Batik

Awalnya aku sama sekali ga suka batik soalnya kesan batik menurut aku tuh kuno, kolot dan suram... @-@’ Entah dapet ide dari mana aku bisa punya persepsi kaya gitu, mungkin karena ngeliat batik-batik kuno kali ya... Karena aku punya persepsi kalo warna dan corak batik itu terlihat kuno, ditambah dengan model baju batik khususnya buat cowo yang biasanya gitu-gitu aja, monoton, aku jadi suka rada-rada ilfil kalo liat cowo pake baju batik. Haha.. Sampe-sampe kalo aku ngeliat cowo pake baju batik langsung deh ada comment di kepala aku trus menggerutu di hati: ‘He is totally uncool’... (Heu maafin...). Trus kalo ada artikel mengenai batik di majalah pasti aku lewat, ga aku baca... kl ada buku tentang batik, ya gitu deh senasib sama artikel td... Hihi.. Dulu aku ga mau pake batik kecuali baju batik seragam sekolah sama kalo ikut lomba kebaya hari Kartini :p

Tapi persepsi aku berubah setelah liat salah satu iklan batik, sebenernya iklan partai siy tapi aku ga terlalu tertarik sama partainya aku lebih fokus sama pesen yang disampein tetang batik itu sendiri... Di iklan itu selintas diliatin proses produksi batik, produk batik dan penggunaan batik, beserta ada anak kecil yang cerita kalo kehidupan dia bergantung pada batik, konsumsi orang-orang akan batik mempengaruhi keberlangsungan hidup anak itu dan keluarganya.... Anak itu bilang “dari batik saya makan, dari batik saya sekolah...”, huaaaaa iklanya menyentuh banget, dari situ aku mulai melirik batik. Anw, maksih buat partai itu yang udah bikin iklan sampe akhirnya aku jadi lebih menghargai batik serta menyadari akan pentingnya mencintai produk dalam negeri.


Dulu aku memandang batik sebelah mata (ga sopan banget), padahal kan designer motif sama pembuat batiknya uda cape-cape bikin... (baru ngeh hehe..). Alhamdulillah sekarang uda insaf :) Jadi inget guru seni rupa aku waktu SMP pernah bilang “Sejelek apa pun lukisan kamu, jangan pernah kamu buang ke tempat sampah, simpen aja..” nasihat ini ngajarin aku bahwa sejelek apapun sebuah karya seni walaupun itu buatan sendiri tetep harus dihargai, terlebih kalo hasil karya diri sendiri itu bagus... Hasil karya diri sendiri aja mesti dihargai konon pula hasil karya orang lain yaaa, apalagi kalo karyanya bagus... (Asal jangan ‘saking menghargainya’ sampe-sampe mengakui hasil karya orang laen sebagai hasil karya diri sendiri aja, whehehe). Sekarang aku jadi berfikir kalo batik merupakan salah satu karya seni warisan budaya bangsa yang memang seharusnya dihargai dan dilestarikan. Apalagi setelah ada kasus batik diakuin sama negara tetangga, makinlah aku sadar akan pentingnya menghargai budaya dan karya seni negeri sendiri. Kasus diakuinya batik sebagai karya seni negara tetangga tersebut bisa jadi salah satu penyebabnya adalah kurangnya apresiasi masyarakat Indonesia sendiri terhadap batik.


Seperti halnya si aku yang sebelumnya kurang mengapresiasi batik. Aku nganggap batik ngga keren, aku lebih suka dandanan ala Jepang2 gmn gitu... Dan ternyata eh ternyata... Jepang yang aku anggap keren aja penduduknya banyak yang suka sama batik, Jepang merupakan konsumen batik terbesar di Asia seperti menurut Diana Hariadi salah satu pengurus pada perusahaan batik ternama, Danar Hadi: “Juga, tentu saja di Asia yang pasar terbesarnya dipegang oleh konsumen Jepang.” Selain itu batik produksi Danar Hadi di Tokyo dipajang di pertokoan mewah kaya Seibu, Sogo dan Tawaraya. (Femina Edisi Tahunan 2003: 84). Daaaan pas aku buka-buka lg majalah fashion Jepang, ternyata di salah satu majalah ada model-model baju batik, dengan sangat jelas tertulis kata BATIK berikut berberapa macam desain busananya... -> Si aku, ironis sekali memang.... Ahahahahaha ;p


