif liong (naga) emas yang aku pilihkan untuk adik laki-laki aku. -> "Baju-baju Cina" ini dikasih sama saudara aku, dan alhamdulillah saudara aku tersebut saat ini sudah mengetahui bahwa sekarang aku tidak mengenakan pakaian bermotif hewan. Selain itu juga pembakaran kaus-kaus aku yang bermotif beruang, Mickey mouse dan skull -> Motif hewan-hewan pada foto sudah di blur.




Aku ga berani memberikan baju-baju aku yang bergambar hewan kepada orang lain karena menurut aku hal tersebut bukan contoh yang baik. -> Kalo pun mau ngasih baju, bajunya tidak bergambar hewan atau manusia.

Saat ini, baju-baju yang akan aku pakai (hingga usang), hanya baju-baju yang tidak memuat gambar hewan dan manusia.
Oia buat kaum Muslimin yang suka pake baju sekali pake abis itu buang atau “dititip” di tempat penjualan barang secondhand maupun hanya sebagai penghias lemari untuk alasan GENGSI, aku sarankan untuk menghentikan kebiasaan tersebut. -> Takutlah kita akan hari hisab nanti.

Sangat lebih baik bila memakai baju hingga usang, atau memberikan baju sangat layak pakai tersebut kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. -> Menurut aku, ngasi baju bekas 1x pake yang masih sangat layak pakai itu baik, dan sangat lebih baik lagi kalo ngasihnya baju baru.]

Alhamdulillah, Allah menunjukki banyak orang Sunda, kebanyakan orang Sunda membuat batik dengan motif bunga J Anw buat yang bikin batik bermotif penyu dari Sukabumi, mudah-mudahan bisa cari motif lain. Kalo motif pisang kole mah udah oke, trus motif manggis juga nice. Motif pala udah ada belom? motif cengkeh? buah nangka? buah samolo? buah cokelat? durian? kelapa? teh? tangkal haur/ awi (bambu)? -> Alhamdulillah di tanah Sunda banyak pohon bisa tumbuh, jadi bisa bikin batik dengan berbagai motif pohon dan buah. -> Aku denger kabar bahwa setiap daerah (kota kabupaten?) musti punya motif batik masing-masing. Benarkah?

Semoga aku dan orang-orang Sunda selalu ingat dan bersyukur kepada Allah Swt yang sudah memberikan karunia yang berlimpah. Amin.

Info ketiga, aku memang sering merhatiin sesuatu dari lingkungan terdekat aku, bahkan dimulai dari diri sendiri, baru ke ruang lingkup yang lebih jauh dan lebih luas. Jadi, ga perlu heran kalo aku membahas mengenai batik pun berawal dari apa yang pernah aku alami dan apa yang pernah aku liat di sekitar aku.


[Ujian di tahun 2012/ 1433 H: Salah satu anggota keluarga aku ada yang mendukung kegiatan zending terutama yang dilakukan salah satu aliran Nasrani yang dianggap berkepercayaan monotheis, namun anggota keluarga aku tersebut bermaksud mendukung zending yang dilakukan bukan kepada kaum Muslimin -yang telah bersaksi untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa- tapi zending kepada orang-orang non-Muslim, terutama orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik seperti umat Hindu dan Budha.

Aku pribadi tetap tidak mendukung zending agama Nasrani aliran apa pun itu, karena untuk aku agama yang diridhai Allah hanyalah Islam [merujuk pada Ali 'Imran (3): 19]. Maka dari itu, aku selalu berusaha semampu aku menyeru diri sendiri dan orang lain untuk menyembah hanya kepada Allah; kemudian menyeru diri sendiri dan orang lain untuk taat kepada Allah dan Rasulullah. Seringnya aku menyeru melalui tulisan-tulisan aku, ada juga melalui karya lainnya.
 
Tentunya aku menyampaikan ketidaksetujuanku serta nasihat kepada salah satu anggota keluarga aku tersebut. Yang ingin aku sampaikan adalah aku dan keluarga aku memang belum menjadi Muslim yang baik atau Muslim yang sempurna tetapi hal ini bukan menjadi penghalang bagi aku diri sendiri dan orang lain untuk menyembah hanya kepada Allah; kemudian menyeru diri sendiri dan orang lain untuk taat kepada Allah dan Rasulullah. Untuk terus memberitakan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, bahwa Muhammad saw adalah utusan Allah dan bahwa Isa as adalah bukan putera Allah tetapi utusan Allah.
Sebagian besar tulisan di bawah ini dibuat di dalam catatan aku sekitar tahun 2011/ 1432 H, direvisi dan dikembangkan pada akhir tahun 2012/ awal 1434 H.
Aku teringat kisah tiga nabi yang tidak berhenti menyeru umat manusia kepada kalimat tauhid: menyembah hanya kepada Allah, kemudian tetap menyeru umat manusia untuk taat kepada Allah dan kepada para nabi tersebut walaupun diantara keluarganya ada yang membangkang, tidak menurut atau tidak setia. Ketiga nabi dan rasul tersebut adalah:

1. Nabi Nuh as yang anaknya membangkang tidak mau mentaati seruanya untuk menyembah hanya kepada Allah, kemudian seruan untuk taat kepada Allah dan Nabi Allah (Nuh as). Ketidaktaatan anaknya tersebut tidak menghalangi Nabi Nuh as untuk terus berda'wah kepada kaumnya.

2. Nabi Ibrahim as yang terus dan tetap melakukan da'wah walaupun ayahnya sendiri tidak mengindahkan seruannya untuk menyembah hanya kepada Allah, serta seruannya untuk taat kepada Allah dan Nabi Allah (Ibrahim as).

3. Nabi Muhammad saw yang menyeru pamannya untuk menyembah hanya kepada Allah, serta menyeru untuk taat kepada Allah dan Nabi Allah (Muhammad saw) namun seruannya itu ditentang mati-matian oleh pamannya tersebut. Penentangan yang dilakukan oleh paman nabi tidak menyurutkan semangat nabi untuk berda'wah kepada umat manusia.

Walaupun aku bukan seorang nabi maupun rasul, aku meneladani semangat dan tekad para nabi dan rasul Allah tersebut dalam menyeru umat manusia ke jalan yang lurus. Hal ini menjadi pelajaran bagi aku untuk terus bersemangat menyeru diri sendiri dan orang lain untuk menyembah hanya kepada Allah, serta menyeru diri sendiri dan orang lain untuk taat kepada Allah dan Rasulullah walaupun rintangan datang dari anggota keluarga atau orang terdekat bahkan dari diri sendiri.
Mudah-Mudahan Allah memberikan taufiq dan hidayah-Nya khususnya kepada aku dan dan keluarga aku, umumnya kepada kaum Muslimin untuk menjadi makhluk yang bertaqwa kepada Allah. Amin.]
Info keempat, aku lebih baik sibuk meralat kesalahan aku yang mungkin dan yang masih bisa aku perbaiki (terutama perilaku aku yang menyimpang dari akidah Islam) dan menanggung malu di dunia ini daripada harus menyesal di akhirat kelak akibat aku membiarkan kesalahan aku karena aku malu mengakui dan memperbaiki kesalahan-kesalahan aku selama aku hidup di dunia.

Referensi:
· Fakta dan Data Yahudi Di Indonesia Dulu dan Kini. 2007. Ridwan Saidi dan Rizki Ridyasmara. Khalifa. Jakarta.
· Habis Gelap Terbitlah Terang: R. A. Kartini. 1992. Armijn Pane. Balai Pustaka. Jakarta.
· Ringkasan Shahih Al-Bukhari. 2006. Imam Az-Zabidi. PT Mizan Pustaka. Bandung.
· Seri Pahlawan Nasional: Raden Ajeng Kartini. 2007. B.A. Saleh. CV Citra Praya. Bandung.

è Aku ga mood nulis cara mengutip atau nulis identitas buku ngikutin aturan MLA dkk.

è Nah, gimana ya perasaan orang-orang yang mengetahui sesuatu yang dianggap sebagai kebenaran dalam menulis cara mengutip maupun cara menulis daftar pustaka ketika melihat seseorang yang melakukan kesalahan atau sengaja melakukan kesalahan dalam cara penulisan, cara mengutip, sumber kutipan dan daftar pustaka? Terusik kah? -> Kalo misalkan terusik, itulah perasaan aku saat melihat diri sendiri maupun orang lain yang menyimpang dari kebenaran, kebenaran menurut ajaran Islam.

Wallahualam.

0102/07/2011
02030708/08/2011
Revisi:
2123/08/2011
04/09/2011
272829/11/2011 -> 01020304 Muharram 1433 H.
0406/12/2011 -> 0811 Muharram 1433 H.
1213/11/2012 -> 28 Dzulhijjah 1433 H.
181922/11/2012 -> 0508 Muharram 1434 H.
04/08/2013 -> 27 Ramadhan  1434 H
1820/10/2013 -> 1315 Dzulhijjah 1434 H
1821/12/2014 -> 2528 Shafar 1436 H