Masi berhubungan sama batik, beberapa waktu lalu aku dateng ke sebuah festival di Sukabumi, yang bikin aku penasaran untuk datang ke festival itu salah satunya adalah adanya Batik Sukabumi... ‘Haaah sejak kapan Sukabumi punya batik? Iya gitu? Qo bisa? Di Sukabumi, dimana ya tempat bikinnya? Kaya gimana sih Batik Sukabumi tuh?’ -> isi kepala aku yg penasaran sm Batik Sukabumi. Demi menjawab rasa penasaran aku sama Batik Sukabumi, aku dateng ke festival itu terus nanya deh sama petugas di stand batiknya, kurang lebih pertanyaanya seputar: “Sejak kapan Sukabumi punya batik?; Dimana pembuatannya?”. Dijawablah sama si Aa petugas berbaju batik itu (sekarang kalo aku liat cowo pake baju batik tanggapannya ga kayak dulu lagi, tanggapan aku bwt cowo berbaju batik jadi ‘absolutely cool’, soalnya baik disadari ato ngga para pengguna batik sudah ikut melestarikan budaya bangsa). -> Yaaay..!! Kembali ke pertanyaaan dan jawaban tadi, dan jawaban sang petugas adalah: “Batik Sukabumi baru diresmikan sekitar tahun 2008, pembuatan batik ini ga 100% di Sukabumi karena design-nya dibuat di Sukabumi tapi printing-nya di Pekalongan.” Sedikit shock mendengar kenyataan bahwa batiknya bukan pure dari Sukabumi.. Heu... Tapi aku seneng petugasnya mau ngejelasin kenyataan yang ada ke para pengunjung, aku jadi sedikit lebih tau potensi yang udah dipunyai dan bisa dikembangkan sama kota Sukabumi dan potensi yang belum ada di Sukabumi. Kalo kaitanya sama batik siy, mungkin potensi yang udah ada adalah seniman yang udah bikin corak batik khas Sukabumi.

Setelah aku liat ternyata batik Sukabumi menarik, mungkin tergolong batik modern karena warnanya ga terpaku sama warna yang berkesan kuno seperti warna cokelat yang dominan. Warna batik ini dibuat lebih variatif, warna-warna cerah kayak merah, biru dan hijau dipakai sebagai warna dominan pada dasar kain; selain itu warna corak bunga pada batik dibuat kontras dengan warna dasar kain.

















Batik Sukabumi yang aku liat semuanya bercorak bunga dan setelah aku liat-liat di buku mengenai batik, aku menarik kesimpulan (mudah-mudahan ga salah narik kesimpulan) bahwa corak batik dari Jawa Barat nampaknya tidak sevariatif corak batik dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Orang Sunda sepertinya senang sekali dengan corak bunga (kembang), daun dan tumbuhan ada juga corak loreng. Sementara orang Jawa membuat corak yang lebih beragam pada batiknya dari mulai corak loreng, bunga, daun, tumbuhan, serta hewan seperti burung, sapi dan macan. Setiap tempat memang punya ciri khas sendiri, seperti menurut Nian S. Djumena dalam bukunya Batik dan Mitra / Batik and its Kind, Nian menjelaskan bahwa:
“Lukisan berupa hiasan antara lain disebut dengan istilah corak. Corak batik dari daerah ke daerah pembatikan mempunyai ciri khasnya masing-masing. Dari sehelai batik dapat terungkap segala sesuatu tentang daerah pembuat batik tersebut seperti keterampilan, selera, sifat, letak geografis dan sebagainya.”
(Djumena, 1990: 2)
Beda tempat, maka corak batiknya pun berbeda… bergantung pada faktor sosiogeografis masing-masing tempat pembuatan batik. Masi menurut buku tadi, terkadang ada juga proses pemindahan budaya dan seni dari satu daerah ke daerah lainnya serta gaya yang diambil dari satu daerah oleh daerah lain sehingga memungkinkan adanya corak batik yang sama antara daerah satu dengan daerah lainnya.

Batik memang benar-benar menggambarkan kekayaan alam dan budaya Indonesia, untuk itu semoga aku dan masyarakat Indonesia bisa lebih menghargai dan melestarikan batik. Jangan mau kalah sama negara tetangga yaaa…!! Hoho


Bibliography:

  • Djumena, Nian S. 1990. Batik dan Mitra / Batik and its Kind. Jakarta: Penerbit Djambatan.
  • Femina Edisi Tahunan 2003
  • Lady Boutique Magazine


30.08.09

0 komentar: